Untuk ke sekian kali, Ayek melirik arloji di pergelangan tangan. Sebelas menit sudah ia duduk sendirian, menunggu Mei Hwa. Tadi lewat telepon, gadis itu memintanya untuk menungguinya di kursi tunggu lantai dua studio.
Ayek sampai di studio empat belas menit lebih cepat dari waktu yang sudah dijanjikan. Itu berarti masih ada tiga menit lagi sampai gadis itu menemuinya. Tentu saja jika gadis itu benar-benar tepat waktu.
Mei Hwa tidak menjelaskan apakah dirinya belum sampai atau sudah di studio. Hanya saja Ayek berpikir pasti gadis itu masih sibuk dengan urusannya. Maka ia akan sabar menunggu.
Terdengar langkah kaki menapaki anak tangga. Ayek menduga itu Mei Hwa, namun ia harus menelan ludah karena ternyata yang datang adalah lelaki seumurannya yang wajahnya tampak bingung.
"Maaf, Mas. Toilet sebelah mana, ya?" tanya lelaki yang baru datang.
Ayek menunjuk ruangan kecil dekat tangga. "Di situ, Mas. Kan ada tulisannya. Lagi pula, di bawah kan ada toilet."
Lelaki itu cengar-cengir. "Penuh semua." Ia memegang perutnya. Sebelum memasuki toilet ia mengangguk pada Ayek. "Terima kasih, Mas!"
Ayek tersenyum kecut, memandang punggung lelaki itu dengan sorot kosong.
Tanpa Ayek ketahui, dari dalam ruang recording, Mei Hwa memperhatikan dirinya sejak tadi. Ruangan itu memiliki kaca one way mirrored glass yang bisa memantau situasi di luar tapi orang dari luar tidak bisa melihat ke dalam.
Mei Hwa bisa saja langsung menyambut Ayek tadi. Tapi ia ingin menenangkan diri dulu, sehingga ia meminta lelaki itu untuk menunggu. Hatinya masih gundah sejak dimarahi ayahnya kemarin sore. Ia baru akan menemui Ayek setelah hatinya sedikit lebih nyaman.
Kenyataannya, sekarang hati Mei Hwa bukan hanya sedikit lebih nyaman, tapi sangat nyaman. Melihat wajah Ayek secara leluasa sudah lebih dari cukup untuk mengusir kegalauan. Ia bahkan senyum-senyum sendiri, melihat tingkah lelaki itu, dari mulai garuk-garuk kepala sampai mendesah gelisah.
Di mata Mei Hwa, Ayek cukup tampan. Wajahnya oval dengan rahang kokoh. Kumis dan jenggot tipis semakin menambah kesan macho. Yang paling ia sukai dari lelaki itu adalah hidungnya yang mancung.
Meskipun masih ingin berlama-lama menikmati wajah Ayek tapi Mei Hwa tidak tega membiarkan lelaki itu gelisah. Sehingga ia beranjak keluar ruangan.
Pintu terbuka, sontak wajah Ayek semringah. Kegelisahannya sirna seketika.
"Hai!" sapa Ayek.
"Hai, Yek!" Mei Hwa duduk bersebelahan dengan Ayek. "Sudah lama nunggu?"
Ayek tersenyum jahil. Ia melirik arloji. "Kalau menurut arloji, aku berada di sini sejak tujuh belas menit lalu. Tapi menurut hatiku, aku tadi menungumu selama tujuh belas purnama."
Mei Hwa terkekeh. Ini adalah kali pertama ia bisa tertawa sejak kemarin sore. Itulah salah satu hal pada diri Ayek yang membuatnya merasa nyaman.
"Hati memang nggak punya otak, nggak pernah sekolah pula. Kadang aku sebel sama dia!" kelakar Ayek.
Tawa Mei Hwa makin lebar. Baru satu menit bersama Ayek sudah membuat dirinya merasa bahagia. Ia berpikir, pasti akan sangat membahagiakan jika setiap saat bersama lelaki itu.
"Apa hatimu juga seperti itu?" tanya Ayek.
Mei Hwa mengerjap. "Hatiku lebih bodoh dari yang kukira."
"Kok bisa begitu?"
Mei Hwa memilin rambut panjangnya. Ia pura-pura berpikir, sambil melirik wajah Ayek.
"Hatiku tak mengenal logika. Ia keras kepala, bebal, dan tidak tahu malu."
"Hati kita sama dong."
Mei Hwa terkekeh. "Sama-sama nggak punya otak?"
"Sama-sama merindukan!"
Dada Mei Hwa berdebar. Meskipun tahu Ayek bercanda tapi ia merasakan ada sesuatu yang membuncah dalam hatinya.
"Kita ngobrol apaan sih?" Ayek terkekeh sendiri.
"Ngobrolin hati yang nggak punya otak."
"Bukan hati yang saling merindukan?"
Debaran d**a Mei Hwa yang tadi saja belum sepenuhnya berhenti, sekarang Ayek sudah menambah debaran baru.
"Bercanda, Mei. Jangan diambil hati." Ayek buru-buru menjelaskan, menghindari salah paham.
Mei Hwa menatap Ayek tegas. "Jujur, aku nggak biasa bercanda seperti itu. Bahkan ngobrol berdua dengan lelaki yang bukan muhrim saja baru sama kamu."
Ayek merasa bersalah. Ia sadar, tidak semua wanita bisa menerima candaan yang menyinggung soal hati. "Maaf, Mei."
Sebenarnya Mei Hwa tidak mempermasalahkan candaan Ayek. Justru ia sangat menyukainya, namun jauh di lubuk hati ia takut terperangkap dalam buaian.
"Kamu mau memaafkan aku kan, Mei?"
Sekuat tenaga Mei Hwa menahan senyum. Ia memasang wajah dingin, bermaksud mengerjai Ayek. "Mudah bagimu mengucap permintaan maaf, tapi apakah sebelum bicara kamu memikirkan bagaimana perasaan orang yang kamu ajak bercanda?"
Rasa bersalah Ayek semakin besar. Ia menyesal telah menyinggung perasaan Mei Hwa. "Sekali lagi maaf, Mei. Ini akan kujadikan pelajaran biar nggak terulang lagi."
Tawa Mei Hwa meledak. Ia tak tega melihat wajah bersalah Ayek.
Ayek menjadi bingung dengan sikap Mei Hwa. Namun melihat Mei Hwa tertawa, ia ikut tertawa.
"Kenapa tertawa?" tanya Mei Hwa.
"Kamu tertawa sih!"
"Kalau aku menangis kamu ikut menangis juga?"
Ayek menggeleng. "Aku sudah lupa cara menangis."
Mei Hwa mengernyit. Ia menyukai kata-kata Ayek, lebih tepatnya penasaran. "Yakin?"
Ayek mengangguk. "Dulu awal-awal keluarga kami terpuruk, aku selalu menangis. Anak lelaki kurus kecil sepertiku harus menanggung beban berat. Mungkin karena itulah air mataku mengering, terlalu sering dikuras."
Mei Hwa takjub. "Air mata nggak akan mengering. Bisa jadi karena sejak itu kamu lebih kuat sehingga tidak mudah menangis."
Ayek mengangguk, lantas membuang pandangannya ke jendela, sekadar cara untuk menghalau bayangan masa kecil yang sangat berat untuk diingat.
Melihat perubahan mimik Ayek, membuat Mei Hwa merasa serba salah. "Aku tidak marah kok, Yek."
Ayek menoleh. "Aku tahu itu."
"Tahu apa?"
"Tahu kamu tidak marah."
Mei Hwa tersenyum. "Aku tidak mudah marah. Sudah kubilang tadi, hatiku tak mengenal logika. Ia keras kepala, bebal, dan tidak tahu malu."
Ayek menggaruk kepala. "Ke situ lagi topiknya. Hahaha."
Mei Hwa terkekeh. Mendadak ia ingat ada tiga panggilan tak terjawab dari Ayek kemarin sore. "Maaf aku nggak angkat teleponmu kemarin."
Ayek memberikan ponselnya kepada Mei Hwa. "Kalau begitu sekarang angkatlah teleponku."
Mei Hwa menahan napas, berlagak kesal. "Nggak lucu!"
Ayek tertawa, memasukkan kembali ponselnya ke saku baju. "Nggak papa, Mei. Kemarin aku cuma mau bilang kalau Sandi sama Kosim udah ngasih izin buatku terlibat projek selain band."
Mei Hwa tersenyum lega. "Syukurlah. Mereka bijak juga ya?"
"Tapi, aku harus menyesuiakan jadwal band," ujar Ayek. "Nggak begitu repot sih, dalam seminggu ada tiga hari kosong."
"Baguslah."
Ayek menatap Mei Hwa. "Maaf, Mei. Aku ... A-aku....."
Ditatap Ayek membuat d**a Mei Hwa berdebar-debar. Apalagi Ayek berkata dengan terbata-bata.
"Aku lupa bawa botol!" ujar Ayek. Ekspresinya serius.
"Botol buat apa?"
"Kan kemarin kamu yang minta, kalau temen bandku sudah mengizinkan, aku harus memintamu memilih salah satu dari dua botol. Kalau memilih botol yang ada isinya berarti kamu mau aku ajak kolaborasi, botol kosong berarti menolak."
Mei Hwa terkekeh, tak menyangka Ayek menganggap itu serius. "Nggak usah. Aku mau kok kamu ajak kolaborasi."
"Serius?"
Mei Hwa mengangguk.
"Tapi aku nggak jadi mengajakmu kolaborasi."
Mei Hwa mendengus kesal. "Terus buat apa kamu minta izin Sandi sama Kosim?"
"Buat apa ya?" Ayek garuk-garuk kepala.
"Kamu jarang keramas ya?" tanya Mei Hwa kesal.
"Kenapa?"
"Dari tadi garuk-garuk kepala terus."
Ayek terkekeh.
"Jadi kolaborasi kita konsepnya gimana? tanya Mei Hwa.
Ayek berpikir sejenak. "Kita padukan musik rock dengan suasana orkestra."
Mei Hwa mengangguk. "Oke, sepakat. Karena basiknya rock jadi kamu yang ciptain lagunya. Nanti aku yang aransemen orkestranya."
"Deal!" Ayek berseru dengan penuh semangat. "Vokalisnya siapa?"
Mei Hwa berpikir sejenak. "Kamu siapin lima lagu. Nanti aku coba pilih tiga yang kira-kira cocok buat karakter vokalku. Kita duet."
"Aku punya stok enam lagu." Ayek mengambil ponsel dari saku. "Aku kirim file-nya ke kamu ya?"
"Oke."
Ayek mengirim enam file lagu ciptaannya. Mei Hwa membukanya satu per satu, sekilas.
"Nanti aku pelajari di rumah," ujar Mei Hwa.
"Oke."