Lebih Percaya Isu Tetangga

1324 Kata
Hujan mengguyur kota Slawi malam ini. Hujamannya pada talangan air menimbulkan suara berisik, terdengar sampai ke kamar Mei Hwa. Bantal Mei Hwa telah basah sejak tadi. Air matanya terus saja mengalir. Hatinya penuh kecamuk. Ini hari paling lengkap baginya; Perasaan senang karena rekaman lagu telah selesai, dilanjut dengan kebahagiaan karena resmi menjadi kekasih Ayek, diakhiri dengan kecewa atas pelarangan ayahnya pada hubungan mereka. Sungguh Mei Hwa tak habis pikir kenapa Babah Liem tidak menyukai Ayek. Bagaimana bisa ayahnya memberi stigma negatif pada kekasihnya itu tanpa pernah mengenal lebih dalam. Meskipun temperamental, di mata Mei Hwa Babah Liem sejatinya orang yang selalu berpikir logis. Ia selalu menggunakan nalar dalam setiap melakukan sesuatu. Namun، entah kenapa itu tak berlaku pada penilaiannya terhadap Ayek? Menurut Mei Hwa ayahnya tidak akan sekeras itu jika mengenal Ayek lebih dalam, bukan asal mempercayai sebuah isu tanpa mengecek lebih lanjut. Mei Hwa harus meyakinkan ayahnya bahwa Ayek lelaki yang baik, kreatif, dan telah menginspirasi banyak anak muda. Ia harus membuka mata ayahnya, bahwa Ayek bukan anak nggak jelas yang kerjaannya hanya ngopi, main gitar, dan biang berisik. Ponsel Mei Hwa berdering. Ayek melakukan video call. Gadis itu membiarkan saja. Ia tak mungkin menerimanya dalam keadaan menyedihkan seperti sekarang ini. Kekasihnya itu akan bertanya macam-macam jika melihat matanya sembab dan wajah berantakan. Ia tidak mau Ayek sedih. Panggilan video berakhir. Tak lama dua chat dari Ayek masuk. Mei Hwa bisa membaca pesan itu dari notifikasi pop-up. Sudah tidur? Mei Hwa ingin membalas, tapi entah kenapa sisi hatinya yang lain melarang. Dua menit kemudian dari notifikasi pop-up masuk dua pesan berturut-turut. Ceklis. Pasti sudah, iya kan? Aku cuman mau bilang aylapyu. Gudnet, Beibeh. Mei Hwa sedikit tersenyum. Baginya Ayek memang moodbooster terbaik. Namun, ia masih enggan membalasnya. Ayek selalu berhasil membuatnya tersenyum. Lelaki itu pandai menciptakan suasana nyaman di hatinya dengan hal-hal sederhana. Namun Mei Hwa takut, jika nanti gagal meyakinkan ayahnya. Stigma negatif terlanjur melekat pada diri Ayek. Sementara saat ini, ayahnya masih dalam keadaan keras kepala. Ponsel Mei Hwa kembali berdering. Kali ini Ayek melakukan panggilan telepon. Lagi-lagi ia enggan menerimanya. Suaranya masih parau. Itu akan menimbulkan tanda tanya. Ia pun mengabaikan. Tiga kali berturut-turut Ayek melakukan panggilan telepon. Tiga kali pula Mei Hwa mengabaikannya. Sampai akhirnya sebuah pesan muncul di menu pop-up: Ada yang memata-matai kita! Mei Hwa kaget. Segera saja ia membalas pesan tersebut: Dari mana kamu tahu? Ayek: Inget nggak waktu aku ke studio pake kaca mata hitam, jaket, dan bawa tas ransel? Mei Hwa: Iya. Kenapa? Ayek: Itu agar aku tidak dikenali mata-mata itu. Mei Hwa : kok kamu yakin lagi dimata-matai? Ayek: Boleh aku nelpon sekarang? Mei Hwa : Boleh. Jangan VC tapi ya? Ayek: Oke. Ayek menelepon. Butuh beberapa saat bagi Mei Hwa untuk menerimanya. Ia berdeham beberapa kali agar suaranya tidak parau. "Jadi begini, Mei," ucap Ayek selepas Mei Hwa menerima panggilannya. "Waktu kamu nganter aku sampai pintu. Ada lelaki gondrong mengikuti kita. Aku curiga, waktu aku menoleh ia buang muka. Aku berhenti, ia berhenti. Tapi pas aku pulang dari studio, ia nggak ngikutin aku." "Terus?" "Ya aku khawatir dong, kali aja dia mau berbuat sesuatu sama kamu. Aku balik lagi ke studio lewat jalan samping. Kebetulan aku lihat dia jalan menuju mushola deket studio." Mei Hwa menjauhkan ponsel, ia kembali berdeham. "Mei, kamu batuk?" tanya Ayek khawatir. "Mmhh, enggak cuman agak serak dikit. Aku nggak apa-apa," dalih Mei Hwa. "Terus kamu kuntit orang itu?" "Iya. Ia berhenti di serambi mushola. Aku mengawasinya dari tempat wudhu. Dari sana aku bisa mendengar dia lagi menelepon seseorang. Aku nguping dong. Intinya, dia melaporkan kegiatan kita sama seseorang." "Dia menyebut nama?" "Enggak sih, dia cuman memanggil seseorang dengan sebutan juragan. Dia menyebut kita dengan Merpati dan Burung Hantu." Mei Hwa terkekeh pelan. "Burung hantunya pasti kamu." Terdengar Ayek tertawa. "Laporan dia sama si juragan itu menyebutkan dengan persis waktu aku sampai studio, berapa lama aku menunggumu, bahkan waktu aku pulang. Itu yang bikin aku yakin dia lagi memata-matai kita." "Pantesan Babah ta...." Mei Hwa buru-buru menggantung kalimatnya. Ia merasa belum waktunya memberitahu Ayek perihal ayahnya yang tahu mereka pelukan di Guci. Tapi, ia yakin mata-mata itu suruhan ayahnya. "Babah kenapa, Mei?" Ayek penasaran. "Nggak apa-apa," ujar Mei Hwa berbohong. "Babah marah aku pulang malam. Tapi itu udah biasa sih." "Yakin?" "Iya," jawab Mei Hwa. "Terus apa hubungannya sama kamu pakai kaca mata dan bawa tas ransel?" "Aku yakin akan dimata-matai lagi. Maka itu aku bawa tas ransel. Di dalamnya aku siapin jaket, topi, sama kacamata, yang aku pakai begitu sampai studio. Beruntung penyamaranku berhasil. Dia nggak bisa menemukanku." Mei Hwa terkekeh. "Pantesan kamu bilang akan sampai ruanganku dalam waktu dua menit. Hehehe." Ayek tertawa. "Waktu aku nungguin kamu di lantai atas, lelaki gondrong itu pura-pura nanyain toilet, padahal jelas-jelas di depannya ada tulisannya. Itu awal mula kecurigaanku." Mei Hwa juga melihatnya sekilas, tapi ia sengaja tak memberitahu Ayek. Nanti ketahuan kalau ia sudah memperhatikan lelaki itu dari dalam ruang recording. "Mei, menurutmu mungkin enggak kalau orang itu ngikutin kita sampai Guci?" tanya Ayek hati-hati. "Aku takut apa yang kita lakukan di Guci diawasi orang itu." Mei Hwa mendesah pelan. Ia juga merasakan kegelisahan seperti yang Ayek ucapkan. Keyakinannya semakin kuat bahwa mata-mata itu suruhan Babah karena ayahnya tadi bisa menuduhnya dengan tepat. Namun, ia belum akan menceritakannya pada Ayek karena belum cukup bukti atas keterlibatan ayahnya. "Kenapa diam, Mei?" "Nggak apa-apa. Aku agak lelah saja." "Ya sudah, kamu istiratlah. Tapi janji ya?" "Janji apa?" "Janji kamu nggak akan datang ke mimpiku. Nanti kamu capek. Kamu kan harus istirahat." Mei Hwa terkekeh. "Kamu juga harus janji yang sama." Mei Hwa dan Ayek terkekeh bersamaan. *** "Dari mana Babah tahu Mei sama Ayek ke Guci?" selidik Mamah Kiew. Babah Liem menatap langit-langit kamar, mencari kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan istrinya. Mamah Kiew memiringkan badan menghadap Babah Liem. "Babah memata-matai mereka?" Babah Liem masih diam. "Mei Hwa sudah dewasa, Bah!" ujar Mamah Kiew. "Dia tahu apa yang terbaik untuknya." Babah Liem melirik Mamah Kiew kesal. "Nyatanya dia pacaran sama anak nggak jelas itu!" Mamah Kiew menggeser tubuh, mendekatkannya pada Babah Liem. Dengan lembut jari-jarinya mengelus d**a suaminya. Itu cara efektif yang sering ia lakukan untuk meredam emosi suaminya. "Mamah tahu, Babah sangat menyayangi Mei. Babah punya cara untuk melindungi anak-anak. Mamah kagum." Babah melirik istrinya. "Tapi?" tanyanya seolah yakin kata konjugasi itu yang akan dikatakan istrinya selanjutnya. Mamah Kiew tersenyum. Ia meletakkan kepala di d**a suaminya. "Apa yang membuat Babah tidak menyetujui hubungan Mei sama Ayek?" "Mereka pelukan di tempat umum, Mah," dalih Babah Liem. Intonasinya melunak. "Itu bukan karakter Mei. Jangankan pelukan, jalan sama teman sekolah lelakinya saja dia nggak pernah." Mamah Kiew mendekatkan wajah ke suaminya. Tangannya mengelus rambut yang sudah beruban di depannya itu. "Namanya juga anak muda, Bah. Kita juga dulu sering melakukannya." "Tapi kenapa harus dengan anak nggak jelas itu?" Mamah Kiew tersenyum bijak. "Babah belum mengenal Ayek, hanya mengetahui dari orang lain yang belum tentu benar." Babah Liem mendengus tertahan. Ia ingin menyanggah istrinya, tapi diurungkan karena tak mau berdebat. "Toh, Ayek punya kegiatan positif di musik. Itu artinya anak itu kreatif." Babah Liem membuang muka. Ia mulai kesal mendengar argumen istrinya. Dengan lembut tangan Mamah Kiew mengusap pipi suaminya. "Mamah dukung kok kalau Babah mau mengenal Ayek lebih dalam. Bukan hanya mengawasi gerak-gerik fisik dia saja, tapi juga memahami apa yang dia lakukan bersama anak kita soal musik." Babah Liem tersinggung. "Jadi Mamah menuduh Babah memata-matai mereka?" Mamah Kiew tersenyum. "Mamah nggak bilang begitu. Tapi tahu kegiatan mereka di Guci itu bukan suatu kebetulan bukan?" Babah Liem memunggungi Mamah Kiew. "Mamah selalu saja membela Mei Hwa!" Mamah Kiew memeluk suaminya dari belakang. "Babah berhak melarang Mei Hwa berhubungan dengan Ayek. Mamah akan mendukung, tapi jika anak itu terbukti memberi pengaruh negatif." Babah Liem tak acuh. Kesabaran Mamah Kiew mulai goyah, namun tetap berusaha mengendalikan diri. Ia menepuk bahu suaminya. "Apakah lelaki ganteng yang kubanggakan ini lebih percaya pada isu tetangga, ketimbang pada istri dan anaknya?" Babah Liem menarik selimut sampai menutupi kepala. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN