Secara marathon, Ayek merekam gitar dan bass. Tak banyak kesalahan yang ia lakukan, sehingga tiga lagu pun selesai lebih cepat dari target waktu.
Sementara Mei Hwa hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam saja. Keyboard hanya tinggal input karena sudah ia program sebelumnya.
Hanya tinggal drum yang belum direkam. Ayek dan Mei Hwa sudah meminta salah satu drumer kenamaan di kota Slawi yang baru siap melakukan tugasnya besok.
Ayek dan Mei Hwa melepas lelah dengan memakan kuaci bersama di ruang belakang yang juga berfungsi sebagai taman mini.
"Kamu yakin kuaci bisa mengobati lelah?" Gigi atas dan bawah Mei Hwa menggigit sisi-sisi kuaci. Mudah saja baginya untuk mengambil bijinya, memisahkannya dari kulit. Ia sudah profesional, karena itu camilan favoritnya.
"Kuaci hanya bisa mengalihkan penat, nggak bisa mengobati lelah." Ayek mencomot biji kuaci dari bungkusnya.
"Terus kenapa tadi kamu bilang makan kuaci bisa mengobati lelah?"
"Bukan kuacinya!"
"Terus?"
"Teman makan kuacinya yang bisa mengobati lelah, letih, lesu, kurang semangat, dan gejala umum yang biasa diderita kaum rebahan."
Spontan sepasang pipi Mei Hwa bersemu merah. Sekarang Ayek lebih sering menggombal. Itu membuat hatinya kebat-kebit.
"Selain irit tentu saja. Hahaha."
Mei Hwa mencibir.
"Ini camilan kesukaanmu kan?" tanya Ayek.
"Dari mana kamu tahu?"
Ayek menatap Mei Hwa lekat-lekat. "Aku belajar keras untuk mengenalmu. Mungkin aku banyak tahu tentangmu, tapi ada satu yang belum kutahu, yaitu perasaanmu padaku."
Tatapan dan kata-kata Ayek membuat detak jantung Mei Hwa ngebut. Napasnya menjadi tidak teratur. Ia pun menjadi salah tingkah. Yang bisa ia lakukan untuk menutupinya adalah dengan segera mengalihkan pandangan laki-laki itu.
"Itu apa?" Jari Mei Hwa menunjuk tumpukan kertas di meja.
"Kertas." Tatapan mata Ayek semakin lekat.
Jantung Mei Hwa semakin ngebut. Ia tidak terbiasa berduaan dengan lelaki, apalagi ditatap seperti itu. "Kertas apa?" tanyanya sambil membuang pandangan ke meja.
"Itu tablatur gitar," jawab Ayek. "Kamu sudah tahu itu."
Rona merah pipi Mei Hwa semakin jelas. Ia benci pada dirinya yang masih saja salah tingkah. Ia benci berada pada situasi ini. Ia benci pada jantungnya sendiri. Ia benci pada keringat yang membasahi tengkuknya. Tapi ia suka mendapatkan kata-kata yang membuatnya berbunga-bunga, meski ia sadar, itu semua bisa saja hanya gombalan.
"Mei...."
Panggilan Ayek semakin membuat detak jantung Mei Hwa lebih cepat dari usahanya untuk keluar dari situasi salah tingkah.
"Mei...."
Mei Hwa menoleh perlahan. Dan jantungnya serasa berhenti berdetak ketika sepasang matanya bersirobok dengan mata Ayek. Rasanya seperti sedang tersengat ribuan kilowatt arus listrik.
"Pipimu ...." Telunjuk Ayek menunjuk pipi Mei Hwa.
Wajah Mei Hwa merah padam. Ia malu, karena menduga Ayek sedang memperhatikan pipinya yang bersemu merah. Ia yakin lelaki itu tahu dirinya sedang tersipu.
"Ada kulit kuaci di pipimu!"
Mei Hwa tidak bisa membayangkan seperti apa bentuk wajahnya saat ini, yang jelas ia sangat malu. Bukan karena ada kulit kuaci di pipinya, melainkan karena ia sudah salah duga.
Mei Hwa pikir Ayek memanggil namanya karena ingin mengatakan sesuatu yang membuat hatinya berbunga-bunga, ternyata tidak. Ia pikir lelaki itu akan memberi tahu pipinya bersemu merah, ternyata tidak. Dan kini ia takut kalau semua yang ia pikirkan tentang laki-laki itu juga tidak seperti kenyataan.
Belakangan ini, Ayek sering mengatakan sesuatu yang membuat jantungnya berdetak di luar normal. Kata-kata yang membutnya berbunga-bunga. Ia terlanjur menyukainya. Ia terlanjur menikmatinya. Akankah itu hanya gombalan? Pertanyaan itu membuat hatinya cemas.
"Dibilangin nggak percaya!" Ayek tersenyum geli.
Reflek, Mei Hwa mengusap pipinya. Kulit kuaci di pipinya ia remas dengan kesal.
"Benar kan?"
"Bodo amat!" Mei Hwa terkekeh kesal, kesal pada diri sendiri yang terlalu mudah terbawa perasaan.
"Aku cemburu pada kulit kuaci itu!"
Spontan Mei Hwa menatap tajam Ayek. Salah tingkah membuatnya tak bisa mengendalikan diri. Ia ingin keluar dari situasi ini. Namun, alih-alih bersikap tenang, ia malah meluapkan perasaan tidak nyamannya. "Aku heran, kamu mudah sekali mengucapkan kata-kata gombalan. Sepertinya kamu terbiasa."
Ayek mengangguk mantap. "Aku hargai kalau kamu menganggapnya gombalan. Aku memang terbiasa mengatakannya. Tapi hanya sama kamu, Mei."
Mei Hwa membuang muka ke langit. Ia tak tahu harus merasa senang atau merasa kesal, atau mungkin senang sekaligus kesal? Sungguh ia tidak tahu, bagaimana bisa hatinya menyikapi sesuatu dengan dua rasa yang saling berlawanan. Ia senang mendengar pengakuan Ayek bahwa hanya pada dirinya lelaki itu mengatakan kata-kata yang membuatnya berbunga-bunga. Tapi ia juga kesal karena lelaki itu mengatakannya dengan nada bercanda.
"Kamu tidak nyaman kalau aku berkata seperti itu?"
Mei Hwa melirik Ayek sekilas sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke atas meja.
Ayek berkata lirih. "Inilah Ayek, lelaki pendiam yang hanya berani romantis di lirik-lirik lagu. Aku bisa saja mengatakan itu semua kepada fans-fans cewek. Tapi, aku nggak mau. Aku hanya ingin mengatakannya padamu."
Mei Hwa menoleh. "Dan aku harus percaya begitu saja?"
Ayek menunduk. "Kau tidak harus mempercayainya, kau hanya perlu meyakinkan dirimu sendiri."
"Sudah kubilang, hatiku tidak punya otak!"
"Tapi hati punya mata. Ia bisa melihat apa yang tidak tampak. Hati punya telinga, mendengar yang tidak bersuara. Hati punya mulut, mendengar apa yang tak bisa terucap."
Mei Hwa menyela. "Dan hati punya hidung, mencium apa yang tidak beraroma. Aku bisa saja mempercayai semua kata-katamu. Tapi aku tidak bisa membedakan saat kamu bercanda dan saat serius!"
Ayek kembali menatap Mei Hwa, lembut tapi menusuk. "Ibarat kado, serius adalah isi, dan bercanda adalah bungkusnya. Begitulah caraku mempersembahkan sesuatu kepadamu."
Mei Hwa tersenyum kecut. "Begitu ya?"
Ayek mengangguk.
Mei Hwa menggigit bibir bawahnya. Hatinya campur aduk. Ia menyukai karakter Ayek, tapi takut untuk berharap terlalu banyak. Ia hanya akan berusaha untuk tidak membawa perasaan. Meskipun, ia sadar, sudah terlambat.
"Kuacinya masih banyak!" ujar Ayek mencoba mencairkan suasana.
Mei Hwa tahu, Ayek sedang mengalihkan topik. Tapi ia tak acuh, karena yakin itu hanya sementara. Lelaki itu akan kembali menggombal. Maka itu ia memilih diam.
Usaha mencairkan suasana gagal, Ayek mencoba lagi. Ia mengambil kertas dari atas meja. "Aku menyusun tablatur ini dua malam, tapi ketika take melodi gitar malah lebih banyak improvisasi."
Mei Hwa menoleh, sekadar menunjukkan bahwa dirinya merespon ucapan Ayek.
"Aku ingin bisa membaca partitur sepertimu," ujar Ayek.
Mei Hwa beranjak, meninggalkan Ayek tanpa mengatakan sesuatu.
Ayek bengong, menatap punggung Mei Hwa yang mulai menjauh. Ia takut gadis itu marah. Hatinya menjadi gelisah. Projek kolaborasi mereka belum selesai, jika ada masalah di antara mereka, bisa mengacaukan semua yang sudah mereka lakukan.
Ayek berpikir keras, apa yang harus ia lakukan jika benar Mei Hwa marah. Meminta maaf, itu yang pertama terlintas. Namun, ia sadar kata maaf kadang tidak cukup untuk memperbaiki keadaan, seperti kesalahannya kepada band dua hari lalu.
Saat pikiran Ayek sedang kacau, Mei Hwa kembali membawa sebuah buku.
Mei Hwa meletakkan buku yang ia bawa ke meja. "Itu buku belajar cara membaca dan menulis partitur."
Ayek bernapas lega. Apa yang ia pikirkan tak seburuk kenyataannya. Perasaan takut Mei Hwa akan marah padanya berangsur sirna setelah mendapati ulasan senyum di wajah gadis itu.
"Aku pikir kamu marah," ujar Ayek.
Mei Hwa mengerjap. "Marah kepadamu adalah pekerjaan paling sia-sia."
"Jadi marah termasuk pekerjaan?"
Mei Hwa terkekeh. Ia menonjok lengan kanan Ayek pelan.
Ayek pura-pura mengaduh. "Sakit tapi enak!"
"Mulai deh!" Mei Hwa memasang wajah cemberut.
Ayek menepuk bahu kanannya. "Yang ini belum!"
"Nanti aku tonjok pakai linggis!"
Ayek tertawa.
"Cobalah belajar partitur," saran Mei Hwa. "Kamu boleh bawa pulang buku itu."
“Partitur itu sulit, aku pernah mempelajarinya. Aku terbiasa menggunakan tablatur.”
“Partitur bisa dibaca semua alat musik. Ia bersifat universal. Sedangkan tablatur hanya bisa dimainkan gitar dan bass saja.”
“Apa menurutmu aku bisa?”
“Kamu pasti bisa selagi mau berusaha.”
“Aku merasa pesismis bisa mempelajarinya. Ia begitu anggun. Aku merasa tidak pantas bersanding dengannya. Ini jenis belajar paling sulit yang pernah aku coba.”
“Memangnya kamu belajar apa?”
“Aku belajar menerima kenyataan jika nanti kamu menolak cintaku.”
Piipi Hwa merah padam. "Kamu mencintaiku?"
Ayek terpana, tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan itu. Ini kesempatan baginya untuk mengungkapkan perasaan, tapi entah kenapa bayangan wajah angker Babah Liem mendadak melintas di benaknya. Ia teringat ucapan ibunya bahwa ayah Mei Hwa orang kolot dan temperamental. Nyalinya pun menciut seketika.
Mei Hwa mendesah kecewa. "Lupakan saja pertanyaanku tadi."
Ayek menelan ludah. Momen bagus lenyap sudah, sementara hatinya masih berkecamuk. Ternyata mengungkapkan perasaan tidak semudah mengucapkan kata-kata romantis. Sungguh ia merasa dilema. Jika gadis itu memiliki perasaan yang sama, ia masih harus berhadapan dengan Babah Liem yang konon kolot itu. Tapi, sebagai lelaki, itu tak terlalu merisaukannya. Ia akan menghadapinya. Yang ia khawatirkan adalah jika Mei Hwa menolak. Bukan karena ia takut ditolak, tapi ia tak mau setelah itu hubungan profesional yang ia bangun bersama Mei Hwa menjadi berantakan.
"Aku hanya bercanda," ujar Mei Hwa berbohong. "Jangan diambil serius!"
"Tapi aku menganggapnya serius."
"Itu masalahmu!"
Ayek tercekat. Tenggorokannya terasa kering. Air ludah yang ia telan terasa pahit.
"Bukankah itu cara kita menghidupkan suasana?" Mei Hwa memberanikan diri menatap Ayek. "Bercanda soal hati, seolah itu hal biasa."
Ayek merasa tertampar.
"Tadinya aku tidak terbiasa, tapi kamu sering melakukannya. Aku pun belajar untuk menikmatinya. Itu jenis belajar paling sulit yang pernah kulakukan, tapi aku bisa."
Ayek tersenyum kecut.
"Kalau kamu merasa mempelajari partitur itu sulit, ingatlah, aku pernah belajar yang lebih sulit dari itu. Jadi, tidak ada alasan bagimu untuk memelihara kesulitan."
Kata-kata Mei Hwa lugas dan menohok perasaan Ayek.
Mei Hwa mendongak ke langit. Senja sedang menyapa mereka. Sebentar lagi matahari akan tenggelam, sementara Ayek telah tenggelam dalam perasaannya sejak tadi.
Mei Hwa berdiri. "Besok setelah take drum selesai, kita bahas bagaiamana konsep video klip buat single pertama lagu kita."
Ayek mengangguk tak berdaya.
"Selamat sore, Yek!" Mei Hwa melempar senyum getir. Sungguh, ia tak tega bersikap seperti itu kepada Ayek, tapi ia merasa harus melakukan itu.
"Selamat sore, Mei," balas Ayek.
Mei Hwa meninggalkan Ayek seorang diri.