Kesabaran Mei Hwa berada pada titik puncak. Pesan-pesannya belum terbaca. Panggilannya tidak pernah terjawab. Satu hal yang membuatnya masih mempertahankan prasangka baik adalah last seen ponsel Ayek yang menunjukkan waktu kemarin malam. Hanya saja, ia heran, kenapa kekasihnya belum online selama itu? Tidakkah ia membutuhkan alat komunikasi? Untuk mengalihkan perasaan gelisah Mei Hwa mendatangi Ahong yang sedang menata barang di toko. "Kamu nggak ke studio, Mei?" tanya Ahong. Ia menggeser kardus di lantai yang menghalangi jalan Mei Hwa. "Males!" Mei Hwa membuka kardus, kemudian memindahkan isinya ke etalase, satu per satu. Ahong menoleh. Wajahnya berseri-seri. "Nanti malam, Babah mau mengajakku ke rumah Aling!" "Oh iya?" Mei Hwa mengerjap. Ia ikut senang kalau Ahong bisa mendapa

