Memilih Satu di Antara Dua Botol

1173 Kata
Babah Liem sedang cek stok barang ketika sebuah becak berhenti di depan tokonya. Sontak matanya terbelalak, melihat Mei Hwa pulang bersama laki-laki. Ada dua hal aneh yang Babah Liem rasakan. Pertama, Mei Hwa pulang lebih cepat dari biasanya. Kedua, anaknya diantar seorang lelaki. Hatinya mendadak panas ketika Mei Hwa terlihat sedang menunggui teman lelakinya turun dari becak, alih-alih langsung masuk ke rumah. Yang lebih menjengkelkan adalah anaknya itu sempat berdadah-dadah ria kepada temannya itu. Emosi Babah Liem langsung tinggi, Napasnya memburu, sampai kaca mata bacanya melorot. Fokus pekerjaannya sirna seketika. Ia pun bermaksud mencegat Mei Hwa yang baru saja masuk melalui pintu samping. "Babah mau ke mana?" tanya Mamah Kiew. Istri Babah Liem itu mencium gelagat tidak enak. Ia yakin, suaminya akan memarahi anak mereka. Mamah Kiew yang berada di kasir juga sempat melihat anaknya pulang bersama lelaki. Itu pemandangan tidak biasa. Ia khawatir kejadian itu akan menjadi masalah keluarga. "Mei Hwa pulang sama siapa?" tanya Babah Liem dengan mata merah. Tampak sekali ia sulit menyembunyikan amarah. Mamah Kiew memang tak mengenal lelaki itu, tapi yakin kalau itu anaknya Zaenab. Ia pernah melihatnya waktu berkunjung ke rumah tetangganya itu. "Dia anak belakang rumah, Bah!" "Sejak kapan Mei kenal laki-laki? Ini nggak beres, Mah!" Babah Liem berlalu menuju rumah yang berada di belakang toko. Mamah Kiew tak kuasa mencegah suaminya. Ia tak bisa meninggalkan kasir begitu saja, apalagi masih ada pelanggan. Ia pun hanya pasrah, berharap masalahnya tidak seburuk yang dibayangkan. Sampai di depan kamar Mei Hwa, Babah Liem mengetuk pintu. Ia tak menyangka anaknya telah berani jalan dengan lelaki. Selama ini ia menganggap Mei Hwa anak rumahan yang tak bertingkah aneh-aneh. Dua kali ketukan pintunya tak direspon, Babah Liem semakin marah. Digedornya pintu kamar anaknya itu. "Ada apa, Bah?" Mei Hwa datang dari belakang. Ia baru saja mencuci tangan di washtafle dapur. "Duduk!" Babah Liem menyuruh Mei Hwa duduk di kursi meja makan. Kamar gadis itu berada di belakang, berhubungan langsung dengan ruang makan dan dapur. Mei Hwa sudah menduga ini akan menjadi masalah. Hanya saja, tadi saat Ayek meminta pulang bareng ia tak ambil pusing, tanpa banyak berpikir langsung mengiyakan. Kini yang bisa ia lakukan hanyalah berusaha bersikap tenang. Perlahan ia meletakkan pantatnya di kursi. Babah Liem duduk di kursi, bersebelahan dengan Mei Hwa. "Siapa lelaki itu?" Mei Hwa mengatur napas. "Lelaki yang mana, Bah?" "Ngga usah berlagak bodoh. Kamu pulang sama siapa?" Mei Hwa terus berusaha bersikap setenang mungkin. Ia tak mau terlihat gugup. Padahal dadanya berdebar-debar. Ayahnya temperamental, salah bicara sedikit saja urusan bisa gawat. "Siapa?" Babah Liem tidak sabar. "Tadi Mei ketemu tetangga belakang rumah. Karena tujuannya sama maka kami pulang bareng," jawab Mei Hwa, mencoba meredam getaran nada suara. "Sejak kapan kamu pulang sama tetangga? Itu di luar kebiasaan!" Mei Hwa menunduk. Itu cara paling tepat yang bisa ia lakukan. Ia hanya akan bicara saat ditanya saja. Menyela ucapan ayahnya, hanya akan memperkeruh keadaan. "Babah nggak melarang kamu bergaul sama tetangga. Kamu sendiri yang sejak kecil berdiam di rumah, nyaris nggak punya teman. Lalu sekarang tiba-tiba kamu jalan sama lelaki. Gimana Babah ngga kaget?" Mei Hwa membisu, tidak berani menatap wajah ayahnya. "Kampung kita ini suka menggosip. Sekalinya ada hal-hal yang di luar kebiasaan akan menjadi bahan gunjingan. Paham?" Mei Hwa mengangguk. "Iya, Bah." "Sejak kapan kamu jalan sama laki-laki?" "Baru tadi, Bah!" Babah mengibas tangan ke udara. "Jangankan orang lain, Babah sendiri nggak akan percaya kalau nggak melihat sendiri. Jangan bilang kamu ada apa-apa sama dia!" Mei Hwa ingin membuka mulut untuk meredam emosi ayahnya, tetapi ia urungkan. "Kamu sudah dewasa. Ketika kamu jalan sama laki-laki siapa saja bisa berpikir kalian ada hubungan dekat. Sejak dulu Babah mewanti-wanti agar kamu dan adik-adikmu tidak sembarangan bergaul dengan lawan jenis. Dan sekarang kamu memberi contoh yang kurang elok." "Dia teman bermusik, Bah!" Mendengar bantahan Mei Hwa membuat emosi Babah Liem semakin tinggi. "Tapi tidak harus berdua-duaan seperti tadi! Kalian kan bisa pulang sendiri-sendiri." Mei Hwa menyesal telah menyela ucapan ayahnya. Ia sadar, semua argumennya tak banyak menolong, bahkan bisa jadi bumerang. "Siapa nama anak itu?" Mei Hwa beranikan diri mengangkat wajah. Ia merasa takut melihat mata ayahnya memerah. Babah Liem menggebrak meja. "Siapa?" Jantung Mei Hwa serasa mau copot. Ingin sekali ia menangis, namun ditahan. "Namanya Ayek." "Di mana rumahnya?" "Belakang rumah kita persis." "Belakang rumah, apa dia anaknya Zaenab?" Mei Hwa mengangguk. Babah Liem menghempas napas kasar. "Oh anaknya Zaenab? Babah baru tahu tampangnya. Anak itu yang kerjaannya ngopi sama teman-temannya, genjrang-genjreng gitaran, bikin berisik kampung saja!" Mei Hwa menelan ludah. Ia berdoa dalam hati agar ayahnya tak memperpanjang masalah ini. "Dia anak baru di kampung ini, tapi nggak punya tenggang rasa sama sekali. Anak seperti itu kamu jadikan teman, hah?" Mei Hwa semakin tersudut. Ia tak habis pikir, bagaimana ayahnya bisa punya stigma negatif pada Ayek, padahal melihatnya saja baru tadi. Ia curiga, ayahnya sudah termakan isu dari salah satu pelanggan tokonya. Mei Hwa jadi teringat cerita Zaenab perihal tetangga sebelah rumah yang melabrak perempuan itu karena merasa terganggu suara berisik. Candaan Ayek dan teman-temannya dianggap tidak bisa ditolerir, sangat mengganggu. Zaenab sudah meminta maaf kepada tetangga sebelah rumahnya itu. Masalah juga sudah selesai, karena sejak itu teman-teman Ayek menjadi jarang datang. "Jangan ulangi lagi. Babah nggak mau lagi melihatmu jalan sama laki-laki. Apalagi sama anak itu," kata Babah memberi penekanan pada suaranya. Mei Hwa menunduk dalam-dalam. Air matanya tak bisa lagi dibendung. Ada rasa sakit dalam hati dimarahi sekeras itu untuk hal yang menurutnya tidak layak dipermasalahkan. Ia merasa sudah dewasa, tapi ayahnya masih saja memperlakukan dirinya seperti anak kecil. Melihat Mei Hwa meneteskan air mata, emosi Babah Liem perlahan turun. "Sudahlah, anak dan mamahnya sama saja. Diberi nasehat ujung-ujungnya mewek!" Babah Liem bangkit. Sebelum berlalu ia menatap Mei Hwa. Tangannya teracung-acung. "Ingat kata-kata Babah, jangan lagi jalan sama anak lelaki yang nggak jelas!" Tangis Mei Hwa pecah. Sepeninggal ayahnya, ia berlari, masuk kamar. Mei Hwa langsung menjatuhkan badan ke kasur. Wajahnya terbenam pada bantal. Ia menumpahkan segala rasa sesak dalam d**a dengan menangis. Air matanya terus mengalir, sesekali sesenggukan. Mei Hwa masih tak habis pikir kenapa diperlakukan seperti anak kecil. Hanya karena pulang bersama lelaki ia harus mendapatkan perlakuan sekeras itu. Mei Hwa sadar, ayahnya seorang yang temperamental. Sejak kecil ia sudah terbiasa. Dimarahi karena masalah sepele adalah hal biasa baginya. Namun, baru kali ini ia merasa sekecewa ini. Ia sudah dewasa, dan ingin diperlakukan dengan cara dewasa pula. Di usianya yang sudah dua puluh dua tahun, menurutnya hal wajar jika sesekali ia bersama lawan jenis, sekadar jalan bareng, yang penting masih dalam batas-batas norma. Namun Mei Hwa menyadari, ia tak akan sebebas anak gadis lain pada umumnya. Ayahnya terlalu kolot, untuk sekadar memahami bahwa dirinya sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Ponsel Mei Hwa berdering. Ia tak acuh. Pikirannya sedang kacau. Hatinya sedang tidak nyaman, membuatnya malas meski sekadar mengintip siapa yang menelepon. Berjarak beberapa meter dari kamar itu, Ayek terus menempelkan ponsel ke telinganya. Ia gelisah karena panggilan teleponnya belum dijawab. Padahal ia ingin memberi tahu Mei Hwa bahwa teman-temannya memberi izin dirinya untuk menggarap projek di luar band. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN