Hadiah Matahari

1754 Kata
"Aku juga punya cara untuk mengecoh si mata-mata gondrong itu!" ujar Mei Hwa via telepon. Ayek bersemangat. "Gimana caranya?" "Kita pergi ke hotel!" Ayek tercengang, menelan ludah sampai jakunnya turun-naik. Sepasang kekasih pergi berduaan ke hotel pasti kesannya jelek, begitu menurutnya. "Kamu mau nggak?" tanya Mei Hwa. Ayek tertawa geli. "Di hotel mau ngapain?" "Maunya ngapain?" Ditanya balik membuat Ayek gelagapan. Ia cengar-cengir tidak jelas. Imajinasinya bergerak liar. "Bawa pengaman sekalian." "HAH?" "Kamu kok nggak semangat gitu sih?" Mei Hwa merajuk manja. "Eh, iya. Semangat kok. Cuman kaget saja. Aku belum pengalaman soal begituan." d**a Ayek berdebar-debar. Benaknya mulai dipenuhi bayangan-bayangan ruangan sejuk, kasur empuk, saling peluk, Uhhukk! "Sama, aku juga belum pengalaman. Kita sama-sama amatir kalau begitu." Rongga d**a Ayek mendadak sesak. Darahnya berdesir hangat. Namun otak warasnya berontak. Ia tidak berani, lebih tepatnya tidak mau menodai Mei Hwa. Ia sangat mencintai gadis itu dan akan menjaga kesuciannya. "Keliatan banget kalau kamu belum baca chatku! Rencana lengkapnya sudah aku jabarkan di sana," "Maaf baru pegang HP." "Iya nggak apa-apa. Kalau rencana kita sukses, kamu harus kasih aku hadiah." Ayek berpikir kira-kira mau kasih hadiah apa buat Mei Hwa. "Kok diem?" "Aku lagi mikir mau kasih hadiah apa." "Terus apa hadiahnya?" "Aku punya hadiah keren." "Apa?" "Matahari!" "Menarik!" Mei Hwa terkekeh. "Aku tunggu. Waktumu sepuluh menit." Belum sempat Ayek menjawab, panggilan diakhiri sepihak oleh Mei Hwa. Ayek memeriksa waktu di ponsel. Sementara hatinya merasakan ada sesuatu yang aneh pada diri Mei Hwa. Pagi ini gadis itu terdengar lebih lugas dari biasanya. Yang lebih mengejutkan adalah ajakannya ke hotel. Tak mau membuang waktu, Ayek segera membuka chat Mei Hwa. Isinya panjang mirip cerpen genre misteri. Baru membaca sedikit, Mei Hwa sudah mengirimi pesan: waktumu tinggal 9 menit! Ayek tidak membalasnya. Ia sedang fokus pada isi pesan Mei Hwa yang berisi rencana dan strategi untuk mengecoh si mata-mata dengan pergi hotel. Selesai membaca pesan Mei Hwa, Ayek tersenyum geli. Ia mengakui kecerdasan gadis itu. Satu pesan Mei Hwa baru saja masuk: Waktumu tinggal 5 menit. Jangan lupa bawa pengaman. Ayek melenguh panjang. Lima menit adalah waktu yang sebentar baginya untuk berkemas. Perjalanan ke studio saja butuh waktu setidaknya dua menit, ditempuh pakai sepeda motor punya Valentino Rossi, tanpa rem. Ganti baju, pakai sepatu, memasukkan pengaman ke dalam tas seperti yang Mei minta, pamitan sama ibunya, dan memesan ojek online sudah menghabiskan waktu empat menit. Celakanya, sampai pengemudi ojol belum datang, waktu Ayek sudah habis. Pengemudi ojol akhirnya datang, bertepatan dengan masuknya dua pesan dari Mei Hwa. Waktumu habis, Sayang! Aku kasih tambahan waktu 10 menit dengan syarat kamu harus kasih hadiah double. Ayek membalas: Aku terima syaratnya. Mei Hwa menjawab : Memang matahari ada dua? Ayek menjawab singkat: Banyak, tergantung kebutuhan. Ayek memasukkan ponsel ke saku jaket sebelah dalam. Ia segera naik ojek online. Selama perjalanan menuju jalan raya, ia tak melihat keberadaan si mata-mata. Hatinya gelisah, takut rencana Mei Hwa berantakan. Namun, setelah berpikir bahwa si mata-mata pasti akan mengikutinya, hatinya tenang kembali. Sampailah Ayek di studio. Namun si mata-mata belum tampak. Perjalanannya lancar, tidak ada kesan sedang diikuti seseorang. Ayek langsung bergegas ke lantai dua studio. Mei Hwa sudah menyambutnya dengan gaun terusan yang sangat cantik. Warna merah menyala, membuat gadis itu semakin tampak manis. Jika biasanya wajah putihnya hanya tersapu bedak tipis-tipis, sekarang sudah berani bermake-up ala akun promosi OLSHOP. "Jaga pandanganmu, Lelaki!" hardik Mei Hwa. Ayek terkekeh. "Kamu cantik, Mei!" "Jangan umbar rayuan di sini!" ketus Mei Hwa, pura-pura. "Di mana? Hotel?" Mei Hwa mencolek bahu Ayek pelan. "Nakal kamu ya?" Ayek meringis. "Aduh, enak!" Sepasang kekasih itu tertawa. Mei Hwa berjalan menuju jendela. Melalui gestur, ia meminta Ayek mendekatinya. Lengan kiri Mei Hwa merengkuh bahu Ayek. "Kamu lihatlah ke bawah pohon mangga di pojok kiri. Si mata-mata lagi merokok. Kamu pura-puralah melihat pemandangan bawah, jangan sampai dia tahu sedang kamu awasi!" Lengan Mei Hwa di bahu membuat Ayek canggung. Dadanya berdebar-debar. Namun, ia tahu itu hanya akting Mei Hwa saja, sengaja untuk memberi kesan pada si mata-mata bahwa mereka sedang bermesraan. "Hari ini dia pakai motor Vario. Entah ke mana Vixion merahnya." ujar Mei Hwa. "Mungkin sudah dirusak sama anak-anak tetangga Sandi. Hahaha." Ayek merasa puas jika mengingat keberhasilannya kemarin. Mei Hwa memosisikan badannya menghadap Ayek. Kedua lengannya melingkar pada leher kekasihnya itu. "Kamu sudah siap menuju hotel?" Detak jantung Ayek ngebut. Ia tersenyum jahil. "Pengamannya sudah aku siapkan!" Mei Hwa tersipu. Pelan-pelan ia melepas lengan dari leher Ayek. "Ini akan jadi kenangan indah. Ayo aku sudah nggak sabar!" "Ayok, Sayang!" Ayek menggamit lengan Mei Hwa. Mereka jalan beriringan menuju lantai bawah. Nissan Xtrail sudah terpakir rapi. Posisinya diapit Kijang Innova dan Taft beroda besar. Ayek berjalan beriringan dengan Mei Hwa. Mereka sengaja berjalan sedikit memutari area parkir agar si mata-mata bisa melihatnya dengan jelas. Dari balik kaca mata hitam Marno mengawasi Ayek dan Mei Hwa yang berjalan mendekati Nisaan Xtrail hitam. Si mata-mata gondrong itu tahu mobil itu punya sang juragan. Ketika sepasang kekasih itu mendekati mobil, pandangan Marno sedikit terhalang badan Taft beroda besar. Beruntung ia masih bisa melihat keduanya memasuki Nissan Xtrail hitam. Ia bersiap menyalakan motor, bersiap mengikuti kedua target. Nissan Xtrail bergerak pelan, meninggalkan area parkir. Marno menyalakan Honda Vario putih. Vixion merahnya masuk bengkel gara-gara dirusak sekumpulan anak remaja yang mencurigai gerak-geriknya kemarin. Begitu sampai jalan raya, Nissan Xtrail hitam melaju kencang. Marno sigap, membuntutinya dari jarak ideal. Ia cukup cerdik, berusaha tak tertangkap spion mobil target. Hitungan waktu mundur traffic light menunjukkan tiga detik lagi lampu merah menyala. Nissan Xtrail mempercepat laju. Ia terlambat satu detik, tapi masih aman untuk terus jalan. Sementara Marno yang berjarak sepuluh meter di belakangnya terpaksa harus berhenti mendadak. Beruntung ia sigap dan mampu mengerem sebelum garis marka. Marno mengumpat, karena target semakin menjauh. Ia harus menunggu selama 59 detik sampai lampu hijau menyala. Lampu hijau menyala. Marno tancap gas, melaju sekencang-kencangnya. Nasib baik masih berpihak padanya. Dari jauh matanya menangkap Nissan Xtrail sedang berbelok ke kiri. Ia menurunkan gas pelan-pelan. Bergaya Valentino Rossi, ia membelokkan motornya dengan kecepatan cukup kencang. Tak mau target kembali lepas, Marno menarik gas penuh. Nissan Xtrail hanya berjarak seratus meter darinya. Nissan Xtrail memperlambat laju. Sein kiri menyala, memberi tanda akan masuk hotel. Marno mengimbangi kecepatannya. Seorang anak kecil tahu-tahu ada di depan Marno, hanya berjarak lima meter. Beruntung kendaraannya pelan, sehingga masih bisa menghindar agar tak menabrak anak tersebut. Dalam hati ia mengumpat, anak kecil berkeliaran sendirian tanpa orang dewasa. Area parkir motor dan mobil terpisah. Marno menggerutu, takut kehilangan jejak. Setelah memarkir kendaraan, ia segera menuju lokasi target. Sampai di dekat Nissan Xtrail, ia bersembunyi dari balik sebuah mobil sedan. Pandangannya terus mengawasi target. Namun setelah menunggu sekitar tiga menit, tidak ada seorang pun yang keluar dari mobil tersebut. Marno segera memotret Nissan Xtrail Hitam kemudian mengirimkannya kepada Babah Liem dengan isi pesan: Target di Hotel Mutiara. Di toko, Babah Liem nyaris menjatuhkan ponsel akibat kaget mendapatkan pesan gambar dari Marno. Mulutnya keluar sumpah serapah sambil bergegas cepat keluar toko. Ia akan pergi ke Hotel Mutiara menggunakan sepeda motor. *** "Kalau si mata-mata itu lapor Babah gimana?" tanya Mei Hwa cemas. Ia tidak tega membayangkan kepanikan ayahnya. Ayek menatap Mei Hwa lembut, berusaha menenangkan kekasihnya, meski sebenarnya ia juga merasakan kecemasan yang sama. "Aku nggak kepikiran sampai ke sana," ratap Mei Hwa. "Rencanaku tidak matang sepertimu." "Rencana kamu sukses!" Ayek meraih jemari tangan Mei Hwa. "Tenangkan hatimu. Yang penting nanti kamu beralibi sama Babah, seperti rencana." Mei Hwa berusaha tersenyum meski masih menyimpan sedikit kecemasan. "Rencanaku berhasil. Saatnya menagih hadiah. Jangan lupa double!" Hati Ayek bersorak gembira. Pada saat yang sama jantungnya berdetak kencang. "Oke, aku berikan hadiahnya. Sekarang pejamkan matamu." Mei Hwa mengernyit curiga. Namun ia berpikir pasti Ayek akan memberikan kejutan. Ia pun memejamkan mata. Mei Hwa terpejam. Detak jantung Ayek semakin kencang. Dengan menahan napas, ia mendekatkan bibir ke pipi kiri kekasihnya. Semakin dekat, semakin terasa hawa hangat. Aroma wangi tubuh Mei Hwa juga semakin menyerbak. Cup! Mei Hwa merasakan sebuah bibir baru saja mendarat lembut di pipi kiri. Reflek ia mengelus bekas ciuman Ayek. Sungguh ia kaget luar biasa, tak menyangka kekasihnya akan melakukan itu. Mei Hwa membuka mata. Pipinya memerah hangat. Ia tak tahu harus bersikap apa; marah karena Ayek lancang mencium tanpa memberitahu sebelumnya, atau terus menikmati sensasi tak terlupakan ini. Ayek tersenyum puas. Napasnya memburu, menahan debar di d**a. "Satu hadiah sudah kuberikan." Mei Hwa mengernyit. "Hadiah apa? Kamu bohong!" Ia merajuk manja. "Enggak. Memang mataharinya sudah kuberikan sama kamu." "Mana?" Jari Ayek menunjuk pipi Mei Hwa. "Tadi di sini." Mei Hwa sebal tapi senang. "Kok bisa?" "Matahari bahasa Inggrisnya apa?" Mei Hwa mengerjap. "Sun?" "Cerdas. Pipimu sudah aku sun!" Mei Hwa terpingkal-pingkal, geli memikirian proses evolusi dari matahari ke cium pipi. Tapi, ia membenarkan juga argumen Ayek. Matahari bahasa Inggrisnya sun. Sun dalam bahasa Jawa artinya cium pipi. "Siap menerima hadiah kedua?" tanya Ayek. Mei Hwa tersenyum penuh arti, diam, tidak mengeleng, tidak juga mengangguk. Ayek peka, mendekatkan bibir ke pipi kanan gadis itu. Beberapa senti sebelum bibir Ayek mendarat, Mei Hwa memejamkan mata perlahan. Sebuah ciuman mendarat di pipi kanan. Angannya melayang tinggi. Serasa kakinya tak menapak lantai. Berbeda dengan ciuman pertama yang membuatnya terkejut, kali ini ia benar-benar menikmatinya sepenuh hati. Mei Hwa melingkarkan sepasang lengan ke pinggang Ayek. Lelaki itu membalasnya dengan membenamkan kepala gadis itu ke dadanya. "Aku nggak mau jauh darimu, Yek!" ucap Mei Hwa. "Aku juga." Ayek mengecup rambut Mei Hwa. "Sampai Babah merestui, kita backstreet saja ya?" "Iya." Ayek mendesah pelan. Meski hatinya bahagia, tapi ia tidak bisa menghalau kegamangan. Menjalani hubungan secara sembunyi-sembunyi tidak mudah. Apalagi ia harus main petak umpet dengan mata-mata Babah Liem. Ponsel Mei Hwa berdering. Ayek melepaskan pelukannya. Mei Hwa menerima panggikan. "Halo, Bah!" "Kamu di mana?" tanya Babah kencang, membuat Mei Hwa sedikit menjauhkan ponsel dari telinga. "Mei di studio, Bah." Terdengar suara desahan napas lega dari Babah Liem. "Kamu udah bikin Babah panik!" Mei Hwa merasa bersalah, secara tidak langsung strateginya telah membuat ayahnya panik. "Babah di mana?" "Hotel!" "Ngapain ke hotel, Bah?" pancing Mei Hwa. "Mobilmu ada di sini!" Mei Hwa yakin, Babah langsung ke hotel begitu si mata-mata menelepon. "Mei Hwa nyuruh penjaga studio ke hotel buat mastiin jadi enggaknya mereka menyewa alat-alat musik, Bah!" "Begitu?" "Iya, Bah." "Ya sudah!" Babah Liem mengakhiri percakapan. Ia memasukkan ponsel ke saku celana. Di sebelah Babah Liem, Marno berpikir keras. Ia masih tak mengerti kenapa Mei Hwa dan Ayek bisa menghilang. Padahal jelas-jelas ia melihat keduanya masuk mobil. Babah Liem menatap Marno kesal. "Kalo ngasih info itu yang benar!" Ia melenggang pergi, meninggalkan anak buahnya yang sudah dua kali mengecewakannya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN