Di Bawah Air Terjun Guci

2049 Kata
Take drum selesai sesuai jadwal, dilanjut dengan remixing. Sebelum asar, projek tiga lagu kolaborasi Ayek dan Mei Hwa selesai. Mereka bergerak cepat dengan langsung membahas konsep video klip untuk lagu-lagu mereka. "Sementara kita bikin satu video dulu," usul Mei Hwa. "Lagu mana yang akan kita pilih?" Ayek berpikir sejenak. "Mmhh, gimana kalau lagu yang berjudul Nada-Nada Asmara? Temanya kan cinta, beatnya ngepop, dan lebih easy listening." Mei Hwa mengangguk setuju. "Oke, terus konsep video klipnya akan seperti apa?" "Karena itu lagu cinta, kita eksplorasi adegan-adegan romantis di tempat-tempat yang eksotis." Mei Hwa menatap curiga wajah Ayek. "Modelnya siapa?" "Kita saja," jawab Ayek. "Bagaimana?" Mei Hwa menggeleng. "Aku nggak mau menjadi model dengan melakukan peran. Biasanya aku cuman main di depan piano." "Kalau begitu kita cari model profesional saja." Mei Hwa mengangguk. "Aku punya pandangan artis buat jadi model video klip kita. Tinggal mencari lokasi yang eksotis, seperti katamu." "Kita pakai lokasi Guci saja," usul Ayek. "Di sana ada hutan pohon pinus, air terjun, pemandian air panas, pas banget buat adegan romantis. Nanti sepasang modelnya menyusuri jalanan perbukitan menggunakan kuda. Wah keren, tuh!" Mei Hwa mengerjap. "Kamu sudah kayak pemandu wisata saja!" Ayek garuk-garuk kepala. "Kalau kamu sepakat sih!" "Sepakat," ujar Mei Hwa. "Kita survey dulu lokasinya." Ayek berbinar. "Sekarang?" Mei Hwa mengatupkan bibir. Ia melirik arloji. "Dari sini sampai Guci berapa jam?" "Kalau jalanan nggak macet paling satu jam ditempuh pakai sepeda motor." "Kita pakai mobil." "Kalau roda empat, paling lambat dua jam udah sampai sana," ujar Ayek. "Pakai mobil siapa?" "Mobil calon mertuamu!" sergah Mei Hwa tanpa tertawa sama sekali. Karuan saja Ayek tertawa, menganggap itu candaan. Ia tidak tahu kalau mulai hari ini Mei Hwa akan mengikuti permainan dia yang selalu bercanda dengan sesuatu yang berhubungan dengan perasaan. Mei Hwa tidak sedang membalas dendam atau berniat jahat, ia hanya ingin Ayek sadar resiko bercanda seperti itu. Resiko paling ringan adalah baper, dan resiko paling berat adalah ketagihan. Ia sudah menjadi korbannya. Tak banyak membuang waktu, Ayek dan Mei Hwa segera meluncur menuju Guci, sebuah obyek wisata populer di bagian selatan kabupaten Tegal. Mei Hwa mempercayakan Ayek untuk mengemudi karena paham rutenya. Nissan Xtrail hitam pun melaju dengan kecepatan sedang. Ayek berusaha fokus menjalankan kendaraan roda empat itu. Ia memilih banyak diam, karena jika banyak bicara, takutnya mengumbar kata-kata manis yang menyinggung soal perasaan. Ia tak mau Mei Hwa tersinggung seperti kemarin sore. Ayek sadar, candaannya terlalu. Apalagi ia belum begitu sepenuhnya mengenal karakter Mei Hwa. Faktanya gadis lugu dan lugas itu tiba-tiba tadi bercanda dengan kata-kata yang membuat dadanya bergetar. "Kok bengong?" tegur Mei Hwa. Ayek tersenyum, tanpa menoleh. Pandangannya fokus ke jalan raya. "Kemarin ada ayam tetangga bengong, sorenya mati lho!" canda Mei Hwa. Ayek terkekeh. "Beneran?" "Aku baca beritanya di radio." Ayek tertawa geli, mana bisa radio dibaca. Dan sejak kapan gadis itu pintar melucu? Sungguh, ini hari yang aneh baginya. "Kamu jangan bengong, takutnya bernasib seperti ayam itu." Ayek garuk-garuk kepala menggunakan tangan kiri, tangan kanan mengendalikan stir. "Takut mati? Mei Hwa mengangguk. "Aku akan kehilangan kalau kamu mati " Ayek ngakak. "Ada-ada saja." Hanya itu yang bisa ia katakan untuk merespon. Mei Hwa memilin rambut panjangnya. "Tapi buat apa juga kehilangan seseorang yang belum dimiliki?" Ayek menoleh, selama satu detik menatap Mei Hwa dengan sorot heran. Selepasnya kembali fokus mengemudi. "Kamu mahir juga mengemudi," ujar Mei Hwa. "Aku belajar menyetir sejak SMA." "Oh iya?" Ayek mengangguk. "Dulu pernah jadi kenek angkutan. Kadang disuruh menggantikan nyetir sama sopirnya." Mei Hwa merasakan ada perubahan pada diri Ayek. Menurutnya laki-laki itu mendadak pasif dalam obrolan, berkata dengan kalimat pendek-pendek dan cenderung serius. "Punya SIM?" Ayek mengangguk. "Jelek-jelek begini aku punya SIM B umum." "Wah keren!" puji Mei Hwa. "Siapa bilang kamu jelek? Kamu tampan kok!" Ayek tertawa. Pipinya memerah. "Aku ingin punya SIM A." Mei Hwa berujar. "Oh," seru Ayek. "Kirain sudah punya." "Punya sih, tapi dari kepolisian." Ayek tersenyum. "SIM memang yang menerbitkan kepolisian." "Maunya kamu saja yang menerbitkan SIM A." Ayek terkekeh. "Mana bisa?" "Kamu nggak bisa?" tanya Mei Hwa. Ia melirik Ayek dengan senyum jahil. "Aku patah hati dong!" Ayek terkekeh, sengaja tak menanggapi gombalan Mei Hwa. Ia merasa ada yang tidak beres pada diri gadis itu. "SIM A itu Surat Izin Mencintai Ayek!" ucap Mei Hwa sambil menahan tawa. Ia merasa geli mengatakan itu. "Uhhukk!" Spontan Ayek terbatuk akibat tertawa sambil menahan kaget. Mei Hwa tersenyum puas, berhasil membuat Ayek mati kutu. Ternyata menyenangkan juga bercanda seperti Ayek. "Kamu kesambet partitur, Mei!" umpat Ayek setelah berhasil meredam batuk. "Aku kesambet senyummu!" ucap Mei Hwa manja. Ayek menarik napas dalam-dalam, menahannya sejenak dalam d**a, lantas melepaskannya perlahan. Ia kehilangan sosok Mei Hwa yang ia kenal sebelumnya. Mei Hwa yang sekarang seperti orang asing saja baginya. Tiba-tiba kaki kanan Ayek menginjak pedal rem, mengurangi laju mobil secara perlahan. Tepat di depan sebuah mini market mobil berhenti. Mei Hwa bingung. "Ada apa, Yek?" Alih-alih menjawab, Ayek menatap Mei Hwa. "Mei, aku minta maaf udah sering mengatakan kata-kata yang mungkin membuatmu nggak nyaman." Mei Hwa membalas tatapan Ayek. "Nyaman kok. Kenapa harus meminta maaf?" Ayek menunduk. "Kemarin kamu menegurku. Makanya mulai hari ini aku berusaha menjaga ucapanku." Mei Hwa terus menatap Ayek. Sekarang ia tahu alasan kenapa lelaki itu lebih banyak diam. Tiba-tiba ia merasa bersalah. Ayek tidak berani membalas tatapan Mei Hwa, meskipun ingin. Menatap gadis itu hanya akan membuatnya terpancing untuk mengatakan kata-kata rayuan. Ia merasa belum layak melakukannya. Mei Hwa belum jadi kekasihnya. Suasana di dalam mobil menjadi sunyi. Ayek dan Mei Hwa tenggelam dalam imajinasi masing-masing. Mereka baru terkesiap ketika seseorang mengetuk jendela dari luar. Orang itu memberi isyarat, bahwa mobil mereka menghalangi akses parkiran. Ayek memberi gestur minta maaf kepada orang itu. Ia segera melajukan mobil, meneruskan perjalanan. Mei Hwa memilih membuang pandangan ke luar. Mood untuk menggombal sirna seketika. Ia sadar, sikapnya salah. Maka itu ia memilih diam. Perjalanan pun terasa sunyi. Setengah jam tanpa percakapan membuat Mei Hwa mengantuk. Ia tertidur justru ketika tujuan tinggal beberapa kilometer. Sampailah Ayek di pintu masuk objek wisata Guci. Ia membayar karcis tanda masuk, kemudian langsung menuju terminal angkutan kota. Sampai di terminal, Ayek ragu untuk membangunkan Mei Hwa. Gadis itu tampak pulas dengan kepala miring ke kiri. Geraian rambutnya menutupi wajah bagian kanannya. Ingin sekali Ayek membelai rambut Mei Hwa. Jari-jari tangan kirinya menggantung di udara, hanya berjarak kurang dadi dua puluh senti dari kepala gadis itu. Ayek menarik kembali tangannya. Ia tak mau dianggap akan berbuat kurang ajar ketika nanti Mei Hwa bangun. Yang bisa ia lakukan hanya memandang wajah gadis itu. Dalam hati ia memuji kecantikan gadis di sebelahnya itu. Kecantikan yang hanya bisa ia khayalkan di kamar, dengan melihat foto gadis itu yang ia dapatkan dari i********:. Bunyi knalpot mini bus yang baru memasuki terminal membuat Mei Hwa terbangun. Ia kaget mendapati suasana asing. Matanya mengedar ke sekeliling. Barisan mobil di kanan kiri, membuatnya sadar sudah sampai di tujuan. "Sudah sampai Guci?" Mei Hwa mengucek mata. "Iya." Ayek memastikan tuas rem tangan sudah dalam posisi seharusnya. "Jangan lupa tasmu." Mei Hwa meraba pinggang, memastikan tas masih melekat di tubuhnya. "Ayo turun!" Ayek membuka pintu kanan. Ia turun dari mobil. Selepas menutup pintu, ia berjalan ke sisi sebelah kiri, membukakan pintu untuk Mei Hwa. Mei Hwa merasa tersanjung dibukakan pintu. Ia keluar dari mobil. "Terima kasih, Yek." Ayek mengangguk. "Kamu mau ke toilet dulu?" Mei Hwa mengangguk. "Di sebelah mana?" Ayek menunjuk bangunan mirip pasar yang berfungsi sebagai pusat perbelanjaan. Posisinya berada di tengah-tengah terminal. Mereka berjalan beriringan menuju ke sana. Dari terminal, pucuk-pucuk pohon pinus terlihat tampak indah. Mei Hwa takjub, ia tak sabar untuk menikmatinya dari jarak dekat. Namun ia harus membuang hajat dulu dan merapikan make-up di toilet. Hari sudah sore, Ayek tak ingin membuang banyak waktu. Dari toilet, ia langsung menyambangi penyewa kuda yang mangkal di sekitar terminal. Ia menyewa dua kuda untuk Mei Hwa dan dirinya. Jalanan yang tak begitu lebar membuat dua kuda sewaan itu tidak bisa berjalan beriringan. Mei Hwa berada di depan, diikuti Ayek. Sementara para pemilik kuda berjalan kaki mengimbangi hewan peliharaannya. Mereka melaju pelan menuju hutan pohon pinus. Puas menjelajahi bukit di tepi pohon pinus, Ayek dan Mei Hwa memutuskan untuk mandi di bawah air terjun. Beruntung sekarang bukan akhir pekan, sehingga tidak begitu banyak pengunjung yang datang. Mei Hwa mengganti bajunya dengan T-Shirt biru dan celana sebatas lutut. Sementara Ayek hanya mengenakan kaos dalam dan celana pendek. Mereka berdiri tepat di bawah air terjun. Air hangat alami mengguyur badan Ayek. Ia berteriak memanggil Mei Hwa, meminta gadis itu untuk mendekatinya. Mei Hwa hanya tersenyum. Ia enggan ke air terjun dengan hanya berendam di tepi. Ia masih malu kepada Ayek jika mengingat apa yang telah ia lakukan kepada lelaki itu. Sungguh ia menyesal telah bercanda soal perasaan, merayu, dan sengaja ingin membalas sikap lelaki itu. Kini Mei Hwa sadar, Ayek tidak berniat memainkan perasaannya. Lelaki itu bahkan seharian diam hanya karena tak mau membuatnya tersinggung. "Mei, sini!" panggil Ayek. Mei Hwa tidak enak juga menolak ajakan Ayek. Terpaksa ia menurutinya. Ia berjalan pelan menuju lelaki itu. Begitu kepalanya terkena guyuran air terjun, ia merasakan sensasi yang luar biasa. Badannya hangat. Hatinya juga hangat, berbasah-basah dengan lelaki yang telah membuatnya merasa nyaman. "Aku malu, Yek," aku Mei Hwa pelan. Suaranya tenggelam oleh gemerisik air terjun. "Apa? Mau apa?" Mei Hwa menggelang, tak mau mengulangi ucapannya. "Nggak mau?" tanya Ayek. "Kalo ngomong yang jelas!" Mei Hwa mendekatkan diri kepada Ayek. "Sebentar lagi maghrib. Kita nggak bisa berlama-lama di sini." Ayek mengangguk. Ia memandang langit yang mulai gelap. "Bagus kan buat lokasi video klip?" tanya Ayek. "Cocok buat beromantis ria." Mei Hwa mengangguk. Ayek membayangkan seandainya nanti di video klip, pemerannya sepasang kekasih sedang bermesraan di tempat ini. Ia tersenyum-senyum sendiri, berandai-andai jika model dalam video klip itu dirinya dengan Mei Hwa. "Ih senyum-senyum sendiri," hardik Mei Hwa. "Awas gila loh!" Spontan Ayek mencipratkan air ke wajah Mei Hwa. Gadis itu menghindar sambil menutupi wajahnya. Namun karena posisi tubuhnya agak miring, ia pun limbung. Ayek sigap, berusaha menangkap tubuh Mei Hwa. Sayang, usahanya tidak berhasil. Untung Mei Hwa berhasil menguasai diri, sebelum jatuh, tangannya sempat berpegangan pada batu cadas di dinding air terjun. Ayek merasa lega Mei Hwa tidak jatuh. Namun ia berpikir, seandainya berhasil menangkap tubuh itu pasti akan romantis seperti di sinetron. Ia berkhayal, seandainya itu terjadi, ia dan Mei Hwa akan beradu pandang dalam beberapa detik, diakhiri dengan saling merasa canggung. "Aku takut cipratan air, Yek!" gerutu Mei Hwa. "Maaf, Mei, aku nggak tahu," ucap Ayek merasa bersalah. "Kamu nggak apa-apa kan?" Mei Hwa menggelang. "Kita pulang yuk?" Ayek diam. Ia masih ingin berlama-lama di sini bersama dengan gadis yang ia sukai. Kapan lagi ada kesempatan seperti sekarang ini? Mendadak sebuah dorongan kuat timbul dari hatinya. Tangannya seolah ada yang menggerakan, meraih pergelangan tangan Mei Hwa. Karuan Mei Hwa kaget. Baru pertama kali dalam hidupnya disentuh laki-laki yang bukan muhrim. Wajahnya pucat. Pipinya merah. Dadanya berdegup kencang. Namun ia merelakan kedua telapak tangannya direngkuh Ayek. Ayek menatap Mei Hwa sambil tangannya meremas jari-jemari gadis itu. "Mei, maaf kalau selama ini aku sering mengumbar kata-kata manis. Itu bukan gombalan, entah kamu percaya atau enggak." Mei Hwa menunduk. Debaran dadanya semakin kencang. "Aku tulus...." Mei Hwa mengangguk, membuat wajahnya semakin terbenam. "Aku menyukaimu, Mei," ucap Ayek dengan nada bergetar. "Maukah kamu jadi kekasihku?" Mei Hwa mengangkat dagu. Ia beranikan diri menatap Ayek. "Kamu nggak bercanda kan?" Ayek menggeleng tegas. "Aku mencintaimu!" Mei Hwa tersenyum bahagia. Serasa ia tak menapak bumi. Pikirannya melayang tinggi. "Bagaimana, Mei? Apa kamu juga mencintaiku?" Mei Hwa malu untuk menjawab iya. Ia diam tak tahu harus bersikap apa. "Kamu boleh menjawabnya nanti, nggak harus sekarang!" Ayek melepaskan jari-jemari Mei Hwa. Dalam hati, Mei Hwa menyalahkan diri sendiri yang tak punya kekuatan untuk menjawab pertanyaan Ayek. Ia tidak tega membiarkan lelaki itu menunggu lama. "Kita pulang, yuk?" ajak Ayek. Ia meraih tangan Mei Hwa, mengajak gadis itu ke pinggir. Mei Hwa menahan tangan Ayek, membuat lelaki itu menoleh. "Aku juga mencintaimu, Yek!" Ayek tersenyum bahagia. Rasanya sulit ia percayai kalau Mei Hwa membalas cintanya. Untuk meluapkan kebahagiaan ia memeluk gadis itu. Mei Hwa pasrah saja tubuhnya dipeluk Ayek. Reflek, sepasang lengannya melingkar di perut lelaki yang mulai hari ini resmi menjadi kekasihnya. Dari jarak beberapa ratus meter, seorang lelaki gondrong duduk di atas sepeda motornya sambil mengarahkan teropong ke arah sepasang kekasih di bawah air terjun. Ia menyeringai senang. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN