Intelijen

1537 Kata
Babah Liem orang cerdas. Ia perfeksionis, melakukan segala sesuatu dengan perencanaan matang, dilakukan dengan super teliti dan tidak pernah setengah-setengah. Ia selalu memiliki target terukur, bahkan untuk sesuatu yang bagi orang lain dianggap sepele. Kebanyakan orang hanya memiliki satu nada dering untuk semua panggilan, tapi tidak dengan Babah Liem. Tadinya ia memiliki tiga nada berbeda; untuk umum, untuk keluarga, dan untuk kolega bisnis. Dengan begitu, ia bisa membuat skala prioritas, disesuaikan dengan situasi yang berlangsung. Mulai pagi ini, Babah Liem menambah satu lagi nada dering khusus. Nada itu untuk Marno, orang kepercayaannya yang diberi tugas untuk mengawasi pergerakan Mei Hwa dan Ayek. Sejak melihat Mei Hwa pulang diantar Ayek, Babah Liem bergerak cepat, mencari tahu seberapa dekat hubungan mereka. Ia tidak mau putri sulungnya bergaul dengan lelaki tidak jelas. Serangkaian rencana penyelidikan ia lakukan, dimulai dengan melakukan pemantauan melekat, layaknya intelijen. Sebenarnya Babah Liem tidak akan semarah kemarin, jika lelaki yang mengantar Mei Hwa bukan Ayek. Meskipun ia tak mengenal lelaki itu, tapi ia termakan isu tidak sedap perihal Ayek. Sehingga, sejak pagi Babah Liem terus menunggu laporan anak buahnya yang sedang memantau aktivitas anaknya. "Babah kok ngeliatin telepon terus sih?" tegur Mamah Kiew. Ia merasakan ada gelagat tidak wajar dari suaminya. "Nunggu konformasi pesanan, Mah!" jawab Babah berbohong. Mamah Kiew tidak percaya begitu saja. Suaminya mendadak aneh, alau biasanya sibuk dengan pekerjaan, kali ini lebih sering memegang ponsel. "Babah lagi nggak enak badan?" Babah Liem menggeleng. Matanya terus mengawasi layar ponsel. Ia mulai kesal karena sejak pagi anak buahnya belum melaporkan apa pun. Mamah Kiew mendengus kesal. Ia ingin tahu kenapa suaminya mendadak aneh, tapi takut kena marah. Sehingga ia lebih memilih fokus pada pekerjaannya di kasir. Babah Liem sadar, istrinya bisa saja mengendus gelagat anehnya. Untuk menghindari banyak pertanyaan, ia menjauh dari istrinya. Babah Liem masuk gudang penyimpanan. Di sana ia bisa leluasa memelototi layar ponsel. Tak berselang lama, ponselnya berdering, tapi ia mengabaikannya karena bukan dari orang yang sedang ia tunggu. "Handphone Babah berbunyi tuh!" celetuk Mamah Kiew yang tiba-tiba sudah berada di ambang pintu gudang. Ia sengaja menyusul suaminya karena penasaran. Babah Liem terkejut, tidak menyangka istrinya sudah berada di dekatnya. Untuk menutupi salah tingkahnya, ia memasang wajah marah. "Kok ditinggal tokonya?" Mamah Kiew mendesah kesal. "Babah aneh!" Ia melenggang menuju toko, membawa rasa penasaran. Babah Liem memastikan istrinya sudah kembali ke kasir. Selepasnya ia menelepon Marno, orang yang sedang ditugasi mengawasi Mei Hwa. Begitu panggilannya diterima, ia langsung marah. "Pemburu, kok nggak ada kabar, sih?" Marno menjawab dengan suara pelan, seperti orang berbisik. "Maaf, Juragan. Aku lagi berada di dekat merpati, cuaca belum cerah." "Burung hantunya ada di situ nggak?" tanya Babah Liem pelan. "Burung hantu sedang berdekatan dengan merpati." "b*****t!" maki Babah Liem. "Nanti kalau cuaca cerah, segera kasih kabar!" "Siap!" Percakapan lewat telepon berakhir. Gerakan intelijen yang dilakukan Babah Liem direncanakan sedemikian matang. Marno yang diberi identitas sebagai 'pemburu' sejatinya adalah kuli bongkar muat pasar langganannya. Lelaki berusia dua puluh empat tahun itu tidak dikenal Mei Hwa karena tidak pernah ke toko atau menemui Babah Liem. Meski hanya kuli bongkar muat pasar, Marno adalah lelaki cerdas. Ia pernah bercita-cita menjadi polisi. Sayang, keadaan ekonomi memaksanya hanya bersekolah sampai kelas dua SMA. Kini, ia mendapatkan pekerjaan layakanya polisi bagian intelijen. Itu sangat menggembirakannya, selain sejalan dengan cita-cita juga karena bayarannya dua kali lipat lebih banyak dari pekerjaan sebelumnya. Sebelum melakukan tugas Marno diberi pengarahan-pengarahan. Layaknya intelijen ia harus bekerja sesuai standar operasional prosedur, alias SOP. Ia hanya diperkenankan menyebut nama dan lokasi dengan istilah khusus. Mei Hwa disebut sebagai Merpati, Ayek sebagai Burung Hantu, dan Babah Liem disebut sebagai Juragan. Ponsel berdering. Babah tergopoh meninggalkan gudang menuju rumah. Ia tak mau percakapannya didengar orang. "Halo, Pemburu. Bagaimana suasana hutan?" tanya Babah Liem. "Ada cerita menarik, Juragan," lapor Marno. "Aku sudah keluar hutan, sementara Merpati dan Burung Hantu sudah kembali ke habitat masing-masing." "Cepat ceritalah!" Terdengar suara klakson dan derum knalpot. "Saya ke pinggir dulu, Juragan. Mencari angin segar." Babah Liem mendengus. Ia tak sabar menunggu laporan lengkap. Namun, ia menyadari situasi di tempat Marno yang mungkin terlalu berisik untuk bicara. Sambil menunggu, ia mengaktifkan rekaman yang akan dijadikan barang bukti. Panggilan telepon masih berlangsung. "Jadi begini," lanjut Marno. "Pukul 8:39 Burung Hantu keluar sarang. Kukejar dia, rupanya menuju sarang Merpati. Sampai di sana pukul 8:46 dan langsung bersiul, sepertinya mengabarkan kedatangan kepada Merpati. Ia langsung menuju kandang paling atas." "Merpati ada di atas?" tanya Babah Liem. "Merpati ada di atas, mereka bertemu selama satu jam lebih dua belas menit. Setelah itu ia mengantar Burung Hantu sampai kandang paling bawah." "Apa yang mereka bicarakan?" "Maaf, tidak begitu jelas, karena posisi saya kurang ideal." "Tapi mereka tidak curiga dengan keberadaanmu bukan?" "Aman, Juragan!" "Bagus!" puji Babah Liem. "Terus kenapa lama sekali memberi laporan?" "Maaf, juragan. Saya harus sembunyi dulu. Tadi di kandang paling bawah, Burung Hantu sempat menoleh kepada saya. Sepertinya ia curiga, karena sebelumnya di kandang paling atas, kami sempat bertemu." "g****k!" maki Babah Liem kesal. "Lain kali hati-hati!" "Iya, Juragan. Maaf!" Babah Liem mendengus. "Terus Burung Hantu pergi ke mana?" "Sepertinya pulang, Juragan." "g****k! Kenapa tidak diburu?" Babah Liem marah. "Maaf, Juragan. Sengaja tidak diburu, khawatir Burung Hantu mengendus perburuan saya." Kemarahan Babah berangsur reda. Ia mengakui kecerdasan Marno. Alasannya logis dan bisa dibenarkan. Lagi pula, aktivitas Ayek tanpa Mei Hwa sudah tidak penting lagi buatnya. "Ya sudah. Kamu kembali awasi Merpati!" perintah Babah Liem. "Siap, Juragan!" *** Ketenangan dan kesabaran Babah Liem dalam melakukan sesuatu pekerjaan memang sudah teruji dan terbukti, tapi tidak berlaku pada situasi kali ini. Semua metode dan prinsip-prinsip kerjanya selama ini gagal ia terapkan pada penyelidikannya terhadap Mei Hwa. Kali ini perasaannya lebih dominan ketimbang logika. Rencananya ia akan menyelidiki hubungan Mei Hwa dan Ayek sampai data-datanya kuat untuk dijadikan kesimpulan. Namun, baru mendengar laporan anaknya bertemu dengan Ayek sudah membuat emosinya meluap-luap. Babah Liem akan bertindak cepat, sebelum Mei Hwa dan Ayek berhubungan terlalu jauh. Begitu Mei Hwa pulang, ia langsung menginterogasinya di meja makan. Takut terjadi masalah besar, Mamah Kiew ikut mendampingi anaknya. Sepasang suami istri itu duduk berhadapan dengan Mei Hwa. Mei Hwa memiliki firasat tidak enak. Ia menduga ayahnya masih belum menerima jawabannya kemarin. Ia pun memilih diam. Mamah Kiew meraih pergelangan tangan Babah Liem, berusaha menenangkan suaminya. "Apa tidak sebaiknya Mei ganti baju dan mandi dulu, Bah?" "Cuman sebentar!" Mata Babah Liem memerah. Tatapannya menghunus tajam wajah Mei Hwa. Mei Hwa menunduk dalam-dalam. Hatinya gelisah, takut ayahnya akan semarah kemaerin. "Babah cuma mau tanya satu hal. Kamu harus menjawabnya dengan jujur." Babah Liem memberi penekanan pada ucapannya. Emosinya mulai labil. Hati Mamah Kiew berdebar-debar. Ia berdoa agar suaminya tidak dikuasi amarah. "Kamu sering bertemu Ayek?" tanya Babah Liem. Ia susah payah meredam letupan emosi. Bibir Mei Hwa bergerak-gerak. Perasaannya tidak karuan. Apa yang ia khawatirkan akhirnya terjadi. Berusaha menenangkan perasaan anaknya, Mamah Kiew mengelus rambut Mei Hwa dengan lembut. "Baru berapa kali, Bah." Nada suara Mei Hwa bergetar. Ia tak sanggup menatap wajah ayahnya. "Sekali, dua kali, tiga kali?" Babah Liem mencondongkan kepala ke arah Mei Hwa. Mei Hwa terkejut mendapatkan pertanyaan ayahnya. Ternyata situasinya lebih buruk dari yang ia bayangkan. "Berapa kali?" ulang Babah Liem, masih berusaha mengendalikan emosi. "Tiga kali di studio, Bah." Mei Hwa sengaja tidak menyebut dua kali kunjungannya ke rumah Ayek. "Benar?" Mei Hwa mengangguk. "Tadi juga kalian bertemu kan?" Mei Hwa kembali mengangguk. Babah Liem menarik napas panjang kemudian mengempaskannya kasar. "Babah sudah bilang, jangan lagi bergaul dengan lelaki yang nggak jelas. Dan tadi kalian bertemu. Itu sama saja kamu tidak mengindahkan Babah!" Mamah Kiew mengelus bahu Babah Liem, berupaya meredam emosi suaminya. Sementara Mei Hwa mengumpulkan keberanian untuk mengklarifikasi soal pertemuannya dengan Ayek. "Kamu anggap apa nasehat Babah?" Emosi Babah Liem sudah sulit dikendalikan. Mamah Kiew mencoba meredam ketegangan. "Biarkan Mei menjelaskannya, Bah. Ia pasti punya alasan." Alih-alih mengindahkan ucapan istrinya, emosi Babah Liem semakin memuncak. "Sekarang jelaskan!" Ia menggebrak meja. Mei Hwa menarik napas dalam-dalam. Sambil mengangkat wajah, ia melepaskan napas perlahan, sekadar cara menenangkan diri. "Maaf, Bah! Bukannya Mei nggak mau mengindahkan nasehat Babah. Tapi ...." Babah Liem menunggu kelanjutan ucapan Mei Hwa. Emosinya masih tinggi. "Mei mau ada projek musik. Ayek datang ke studio untuk membahas itu." Selepas berkata Mei Hwa menarik napas lega. Dalam keadaan tertekan seperti ini, sulit baginya untuk menjelaskan panjang lebar, maka itu ia memilih kalimat pendek tapi efektif. Bertele-tele hanya akan menempatkannya pada posisi yang lebih rumit. "Kamu kan bisa menggarap musik dengan siapa saja, nggak harus dengan Ayek!" Kerhasilannya menjelaskan kepada ayahnya dengan baik tadi, membuat Mei Hwa memiliki keberanian untuk berargumen. "Dia cukup terkenal, Bah. Itu bagus buat projek musik Mei." Babah Liem tertawa mengejek. "Terkenal? Babah saja baru tahu namanya kemarin!" Mei Hwa sadar, tidak mudah berargumen kepada ayahnya. Ia pun kembali memasang sikap diam. Mamah Kiew tidak tega melihat Mei Hwa tertekan. Ia beranikan diri membela anaknya. "Bah, hubungan Ayek dan Mei Hwa hanya sebatas pekerjaan." "Benar begitu, Mei?" Babah Liem menatap mata Mei Hwa tajam. Mei Hwa mengangguk. "Iya, Bah. Aku sama Ayek hanya sebatas hubungan profesional." Babah Liem masih menatap tajam mata Mei Hwa, memastikan kejujuran di sana. Mei Hwa sedikit merasa lega karena sepertinya emosi ayahnya mulai turun. Ia mengangkat wajah. "Maafkan Mei, Bah." Emosi Babah Liem berangsur reda. Namun, ia masih akan terus memantau hubungan Mei Hwa dengan Ayek. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN