Sering kali kata maaf saja belum cukup untuk memulihkan keadaan akibat sebuah kesalahan. Meskipun Sandi dan Kosim bisa memaafkan, tapi sikap mereka menjadi lain. Ayek merasakan itu, dan ia sangat menyesalinya.
Baru sekali Ayek melakukan kesalahan, tapi itu cukup fatal. Gara-gara ia tidak datang dan susah dihubungi, band gagal mendapatkan job manggung dengan nilai kontrak cukup fantastis.
Kemarin sebenarnya jadwalnya hanya membahas lagu yang akan direkam. Siapa sangka pada saat itu seorang manajer pemasaran sebuah kafe ternama di Tegal menawari mereka kontrak manggung untuk durasi tiga bulan. Jika tercapai kesepakatan, mereka akan manggung setidaknya satu kali setiap minggunya.
Kafe membutuhkan band secepatnya karena band yang sudah dipersiapkan mendadak menolak menandatangani kontrak. ASK band salah satu band pilihan karena cukup populer. Sayang, Sandi dan Kosim tidak bisa mengambil keputusan tanpa Ayek. Walhasil, kontrak pun melayang begitu saja. Pihak kafe harus bergerak cepat mencari band lain agar tidak terjadi kekosongan.
"Gue sama Sandi bisa saja menandatangani kontrak itu berdua, tapi kami menghargai elo. Kita selalu bermusyawarah setiap kali akan mengambil keputusan. Tapi lo malah susah dihubungi." Kosim tak kuasa mengendalikan kekesalan.
Ayek menunduk, merasa bersalah. Ia memilih mendengar dulu, baru akan mengklarifikasinya.
Sandi menggebah napas. "Kalau kita sepakat buat menerima tawaran itu, kita bisa mencari additional player buat melengkapi formasi, atau bahkan merekrut personel tambahan. Banyak opsi, banyak cara, yang penting adalah kita bisa manggung lagi dan mendapatkan nominal yang lumayan menggiurkan."
Kosim memandang Ayek kesal. Sorot matanya menghakimi. "Bahkan gue sama Sandi pun bisa mencari pengganti lo! Tapi kami nggak bisa semena-mena begitu! "
Ayek menelan ludah. Ia sadar dirinya bukan pendiri band. Dulu ia bergabung dengan ASK band sebagai pengganti gitaris lama yang memutuskan hengkang. Sandi dan Kosim adalah dua personel awal yang masih tersisa.
"Sandi yang mendirikan band ini," lanjut Kosim sambil menepuk bahu Sandi. "Awalnya dia adalah pemilik band. Dia leader, bisa mengambil keputusan apa saja, kapan saja. Tapi sejak lo gabung, dia rela mengubah sistem menjadi kekeluargaan. Dan dia konsisten, buktinya dia nggak mau melangkahi elo."
Sandi balas menepuk bahu Kosim. "Sudahlah, Sim! Semua sudah terjadi. Menyalahkan Ayek juga nggak akan bikin kita mendapatkan kontrak. Kita dengerin saja pembelaan dia."
Ayek menarik napas dalam-dalam kemudian melepaskannya perlahan. Dadanya disesaki rasa bersalah.
"Oke, silakan jelasin panjang lebar sama Sandi. Gue pulang saja!" Kosim berlalu, meninggalkan kedua temannya dengan menanggung emosi.
Sandi memandang punggung Kosim yang bergerak menjauh. Ia tahu karakter anak itu yang susah mendengar orang lain ketika emosinya sedang labil. Maka ia membiarkan saja anak itu pergi.
Ayek kecewa atas keegoisan Kosim, tapi ia lebih kecewa pada dirinya sendiri yang telah melakukan kesalahan fatal. Sekarang ia merasa percuma memberikan klarifikasi.
Meskipun kesal, tapi Sandi tidak tega melihat Ayek diperlakukan seperti itu sama Kosim. Posisinya menjadi serba sulit.
"Sekali lagi gue minta maaf, San. Sampein juga rasa penyesalan gue sama Kosim." Ayek mengulurkan telapak tangan ke Sandi.
Mau tidak mau Sandi menjabat tangan Ayek. "Gue maafin lo, tapi maaf, soal Kosim lo harus usaha sendiri buat ngembaliin mood dia yang udah kadung rusak."
Ayek mengangguk paham. "Thanks, San!"
***
Mood Ayek terjun bebas sejak dihakimi Sandi dan Kosim. Selain menanggung perasaan bersalah yang sangat dalam, ia juga merasa kecewa atas sikap egois Kosim. Ia menyadari kesalahannya, tapi ia merasa tidak seharusnya diperlakukan seperti itu.
Ayek mematikan power DVD player. Gitar ia letakkan begitu saja di lantai. Padahal hari ini ia sudah harus menguasai lagu yang akan direkam besok.
Badmood membuat Ayek sulit mempelajari aransmen lagu-lagu projek kolaborasinya bersama Mei Hwa. Hatinya tidak karuan, takut gara-gara dia band menjadi pecah. Pikirannya semakin kacau jika mengingat semua chat-nya kepada Kosim hanya dibaca tanpa dibalas.
"Kamu kenapa, Yek?" Zaenab menegur Ayek. "Sejak kemarin sore wajahmu ditekuk begitu. Itu bibir apa gunung? Nggak ada senyum sama sekali. Nggak biasanya kamu begini."
Ayek menatap wajah ibunya dengan sorot kosong.
"Kamu boleh cerita sama Ummi jika mau."
Ayek mencoba tersenyum. Ingin sekali ia mencurahkan semua perasaan tidak nyamannya, menceritakan permasalahan band kepada ibunya. Tapi ia tak tega menambah beban satu-satunya orang tua yang masih tersisa.
"Kamu ada masalah?" Zaenab mengelus rambut Ayek lembut.
Ayek menggeleng. "Ayek cuman suntuk."
"Suntuk kenapa?"
"Ya suntuk aja." Ayek menjawab diplomatis. Ia tak akan berterus terang. "Mungkin karena sejak kemarin belum bisa menguasi lagu yang buat direkam besok."
Zaenab tersenyum. Sebagai seorang ibu ia bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan anaknya, tapi ia berlagak seolah tidak tahu. "Ya sudah istirahat saja dulu. Atau kamu bisa melakukan hal lain untuk menyegarkan pikiran. Saran Ummi, jangan memaksakan diri."
Ayek mengangguk. "Iya, Ummi!"
Zaenab menepuk bahu Ayek. "Ketuk saja kamar Ummi jika ada sesuatu yang ingin disampaikan."
Ayek memasang senyum. "Iya, Ummi."
***
Ayek sudah mengaku salah, meminta maaf, bahkan sabar atas sikap egois Kosim. Ia akan menanggung apa pun konsekuensinya, termasuk dipecat dari band. Soal perubahan sikap Kosim dan Sandi, ia akan sikapi dengan bijak, tidak ingin terbawa arus. Baginya yang penting ia akan bersikap biasa.
Semalam ia melakukan shalat tahajud, disambung dengan membaca ayat-ayat al-Quran sampai matanya benar-benar lelah. Sebelum tidur ia berdoa agar komunikasinya dengan band kembali pulih.
Ayek bangun tidur dengan perasaan lebih baik. Selepas sholat subuh, ia berolahraga, berlari-lari kecil mengelilingi kampung. Perasaannya kembali nyaman setelah mandi dan sarapan.
Sejak kecil Ayek terbiasa berada dalam tekanan berat dan teruji menghadapi masalah. Ia selalu berhasil keluar dari tekanan dengan tidak mengeluh. Dulu sewaktu SMP, persoalan ditegur guru karena baju seragamnya sudah pudar menjadi kecokelatan, sepatunya sobek-sobek dan kekecilan, sampai tidak mendapatkan kartu ujian karena masih menunggak uang buku LKS, bisa ia sikapi dengan tenang. Ia sadar, tidak mudah menjadi anak miskin, tapi ia tahu bagaimana caranya agar tidak merasa kekurangan. Ia melewati masa-masa sulit pada masa remajanya dengan banyak bersyukur.
Lulus SMA, masalah Ayek semakin berat dan kompleks. Tapi masalah-masalah itu justru mendewasakannya. Ia belajar menghadapi beratnya kehidupan tanpa mengeluh.
Mengingat hari-hari berat itu membuat Ayek sadar, masalah dengan band masih belum ada apa-apanya. Sehingga ia merasa tak perlu memelihara perasaan tidak nyaman dalam hati.
Hari ini Ayek siap merekam lagu-lagu kolaborasinya bersama Mei Hwa. Ia menelepon gadis itu.
"Halo!" sapa Mei Hwa dari seberang sana.
"Kamu di mana, Mei?"
"Aku otw studio," jawab Mei Hwa. "Gimana, sudah hafal aransemennya?"
"Baru satu lagu."
"Ya memang hari ini kita cuman akan merekam satu lagu dulu. Lagu apa yang udah kamu hafal?"
"Lagu yang berjudul Aku Mencintaimu!" jawab Ayek asal-asalan.
"Lagu itu nggak ada di daftar!"
Ayek terkekeh. Tadi ia hanya bercanda saja, menggoda Mei Hwa.
"Kamu di mana sekarang?" tanya Mei Hwa.
"Kenapa tanya aku? Tanya saja hatimu."
"HAH?" Mei Hwa kaget. "Maksudnya apa?"
Ayek terkekeh. "Lupakan! Anggap saja tadi kamu nggak mendengar apa-apa."
"Nggak bisa!" Intonasi Mei Hwa naik satu oktaf. "Kamu harus jelasin!"
"Jangan, ntar kamu marah!"
"Aku marah kalau kamu nggak mau jelasin!"
"Oke ..." Ayek menggantung kalimatnya. "Tadi kamu tanya aku di mana kan?"
"Jangan berbelit-belit!"
"Aku nggak tahu, soalnya aku nggak ...."
Mei Hwa memotong ucapan Ayek. "Kamu nggak tahu apakah kamu ada di hatiku atau tidak kan?"
"Cerdas!"
"Basi tahu! Gombalan itu sudah kamu katakan waktu itu!" Mei Hwa terkekeh.
Ayek melongo. "Oh iya?"
"Kamu ke studio sekarang. Waktumu dua menit!"
Mei Hwa menghentikan percakapan sepihak. Ayek melongo, ponsel masih menempel di telinganya.