Mei Hwa sadar, keberhasilan meyakinkan ayahnya tergantung banyak faktor. Setidaknya ia harus menyampaikannya pada situasi yang tepat dan menggunakan kata-kata yang tepat pula. Selain itu yang paling penting adalah kesiapan mental.
Serangkaian kalimat telah Mei Hwa susun, lengkap dengan opsi-opsi jika situasi tidak sesuai ekspektasi. Mental juga sudah ia persiapkan. Modal nekad saja belum cukup, ia harus memastikan dirinya siap menghadapi kekeraskepalaan ayahnya. Kuncinya adalah tidak berbelit-belit.
Sekarang Mei Hwa tinggal mencari waktu yang tepat. Sejak beberapa menit yang lalu ia mengamati ayahnya. Sayang, sampai detik ini, ayahnya masih tampak sibuk di ruang tamu.
Pukul 20:23. Babah Liem masih sibuk menerima telepon dari seseorang. Mei Hwa mengintainya dari ruang tengah. Hatinya gelisah, mentalnya mulai goyah.
Bisa saja Mei Hwa, menyela kesibukan ayahnya, namun itu akan merusak suasana hati ayahnya. Maka, ia terus bersabar menunggu.
Terdengar gebrakan meja dari ruang tamu. Mei Hwa terkesiap. Ia yakin ayahnya sedang marah, entah kepada siapa.
Penasaran Mei Hwa mendekat. Ia berjingkat menuju balik pintu.
"Soal motor gampang!" Babah Liem bercakap dengan Marno lewat telepon. Nadanya pelan tapi penuh tekanan. "Nanti aku ganti semua biayanya!"
"Anak-anak itu beringas, Juragan. Mereka mencurigai saya. Sudah saya jelaskan, mereka nggak percaya," keluh Marno. "Mereka minta saya nunjukin KTP."
"Terus kamu kasih?"
"Saya tunjukin, eh mereka malah nyeret saya ke rumah pak RT."
"g****k! Kenapa nggak kabur?" maki Babah Liem.
"Motor saya disandera. Terpaksa nurut," dalih Marno.
"Di rumah pak RT masalah selesai. Tapi motor dirusak sama mereka."
"Burung hantu bagaimana?"
"Kehilangan jejak, Juragan. Saya disuruh pulang. Mana harus dorong motor lagi."
"g****k!"
Mei Hwa mengangguk-angguk. Tadi ia mendengar ayahnya menanyakan Burung Hantu. Kini ia yakin, ayahnya sedang ngobrol dengan si mata-mata.
"Ya sudah, besok kamu pakai motor lain!" Selepas mengakhiri panggilan, Babah mengedarkan pandangan ke arah ruang tengah.
Mei Hwa menahan napas, berusaha agar keberadaannya tidak diketahui ayahnya. Ia segera menjauh dari pintu, berjalan tergesa menuju kamar. Niatnya untuk berbicara baik-baik dengan ayahnya sirna.
Karena terburu-buru, Mei Hwa nyaris bertabrakan dengan ibunya.
"Mei Hwa!" Mamah Kiew nyaris menjatuhkan bungkus kopi dari tangannya.
"Maaf, Mah!" ucap Mei Hwa. "Mamah dari mana?"
"Mamah dari toko ngambil kopi." Mamah Kiew berlalu dari hadapan Mei Hwa menuju dapur.
Mei Hwa mengerjap, sebuah ide mendarat di benaknya. Ia segera menyusul ibunya ke dapur.
Di dapur, Mamah Kiew menyeduh kopi. Mei Hwa mendekatinya.
"Buat Babah kan, Mah?" tanya Mei Hwa.
Mamah Kiew menoleh. Ia bisa menduga apa yang ada di benak anaknya. "Mei mau nganterin ke Babah?"
Mei Hwa mengangguk senang. "Iya, Mah!" Ia meletakkan cangkir berisi kopi panas. Dengan langkah mantap ia menuju ruang tamu.
Di ambang pintu, Mei Hwa berhenti sejenak, menguatkan hati, baru menemui ayahnya.
Mei Hwa meletakkan cangkir kopi ke atas meja. Ia melirik wajah ayahnya yang tampak tak bersahabat. Namun, kepalang basah, ia memantapkan niat.
Mei Hwa duduk di sofa. Perasaan ragu justru mendera setelah berada dekat ayahnya. Jantungnya berdetak kencang.
"Silakan diminum, Bah!" Nada suara Mei Hwa bergetar.
"Hmmhh!" Babah menyahut tanpa memandang Mei Hwa. Jarinya sibuk di layar ponsel.
Mei Hwa mendeham pelan, nyaris tak terdengar. "Ada yang mau Mei bicarakan sama Babah."
"Bicara aja!" Babah masih sibuk dengan ponselnya.
"Bah, Mei minta maaf kalau punya salah." Tenggorokan Mei Hwa tercekat. Apalagi setelah ayahnya menatapnya.
"Kamu mau bicara soal Ayek?" tebak Babah Liem.
Mei Hwa mengangguk. "Mei mau tanya alasan kenapa Babah melarang hubungan kami."
Babah Liem menatap Mei Hwa. Suasana hatinya sedang tidak baik, membuatnya malas membahas topik itu. "Apa harus malam ini? Babah lagi banyak urusan!"
Mei Hwa menelan ludah, kecewa. Tapi apa boleh buat, kalau memaksakan diri hanya akan mencari masalah saja. "Iya, Bah. Besok pagi gimana?"
Babah Liem mengambil cangkir. Ia menyeruput kopi pelan-pelan.
Seperti ada dorongan kuat dari dalam hati, Mei Hwa mendadak berani memandang ayahnya. "Intinya Mei percaya keputusan Babah dan Mamah adalah yang terbaik."
Aroma kopi sedikit menenangkan Babah Liem. Terlebih lagi mendengar kata-kata Mei Hwa, ia mulai tidak tega untuk bersikap keras pada anaknya.
"Mei hanya minta Babah menilai Ayek secara obyektif." Selepas mengucap kalimat itu, Mei menjadi khawatir ayahnya akan tersinggung.
Namun, Babah Liem tidak marah seperti yang dikhawatirkan Mei Hwa. "Apa Babah tidak obyektif?"
Mei Hwa sedikit senang mendengar pertanyaan ayahnya. Pertanyaan itu seolah memberi kesempatan baginya untuk membicarakan perihal Ayek lebih lanjut.
"Babah selalu obyektif," jawab Mei Hwa. "Hanya saja menurut Mei informasi tentang Ayek yang Babah terima belum lengkap."
Babah terkekeh sinis. "Belum lengkap?"
"Maaf, Bah. Mei tidak bermaksud me...."
Merasa tertantang untuk beradu argumen, Babah Liem memotong ucapan Mei Hwa. "Baik, sekarang jelaskan seperti apa Ayek dalam sudut pandangmu?"
Mei Hwa tersenyum gembira. "Ayek punya kegiatan di musik. Bersama band, dia berkarya lewat lagu, bahkan di kalangan anak muda dia cukup terkenal dan menginspirasi banyak orang."
"Itu sudut pandang orang jatuh cinta!" sanggah Babah Liem. "Bagaimana sudut pandang tetangganya? Anak band itu juga pernah bikin gaduh kampung ini."
Mei Hwa mencoba tenang. "Masalah itu sudah selesai, Bah."
"Masalah sudah selesai karena tetangga dia berbesar hati memaafkan. Coba kalau anak-anak itu nggak ada yang menegur. Bisa jadi nggak tahu kalau apa yang mereka lakukan salah!"
"Setiap orang bisa melakukan kesalahan, Bah."
Babah Liem mulai tidak suka Mei Hwa berani menasehatinya. "Ini bukan soal salah atau benar. Ini soal akhlak."
"Ayek anak baik, Bah. Dia menurut dan berbakti sama ibunya. Dia rela bekerja apa saja demi membantu orang tua."
"Sudahlah, Mei!" Babah mulai terpancing emosi. Ia muak mendengar nama Ayek disebut. "Babah malas membahas dia."
Mei Hwa menelan ludah. Pedih hatinya atas sikap keras kepala ayahnya. Tadinya ia berharap ayahnya mau mendengar, tetapi kenyataannya tidak.
Babah Liem menyeruput kopi yang mulai mendingin. Sementara Mei Hwa tertunduk lesu.
"Seandainya Babah mau mengenal lebih dalam tentang Ayek," ujar Mei Hwa pelan.
Babah Liem menatap Mei Hwa. "Kamu sudah dewasa. Bukan waktunya sekadar pacaran. Jadi carilah lelaki yang bisa membawamu ke arah lebih baik "
"Iya, Bah," sahut Mei Hwa. "Ayek lelaki baik dan bertanggung jawab. Mei harap Babah mau mempertimbangkannya."
"Oke. Anggaplah ucapanmu benar." Babah Liem menatap Mei Hwa tajam. "Tapi dia bukan tipe lelaki yang menurut Babah cocok buatmu."
"Kenapa?"
"Sebenarnya Babah ingin kamu menggeluti dagang. Jika selama ini Babah tidak melarangmu bermain musik, itu karena Babah tidak mau mengekangmu. Babah masih berharap kamu akan meneruskan usaha keluarga kita, Mei."
Mei Hwa mulai paham arah pembicaraan ayahnya. Sekarang ia tahu alasan sebenarnya kenapa ayahnya melarang dirinya berhubungan dengan Ayek.
"Bermusik juga profesi yang menjanjikan, Bah. Mei bisa mendirikan studio, bisa membeli barang-barang. Semua dari musik."
Babah Liem menyela. "Apa salah kalau Babah menginginkamu meneruskan usaha Babah? Kembangkan agar lebih besar!" Nada kalimat Babah terdengar melankolis. "Babah sudah tua. Adik-adikmu masih kecil. Mereka belum tahu apa-apa soal usaha."
"Mei paham, Bah. Tapi nggak ada salahnya kan menekuni dunia musik?"
"Kalau kamu main musik. Suamimu main musik. Terus siapa yang akan meneruskan usaha Babah?"
Mei Hwa mendengus. Di satu sisi ia memahami kegelisahan ayahnya, namun di sisi lain ia juga berharap ayahanya mau memahami dunianya.
"Jika Ayek dan Mei berdagang, apa Babah akan merestui hubungan kami?"
Babah Liem terkejut, tak menyangka Mei akan bertanya seperti itu. Ia menjadi kalang kabut, tak tahu harus menjawab apa.
"Babah lelah!" Babah Liem beranjak, meninggalkan ruang tamu menuju kamar.
Mei Hwa menatap kopi ayahnya yang sudah mendingin. Ia kecewa dengan sikap ayahnya, namun ia belum menyerah untuk memperjuangkan cintanya.