Kontra Intelijen

1674 Kata
Baru Mei Hwa sadari, ternyata Ayek moodbooster paling efektif. Semua perasaan tidak nyaman dalam hatinya bisa lenyap dalam sekejap hanya dengan berada di dekat lelaki itu. Kemarin ketika perasaannya sedang kacau seperti balon yang tinggal empat, Ayek datang, dan belum satu menit bersama lelaki itu, perasaannya membaik. Kini, hanya mendengar ada suara kaki menapaki anak tangga saja hatinya bersorak gembira. Padahal pemilik langkah itu bisa siapa saja, bisa pelanggan studio, karyawannya, bahkan Babah Liem! Huft! Mengingat kembali wajah angker ayahnya kemarin, bikin perasaannya kembali galau. semalaman ia menangis, tidak terima diperlakukan seperti anak kecil. Ia selalu tertekan setiap sedang dimarahi ayahnya. Dampak dari tekanan itu luar biasa hebat. Ia menjadi malas makan, susah tidur, dan dunia mendadak tampak kejam dalam pandangannya. Masih terngiang jelas di telinganya ketika kemarin Mei Hwa mencoba berterus terang perihal pertemuannya dengan Ayek di studio ini. Ia berharap ayahnya akan memahami posisinya sebagai pekerja seni musik. Sayang, ayahnya sudah terlanjur tak menyukai Ayek. "Mei mau ada projek musik. Ayek datang ke studio untuk membahas itu." "Kamu kan bisa menggarap musik dengan siapa saja, nggak harus dengan Ayek!" "Dia cukup terkenal, Bah. Itu bagus buat projek musik Mei." "Terkenal? Babah saja baru tahu namanya kemarin!" Mei Hwa memejamkan mata kuat-kuat. Ayahnya melarang ia berhubungan dengan Ayek, meski itu sebatas urusan pekerjaan. Padahal sekarang ia akan mendiskusikan projek tersebut. Tak mungkin ia membatalkannya begitu saja. Mei Hwa terkesiap mendengar nada dering ponsel yang sumbernya tak begitu jauh dari tempatnya saat ini. Ia membuka mata, menyiagakan pendengaran. Suara langkah kaki menapaki anak tangga pun sudah tak terdengar lagi. Penasaran, Mei Hwa keluar ruangan. Ia menuju tangga dengan berjingkat pelan, berusaha agar tapak sepatunya tak menimbulkan bunyi. Sekarang suara langkah kaki menapaki anak tangga kembali terdengar, namun suaranya semakin pelan. Mei Hwa yakin orang itu turun. Penasaran, Mei Hwa mempercepat langkahnya. Ketika sampai tangga, ia sempat melihat sesosok lelaki menuruni anak tangga terakhir lantas belok. Meskipun postur lelaki itu tak beda jauh dengan Ayek, tapi Mei Hwa yakin orang itu bukan lelaki yang sedang ia tunggu. Rambut Ayek pendek, sementara orang itu gondrong sebahu. Mei Hwa kembali ke ruangan pribadinya dengan hati gelisah. Ia dikecewakan harapan sendiri, berharap Ayek yang datang, ternyata bukan. Sementara itu di lantai bawah, Ayek sedang duduk di pojokan ruang tunggu. Sepasang mata dari balik kaca mata hitamnya terus mengawasi gerak-gerik lelaki gondrong yang sudah ia curigai sejak kemarin. Orang yang sedang diawasi Ayek adalah Marno. Lelaki gondrong itu tampak sedang celingak-celinguk mencari seseorang. Ia mengamati satu per satu orang yang berada di ruang tunggu. Namun, karena yang dicari tidak tampak, ia keluar studio. Ayek menghela napas lega. Ia tak mengenal Marno, namun ia curiga dengan gerak-gerik lelaki gondrong itu. Ia yakin dirinya yang sedang diawasi. Ayek ingat, kemarin lelaki gondrong itu menanyakan letak toilet padanya. Waktu itu ia belum curiga. Namun ketika Mei Hwa mengantarnya pulang sampai pintu depan, tanpa sengaja ia memergoki lelaki itu sedang mengikutinya. Yang mencurigakan adalah ketika ia berhenti, lelaki itu ikut berhenti. Juga ketika ia menoleh, lelaki itu buru-buru membuang muka. Ayek menjadi penasaran, siapa orang itu dan kenapa mengawasinya? Sehingga ia menyusun strategi. Ia sengaja pulang jalan kaki. Namun, setelah berjalan sejauh kurang lebih seratus meter, tak ada tanda-tanda dirinya sedang diikuti. Khawatir dengan Mei Hwa, Ayek berlari, kembali ke studio. Sampai di parkiran, ia melihat lelaki gondrong itu keluar. Ia pun mengikuti orang itu. Sampai di samping sebuah mushola, lelaki gondrong itu berhenti kemudian menelepon seseorang. Ayek bersembunyi dari balik tempat wudhu. Dari situ sayup-sayup ia mendengar orang itu menyebut merpati dan burung hantu. Menurutnya, kalimat orang itu aneh dan mencurigakan. Ayek mencoba mengingat-ingat ucapan lelaki gondrong yang ia dengar kemarin, kemudian menganalisanya. "Jadi begini, pukul 8:39 Burung Hantu keluar sarang. Kukejar dia, rupanya menuju sarang Merpati. Sampai di sana pukul 8:46 dan langsung bersiul, sepertinya mengabarkan kedatangan kepada Merpati. Ia langsung menuju kandang paling atas." Ayek tak tahu lelaki gondrong sedang menelepon siapa, tapi penyebutan waktunya sama persis dengan kedatangannya ke studio Mei Hwa. Ia yakin, burung hantu yang dimaksud adalah dirinya, sedangkan merpati sudah pasti Mei Hwa. "Merpati ada di atas, mereka bertemu selama satu jam lebih dua belas menit. Setelah itu ia mengantar Burung Hantu sampai kandang paling bawah." Keyakinan Ayek semakin beralasan. Lelaki gondrong bisa menjelaskan secara tepat durasi waktu pertemuannya dengan Mei Hwa. "Maaf, tidak begitu jelas, karena posisi saya kurang ideal." Lelaki gondrong itu mengatakan posisi dirinya kurang ideal, Ayek menghubungkannya dengan toilet. Ya, toilet! Lelaki itu sengaja bersembunyi untuk mencuri dengar percakapannya dengan Mei Hwa. "Maaf, juragan. Saya harus sembunyi dulu. Tadi di kandang paling bawah, Burung Hantu sempat menoleh kepada saya. Sepertinya ia curiga, karena sebelumnya di kandang paling atas, kami sempat bertemu." Ayek mendapatkan titik terang, lelaki gondrong itu memang mengawasinya dan Mei Hwa. Kata kuncinya adalah menoleh. Ia menoleh ke lelaki gondrong itu, kemarin. "Maaf, Juragan. Sengaja tidak diburu, khawatir Burung Hantu mengendus perburuan saya." Dari kalimat itu Ayek tahu alasan kenapa lelaki gondrong itu tidak mengikutinya. Karena itulah Ayek membawa tas ransel. Di dalamnya telah ia siapkan sebuah jaket, topi, dan kaca mata hitam. Lelaki gondrong itu pasti akan mengawasinya lagi, melakukan tugas intelijen dari seseorang. Jika benar, maka ia akan melakukan kontra intelijen. Dan dugaan Ayek memang benar. Tadi ketika dalam perjalanan menuju studio menggunakan ojol, ia merasakan sedang diikuti seseorang menggunakan sepeda motor. Ia yakin orang itu adalah lelaki gondrong yang mengawasinya kemarin. Sampai di studio, Ayek langsung menuju toilet lantai bawah. Ia segera mengenakan jaket, topi, dan kacamata hitam, lantas bersembunyi di pojokan ruang tunggu, berbaur dengan pelanggan studio lain. Ayek melihat lelaki gondrong itu masuk studio sambil celingukan. Spontan ia membalikkan badan agar tak dikenali. Setelah merasa aman, perlahan ia mengintip pergerakan orang itu. Ia sempat melihat lelaki gondrong itu menapaki anak tangga menuju lantai dua. Setelah tak mendapatkan hasil, orang itu pergi. Ponsel Ayek bergetar. Ia melirik layar, tertera nama kontak: Mei Hwa. Ia sengaja mengatur ponsel dalam mode silent. "Halo, Mei!" sapa Ayek. "Kamu jadi ke studio nggak?" tanya Mei Hwa. "Jadi," jawab Ayek. "Dua menit aku sampai ke ruanganmu." "Kamu di mana?" "Aku belum tahu, tapi aku berdoa semoga berada di hatimu." Terdengar kekehan manja dari Mei Hwa. "Mulai deh!" Ayek baru sadar tadi keceplosan. Ia menyesal telah mengatakan itu. "Bercanda, Mei, maaf!" "Aku tidak akan memafkanmu, jika kamu tidak sampai di ruanganku dalam waktu dua menit. Waktumu sudah hilang setengah menit!" Reflek Ayek segera bangkit, berjalan tergesa menuju ruangan Mei Hwa. Panggilan masih berlangsung. "Kamu jahat, Yek!" hardik Mei Hwa. Ayek menapaki anak tangga. "Jahat kenapa?" "Kamu sudah sejak tadi kan berada di studio?" "Kok tahu?" "Ya tahulah! Sekarang saja kamu sedang naik tangga. Suara sepatumu kedengaran." Napas Ayek tersengal. Ia baru saja sampai lantai dua. "Waktumu tinggal satu menit lagi!" Ayek mengatur napas. Setengah berlari ia menuju ruangan Mei Hwa. "Aku sudah sampai!" Mei Hwa tertawa melihat Ayek sedang berdiri di ambang pintu, mengenakan jaket, berkaca mata hitam, bertopi, dan menggendong tas ransel. "Aku tepat waktu, kan?" Napas Ayek tersengal-sengal. Alih-alih menjawab, tawa Mei Hwa semakin kencang. Ia geli melihat penampilan Ayek. Lelaki itu tampak lebih ganteng dengan kaca mata hitam, tapi topi di kepalanya tidak serasi dengan jaket kulitnya. Tapi dalam pandangannya, ketampanan lelaki itu tak akan berkurang meski hanya mengenakan kaos oblong dan celana kolor. "Aku dimaafkan?" Mei Hwa menghentikan tawa. "Belum, sampai kita selesai menggarap aransemen tiga lagu yang sudah kupilih." Ayek mendesah panjang. "Baiklah, aku siap!" Ia memasuki ruangan. Mei Hwa menjulurkan telapak tangan ke depan. "Stop! Siapa suruh kamu masuk?" Ayek yang masih belum sepenuhnya bisa mengatur napas, menghentikan langkah. Ia tersenyum penuh arti. "Mei, setiap malam kamu datang ke lamunanku, aku tidak protes. Kamu masuk ke hatiku tanpa permisi pun, aku tidak keberatan. Sekarang aku baru selangkah masuk ruanganmu, kamu sudah melarang." Sepasang pipi Mei Hwa merah padam. Ia tak menyangka Ayek akan mengucapkan gombalan seperti tadi. Kalimat itu menggema di seluruh ruang hatinya, menumbuhkan perasaan berbunga-bunga, menjadikannya salah tingkah. Ayek buru-buru menyesali ucapannya. Ia mengutuk dirinya menjadi batu akik karena sering kelepasan bercanda berbau-bau gombalan. "Itu tadi lirik lagu?" tanya Mei Hwa setelah berhasil lolos dari salah tingkah. Ayek tersenyum malu. "Bukan, itu judul lagu." Mei Hwa tersenyum dikulum. "Kita ke ruang recording. Aku sudah bikin konsep dasar buat aransemen lagu projek kita." *** Selama membahas aransemen lagu projek kolaborasi, ponsel Ayek diatur dalam mode penerbangan. Begitu selesai, ia mengembalikannya lagi ke mode normal. Ia mendapati ada ratusan notifikasi chat medsos, lima di antaranya dari Sandi dan Kosim. Ayek menyumpahi dirinya menjadi kaya karena lupa kalau hari ini ada jadwal bersama band. Tadi pagi ia terlalu bersemangat untuk melakukan kontra intelijen sampai lupa untuk ke basecamp lebih dulu sebelum ke studio Mei Hwa. Dengan menanggung perasaan bersalah, Ayek menelepon Sandi. "Lo di mana, Yek? Gue telepon sepuluh kali nggak aktif, chat cuman ceklis!" Nada suara Sandi terdengar kesal. "Maaf, San. Maaf banget. Aku lupa kalau hari ini ada jadwal," ucap Ayek penuh penyesalan. "Tadi gue nelepon nyokap lo. Beliau nyaranin gue buat nelpon Mei Hwa. Ya mana gue tahu nomor telepon dia!" "Gue ada di studio Mei Hwa," ucap Ayek lirih. Ia sebenarnya tidak enak mengatakannya, tapi dia merasa harus berterus terang. "Tadinya gue mau ke basecamp dulu, tapi ada sesuatu yang bikin gue lupa kalau hari ini ada jadwal band." "Lo bahas projek sama Mei?" "Iya." Terdwngar suara dengusan Sandi. "Baru kemarin gue bilang sama lo, boleh ada projek di luar band, tapi jangan sampai mengganggu tanggung jawab lo di band." "Maaf, San. Gue salah." Ayek menarik napas dalam-dalam. "Kalian masih di sana?" "Gue masih di sinilah. Ini kan rumah gue. Kosim sudah pulang. Tadi dia marah-marah." Ayek memejamkan mata kuat-kuat. Rasa bersalahnya semakin memuncak. "Lo telepon Kosim gih!" Selepas mengatakan itu, Sandi mengakhiri percakapan. Ponsel masih menempel telinga Ayek. Ia mematung dengan perasaan campur aduk. Ia baru terkesiap ketika Mei Hwa menghampirinya. "Di luar hujan, Yek!" ujar Mei Hwa. "Kamu mau pulang?" Mei Hwa mengangguk. "Lagu kita sudah siap rekam. Kapan kamu ada waktu?" Tiga hari ke depan tidak ada jadwal band, tapi besok Ayek harus menemui teman-teman band-nya untuk meminta maaf. "Besok lusa gimana?" Mei Hwa mengerjap. "Oke, kapan pun kamu siap!" 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN