Yakin masih diawasi, Ayek menyusun strategi, bagaimana caranya agar pertemuannya dengan Mei Hwa aman. Kebetulan mereka sudah tidak melakukan kegiatan di studio.
"Aku kangen," ucap Ayek via telepon. "Kamu di mana?"
"Aku di hatimu." Mei Hwa terkekeh manja.
"Oh iya." Ayek tertawa lebar. "Kamu di studio?"
"Iya."
"Kita jangan ketemuan dulu di studio," saran Ayek. "Orang itu pasti akan mengawasi kita lagi."
Sebenarnya Mei Hwa tak sependapat dengan Ayek. Menurutnya sama saja mereka bertemu atau tidak di studio. Mata-mata itu tidak akan mencelakakan mereka, hanya memata-matai. Toh, ayahnya sudah tahu hubungan mereka. Namun, ia tak ingin membantah kekasihnya itu.
"Kita ketemuan di tempat lain," usul Ayek.
"Di mana?" tanya Mei Hwa. "Mereka pasti akan tetap mengikuti kita."
"Pake strategi dong."
"Gimana caranya?"
"Sepertinya mata-mata itu lebih fokus ke aku," ujar Ayek. "Kamu cuman diawasi ketika bersamaku saja."
"Kok bisa berkesimpulan begitu?"
"Posisimu selalu di studio. Buat apa dia mengawasimu? Kerjaanmu kan itu-itu saja," analisa Ayek. "Kamu bermasalah hanya ketika ketemu aku. Makanya si mata-mata, lebih fokus sama pergerakanku.
Dalam hati Mei Hwa sependapat dengan analisa Ayek. Jika benar si mata-mata itu bekerja untuk ayahnya, maka dirinya aman selama tidak bertemu Ayek.
"Aku punya rencana buat mengecoh si mata-mata itu," kata Ayek. "Tapi ini nggak akan berhasil tanpa kerjasamamu."
"Aku harus gimana?"
"Kamu temui aku di radio Milenia FM, tapi berangkat dari studionya nunggu aba-aba dariku. Kalau bisa kamu ganti baju. Pakai jasa ojol saja. Jangan pake mobil."
"Ganti baju?" Mei Hwa merasa geli, tapi ia paham maksud Ayek. "Oke, kebetulan aku punya stok baju di ruanganku."
"Siap?"
"Oke, Sayang!"
***
Ayek bersemangat untuk mengecoh si mata-mata. Ia telah menyusun strategi matang.
Pertama yang Ayek persiapkan adalah baju. Ia mengenakan T-Shirt putih dan celana tiga per empat hitam. Pada saat keluar dari rumah ia akan menutupi T-Shirt-nya dengan kemeja putih lengan panjang. Sementara untuk bawahan ia akan menutupi celana tiga per empatnya dengan celana panjang hitam. Sebuah tas bergaya kantoran telah ia isi dengan sepatu kets hitam yang baru akan ia kenakan nanti. Yang ia pakai sekarang adalah sepatu pantofel hitam.
Penampilan Ayek sudah mirip orang kantoran. Rambut lurusnya diberi pomade dan disisir rapi. Ia menemui ibunya untuk berpamitan.
Zaenab sedang di dapur saat Ayek menemuinya. Perempuan itu tercengang melihat penampilan anaknya.
"Ganteng amat!" Zaenab tersenyum geli, baru kali ini melihat anaknya rapi. "Mau ke mana?"
"Mau ke radio, Ummi!" Ayek meraih tangan Zaenab. Ia mencium punggung telapak tangan ibunya.
"Nggak ke basecamp?"
"Ke basecamp dulu." Ayek melepas tangan ibunya. "Ayek pergi dulu ya, Ummi? Assalamu alaikum!"
"Wa alaikum salam!" Zaenab memandangi anaknya dengan wajah heran.
Pengemudi OJOL sudah siap. Ia meletakkan p****t di jok. Matanya beredar ke sekeliling, memastikan si mata-mata sudah siap mengikutinya. Namun orang itu belum tampak.
"Jalan pelan dulu, Mas! Nanti kalau udah sampai jalan raya, terserah mau ngebut juga ngga apa-apa."
"Siap, Mas!" Pengemudi OJOL terkekeh. Ia menjalankan sepeda motornya pelan.
Di tikungan, Ayek melihat Vixion merah terparkir di depan poskamling, tetapi tak ada orang di dekat situ. Ia yakin, itu kendaraan si mata-mata. Ia segera menghafal nopolnya.
Dugaan Ayek benar, Marno berada di dalam sebuah warung. Lelaki gondrong itu segera ke motornya, begitu melihat Ayek lewat. Dengan sigap, ia mengenakan helm, lantas mengikuti motor yang membawa Ayek.
Tujuan pertama Ayek adalah ke basecamp. Ia ingin menemui Sandi dan Kosim untuk menormalkan hubungan mereka.
Sejak Ayek lupa ke basecamp yang mengakibatkan band gagal mendapatkan kontrak manggung, Sandi tidak mau ditelepon, hanya mau membalas pesannya, itu pun terkesan ketus. Kosim lebih parah, ia hanya membaca pesan-pesan Ayek tanpa mau membalasnya.
Pengemudj OJOL mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Padahal jalanan sedang padat. Bagi Ayek ini menguntungkan, karena pasti itu akan merepotkan si mata-mata. Namun ia berharap dirinya tetap bisa dikenali karena jika si mata-mata itu kehilangan jejak, rencananya menjadi berantakan.
Tidak sampai sepuluh menit. Ayek sampai di depan basecamp. Selepas membayar jasa OJOL, ia langsung masuk karena pintu basecamp tidak pernah terkunci.
Basecamp dalam keadaan sepi. Keadaannya masih sama dengan terakhir kali Ayek datang. Sampah makanan ringan dan minuman kemasan masih berserakan di atas meja.
Ayek melirik ke rumah Sandi yang bersebelahan dengan basecamp. Rumah itu tampak sepi. Lampu penerangan masih menyala, menandakan tak ada orang di dalamnya.
Rumah Sandi tidak begitu besar, hanya ada dua kamar, satu difungsikan sebagai studio, dan satunya untuk ruang tidur. Di bagian belakang ada satu ruang kamar mandi dan ruang kosong yang berfungsi sebagai dapur.
Rumah itu tadinya lama tak berpenghuni sejak kedua orang tua Sandi merantau ke Jakarta. Sandi mengubahnya menjadi markas band.
Ayek menelepon Sandi, namun tiga kali usahanya tidak membuahkan hasil. Ia pun menulis sebuah pesan pada sebuah memo yang ia lekatkan pada papan jadwal band di basecamp.
Gue ke sini membawa perasaan bersalah. Hukumlah gue seberat-beratnya, asal itu bisa menebus semua salah gue sama kalian.
Ayek
Ponsel Ayek berdering. Hatinya bersorak mengira itu dari Sandi. Namun ternyata Mei Hwa.
"Halo, Mei."
"Gimana, kapan aku harus berangkat?" tanya Mei Hwa.
Ayek menepuk jidat. Ia baru ingat sedang janjian sama Mei Hwa. "Sebentar, jangan tutup teleponnya." Ia mengintai ke luar basecamp dari balik tirai jendela. Motor Vixion merah terparkir di seberang jalan tapi si mata-mata tidak kelihatan.
"Jadi kan?"
"Jadi, Mei. Kamu berangkatlah sekarang."
Mei Hwa mendesah. "Oke."
Ayek segera melepas sapatu pantofel, kemeja, dan celana panjang. Sekarang ia hanya mengenakan T-s**t dan celana tiga per empat. Dengan cekatan ia mengenakan sepatu kets.
Sepatu, baju, dan celana Ayek masukan ke dalam tas. Tas itu ia tinggal di basecamp. Sekarang waktunya bermain-main dengan lelaki gondrong itu.
Basecamp punya pintu belakang yang terhubung dengan kampung. Aksesnya sebuah gang sempit. Ayek menyusurinya. Tak lama ia sudah berada di jalan kampung. Dari sana ia menunggu angkot.
"Bang Yek!" sapa seorang lelaki remaja.
Ayek tersenyum. Ia tak tahu nama anak yang memanggilnya itu tapi tahu dia tetangga Sandi.
Tiba-tiba terbersit sebuah ide brilian di benak Ayek. Ia mendekati anak remaja itu.
"Dek, di depan basecamp ada orang gondrong pake Vixion merah. Gerak-geriknya mencurigakan. Rumah Bang Sandi sepi. Takutnya orang itu berniat jahat!"
Si remaja kaget. "Serius, Bang?"
"Iya. Coba aja cek sendiri."
"Wah cari masalah itu orang." Wajah si remaja tampak geram. "Coba aku lihat, Bang!"
"Oke," sahut Ayek. "Aku mau ke radio dulu, ada perlu."
Si remaja mengangguk. "Oke, Bang!"
Ayek yakin anak remaja itu akan memanggil teman-teman nongkrongnya. Ia senyum-senyum sendiri, membayangkan kekacauan yang akan menimpa lelaki gondrong itu.
Sebuah mobil angkot berhenti di depan Ayek. "Alun-alun?"
Ayek masuk angkot. "Radio Milena FM, Pak!"
Angkot melaju. Di dalam Ayek terus tersenyum membayangkan lelaki gondrong itu akan diinterogasi anak-anak remaja yang jumlahnya banyak.
***
Mei Hwa terpingkal-pingkal mendengar cerita Ayek. Dalam hati ia mengangumi kecerdasan kekasihnya itu. "Terus gimana nasib si gondrong?"
"Nggak tahu. Kan aku langsung ke sini."
"Biar tahu rasa dia." Mei Hwa geram, apalagi jika mengingat perlakuan ayahnya padanya. Meskipun belum punya bukti, tapi ia yakin si mata-mata suruhan ayahnya.
Ayek tersenyum puas strateginya berhasil. Ia mengaduk gelas berisi Thai Tea sambil memandang wajah Mei Hwa.
Kantin radio Milenia FM cukup besar. Desainnya mirip kafe. Setiap hari minggu pasti dipenuhi pengunjung, karena stasiun radio mengadakan even. Sekarang bukan akhir pekan sehingga hanya kru dan karyawan radio saja yang lalu-lalang.
"Hai, Yek! Sandi dan Kosim mana?" tanya Nita, seorang penyiar radio. Ia sedang memesan sebuah mocacino. Ia mendekati Ayek dan Mei Hwa.
"Kenapa yang nggak ada malah ditanya?" gerutu Ayek sambil tertawa.
Nita melirik Mei Hwa. Ia merasa tidak asing dengan gadis di sebelah Ayek.
Ayek tanggap. Ia memediasi perkenalan dua gadis itu. "Nit, ini Mei Hwa. Mei, ini Nita."
"Hai, aku Nita," Nita mengulurkan tangan.
Mei Hwa menjabat tangan Nita. "Hai, aku Mei Hwa."
Nita tersenyum ramah pada Mei Hwa. "Moccacino udah menungguku."
"Oke." Mei Hwa membalas senyum.
"Yek, kamu ajaklah Mei Hwa ke ruang siar," basa-basi Nita. Ia melenggang ke kasir.
Jari telunjuk dan jempol Ayek membentuk huruf 'O'.
"Kamu sering ke sini?" tanya Mei Hwa.
"Jarang sih. Cuman aku sudah menganggap radio ini sebagai stasiun radio, bukan stasiun penumpang!"
Mei Hwa tertawa. "Yaiyalah!"
Mei Hwa menyeruput lemon tea. Ia jarang sekali berada di tempat-tempat seperti ini. Ia benar-benar gadis rumahan, tahunya cuma studio, toko, dan rumah. Maka itu berada di kantin saja ia merasa senang.
Mengenal Ayek telah membuatnya mengenal dunia lebih banyak dari sebelumnya. Kemarin ia bisa ke Guci yang selama ini hanya ia dengar saja. Sekarang ia berada di sebuah stasiun radio. Sayang, Babah tidak menyetujui hubungan mereka.
Wajah Mei Hwa mendadak mendung. Ayek bisa menangkap perubahannya.
"Kamu kenapa, Mei?" Ayek khawatir.
Mei Hwa menatap Ayek. Ia ragu akan mengatakan atau tidak perihal ayahnya yang tidak menyetujui hubungan mereka.
Ayek meraih telapak tangan Mei Hwa. "Kamu baik-baik saja kan?"
Mei Hwa menunduk. Ia tidak bisa menyimpan sendiri perihal ayahnya, tapi ia tidak ingin merusak suasana. Namun, setelah menimbang-nimbang, ia harus mengatakannya. Ayek harus tahu dari mulutnya.
"Babah melarang hubungan kita." Ada rasa nyeri di hati Mei Hwa ketika mengatakan itu.
Ayek tercengang. "Babah tahu?"
"Babah tahu kita pergi ke Guci. Dia tahu apa yang kita lakukan di sana." Mei Hwa menarik napas panjang sekadar menguatkan hati. "Mamah tanya apa aku pacaran sama kamu."
"Terus kamu jawab apa?"
"Aku mengakuinya."
Ayek tersenyum getir. Ia bangga Mei Hwa berani mengakuinya, meskipun dalam hati ia merasa kecewa atas pelarangan hubungannya dengan Mei Hwa.
"Babah termakan isu tetangga tentang kamu." Mei Hwa menatap Ayek. "Dia nggak menyukaimu karena itu."
Ayek tercenung. Ia memahami ucapan Mei Hwa. Ia sadar namanya memang pernah menjadi bahan gunjingan. Hanya saja ia tidak menyangka Babah Liem akan termakan isu itu begitu saja.
"Babah hanya belum mengenalmu. Aku yakin jika bukan karena isu itu, Babah nggak akan sekeras itu melarang kita."
Ayek mengangguk. "Aku mengerti. Tugas kita meyakinkan Babah. Kamu tidak akan mundur kan?"
Mei Hwa mengernyit. "Mundur gimana maksudnya?"
"Maksudku kita akan jalan terus kan?" Ayek berharap-harap cemas.
Mei Hwa diam.
Ayek meremas jemari Mei Hwa. "Usia hubungan kita baru dua hari, Mei."
Mei Hwa menatap Ayek sejenak, kemudian menunduk dalam-dalam. Ia mencintai lelaki di depannya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika jauh dari lelaki itu.
"Babah hanya perlu diyakinkan," ujar Ayek meyakinkan Mei Hwa. "Aku akan membuktikan bahwa aku layak menjadi kekasihmu, tetapi aku nggak bisa berjuang sendiri."
Mata Mei Hwa berkaca-kaca.
"Aku memahami situasi Babah. Ia melakukan itu karena sayang sama kamu. Ia tidak ingin anak gadisnya jatuh ke pelukan lelaki yang salah." Ayek menatap mata Mei Hwa lekat-lekat. "Tugasku membuktikan bahwa aku bukan seperti yang Babah pikir saat ini. Dan tugasmu adalah meyakinkan Babah."
Buliran bening di sepasang mata Mei Hwa pecah. Air matanya mengalir.
Ayek meraih tisu. Ia mengelap bekas air mata di pipi Mei Hwa.
Gadis itu meraih tangan Ayek dan menggenggamnya kuat-kuat. "Kita perjuangkan cinta kita!"
Ayek tersenyum bahagia. "Terima kasih, Mei."