CHAPTER 4: MAID

2662 Kata
Setelah pintu kamar Calvin tertutup rapat, Sea benar-benar tidak ingin mengetahui apa yang terjadi di kamar atau apa yang dilakukan Calvin dengan seorang model itu. Sea tentu mengenalnya, Claire Jane—seorang model papan atas yang banyak diberitakan sering bergonta-ganti pasangan, terkenal playgirl tetapi memiliki banyak prestasi. Prestasi yang dimiliki Claire Jane adalah dari paras wajah dan tubuhnya yang selalui memuaskan konsumen dalam hal permodelan atau fotografi. Claire Jane pandai dalam bergaya, membuat para fotografer, atau brand-brand fashion kenamaan yang bekerja sama dengannya tidak pernah kecewa dan merugi. Skandal Claire Jane dengan banyak pria atau bahkan pertengkarannya dengan model atau selebriti lain di luar sana malah makin mendongkrak popularitasnya. Jadi, Sea akui bahwa Jane adalah model sensasional yang hebat. Yang bahkan bisa melumpuhkan persaaan Calvin Leonard selumpuh-lumpuhnya. "Baiklah, kau tidak harus perduli dengan dua orang bodoh itu, Sea." Sea mensugesti dirinya sendiri. Kemudian tatapan matanya menyisir ke ruang makan, di bersihkannya bekas makanan dirinya dan Calvin. Kemudian ke dapur. Sea memang cukup mumpuni dalam hal memasak, dan dari dulu dia diajari oleh sang mama bahwa bila seorang wanita memasak haruslah rapi dan dapur harus selalu bersih agar diakhir tidak capek beres-beres. Dan kali ini Sea membuktikan ucapan mama-nya itu. Dapur tetap bersih dan rapi ketika Sea memasak. Kini dia tinggal mencuci piring kotor Calvin dan dirinya. "Mungkin Calvin tidak akan masalah jika aku makan lagi." Gumam Sea ketika hendak menaruh lasagna sisa makan mereka berdua ke kulkas. Akhirnya Sea memutuskan memotong lasagna-nya lagi, kemudian menuang segelas jus jeruk dingin ke gelasnya, menaruh keatas nampan dan membawa ke kamarnya sendiri. Sepanjang langkahnya ke kamar, diam-diam Sea tersenyum kecil. Sebetulnya dia sangat senang tinggal di penthouse mewah Calvin. Ada semua barang mewah dan bagus disini, walaupun bukan barangnya. Dan terlebih lagi, walaupun hidup sendiri tapi isi kulkas dan lemari makan Calvin begitu penuh dan lengkap. Kini Sea tidak perlu menahan lapar lagi seperti ketika dia tinggal di rumah bordil. Harus memasak dulu untuk teman-temannya dan berbelanja makanan dengan uang pas-pasan dari madame Helen. Dengan hati-hati, Sea membuka dan menutup pintu kamarnya. "Hm, apa ini?" Dahi Sea mengernyit ketika dia menemukan kardus berukuran sedang diatas kasurnya. Lalu Sea meletakkan dulu nampan berisi makanan miliknya di kamar dan membuka kardus itu. Ada sebuah notes kecil begitu dia membuka-nya. Bertuliskan; Hei, maid. Sesuai peraturan dunia per-maid-an, maka kau harus memakai ini. "Oh tidak..." Sea mendesah panjang ketika dia mengangkat sebuah pakaian pelayan bertemakan hitam putih. Kemudian sebuah apron putih dan rok mengembang serta berpita. "Kenapa aku merasa pakaian maid ini terkesan sangat manis, feminim dan... mengundang gairah?" Bagaimana tidak mengundang gairah jika bahkan Calvin menyediakan sebuah kaus kaki transparan hitam panjang sampai ke paha Sea dan rok ini sangat pendek. Serta Sea sudah yakin jika lingkar d**a pakaian maid ini tidak sama dengan lingkar d**a-nya. Sea menelan ludah dengan ekspersi wajah ketakutan. Sebelum mengenakan-pun, dia sudah yakin kalau d**a-nya akan terlihat sangat menonjol ketika mengenakan ini dan Sea tidak mau hal itu terjadi! "Aku tidak mau mengenakan itu!" Sea langsung melempar pakaian pelayan miliknya. "Tapi bagaimana jika aku tidak memakainya dan aku langsung di depak Calvin dari penthouse ini?" Sea mendesah kesal lagi, kemudian sambil menghentak-hentakkan kakinya, dia kembali berjalan mengambil pakaian yang tadi dia lempar tadi dan memungutnya. Tapi ketika Sea mendongak, dia baru sadar bahwa terdapat sebuah lemari dihadapannya. Lemari berisi sebuah buku-buku dan ada sebuah gitar di dalam sana. Sea lalu mengambil buku itu, di usapnya buku yang sudah berdebu ini. Kebanyakan buku di lemari ini adalah buku bertema romansa dan buku yang dia pegang kali ini adalah buku sekumpulan puisi romansa. "Jadi, apakah seorang Calvin Leonard ternyata suka membaca puisi dan buku tentang cinta seperti ini?" Sea tersenyum mengejek. Lalu dia mengambil gitar itu juga. Kemudian naik ke kasur. Baiklah, malam ini biarkan Sea menikmati keheningan yang membahagiakan ini sejenak. Dengan sepotong lasagna hangat, buku kumpulan puisi dan sebuah gitar. Sea mengusap gitar itu dengan lembut dengan tatapan sayu, "sebenarnya kau yang membuatku berhenti bermusik, Calvin." *** Dengan setengah sadar, Calvin kembali mengerang dalam tidurnya ketika kebiasaan buruknya ini datang lagi. Yaitu, lapar di tengah malam. Tapi ketika Calvin menyibakkan selimut dan memaksa membuka mata, dia kini melihat jam yang menunjukkan pukul satu pagi. Calvin menyisir rambut tebal-nya dengan jari, kemudian melirik ke kiri. Kearah Jane yang sudah tidur di sampingnya. Calvin kemudian menarik selimut putihnya yang menutupi tubuh polos Jane. Sejenak, Calvin hanya bisa terdiam melihat wajah damai Jane ketika tertidur. Claire Jane, wanita yang membuatnya jatuh cinta sejak Calvin sudah menginjak umur empat belas tahun dan kini hubungan mereka di pertanyakan. Calvin tidak tahu kenapa dia mau melakukan ini. Dia selalu menerima dan ada untuk Jane dalam kondisi apapun, dan berakhir bercinta dengan Jane. Bahkan ketika Calvin sedang berpacaran dengan seorang aktris, dan tiba-tiba dia dan Jane ingin bercinta, maka Calvin akan melupakan kekasihnya dan bercinta dengan Jane. Selalu Jane dan Jane. Seperti malam ini. Senyum tipis Calvin terukir ketika Jane menggeliat sedikit saat Calvin mengusap bahu terbuka-nya. Kemudian sebelum keluar dari kamar, Calvin mendaratkan sebuah kecupan hangat di dahi Jane cukup lama. Barulah Calvin keluar kamar. Tapi seperti biasa, keheningan malam menyambutnya. Calvin lalu berjalan ke dapur, dia biasanya hanya memakan sereal dengan s**u dingin di tengah malam. Tapi ketika dia membuka kulkas dan menemukan lasagna buatan Sea tadi, dia jadi ingat bahwa dia hanya sempat makan sedikit sebelum Jane datang. Lagipula, bercinta dengan Jane membuatnya lapar. "Ah, tapi tiba-tiba aku malas kalau harus menghangatkan ini." Calvin menutup kulkas-nya lagi. Kemudian dia berdiri dengan tangan bersedekap di depan d**a dan kelopak mata terpejam. Tada! Tiba-tiba saja ide cemerlang Calvin muncul, dia butuh hiburan disaat kondisi hati-nya yang buruk ini. Sambil bersiul senang di setiap langkahnya, Calvin berjalan ke kamar Sea dan mengetuknya. "Se—hei wanita kriminal!" Tidak ada suara jawaban, Calvin menduga bahwa Sea sudah tidur. Tapi Calvin tidak perduli dan terus mengetuk pintunya bagaikan menggebuk drum. "Wanita kriminal! Buka pintunya, Josefina kriminal Sea Marioline..." "Ish!" Wajah kesal Sea langsung muncul ketika wanita itu membuka pintunya dengan wajah kesal. Dan cengiran Calvin menyambutnya. "Hangatkan lasagna untukku, sekarang." Sebelum menuruti ucapan Calvin, Sea menatap tubuh Calvin dihadapannya. Calvin hanya ke kamarnya sambil bertelanjang d**a dan mengenakan celana pendek. Sea lalu mendengus kesal. "Jam suruhan sudah tutup. Ini jam satu pagi dan aku butuh istirahat!" Walaupun tanpa Calvin ketahui, sebenarnya daritadi Sea hanya terus membaca kumpulan puisi itu dan belum tidur sama sekali. Dengan cepat Calvin langsung menarik tangan Sea. "Sudahlah, turuti semua kataku. Ingat, kau masih terikat kontrak dengan pangeran tampan ini." "Cih, pangeran tampan darimana?" Dumal Sea. Calvin langsung mendorong Sea begitu sampai di dapur. "Dari khayangan tentu saja. Kalau kau pintar matematika, coba hitung dan buat perbandingan. Berapa populasi wanita di dunia ini, jumlahkan, lalu buatlah perbandingan antara yang menyukaiku atau tidak. For your information, seorang peneliti aku lupa namanya siapa. Tapi dia menobatkan struktur wajahku ini adalah struktur wajah sempurna untuk ketampanan pria. Itu berarti, secara tidak langsung aku adalah pria tampan di dunia ini." "Hoam..." Sea menguap, benar-benar menguap tanpa dibuat-buat. "Dari awal kau berbicara, aku tidak paham dengan ucapanmu, tuan." "Dasar otak udang." Ejek Calvin tanpa pikir dan dia langsung duduk di kursi kitchen island. Sea langsung melotot marah, tapi Calvin tidak perduli. Yang penting Sea sudah memasukkan lasagna ke microwafe. "Kau mau minum apa?" Tanya Sea. "Air mineral." Sea lalu menuangkan air mineral ke gelas dan menyuguhkannya pada Calvin, lalu mengambil lasagna yang sudah hangat, memberi mayonaise, keju tambahan, dan saus. Kemudian Sea berjalan begitu saja ingin keluar dari dapur dan kembali ke kamarnya. "Kau mau kemana? Sini duduk dihadapanku dan temani aku makan." Perintah Calvin. "Aku ingin tidur." "Tapi aku tidak mengizinkanmu." Ucap Calvin dengan santai. Sea menggeram kesal, kemudian kembali kearah Calvin dan duduk dihadapan Calvin. Melihat Sea yang patuh seperti ini pada Calvin tentu membuat Calvin terus menahan tawa-nya. Terbukti, menganggu Sea membuat segala perasaannya membaik. Setidaknya, dia terasa terhibur dengan wajah marah Sea. Tapi lain hal-nya dengan Sea. Sekarang dia malah mengantuk jika harus duduk dihadapan Calvin dan melihat lelaki itu makan sambil senyum-senyum sendiri. "Maaf, tapi apa yang membuatmu terus tersenyum tidak jelas sambil makan seperti ini?" Sea keheranan. "Kau tahu, tingkahmu dan orang gila sama saja." Calvin menggelengkan kepalanya dengan riang. "Orang tersenyum tentu karena bahagia, Sea. memangnya kau? Tidak pernah tersenyum. Contoh orang tertekan, banyak masalah, oh, kasihan sekali dirimu wahai anak—anak siapa kau ini?" Tanya Calvin sambil menepuk-nepuk kepala Sea. Sea langsung menyingkirkan tangan Calvin dari kepalanya. "Jangan sentuh aku!" Dan Calvin hanya terkekeh geli, lalu lanjut makan. Diam-diam Sea memperhatikan Calvin, rambut Calvin acak-acakan dan ada beberapa bekas kecupan di leher dan d**a bidangnya. "Bukankah kau dan Claire Jane bersahabat?" Sea mulai bertanya. Calvin tadinya hanya menaikkan kedua alisnya. "Kau mengenal Claire Jane?" "Aku juga menonton infotaiment dan ada banyak wajahmu dan Claire Jane di seluruh negara karena kalian orang terkenal." Sahut Sea dengan ketus, membuat Calvin tertawa lagi. "Jika bersahabat, kenapa kau bercinta dengannya?" "Kenapa? Memangnya tidak boleh ada hubungan semacam itu?" Calvin balas bertanya. "Bagaimana jika aku katakan padamu, jangan. Ikut. Campur." "Aku tidak ikut campur, hanya saja hubungan seperti kalian itu salah. Tapi dari yang aku lihat ketika Jane datang, dia sangat patah hati dan ingin bercerita denganmu. Lalu kau menerimanya, memanfaatkan keadaan wanita rapuh untuk jatuh pada pesonamu dan mau tidur denganmu." "Nah, kau mulai berasumsi sendiri." Ucap Calvin sambil menyuapkan potongan terakhir lasagna-nya. "Aku bercinta dengan Jane bukan karena aku ingin. Tapi karena kita ingin. Friends with benefit. Apakah aku harus menjelaskan lagi padamu secara rinci?" Sea sontak terkejut. "Kalian melakukan hubungan seperti itu?" "Aku mencintai Jane sejak aku berumur empat belas tahun dan aku baru bisa bercinta dengannya ketika Jane mengalami patah hati pertamanya." Jelas Calvin. "Karenamu? Kau tahu, tidak ada persahabatan murni antara wanita dan pria. Dan aku lihat, kau yang pertama kali jatuh cinta pada Jane." Calvin hanya mencebikkan bibirnya. "Bukan denganmu, tapi dengan sahabatku. Edward Jasper, Jane jatuh cinta dengannya, memberi kesempatan pada Ed untuk menyentuh dan mengambil keperawanan Jane. Sebuah cinta yang tolol." "Edward Jasper? Seorang producer dan influencer terkenal itu?" "Kau mengenal dia juga?" Calvin terkekeh sinis. "Ah, tapi bagaimanapun itu hanya masa lalu. Kita harus memaafkan masa lalu." Sea terdiam hanya bisa terdiam. Memaafkan masa lalu? Sea sadar bahwa kini dia selalu dalam proses memaafkan masa lalu. Tapi entahlah, terkadang memaafkan adalah hal yang begitu sulit dilakukan. "Kapan-kapan aku akan memperkenalkanmu wahai maid-ku yang pemarah pada Jane." Ucap Calvin dan Sea langsung melotot marah. "Bagaimanapun Jane adalah cintaku dan aku selalu memberikan apapun untuk Jane. Jadi bila Jane sedang di penthouse-ku dan dia menyuruhmu, maka kau harus melakukannya, oke?" "Bukankah itu memang pekerjaan pelayan?" "Kau pintar juga." Calvin tertawa lagi. "Ah, kenapa aku jadi mudah tertawa jika bersamamu, ya?"  Sea hanya terdiam, mengacuhkan ucapan Calvin begitu saja dan memilih membereskan bekas makan Calvin. Calvin memang bahagia, bahagia diatas penderitaan Sea. dasar Calvin! *** Setelah mandi dan memakai baju maid-nya yang menjijikkan ini, Sea kemudian memulai kegiatan pagi-nya ke ruangan yang berisi peraltan kebersihan. Sea langsung menarik mesin penyedot debu ruangan dan mulai membersihkan sofa di ruangan santai. Tapi di sela-sela suara bising mesin penyedot debu, Sea mendengar suara pintu intercom yang terbuka, kemudian tertutup lagi. Sea lalu berlari kearah pintu, sepatu, jaket dan tas Jane sudah tidak ada. Kemudian Sea naik ke lantai dua, pintu kamar Calvin terbuka sedikit. Dan ketika Sea membuka-nya, dia melihat kamar Calvin yang remang-remang dan terasa hawa dingin dari mesin pendingin ruangan. Walaupun remang-remang, tapi Sea bisa melihat kalau Calvin sedang tidur sendirian dan Jane sudah benar-benar pulang terlebih dahulu. "Well, sepertinya aku harus membangunkan tuan menyebalkan ini." Dengan semangat, Sea kembali berlari kecil menuruni tangga dan membawa mesin penyedot debu dengan susah payah ke lantai dua. Lalu Sea berhasil masuk ke kamar Calvin, dia mematikan ac dan menekan tombol otomatis agar tirai kamar Calvin terbuka lebar. Sea menyipitkan matanya ketika sinar matahari mulai memenuhi kamar Calvin, tapi kemudian Sea menyalakan mesin penyedot debu itu dan langsung memperdengarkan suara penyedot debu yang begitu merdu ini sampai membuat Calvin berteriak marah. "Godness!" Calvin langsung membuka matanya dan menatap Sea dengan kesal. "Matikan mesin itu! Bersih-bersih dulu sana di ruangan yang lain!" Sea masih berpura-pura sibuk membersihkan karpet kamar Calvin. "Aduh, tapi maaf tuan. Saya harus membersihkan kamar Anda agar kita Anda bangun, voila! Kamar Anda sudah bersih." "Argh!" Calvin langsung tengkurap sambil menutup kepalanya dengan bantal dan berusaha kembali tertidur. Sea tertawa tanpa suara, kemudian mendekati ujung kasur Calvin dan menaikkan ujung penyedot debu itu. "Astaga... selimut Anda penuh debu, tuan!" "Sea!" Calvin tersentak ketika mesin penyedot debu itu mengenai kulit punggungnya. "Singkirkan!" "Aduh, maaf tuan..." "Singkirkan aku bilang!" "Tapi ini kotor tu—Calvin!" Sea langsung berteriak ketika Calvin tiba-tiba saja menarik tangannya dengan keras, membuat tubuh Sea yang berada di ujung kasur Calvin langsung menimpa tubuh Calvin. Calvin terkejut, Sea juga terkejut. Sampai tubuh keduanya terpaku diam bak patung dan otak mereka tiba-tiba saja melambat kala mata mereka saling bertatapan. "Wohoo! Aku tidak menyangka jika sekarang kau menyukai seks dengan model peran seperti ini, Calvin!" Teriak Gill—manager Calvin begitu dia baru saja berdiri di ambang pintu kamar Calvin. "Aw!" Sedetik kemudian, Sea meringis kesakitan ketika Calvin mendorong tubuhnya begitu saja ke sisi kasur yang lain. Calvin berdeham salah tingkah. Melirik Sea sekilas, lalu menatap marah pada Gill. "Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Gill. Wanita ini memang pembantuku. Kau tahu sendiri aku memintamu membelikan pakaian pelayan." "Pakaian pelayan untuk seks ala-ala peran, kan? Seperti seorang majikan yang bermain seks dengan pelayannya. Aku sudah membelikanmu itu dan wanitamu sudah memakainya sekarang." Ucap Gill sambil menunjuk Sea. Calvin langsung kembali memperhatikan Sea dan sontak Calvin mengumpat dalam hati ketika ucapan Gill benar! Sea memang bodoh karena memakai pakaian maid yang begitu seksi saat ini. Calvin langsung memijat dahi-nya. "Ini yang bodoh adalah aku, Sea atau kau Gill?" "Kau yang menuliskan notes agar aku memakai ini!" Protes Sea dengan wajah memerah. Dia benar-benar malu saat ini. "Wow, kau sangat romantis, Cal." Puji Gill tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya. "Shut up, Gill!" Sentak Calvin. Karena pusing dengan pagi yang ricuh seperti ini, Calvin langsung bangun dari kasurnya. "Sea, bersihkan lagi kamarku!" Sea hanya bisa menatap Calvin dengan kesal ketika sifat menyebalkan Calvin kembali lagi. Lalu Calvin meninggalkannya begitu saja, diikuti Gill yang sebelum meninggalkan kamar, sempat mengerling nakal pada Sea. "Kau sudah melihat beritamu pagi ini?" Tanya Gill sambil mengikuti Calvin ke dapur untuk mengambil air mineral dingin. Calvin membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral dingin, lalu meneguknya. "Apalagi kali ini?" "Kan sudah aku bilang jangan bermain dengan istri orang." Gill kemudian mulai menyalakan ipad-nya. Calvin hanya mendengus geli, dia sudah tahu apa yang dimaksud Gill. "Akhirnya, skandalmu dengan istri orang terbongkar juga." Gill memberikan Ipad yang layarnya sudah memuat kabar berita kearah Calvin. "Skandal baru Calvin Leonard! Berani mengajak berkencan istri Mike Glorys." Calvin langsung menelan saliva-nya dengan susah payah dan kepalanya langsung pening ketika membaca artikel gossip pagi ini. "Sialan!" Umpat Calvin ketika paparazzi berhasil mendapatkan dan menyebarkan foto liburan Calvin dengan Keana Glorys—istri dari petinju dunia Mike Glorys. "Matilah aku!" "Yup, kau akan mati. Karena bau-baunya Mike Glorys akan langsung meninjumu hari ini." "Aku tidak mau babak belur, Gill!" Wajah Calvin sudah ketakutan saat ini. Tapi Calvin kembali menatapi foto-foto hasil jepretan paparazzi yang begitu handal. Foto ketika Calvin dan Keana Glorys baru saja sampai di sebuah villa Calvin di Malibu. Lalu Calvin yang mengajak Keana berenang di pantai dengan bikini Keana yang sangat seksi dan mereka yang sedang naik jet ski, lalu berciuman di pantai dan bahkan paparazzi menangkap foto ketika mereka berdua tengah b******u di villa belakang milik Calvin yang ada di pinggir pantai. "Ya Tuhan, bagaimana ini, Gill?" "Sudah aku bilang kan, jangan bermain dengan istri orang. Apalagi istri petinju dunia." "Tapi Keana yang menggodaku dan tubuhnya sangat bagus, dia juga cantik dan s**t! Apa yang harus aku lakukan saat ini?" Gill hanya mengedikkan bahu-nya. "Tunggu saja tinju maut dari Mike Glorys atau kau bisa menciptakan skandal baru?" "Hah?" Kemudian Gill melirik Sea yang baru saja turun dari tangga dengan wajah datarnya. "Kau mempunyai alat yang cantik untuk membuat skandal baru, Calvin Le   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN