"Maafin gue, Yek." Perasaan bersalah Cindy semakin sulit dibendung. Kesempatan baik di depan mata, ia lewatkan dengan sebuah kesalahan fatal. "Seharusnya gue nggak jawab telepon itu. "Sejak semalam, sudah tujuh kali elo minta maaf." Ayek menepuk bahu Cindy. "Sekali lagi gue tegasin, itu bukan dalah elo!" "Tapi...." "Cin!" Ayek menatap Cindy lekat-lekat, berusaha meyakinkan gadis itu. Cindy mengangguk meski hatinya masih belum bisa tenang. "Sekarang kita bahas hal lain yang lebih mendesak." Ayek menyalakan laptop. Dari jauh, Zainab memperhatikan Ayek dan Zainab. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan mereka. Namun, ia belum menemukan momen yang tepat. Kedua anak muda itu tampak sibuk dengan pekerjaan. "Gue butuh admin media sosial!" cetus Ayek. "Gue sudah lama enggak buka

