Di bagian belakang studio milik Mei Hwa, ada sebuah ruangan separuh beratap, separuhnya terbuka. Ukurannya hanya 4x4 meter, tapi kesannya sangat luas. Beraneka jenis tanaman anggrek memenuhi setiap sisi dinding. Di bawahnya terdapat sebuah kolam ikan yang di tengahnya terdapat air mancur.
Di tepi kolam ada dua buah kursi yang dibatasi sebuah meja. Ayek duduk di salah satunya, menunggu pemilik studio menemuinya .
Tadi, ketika sampai di studio, Ayek disuruh menunggu sebentar. Tadinya ia duduk di teras, tapi salah seorang karyawan Mei Hwa mengantarkannya ke ruangan ini.
Lima menit sudah Ayek menunggu Mei Hwa, sedangkan gadis itu sedang ada tamu. Untuk mengusir kejenuhan, ia menikmati taman mini di depannya. Gemericik air mancur dan ikan-ikan mas yang memenuhi kolam, sedikit mengurangi perasaan bosan.
"Maaf, membuatmu menunggu lama." Mei Hwa akhirnya muncul. Ia meletakkan dua buah minuman sari buah kemasan botol ke atas meja.
"Nggak apa-apa. Jangankan lima menit, seperempat abad menunggu jodoh datang saja aku masih sabar," kelakar Ayek.
"Umurmu udah dua puluh lima tahun ternyata," ujar Mei Hwa.
Ayek tersenyum simpul. "Kamu sendiri?"
"Iya, aku masih sendiri, belum punya pacar. Hehehe."
Ayek tergelak. "Itu lawakanku."
"Dan ngga lucu!"
Ayek dan Mei Hwa tertawa.
"Diminum dulu, Yek!"
Ayek mengambil botol dari atas meja. "Dulu apa sekarang?"
Mei Hwa mendengus, pur-pura kesal. "Diminum sekarang!"
Ayek membuka tutup botol. Diteguknya separuh isinya. Minuman dingin rasa jeruk itu membasahi temggorokannya yang kering, segar dan menyejukkan.
"Bagaimana kabar band kamu?" tanya Mei Hwa.
"Baik-baik saja. Sehat wal afiat."
Mei Hwa terkekeh. "Kalian cuman bertiga?"
Ayek mengangguk.
"Kamu megang gitar, Sandi nabuh drum, dan Kosim vokal?"
"Waktu rekaman, aku mengisi bass juga. selain vokal, Kosim ngisi keyboard juga."
"Keren!" puji Mei Hwa. "Kalian manggung juga kan?"
Ayek mendesah tertahan. "Sudah lama kami ngga manggung."
Mei Hwa mengerjap. "Mustahil kalau kalian ngga punya job manggung. Kalian kan cukup populer."
"Dulu banyak tawaran manggung. Buat mengisi kekosongan formasi kami memakai additional player. Tapi mereka ngga terikat. Repotnya, ketika kami butuh, mereka kadang punya job di tempat lain."
Mei Hwa mengangguk paham. "Kalau nyari additional player secara dadakan repot juga ya buat mereka mempelajari lagu kalian?"
"Begitulah," keluh Ayek.
"Kalian ngga nyari tambahan personel?"
Ayek tersenyum gamang. "Ada sih rencana ke situ, tapi untuk sekarang kami mau fokus dulu publikasi di medsos."
Mei Hwa mengerjap paham. "Siapa yang nulis lagu sama aransemen?"
"Kami setor lagu, terus nanti dimusyawarahkan mana yang mau direkam. Kalau aransemen, kami garap bareng. Kebetulan selera dan visi musik kami sama."
"Vokal kamu bagus juga lho," puji Mei Hwa. "Kenapa kamu ngga ngisi vokal juga?"
Ayek merasa tersanjung. Ia berusaha menahan perasaan bangga. "Genre kami rock. Sementara vokalku lebih cocok di pop."
"Iya juga sih!"
Ayek mengangguk. Ia mengambil minuman kemasan dari atas meja. Ia menghabiskan isinya yang tinggal separuh.
"Mau lagi?"
"Duet?"
Mei Hwa menggeleng. "Minumannya, mau lagi?"
Ayek terkekeh. "Enggak, makasih. Kirain kamu mau nawarin duet lagi."
Mei Hwa tersenyum. Tentu saja ia mau duet kembali dengan Ayek, tapi saat ini ia sedang tidak mood buat main piano.
"Aku pengen ngajak kamu kolaborasi," cetus Ayek.
Mei Hwa tersenyum gembira. Setelah duet kemarin, ia punya keinginan untuk berkolaborasi dengan Ayek. Semalaman ia berpikir, bagaimana cara menyampaikannya kepada lelaki itu. Tadi, secara mengejutkan ia malah ditawari lebih dahulu.
"Bagaimana?" tanya Ayek penuh harap.
Dalam hati Mei Hwa ingin sekali menjawab 'iya' tapi ada sesuatu yang ia khawatirkan.
Melihat reaksi Mei Hwa yang tidak langsung menjawab, membuat Ayek menduga tawarannya kemungkinan besar ditolak. Jika itu terjadi, ia ingin penolakan itu diucapkan dengan cara yang tidak terlalu membuatnya kecewa.
Ayek mengambil dua botol minuman dari atas meja. Ia mengangkat keduanya di udara. "Mei, di tangan kananku botol yang masih ada isinya. Pilih ini jika kamu menerima tawaranku untuk kolaborasi. Dan di tangan kiriku botol yang sudah kosong. Pilih ini jika kamu tidak menolak."
Mei Hwa terkekeh. "Pilihan yang sulit!"
Ayek meletakkan kembali dua botol itu ke atas meja. "Kalau kamu ngga bisa memilih antara menerima dan tidak menolak, berarti kamu menolak tawaranku."
Mei Hwa mengernyit. Ia tidak tahu, Ayek sedang bercanda atau serius soal memilih botol. Padahal ia belum memilih apa pun, tapi lelaki di sebelahnya sudah mengambil kesimpulan sendiri Sekarang ia menjadi serba salah.
Ayek memasang wajah pura-pura sedih. "Padahal berkolaborasi denganmu adalah cita-citaku sejak TK."
Reflek Mei Hwa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Ayek. "Sejak TK ya? Kita kenal saja baru kemarin. Ada-ada saja. Hahaha."
Ayek garuk-garuk kepala. "Jadi gimana?"
Mei Hwa ingin menjitak kepala Ayek. Lama-lama lelaki itu menggemaskannya.
"Ya sudah, lupakan!" Ayek menyandarkan kepala ke kursi.
"Memang teman band kamu mengizinkan?" tanya Mei Hwa. Itu yang ia khawatirkan.
Ayek menoleh. "Sekarang band sedang ngga ada projek."
"Tapi ada baiknya kamu bicarakan dulu sama mereka."
Ayek menegakkan posisi badannya. Ia menatap Mei Hwa. "Kamu benar, aku harus bicarakan ini dulu sama band."
Mei Hwa mengangguk. "Aku nggak mau nantinya projek kita akan jadi masalah."
"Kita itu aku dan kamu?"
Mei Hwa mengatupkan bibir rapat-rapat. Ia gemas campur kesal dengan Ayek. Namun ia merasa nyaman dengan karakter lelaki itu.
"Kata orang, perempuan kalau diam berarti mau," goda Ayek.
Mei Hwa protes. "Ngarang! Kamu pasti ngutip kata-kata itu dari artikel hoaks. Hahaha."
"Lalu, 'kita' yang kamu maksudkan itu siapa?"
"Kepo, ah!"
"Lah, kan kamu tadi menyebut kata itu!"
"Pikir aja sendiri!" Mei Hwa pura-pura kesal.
Ayek mendesah panjang. "Oke, beri aku waktu untuk berpikir." Ia memelorotkan badan. Kaki terjulur lurus dan kepala ia sandarkan ke kursi, setelah itu memejamkan mata.
Mei Hwa geleng-geleng kepala. Selama ini ia tak pernah ngobrol santai dengan lelaki, selain keluarganya. Ia bahkan nyaris tak punya teman dari kaum Adam. Waktu sekolah, ia hanya main dengan sesama anak perempuan. Sekarang, sekalinya ada, lelaki itu menyebalkan. Anehnya, ia merasa nyaman.
"Yek, kamu tidur?" Mei Hwa nyaris mencolek bahu Ayek kalau tidak buru-buru mengurungkannya.
"Iya." Ayek menjawab dalam keadaan masih memejamkan mata.
"Tidur kok ngomong!"
"Aku lagi mimpi ngobrol sama temen."
"Temennya cowok apa cewek?"
"Cewek."
"Yakin kalau dia cewek?"
"Yakin, karena dia cantik."
Pipi Mei Hwa bersemu merah. Beruntung Ayek tak melihatnya. Meski menganggap ucapan lelaki itu sebagai candaan, dan yang dimaksud 'teman' bisa siapa saja, tapi ada sesuatu yang membuncah di dadanya.
"Kamu ngga tanya siapa nama temanku?" tanya Ayek.
"Ngga, ah!" jawab Mei Hwa. "Cantik tapi cuman mimpi buat apa?"
Ayek membuka mata. "Iya juga, sih!" Ia menatap Mei Hwa. "Temen yang ada di dalam mimpiku mirip kamu!"
"Bohong!"
Ayek tertawa lebar. "Memang bohong. Mana ada orang mimpi bisa diajak ngomong?"
"Ngeselin!" umpat Mei Hwa.
"Iya, hahaha."
Mei Hwa membelalakkan mata sipitnya. "Ngeselin kok bangga?"
"Dari pada ngga ada yang bisa dibanggakan!"
Mei Hwa tertawa. "Dasar!"
Ayek membetulkan posisi duduk. Ia heran pada diri sendiri, kenapa bisa secair ini bersama Mei Hwa.
"Soal kolaborasi ..." Mei Hwa menahan kalimatnya sejenak. "Sepertinya menarik jika genre rock bertemu musik klasik."
"Itu alasanku ingin kolaborasi sama kamu," ujar Ayek. Padahal motivasi awalnya adalah karena ia ingin terus berhubungan dengan Mei Hwa.
Mei Hwa mengangguk.
"Nanti kubicarakan sama band dulu. Semoga mereka kasih izin."
"Iya, seperti itu seharusnya."
"Kalau band mengizinkan, kamu mau kan kolaborasi sama aku?"
Mei Hwa pura-pura berpikir. "Kalau mereka mengizinkan, kamu harus ngasih aku pilihan buat memilih salah satu dari dua botol seperti tadi."
Ayek terkekeh.
Mei Hwa tersenyum