Suasana meja makan mencekam. Babah Liem tidak banyak bicara, hanya sesekali melirik Mei Hwa dengan sorot tajam. Matanya merah. Kadang napasnya memburu, berusaha menahan emosi yang meluap-luap sejak mendapatkan laporan dari Marno.
Babah Liem sengaja menahan kesabaran, tidak memberi tahu Mamah Kiew perihal laporan Marno. Istrinya bisa marah karena memata-matai anak sendiri. Jika itu terjadi, rencana menginterogasi Mei Hwa bisa gagal karena terlebih dahulu bertengkar dengan istrinya.
Mei Hwa merasakan kejanggalan pada sikap ayahnya. Namun, ia tak mau menduga-duga apa sebabnya. Pikirannya masih terus melayang ke momen di mana Ayek mengungkapkan perasaan. Hatinya terus berbunga-bunga, hingga tak menyadari situasi gawat sedang menunggunya.
Babah meletakkan sendok dan garpu di atas piring yang masih menyisakan banyak makanan. Karuan saja, Mamah Kiew heran, karena suaminya selalu makan dengan lahap.
"Babah sariawan ya?" tegur Mamah Kiew.
Babah mengambil air minum lantas menghabiskan isinya tanpa sisa, tak merespon pertanyaan istrinya sama sekali. Matanya melirik ke wajah Mei Hwa yang tampak lebih cerah dari biasanya.
"Apa masakan Mamah keasinan?" tanya Mamah Kiew.
Babah Liem menggeleng.
Mei Hwa baru selesai makan. Baru saja ia akan beranjak, Babah Liem memberi isyarat padanya untuk tetap pada tempatnya.
"Ada yang ingin Babah bicarakan, Mei." Babah Liem mencoba menahan gejolak emosi. "Tunggu di kamarmu!"
"Ada apa, Bah?" Mamah Kiew cemas.
"Mamah ikut Babah ke kamar Mei Hwa!"
Mamah Kiew menatap suaminya, penasaran dengan apa yang akan dilakukan suaminya pada Mei Hwa.
Mei Hwa mencium gelagat tidak enak. Namun, ia berusaha menengkan diri dengan berpikir positif. Ia beranjak dari ruang makan menuju kamar.
Mamah Kiew memandang kedua anaknya yang lain. "Kalian habiskan makannya ya? Jangan nguping!"
Kedua adik Mei Hwa mengangguk kompak.
Babah Liem bangkit, menuju kamar Mei Hwa sambil menahan emosi. Mamah Kiew mengekornya.
Di kamar, Mei Hwa duduk di tepi tempat tidur. Pikirannya terbelah antara masih mengingat kejadian tadi sore di Guci dan menerka-nerka gerangan apa yang ingin dibicarakan ayahnya.
Terdengar pintu diketuk.
"Masuk!" ujar Mei Hwa.
Begitu masuk kamar, Babah Liem langsung mengambil kursi di depan meja rias. Ia mengambil posisi duduk berhadapan dengan Mei Hwa.
Mamah Kiew yang masih penasaran, duduk bersebelahan dengan Mei Hwa. Firasatnya mengatakan akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Mei Hwa menatap ayah dan ibunya secara bergantian. Ia bingung kenapa kedua orang tuanya kompak menemuinya di kamar. Ia berpikir pasti ada sesuatu yang penting dan bersifat pribadi, karena jika tidak, pasti ayahnya sudah mengatakannya di meja makan tadi.
Babah memandang Mei Hwa tajam. "Selain ke studio, hari ini kamu pergi ke mana?"
Mei Hwa kaget. Perasaannya tidak enak. Pikirannya langsung melayang ke Guci bersama Ayek. Jika ia menjawab jujur pasti akan ditanya pergi bersama siapa. Tak ada waktu untuk mengarang cerita, apalagi ia nyaris tak pernah membohongi orang tua.
Mamah Kiew juga kaget mendengar suaminya menanyakan kegiatan anaknya dengan nada menginterogasi. "Bah, ini ada apa? Nggak biasanya Babah bertanya seperti itu."
Babah menghela napas kesal. "Mamah diam dulu. Biarkan Mei Hwa menjawab."
Mamah Kiew mendengus.
"Kamu tidak ingin menjawabnya, Mei?" Babah mulai memberi penekanan pada ucapannya.
Mau tidak mau, Mei Hwa harus menjawab jujur. Ia yakin, pasti ada sesuatu di balik pertanyaan Babah. Jika ia terbukti berbohong, maka ayahnya tidak akan mempercayainya lagi.
"Babah sabar dong. Gimana Mei mau menjawab jika Babah terus bicara," tegur Mamah Kiew.
Babah melirik Mamah Kiew. Jarinya menunjuk wajah Mei Hwa. "Dia tidak perlu berpikir keras untuk menjawabnya. Cukup mengatakan dia pergi ke anu ke itu!"
Mamah Kiew mengelus d**a. Percuma saja ia bicara, jika suaminya mulai dikuasai emosi.
Mei Hwa mendeham. "Mei pergi ke Guci, Bah," ucapnya jujur. Ia juga sudah siap menjawab apa adanya pertanyaan-pertanyaan selanjutnya, termasuk jika nanti ditanya pergi sama siapa.
"Ke Guci?" Babah Liem terkekeh sinis. "Ke sana buat apa? Refreshing? Mencari inspirasi?"
Mei Hwa beranikan diri memandang ayahnya. "Survey lokasi buat video klip, Bah."
"Sama siapa?"
Ini pertanyaan yang paling Mei Hwa takutkan. Ia pun pasrah saja, jika nanti ayahnya marah. "Sama Ayek, Bah."
Di luar dugaan, Babah Liem tidak langsung marah. Ia memandang wajah Mei Hwa tanpa mengucapkan sepatah kata.
Mei Hwa menunduk. Hatinya sedikit lega karena apa yang ia takutkan tidak terjadi. Namun, justru karena itulah ia mulai was-was. Hati kecilnya berkata situasi ini bisa lebih buruk dari sebelumnya.
"Jadi, kamu ke Guci sama Ayek buat survey lokasi video klip?" tanya Babah Liem penuh penekanan pada setiap suku katanya.
Mei Hwa mengangguk. "Iya, Bah."
"Hanya itu?" Pandangan Babah menyelidik sepasang mata Mei Hwa.
Mei Hwa mengangguk.
Babah Liem menggebah napasnya kasar. "Kamu tidak pelukan sama Ayek kan?"
Reflek Mei Hwa menatap Babah. Ia terkejut, bagaimana bisa ayahnya tahu? Wajahnya menjadi pucat. Perasaannya tidak karuan, antara malu dan takut.
"Babah apa-apaan sih? Enggak mungkin Mei melakukan itu!" Mamah Kiew tidak terima. Ia menganggap suaminya keterlaluan, menanyakan sesuatu yang bernada menyudutkan dan cenderung curiga.
Babah Liem menatap tajam istrinya. "Mamah tanya sendiri saja sama Mei apakah mungkin dia pelukan sama anak nggak jelas itu!"
Mei menunduk dalam-dalam. Ia masih tak habis pikir kenapa Babah bisa tahu. Ia yakin pasti ada orang yang melaporkan pada ayahnya. Tapi siapa?
Mamah Kiew meraih pergelangan tangan Mei Hwa. "Jawab pertanyaan Babah, Nak!"
Jika hanya dimarahi ayahnya, Mei Hwa masih bisa menahan rasa sakit. Tapi mengakui ia berpelukan dengan Ayek di hadapan ibunya, ia merasa tak sanggup. Ia sangat malu. Selama ini ibunya selalu membelanya di hadapan ayahnya. Sekarang, ia tidak bisa membayangkan keterkejutan ibunya. Air matanya menetes.
Babah Liem bisa saja memberondong pertanyaan kepada Mei Hwa sampai anaknya mengakui semua. Namun kali ini ia tidak akan gegabah. Jika menuruti emosi, maka istrinya akan membela anaknya. Padahal tujuan utama adalah melarang anaknya bergaul dengan Ayek yang ia anggap telah merubah kepolosan anaknya.
"Ayek telah membawa efek buruk, Mah," ujar Babah Kiem kepada Mamah Kiew. "Sekarang anakmu sudah tidak mengindahkan nasehat Babah sejak mengenal anak itu."
"Maksud Babah apaan sih?" Mamah Kiew protes. "Mei sama Ayek kan sedang ada projek musik. Wajarlah kalau mereka bersama-sama melakukan survey lokasi buat video klip. Babah nggak usah terlalu keraslah sama anak. Mei sudah tahu mana yang baik dan buruk buat dirinya. Usianya sudah kepala dua, Bah!"
"Begitu?" Babah tersenyum sinis. "Mamah nggak akan ngomong begitu kalau lihat sendiri apa yang dilakukan Mei sama anak nggak jelas itu di Guci."
Mamah Kiew kaget setengah mati. Ia menjadi berpikir yang tidak-tidak. "Melakukan? Melakukan apa? Babah jangan asal nuduh!"
Emosi Babah sudah sampai ubun-ubun, namun ia tahan agar situasi tidak gaduh, agar istrinya yakin bahwa apa yang ia lakukan benar.
Tidak mendapatkan jawaban dari Babah Liem, Mamah Kiew menatap anaknya, panik. "Kalian melakukan apa?"
Sambil terisak Mei Hwa memeluk ibunya. "Mei nggak melakukan apa-apa, Mah. Jangan berpikir yang enggak-enggak."
Babah Liem mulai sulit menahan kesabaran. "Anakmu memeluk lelaki di tempat umum!"
Pelukan Mei Hwa makin erat. Tangisnya pecah, sampai badannya terguncang-guncang. "Maafin, Mei, Mah."
Mamah Kiew meneteskan air mata. Ia tak menyangka anak gadis yang selama ini ia anggap lugu, berani melakukan seperti yang dikatakan suaminya. "Kamu nggak melakukan hal lain lagi kan?"
Mei Hwa menggeleng. "Enggak, Mah. Sumpah!"
Mamah Kiew sedikit merasa lega. Ia melepaskan pelukan anaknya. Dengan lembut ia menatap anaknya. "Kalian pacaran?"
Mei Hwa mengangguk pelan, kemudian kembali memeluk ibunya. Anak dan ibu saling menangis.
Babah Liem kehilangan akal melihat pemandangan di depannya. "Pokoknya Babah nggak setuju kamu pacaran sama Ayek!" Ia keluar kamar sambil membanting pintu.