Hal yang paling dibenci Calvin dalam pagi-nya adalah; bangun karena nada dering ponsel yang berbunyi nyaring!
Calvin langsung meredam umpatan kerasnya dengan bantal yang baru saja dia gunakan untuk menutupi muka-nya. Tapi ponsel-nya masih terus berdering diatas nakas.
Calvin kemudian bangun dan kantuk dalam dirinya hilang ketika melihat nama sang penelepon. Claire Jane.
"Damn, Calvin Leonard! Jangan bilang kau baru saja bangun!"
Calvin langsung menjauhkan ponsel dari telinganya begitu suara melengking Jane langsung membuat kepalanya berdenging.
Tapi tak ayal, Calvin malah mengeluarkan tawa jahilnya. "Aku memang baru bangun, Jane."
"Kau harus segera datang kemari!"
"Bukankah syutting masih dimulai pukul sembilan?"
"Ini pukul delapan! Kau belum mempersiapkan apapun disini. Fashion designer-mu sudah datang, makeup artist sudah datang, para crew dancer sudah datang dan sang sutradara untuk video clip terbarumu sudah datang." Jane menjelaskan, membuat Calvin langsung melirik jam analog di nakasnya dan dia berdecak pelan.
"Tenanglah, aku akan datang tepat waktu." Calvin mulai bangun dari kasur dan berjalan keluar kamar. "Bisa dibatalkan semua project-ku jika aku terlambat ketika Edward Jasper menjadi sutradaraku."
Jane langsung mendesah kesal. "Okay, i'm waiting for you."
Mendengar kalimat itu, tiba-tiba saja Calvin ingin menggoda Jane lagi. "Kalau soal hubungan kita, kau tidak usah menung—Whoa!" Ucapan Calvin langsung terputus dan dia terlonjak saat melihat seorang wanita tertidur di dekat kulkas.
"Cal? Ada apa?!" Tanya Jane dengan panik.
Calvin meneguk ludah ketika melihat Sea yang tertidur di depan sofa dengan posisi duduk sambil memeluk kedua lututnya dan rambut panjang milik Sea menutup seluruh mukanya. Membuat Sea terlihat seperti hantu yang ada di film horror The Ring.
"Calvin? Hello... are you there?"
"Ye-yeah." Calvin menjawab dengan gugup. "Aku akan menghubungimu lagi Jane, oke? See you."
Calvin segera menutup ponselnya dan meletakannya begitu saja di kitchen isle. Dan entah apa yang dipikirkan Calvin, tapi dia langsung berlari kecil ke ruangan yang khusus untuk menyimpan alat-alat untuk membersihkan rumah dan mengambil sebuah vacuum cleaner.
Ditariknya vacuum cleaner itu seperti menarik anjing, kemudian dia mengendap-endap ketika mendekati Sea. kemudian Calvin menyalakan vacuum cleaner itu tepat didepan wajah cantik Sea.
"Hah!" Sea langsung gelagapan ketika ada sebuah angin besar yang menerpa rambut dan wajahnya. "Aaak! Stop it!"
"Astaga, aku kira hantu!" Calvin memasang wajah ketakutan, namun ketika melihat wajah garang Sea, Calvin menyerah dan dia tidak bisa lagi menahan tawa-nya. "Hahaha! Astaga, wanita kriminal. Kenapa kau masih di penthouse-ku, huh?"
Sea yang jadi mengernyit tidak paham. "Bukankah aku menjadi asisten rumah tanggamu saat ini?"
"Memang benar." Jawab Calvin diselingi sisa tawanya. "Minggir!"
Sea terkesiap pelan ketika Calvin mendorongnya begitu saja agar dia menyingkir dari depan kulkas.
Kemudian Calvin mengambil sebotol air mineral dingin dan meneguk-nya begitu saja. "Tapi bukankah seharusnya kau pulang?"
"Pulang?" Sea langsung teringat dengan rumah asli-nya. Rumah asli yang benar-benar hangat dan terdapat seseorang yang paling disayanginya di dunia ini.
Tapi kemudian pikirannya tentang rumah sirna begitu saja, digantikan oleh sebuah rumah bordil yang menyeramkan. Rumah bordil yang telah menampungnya selama delapan bulan dan Sea benar-benar tidak ingin kembali ke rumah bordil itu lagi!
"Kau melamun lagi!"
Sea langsung mengerjapkan kedua matanya ketika Calvin menjentikkan jemarinya didepan wajah Sea. "Aku, euhm... tidak punya rumah."
"Tidak punya rumah?!" Calvin jelas terkejut. "Tidak punya tempat tinggal maksudmu?"
Sea memutar bola matanya. "Rumah a.k.a tempat tinggal, tuan!"
"Nah, kau cocok sekali memanggilku dengan panggilan 'tuan'." Calvin lagi-lagi tertawa senang. "Baiklah, tidak masalah. Kau bisa tinggal di penthouse-ku sampai cicilan membayar ganti rugimu lunas. Tapi ingat, kau tidak bisa berbuat macam-macam karena ada cctv di seluruh penjuru penthouse-ku."
"Aku tahu." Sea memasang wajah kesal ketika Calvin mulai bersikap sombong. "Lagipula aku adalah orang yang jujur."
"Oh yeah, Ms Sea Marioline?" Calvin langsung mendekatkan wajahnya persis kehadapan wajah Sea.
Membuat Sea dengan refleks langsung memundurkan wajahnya dan kemudian mengaduh ketika kepalanya terantuk pintu kulkas karena wajahnya langsung mundur begitu Calvin mencodongkan wajahnya kearah Sea.
Melihat itu, kedua alis Calvin terangkat dan dia langsung tersenyum miring. "Kau seperti wanita tak tersentuh, Marioline."
"Bisakah kau tidak berubah-ubah ketika memanggil nama orang?"
"Selama kau memiliki kekuasaan, maka semua yang kau lakukan adalah benar." Calvin semakin mendekatkan wajahnya kearah Sea. Bahkan sekarang Calvin meletakkan tangan kirinya ke sisi lain kulkas untuk memerangkap tubuh Sea. "Tidakkah kau sadar? Kalau kau ada di bawah kekuasaanku? Aku majikanmu dan kau hanya seorang asisten, Sea. Aku juga bebas melakukan apapun padamu."
Sea langsung berdeham dan mendorong tubuh Calvin sekuat tenaga agar menjauh dari dirinya. "Aku bekerja padamu dan jangan melakukan hal diluar pekerjaan sebagai asisten rumah tangga padaku. Atau aku bisa melaporkanmu ke pihak berwajib!"
Calvin langsung mendengus geli. "Melakukan apa? Kalau kau berpikir aku mau menyeretmu ke ranjang juga bukan untuk bercinta. Tapi untuk membersihkan ranjangku yang berantakan." Calvin lalu meninggalkan Sea begitu saja. "Sudah sana mulai bekerja, bersihkan kamarku!"
Sontak wajah Sea langsung memerah ketika Calvin kembali berbicara soal hal yang memalukan bagi dirinya. Lagi-lagi ucapan melecehkan!
"Kenapa masih diam saja?" Calvin membalikkan tubuhnya dan kembali menatap Sea. "Kau jangan jadi wanita yang suka mengkhayal seperti wanita-wanita diluar sana."
"Termasuk para fans wanitamu yang tukang mengkhayal?" Tanya Sea sambil mengambil alih vacuum cleaner Calvin dan menariknya kearah kamar Calvin dengan kasar.
Calvin hanya mencebikkan bibirnya. "Hei, bukan kamar itu yang kau bersihkan!"
"Lalu?"
"Follow me." Calvin kemudian berjalan, membuat Sea dengan terpaksa mengikuti langkah Calvin.
Masuk ke sebuah koridor yang terdapat tiga pintu. "Pintu pertama adalah ruang wardrobe-ku. Hati-hati saat membersihkannya. Semua barang branded dan mahal."
Calvin langsung melirik Sea dan benar saja, wanita itu langsung mencebikkan bibirnya dengan raut wajah kesal. Membuat Calvin langsung menahan senyuman jahilnya.
"Ruangan kedua berisi peralatan kebersihan." Kemudian Calvin berjalan ke sebuah pintu yang berada di paling ujung ruangan dan membuka-nya. "And this is, your own room!"
Calvin dan Sea sontak terbatuk bersamaan ketika segala debu langsung menyerbu mereka begitu Calvin membuka pintu-nya.
Sea langsung menutup hidungnya dengan tangan dan tercengang ketika melihat calon kamarnya ini.
Sebuah kamar kecil yang benar-benar seperti gudang. Hanya ada sebuah kasur kecil, meja tulis, dan sofa di sudut ruangan. Sea kemudian makin berjalan masuk terlebih dahulu. Ternyata terdapat kamar mandi dalam yang begitu kecil.
Dan Sea amat sangat bersyukur ketika dia dapat menggeser pintu kaca dihadapannya. Sebuah pintu kaca yang ternyata berada di ujung balkon.
"Kamar ini bisa menjadi bagus bila dibersihkan." Ucap Sea sambil menarik sebuah kain putih dari kasur dan dia kembali terbatuk.
"Ya, ya. Terserah apa katamu. Aku tidak perduli dan aku harus segera ke lokasi saat ini." Calvin kemudian bersandar di pintu. "Selamat bekerja di hari pertama dan aku akan pulang malam. Sudah lama aku tidak memakan masakan rumah. Kau bisa memasak?"
"Bisa."
"Baiklah, masakan untukku." Ucap Calvin sambil lalu dan dia langsung meninggalkan kamar Sea begitu saja.
Sea hanya bisa menghela napas setelah Calvin keluar dari kamarnya. Kemudian dia duduk diatas kasur yang mengeluarkan bau debu ini. "Tidak apa-apa, Sea. Setidaknya kamar ini lebih nyaman daripada sebuah kamar yang bau s****a seperti kamarmu sebelumnya."
Senyum kecil terulas di bibir manis Sea. Senyum yang dia gunakan hanya untuk menyemangati diri sendiri.
"Hey!"
Sea langsung menoleh ke ambang pintu ketika melihat Calvin. "Tangkap!"
"Astaga!" Sea langsung berusaha menangkap sebuah benda yang Calvin lemparkan kepadanya sampai dagu Sea terantuk ujung kasur. "Aw!"
Calvin terkekeh senang melihatnya. "Berterimakasihlah padaku."
Lagi-lagi Calvin langsung meninggalkan kamar Sea begitu saja. Sea langsung mengusap dagu-nya yang nyeri dan berdenyut sambil mendesis kesakitan.
"Berterimakasih setelah membuat daguku terantuk hanya untuk sebuah—ponsel?" Kedua bibir Sea tertutup rapat ketika dia menerima sebuah ponsel keluaran terbaru dari Calvin.
Tidak heran jika Calvin memberikannya ponsel dengan mudah. Karena Sea yakin Calvin bahkan bisa membeli ponsel seperti ini seratus ponsel atau mungkin lebih sekaligus. Tapi ponsel ini terasa istimewa bagi Sea.
Karena dia hanya bisa melihatnya melalui iklan atau televisi, atau melihat ponsel ini yang dibawa oleh para lelaki hidung belang di rumah bordil. Sekarang? Sea bisa mendapatkan ponsel ini hanya karena menjadi asisten rumah tangga di penthouse Calvin Leonard.
Dengan ponsel ini, Sea mungkin bisa menghubungi seseorang yang benar-benar di rindukan?
Kemudian Sea menyalakan ponsel itu, dan dia langsung mendengus kesal ketika wajah menyebalkan Calvin menjadi lockscreen ponsel-nya.
"Tapi sebenarnya, untuk apa dia memberikan ponsel untuk orang kategori asing sepertiku?" Sea hanya bisa bertanya dan tidak mendapat jawaban.
Karena dia mendengar intecom penthouse ketika Calvin baru saja keluar dari penthouse-nya untuk bekerja.
***
Setelah Calvin pergi, tentu saja Sea melakukan penthouse tour. Bila Sea langsung menceritakan pada Olivia—seorang wanita muda yang bekerja di rumah bordil, pasti Olivia akan langsung merengek minta datang ke penthouse Calvin. Karena Olivia benar-benar fans sejati Calvin.
Tapi Sea? Dia biasa saja, sebagai orang yang membenci Calvin. Dengan penthouse tour ini dia gunakan sebagai penghilang penat sekaligus belajar perlahan-lahan untuk menahan semua emosi-nya pada Calvin.
Bukan hanya emosi ketika mereka baru saja bertemu sampai sekarang ini. Melainkan emosi yang sudah dia pendam bertahun-tahun. Tentang Calvin yang benar-benar menghancurkan segala kehidupannya dan Calvin bahkan tidak mengingat dirinya atau bahkan kesalahan itu.
Didepan oven saat ini Sea tertawa miris. Calvin tidak akan mengingat hal keji yang telah dia lakukan pada Sea.
Dan sekarang, Sea harus mempertanggungjawabkan perbuatannya karena telah memecahkan kaca mobil Lamborghini Calvin. Tanpa Calvin mempertanggung jawabkan kesalahan yang dia perbuat pada Sea.
Karena memang kodratnya kepopuleran, uang, dan tampang menjadi pemimpin atas segala hal di dunia ini.
Begitu oven berdenting, Sea langsung membuka oven dan mengeluarkan lasagna yang dia buat. Bau harum lasagna buatannya langsung menyebar ke seluruh dapur dan membuat Sea tiba-tiba saja lapar.
Tapi makan sebelum Calvin pulang? Sea langsung lemas. "Bisa-bisa aku langsung dipecat karena tidak sopan. Lalu bagaimana aku membayar ganti rugi? Lagipula aku tidak mau kembali ke rumah bordil itu."
"Baiklah Sea." Sea kemudian mengeluarkan ponsel-nya. Kini sudah jam sepuluh malam dan Calvin tidak kunjung pulang. "Mari tunggu lelaki menyebalkan itu pulang dan kau bisa segera makan."
Dan beruntunglah Sea karena doa-nya begitu cepat terkabut pada malam ini. Intercom penthouse berbunyi ketika Calvin baru saja masuk.
"Kau sudah pulang?!" Setidaknya itu adalah sapaan pertama Sea ketika menyambut Calvin.
"Yeah. I'm home." Ucap Calvin sembari melepas sepatunya.
Kening Calvin masih berkerut dalam karena dan jantungnya berdegup kencang. Itu semua karena diam-diam Calvin terkejut. Tentu saja karena Sea.
Calvin yang biasanya pulang ke penthouse dilingkupi kesunyian, kini ketika dia pulang ada seseorang yang menyambutnya setelah sekian lama. Calvin hanya merasa berbeda. Hanya merasa seperti, dia benar-benar menghidupkan suasana tempat tinggalnya.
Apalagi ketika dia mencium bau masakan yang sedap dan menggiurkan.
"Kau memasak?" Tanya Calvin.
"Kau menyuruhku tadi."
"Benar." Calvin menjentikkan jari-nya, kemudian dia berjalan ke ruang makan dan sudah tersedia lasagna yang cukup besar. "Kau sengaja membuat banyak agar kau juga bisa makan?"
Sea langsung mencibir. "Tentu saja, kan aku yang membuatnya."
"Baiklah, kau bisa makan bersamaku jika kau mau."
"Satu meja dengamu?"
"Of course. Ada yang salah?"
Sea menggeleng dengan kaku, kemudian dia menarik kursi dihadapan Calvin dan membalik piring dihadapannya sambil sesekali melirik Calvin.
Mungkin karena lelah bekerja jadi dia tidak semenyebalakan tadi pagi. Batin Sea, itu semua karena dia tidak menyangka seorang Calvin Leonard dengan mudahnya mengajak dirinya untuk makan satu meja.
"Apakah enak?" Tanya Sea ketika Calvin mengunyah suapan pertamanya.
Calvin mengedikkan kedua bahu-nya dan kemudian tersenyum. "Enak."
Sea memiringkan kepalanya ketika melihat Calvin yang semakin lama semakin makan dengan ritme yang cepat dan sangat lahap.
Tanpa sadar, Sea tersenyum tipis ketika menyadari sikap Calvin ini mirip dengan seseorang yang ada di rumahnya. Seseorang yang amat dia cintai.
Sifat mereka sama, menyukai masakan Sea dan makan dengan tenang—cenderung lahap dalam makan.
Menyadari dirinya diperhatikan, Calvin mengangkat pandangannya dan Sea langsung berdeham dan kembali makan.
"Belum-belum sudah terpesona dengan ketampananku, huh?" Tanya Calvin dengan percaya diri.
"Jangan harap!" Elak Sea.
Calvin terkekeh kecil sambil menyuapkan makanannya lagi. "Ternyata kau sama saja dengan asisten wanitaku yang lain. Aku kira kau berbeda."
"Berbeda?"
"Kau terlihat ketus di awal. Tapi ternyata menganggumi ketampananku seperti wanita lain. Membosankan." Calvin berucap dengan enteng sambil kembali makan.
Dan tentu saja ucapan seperti itu dihiraukan oleh Sea. Menurut Sea tentu saja ucapan Calvin tidak berarti.
Sampai kemudian acara makan malam mereka terganggu saat Sea dan Calvin langsung terdiam ketika mendengar bunyi password intercom yang ditekan dari luar.
"Oh no." Calvin langsung menatap Sea. "Tetap disini sampai aku menyuruhmu pergi."
"Apa yang terjadi?" Tanya Sea dengan bingung. "Siapa yang datang?"
Calvin tidak sempat menjawab karna pintu penthouse sudah terdengar terbuka dari luar. Calvin langsung mengusap mulutnya dengan serbet makan, lalu meneguk air mineral dan langsung bangkit begitu saja.
Sea jelas tidak bisa diam, dia langsung mengikuti langkah Calvin keluar dari ruang makan. Tapi kemudian langkah Sea terhenti ketika melihat seorang wanita yang menangis di ruang tamu ketika Calvin menghampirinya.
Sea langsung bersembunyi dibalik pilar dan melihat Calvin yang langsung memeluk wanita yang menangis itu.
"What happen to you?" Tanya Calvin dengan lembut sambil mengusap rambut Jane.
Jane makin terisak keras di pelukan Calvin dan memeluk Calvin lebih erat. "Nolan..."
Calvin langsung menghela napas kasar dan melepaskan pelukannya dari Jane. "Hey, look at me."
Jane mengangkat pandangannya menatap Calvin dan Cal langsung mengusap air mata di pipi Jane.
"Kau tidak pantas menangisi lelaki seperti itu, Jane. Kau lebih baik dari wanita manapun." Ucap Calvin menenangkan.
"I don't know. I'm just—" Ucapan Jane terputus ketika tiba-tiba saja Calvin mencium bibir lembabnya.
Melihat hal itu tentu saja membuat napas Sea tercekat. Padahal bukan dia yang dicium. Hanya saja, melihat bagaimana Calvin mencium wanita itu, membuat d**a Sea berdebar entah kenapa.
Sea hanya seperti menyadari bahwa wanita yang bersama Calvin bukanlah wanita sembarangan yang dia kencani seperti berita-berita di infotaiment. Wanita yang bersama Calvin ini, serasa spesial.
Sampai Calvin membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu. Kemudian wanita itu mengangguk dan berjalan masuk ke kamar Calvin.
Calvin masih berdiri di tempatnya walaupun Jane sudah masuk ke kamarnya. Lalu helaan napas berat keluar dari mulut Calvin. Lagi-lagi dia menjadi pelarian sahabatnya, lagi-lagi dia menjadi obat patah hati sahabatnya dan lagi-lagi Calvin menjadi sandaran pertama seorang Claire Jane.
Masih dalam diam, Calvin kemudian berjalan ke dapur dan melihat Sea yang sedang mencuci peralatan masaknya.
"Bisa ambilkan segelas air mineral dingin?" Pinta Calvin.
Sea menatap Calvin sejenak, kemudian mengangguk dan mengambilkannya dari kulkas. Kemudian menyerahkannya pada Calvin tanpa berkata apa-apa.
"Thanks." Calvin tersenyum kecil sambil mengusap lengan Sea. "Kau bisa lanjut makan atau kembali ke kamarmu. Asal jangan mondar-mandir di penthouse-ku selama masih ada tamuku."
Sea hanya mengangguk dan membiarkan Calvin meninggalkannya sambil membawa segelas air mineral dingin.
Entah kenapa, tapi Sea seperti melihat sisi lain Calvin malam ini. Calvin yang penyayang dan Calvin yang patah hati dalam waktu yang bersamaan.