"Sea!!!"
Sea yang kala itu sedang menyiram tanaman di balkon langsung tersentak ketika suara melengking Calvin mengejutkannya.
"Sea, buka pintunya ada tamu!" Calvin berteriak lagi dari dapur.
"Ya ampun!" Sea langsung meletakkan alat penyiram tanaman itu begitu saja dan berjalan ke depan pintu sambil mendumal. "Padahal dia yang paling dekat dengan pintu kenapa harus aku yang membuka, sih?!"
Karena kau adalah pembantunya, Sea. Bisikan itu langsung datang dari lubuk hati Sea yang paling dalam. Membuat Sea tiba-tiba saja terdiam dan sadar.
Sampai kemudian Sea menekan tombol pintu secara otomatis dan pintu itu bergeser sendiri. Memperlihatkan seorang lelaki berambut hitam dengan pakaian santainya.
"Mmm," lelaki itu bergeming di depan pintu dan tidak masuk ke penthouse.
Sea langsung menghampiri. "Anda tidak masuk?"
Lelaki itu mengangkat tangannya persis dihadapan wajah Sea. Seperti melarang Sea berbicara. Kemudian lelaki itu mundur satu langkah, melihat nomor penthouse yang ada di sebelah pintu intecom Calvin.
Kemudian lelaki itu berdeham canggung. "Maaf, aku sepertinya salah menghampiri penthouse atau Calvin Leonard memang sudah pindah dari penthouse ini?"
"George?" Tiba-tiba saja Calvin menghampiri dan berdiri di belakang Sea. "Kenapa tidak langsung masuk saja?" Tanya Calvin sambil menggeser Sea begitu saja. Membuat Sea mengaduh dan melotot kearah Calvin, tapi seperti biasa. Calvin tidak menghiraukannya.
"Oh?" George melirik Sea sejenak. "Aku kira kau sudah pindah, Cal. Mengingat jarang ada asisten rumah tangga berpakaian seksi seperti ini di penthouse-mu."
Mendengar itu sontak wajah Sea memerah dan dia menarik rok-nya sendiri. Berharap rok itu bisa memanjang dengan sebuah keajaiban dan menutupi kaki jenjang-nya.
"Sudahlah, kau masuk saja dulu." Calvin langsung merangkul George dan mengajaknya masuk.
Menghiraukan Sea yang hanya bisa berdiri dengan raut wajah kesal. Kemudian Sea menghentakkan kakinya. Baiklah, dia hanya seorang asisten dan Calvin tidak mungkin selalu memperhatikan dirinya!
Baik, Sea mensugesti dirinya sendiri agar tidak mudah emosi pada Calvin dan memilih melanjutkan pekerjaannya.
Membiarkan George yang kini bergabung dengan Gill dan juga Calvin di dapur.
Seolah hapal dengan kebiasaan George, Calvin langsung membuka kulkas dan memberikan sebotol jus jeruk pada George.
"Thanks." Ucap George sambil menerima jusnya. "Apa lagi yang kau lakukan sampai ada banyak wartawan di lobby gedung ini?"
Gill langsung tertawa kecil. "Sudah ada banyak wartawan rupanya."
"Dan para fansmu juga ada di luar." George kemudian meminum jusnya. "Beberapa wartawan juga mewawancaraiku, meminta tanggapan padaku tentang hubunganmu dengan Keana Glorys?"
Calvin sontak membuang mukanya kearah lain dan Gill terbahak keras. "Sahabatmu ini berkencan dengan istri dari petinju dunia Mike Glorys."
"Hm..." Bukannya tertawa atau terkejut, George hanya begumam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Benar-benar tipikal seorang George Davian yang lebih tenang daripada siapapun. "Keana yang menggodamu terlebih dahulu, atau sebaliknya?"
Calvin mendesah kesal. "Itu semua terjadi saat sebuah acara penghargaan. Keana duduk denganku dan mulai bercerita kalau dia bertengkar dengan Mike karena baru-baru ini Mike tertangkap kamera paparazzi sedang berada di bar dengan dua wanita sekaligus dan bermesraan.
Kau tahu sendiri, Keana masih muda, memiliki badan bagus, bibir seksi dan d**a penuh."
Gill terbahak lagi dan George hanya berdeham. Tapi diam-diam George menganggukkan kepalanya lagi. Menyetujui ucapan Calvin.
"Lanjutkan."
Calvin mengusap wajahnya. "Keana bilang 'aku menyesal menikah dengan Mike. Andai saja aku pertama kali bertemu denganmu, aku pasti jatuh cinta langsung pada lelaki sepertimu dan langsung berkencan denganmu dan astaga, aku bahkan rela memberikan apapun yang kau mau jika kau suka padaku, Calvin.' Begitu katanya." Calvin menirukan nada suara Keana yang lembut.
"Lalu aku bilang padanya; Keana, jangan menyesali takdir. Kalau takdirmu dengan Mike sudah seperti itu maka lupakanlah. Kau tetap bisa berkencan denganku. Bagaimana jika kau menemaniku berlibur ke Malibu untuk melupakan suami berengsekmu itu?"
"Dasar perayu kadal!" Gill sontak mengumpat. "Ya ampun, rayuanmu benar-benar busuk."
George hanya melirik Gill. "Bagaimana rasanya tidur dengan istri orang?"
"Seperti tidur dengan barang bekas." Jawab Calvin dengan santai sambil mengupas apel.
"Mulutmu ini benar-benar harus di tinju oleh Mike Glorys." Ungkap Gill.
"Jaga bicaramu, Gill!" Calvin lalu mengerucutkan bibirnya. "Sebenarnya enak sih tidur dengan istri orang, ada sensasinya. Sensasi takut ketahuan oleh suaminya!"
George akhirnya mengeluarkan tawa kecilnya. "Kabur saja."
"Sambil menciptakan skandal baru." Tambah Gill.
Calvin mengerutkan dahi-nya tidak paham. "Baik, tapi kabur kemana dan skandal apalagi yang bisa membuat fansku dan para wartawan itu beralih topik?"
"Besok aku dan istriku akan berbulan madu ke Bali. Sekalian bertemu dengan tiga anak Ed yang baru lahir." Ucap George. "Kau bisa ikut jika mau."
"Nah ide bagus!" Gill berseru senang, kemudian berbisik. "Ajak asisten rumah tanggamu yang seksi itu juga dan kita manfaatkan saja dia sebagai skandal terbarumu."
"Dengan Sea?!" Calvin sontak terkejut. "No!"
"Kenapa? Sea cantik, seksi, dan wah... aku benar-benar melihat sesuatu hal yang tersembunyi dari wajahnya. Dia begitu tertutup." Gill memulai rencananya. "Aku akan menghubungi publicistmu dan Boom!Seluruh berita gadis baru Calvin Leonard akan ada di seluruh majalah, atau infotaiment televisi. Tapi, kita akan menutupi wajah Sea."
Calvin mengusap dagunya. "Bagaimana caranya?"
"Tinggal suruh publicistmu mengambil gambar yang bagus agar wajah Sea tidak terlihat dan jangan ungkapkan jati diri Sea pada publicitmu." Jelas George yang lebih pintar dari Calvin.
"Lalu setelah berita tentang Keana Glorys mereda dan teralihkan oleh beritamu dan sang pujaan hati baru, maka buat berita lain!" Gill berucap semangat. "Sea tidak terpakai lagi."
Calvin tediam, tapi dalam diam itu dia terus berpikir. Sampai kemudian salah satu ujung bibirnya tertarik keatas, membuat sebuah senyuman licik. "George, besok aku akan ikut ke Bali dan Gill, hubungi publicistku sekarang juga."
Calvin sudah menyusun rencana, memanfaatkan Sea dan menghindari tinju maut dari Mike Glorys.
***
"Besok aku akan ke Bali." Calvin memberikan Ipad-nya pada Sea ketika Sea sedang mengelap meja dan Calvin sedang menonton televisi sambil duduk di sofa malam ini.
"Apa ini?" Tanya Sea sambil menerima Ipad yang diberikan Calvin.
Sea mengernyit tidak paham ketika dia melihat halaman Ipad Calvin yang memuat salah satu online shopping sebuah baju-baju merek ternama.
"Pilihlah baju, sepatu, topi, kacamata, makeup, atau apapun yang kau mau. Hm, bikini juga boleh." Calvin mengeluarkan seringaiannya. "Karena kau juga akan ikut."
"Tapi kenapa aku harus ikut?"
"Karena aku mau kau ikut."
Sea lalu meletakkan Ipad Calvin begitu saja ke sofa. "Aku tidak mau ikut. Aku mau disini saja."
"Baiklah, aku tidak akan membayar gajimu bulan ini. Lalu aku akan menaikkan biaya ganti rugi—"
"Tidak bisa begitu!" Sea protes.
"Bisa sajalah, kan aku tuannya." Calvin menampakkan wajah menyebalkannya bagi Sea. "Jadi bagaimana? Mau ikut?"
"Jawab dulu yang jelas kenapa aku harus ikut!"
Calvin tertawa kecil. "Karena aku akan kesepian jika kau tidak ikut?"
Sea terdiam dan menatap Calvin dengan datar. "Jawab yang benar, Calvin Leonard."
"Cerewet. Sudah cepat pilih apapun yang kau inginkan!" Calvin kembali menyodorkan Ipad itu pada Sea. "Tinggal klik, klik, klik, kalau kau tidak tahu caranya. Lalu, berikan padaku."
Sea mengerucutkan bibirnya, dia melempar kain lap ke d**a Calvin dan mulai duduk di sofa yang lain.
"Heh! Dasar asisten kurang ajar!" Calvin ganti melempar kain menjijikkan yang mengenai badannya.
Sea hanya berdecih kesal, kemudian dirinya mulai sibuk memencet apapun yang dia inginkan. "Apapun yang aku inginkan?"
"Hm." Calvin menjawab malas sambil sibuk bermain playstation.
Sea hanya menatap Calvin dari balik bulu matanya, diam-diam Sea mengigit bibir bawahnya sendiri untuk menahan jeritannya.
Bagaimana tidak menjerit jika dia menjadi asisten Calvin, berhutang pada Calvin, tapi malah di suruh ikut liburan ke luar negeri dan bebas memilih apapun yang dia inginkan. Oh, betapa bahagianya Sea.
Tapi dia belum tahu saja jika Calvin menyiapkan segala kegiatan untuk memanfaatkan Sea.
"Sudah." Sea memberikan Ipad itu kembali pada Calvin.
"Taruh saja dan lanjut bekerja lagi sana!" Sahut Calvin tanpa mengalihkan tatapannya dari layar televisi yang sedang menampilkan Game Viva dari playstation.
Sea mengangguk dan mengambil lap kotornya. "Terimakasih." Kemudian Sea berlalu.
Calvin langsung mengerjapkan matanya ketika mendengar kata ucapan terimakasih dari Sea. Kenapa rasanya terdengar menyenangkan ya?
Seperginya Sea, Calvin langsung meletakkan console playstationnya dan mulai sibuk dengan Ipadnya. Melihat apa saja yang di beli Sea.
Calvin tersenyum kecil sambil mengangguk. "Seleranya tidak buruk juga. Mungkin, akan lebih baik jika aku membeli ini, ini, dan oh ini bagus juga!"
Tanpa Sea ketahui, diam-diam Calvin membelikan beberapa bikini seksi untuk Sea pakai nanti.
***
Sea yang baru saja selesai mandi pagi setelah menyiapkan segala sarapan untuk Calvin langsung dibuat terperangah ketika dia ingin ke ruang makan, tapi di ruang tamu penthouse Calvin sudah banyak orang.
Ada tiga orang lelaki yang memakai jas rapi, berwajah tampan dan wangi berkumpul disana bersama dua orang wanita yang sangat cantik serta terlihat fashionable dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Selamat pagi, Sea." Calvin langsung menghampiri Sea dengan senyum secerah matahari pagi dan suara yang begitu lembut menenangkan hati. "Kau terlihat segar dan cantik pagi ini. Apalagi setelah mandi dan tidak memakai baju pelayan yang seksi tapi norak itu." Calvin lalu tertawa.
Sea langsung menatap para wanita di belakang Calvin yang memasang wajah tersipu. Yang di puji siapa, yang tersipu siapa.
Tapi bukannya merasa tersipu, Sea malah bergidik ngeri. "Ada apa denganmu? Kau sakit?"
"Ahaha, siapa yang sakit? Aku bahagia sekali!" Calvin lalu merangkul Sea menuju ke kerumunan orang-orang cantik dan tampan itu.
Sea terdiam, ada banyak tas dari merek-merek kenamaan, lalu satu set peralatan make-up lengkap dan berbagai macam hal lainnya.
"Nah, aku harus bersiap dulu. Dan Sea, mereka adalah para fashion stylist dan makeup artis kenamaan. Mereka akan mendadanimu lebih fashionable lagi seperti mereka." Ucap Calvin.
"Benar sekali!" Salah satu makeup artist wanita itu langsung menghampiri Sea. "Mari Miss Marioline, kami akan mendandani Anda dan membuat Mr Calvin Leonard makin jatuh cinta pada Anda."
"Calvin, apa maksudnya ini?!" Tanya Sea dengan bingung.
Sedangkan Calvin hanya mengedikkan bahu-nya. "Sudahlah, Sea. Kau ini sedang bekerja denganku. Jadi, jangan banyak protes."
Sea hanya bisa terperangah, Calvin meninggalkannya begitu saja dan para orang-orang asing ini mulai mendandani Sea.
Mulai dari memilihkan underwear, pakaian, sepatu, aksesoris, lalu menawari Sea model rambut apa yang dia inginkan, sampai menawari Sea makeup seperti apa yang dia inginkan hari ini.
Tentu saja Sea semakin bingung. Seumur hidupnya, dia tidak pernah di perlakukan seperti ini. Tapi kali ini benar-benar berbeda. Dekat dengan Calvin Leonard tentu bukan hal yang main-main. Bersama Calvin, hidup Sea seolah tidak datar dan tidak dipenuhi segala ketakutan pada dirinya.
Sea memang sering kesal jika bersama Calvin, Sea akui itu. Tapi dia sadar, berhubungan dengan Calvin jelas salah.
Karena Sea akan merasa segala hidupnya ke depan adalah sebuah permainan di depan kamera, hidupnya akan menjadi sebuah konsumsi publik dan kejutan untuk dirinya.
Calvin sudah mempersiapkan itu semua di belakang Sea tanpa wanita itu ketahui.