Cukup Ruang

1506 Kata
Membayangkan setiap hari harus membuat strategi agar lepas dari pengawasan mata-mata membuat Ayek bersemangat. Ini kali pertama Ayek menjalin hubungan asmara. Pertama kali pula merasakan mendapat tentangan dari orang tua kekasihnya. Bahkan pertama kali merasakan menjadi target mata-mata. Baginya, ini sungguh awal yang berkesan. Bagi Ayek tantangan harus dikonversi menjadi motivasi. Kalau dijadikan halangan maka yang ia pikirkan hanya susahnya saja. Bukan berarti ia melawan orang tua jika meneruskan hubungan secara diam-diam, tetapi ia sedang berjuang meyakinkan Babah Liem bahwa ia lelaki bertanggung jawab yang layak bersanding dengan Mei Hwa. Hari ini Ayek sudah menyiapkan strategi untuk bisa bertemu Mei Hwa tanpa diawasi mata-mata. Rencananya sederhana, tidak sebrilian sebelumnya, yang penting semua berjalan dengan semestinya. Sekarang Mei Hwa sedang menyaksikan proses pengambilan video di Guci yang dikerjakan oleh sebuah production house ternama. Gadis itu ke sana sendirian menggunakan Nissan Xtrail hitamnya. "Kamu sudah sampai lokasi?" tanya Ayek via telepon. "Sudah," jawab Mei Hwa. "Tadi aku pamit sama Babah." "Terus Babah ngasih izin?" "Iya," jawab Mei Hwa. "Dia agak cuek, nggak nanya macem-macem." "Baguslah," ujar Ayek. "Sekarang kamu bisa keluar dari sana." "Oke, aku lagi siap-siap." Selepas percakapan telepon berakhir, Ayek segera keluar rumah. Kali ini ia melibatkan temannya untuk menyukseskan rencana. Suzuki Ertiga putih terparkir rapi di depan rumah. Sang pemilik mobil sejak tadi sudah bersiap di jok tengah. Ayek masuk melalui pintu depan kanan, memberi kesan ia yang akan menyetir, padahal begitu berada di dalam, ia langsung mengambil tempat di jok belakang. Sementara si pemilik mobil pindah ke jok depan kanan untuk menyetir. Marno mengawasi Ayek dari jauh. Ia bersiap untuk mengikuti Suzuki Ertiga putih. Ketika mobil bergerak, ia ikut bergerak. Kali ini ia tak mau terkecoh untuk yang ketiga kali. Suzuki Ertiga bergerak pelan menyusuri jalan kampung. Sebelum berbelok ke jalan raya, kendaraan roda dua itu berhenti cukup lama. Karuan saja Marno gelagapan. Jika ikut berhenti maka dirinya akan ketahuan karena Ayek sudah mengenali dirinya. Maka itu ia menyalip mobil pelan-pelan dan berhenti di balik sebuah pohon besar. "Tadi itu mata-matanya. Ingat-ingat tampangnya. Hafal nopol kendaraannya. Pastikan ia mengikutimu sampai Guci," beritahu Ayek kepada temannya, si pemilik mobil. Ia melompati jok belakang. Setelah pintu bagasi terbuka ia keluar dan menutup pintu kembali. Sekarang Ayek bersembunyi di belakang Suzuki Ertiga. Ia bersiap berlari sekencang-kencangnya menuju sebuah pohon besar. Suzuki Ertiga bergerak pelan menuju jalan raya. Ayek berlari sekuat tenaga sambil memastikan si mata-mata tidak melihat gerakannya. Ayek bersembunyi di balik pohon besar. Matanya mengawasi si mata-mata yang juga bersembunyi di bawah pohon. Si Mata-mata bergerak pelan ketika Suzuki Ertiga putih bergerak. Ayek mengelus d**a, lega. Tahap pertama berhasil. Ia tertawa puas membayangkan lelaki gondrong itu akan terkecoh untuk yang ketiga kali. Ayek menelepon Mei Hwa. "Kamu sudah jalan, Sayang?" "Aku udah keluar dari Guci." "Oke, aku tunggu di studio." "Oke!" **** Marno bersembunyi di balik mobil bak terbuka. Dari sana ia bisa leluasa mengawasi dua mobil sekaligus. Suzuki Ertiga putih dan Nissan Xtrail hitam parkir bersebelahan. Sebatang rokok marno nyalakan. Ia menghisapnya dalam-dalam kemudian melepaskannya perlahan. Asap rokok mengepul di udara. Matanya tetap siaga ke arah dua mobil target. Itu adalah rokok ketiga Marno. Namun, ia belum melihat Ayek dan Mei Hwa. Sejak Suzuki Ertiga parkir belum ada yang keluar dari mobil itu. Pikirannya menduga-duga, jangan-jangan kedua targetnya ngobrol melalui mobil masing-masing. Ia pun berinisiatif untuk mencari tahu. Belum sempat Marno bergerak, Babah Liem menelepon. "Bagaiamana?" tanya Babah Liem. Pandangan Marno tetap fokus pada kedua mobil target. "Burung hantu ke hutan pakai mobil, Juragan. Parkirnya bersebelahan sama mobil Merpati. Tapi sampai saat ini kedua burung itu tidak tampak." "Jangan sampai lepas lagi, Pemburu!" "Siap, Juragan." "Awasi dengan benar. Pastikan laporanmu bisa dipertanggungjawabkan!" "Siap, Juragan!" "Jangan siap-siap aja!" hardik Babah Liem. "Kalau gagal lagi, kamu aku pecat!" Marno mendengus. Ancaman Babah liem tidak pernah main-main. "Iya, Juragan." Panggilan berakhir. Ultimatum Babah Liem membuat Marno berhati-hati. Ia harus berhasil. Ia tak mau dipecat. Kalau itu terjadi, maka ia harus kembali menjadi kuli pasar. Sampai sekarang Marno masih tidak habis pikir kenapa bukan Ayek dan Mei Hwa yang berada di Nissan Xtrail, kemarin di hotel. Padahal jelas-jelas ia melihat keduanya memasuki mobil itu. Marno tidak tahu kalau Ayek dan Mei Hwa sebenarnya tidak berada di Nissan Xtrail yang ia buntuti sampai hotel. Sepasang kekasih itu memang memasuki mobil, namun keduanya keluar melalui pintu tengah, lantas masuk ke mobil Taft di sebelahnya dan kembali ke dalam studio. Yang mengemudikan mobil target adalah salah satu karyawan studio. Begitu sampai di hotel Marno langsung memotret Nissan Xtrail lantas mengirimkannya ke Babah Liem. Ketika Babah Liem sampai hotel, lelaki itu tidak menemukan anak gadisnya ataupun Ayek. Yang ia temui adalah salah satu karyawan Mei Hwa. Tanpa ampun, ia memarahi Marno habis-habisan. Marno geram jika mengingat peristiwa itu. Dihisapnya dengan kasar rokok yang tinggal separuh. Tiba-tiba, Suzuki Ertiga bergerak mundur. Marno membanting rokok ke tanah. Ia segera mengenakan helm. Sementara Suzuki Ertiga tampak sedang keluar dari area parkir. Marno menyalakan motor. Ia membuntuti Suzuki Ertiga yang bergerak keluar dari Guci. Ia terus menguntit mobil itu. Bahkan ia rela menunggu berjam-jam ketika mobil itu parkir di dekat toilet SPBU. Padahal pemilik mobil itu sengaja mengulur waktu dan menjauhkannya dari Ayek dan Mei Hwa. *** "Pasti sekarang si mata-mata lagi nguntit temenku. Hahaha!" ujar Ayek geli. "Barusan temenku chat katanya dia lagi parkir di SPBU sambil dengerin lagu ASK Band. Si mata-mata itu betah nungguin. Hahahaha." "Temenmu kok mau ya disuruh-suruh begitu?" "Dia fans setia ASK Band. Dia mau ngelakuin apa saja asal bisa deket sama personelnya," ujar Ayek. "Keren ya?" Ayek mengangguk. "Dia luar biasa, langsung jawab oke pas aku minta tolong ke dia." "Sebentar, Yek. Ada telepon dari PH." Mei Hwa menjawab panggilan telepon dari pemilik production house yang menggarap video klip single hits projek kolaborasinya dengan Ayek. Sambil menunggu Mei Hwa selesai teleponan, Ayek menggunakan kesempatan untuk mengecek w******p. Hatinya bersorak ketika mendapati sebuah balasan chat dari Kosim: SBB. Gue udah baca pesen lo di basecamp. Ayek membalas: Gue telepon ya? Ayek harus menunggu sekitar dua menit sampe pesan dibaca. Alih-alih membalas chat, Kosim meneleponnya. Hati Ayek senang bukan kepalang. Ia segera menerima panggilan tersebut. "Hai, Bos Upil!" "Hai, Soulmate Sepengupilan!" jawab Kosim. Suaranya lemah, terdengar seperti sedang tidak bersemangat. "Lo baik-baik aja kan?" tanya Ayek. Lima detik Kosim terdengar mendengus. "Gue kesel sama Sandi!" "Kenapa?" "Dia ke Jakarta nggak bilang-bilang," keluh Kosim. "Kemaren dia nelepon. Katanya mendingan ASK Band bubar aja." "APA?" Ayek kaget bukan kepalang. Berita ini membuat hatinya gelisah. "Lo tahu nggak kalau dia sebenarnya udah lama diajakin nge-jam di sebuah kafe di Jakarta. Dan kemaren dia bilang mau menerima tawaran itu." Ayek terdiam. Ia tak menyangka band-nya akan bernasib seperti ini. Mendadak ia menyalahkan diri sendiri. "Harusnya dia bilang sebelum ke Jakarta. Bilang baik-baik. Bukan kayak gini caranya!" Nada Kosim mulai meninggi. Ia terdengar kesal. "Ini gara-gara gue, Sim!" Ayek meratap pelan. "Bukan!" Sanggah Sandi. "Jangan berpikir begitu. Dia memanfaatkan situasi ini buat kepentingan sendiri." "Tapi, Sim!" "Dengerin gue, Yek!" Kosim memotong. "Dia sudah lama mencari celah buat bubarin band. Gue sering dengerin dia teleponan sama orang Jakarta. Lebih tepatnya nguping. Dia pasti menyingkir dari gue kalau bahas soal nge-jam di kafe. Awalnya gue pura-pura nggak tahu, tapi karena sering, gue nguping juga." "Tapi masa iya sih dia begitu?" Ayek tak percaya. "Bukannya dia yang paling semangat buat ngebesarin band?" "Awalnya begitu! Tapi siapa sih yang nggak tergiur main di kafe bareng band terkenal dan duitnya banyak?" Ayek menelan ludah. Ia tak bisa berkata-kata. Masalah band ternyata lebih rumit dari dugaannya. "Lo pernah nelepon dia?" tanya Kosim. "Sandi susah dihubungi. Chat gue ceklis semua." "Kontak dia ada gambar profilnya nggak di elo?" "Kemarin sih enggak ada." "Di gue ada!" ujar Kosim. "Sejam lalu dia bikin status WA. Pasti lo gak bisa lihat!" Ayek tercekat. Sekarang ia baru sadar kalau nomornya diblokir Sandi. "Dia licik!" maki Kosim. "Berbuat curang tapi bikin skenario biar elo yang salah. Maaf, Yek. Bukannya gue ngompor-ngomporin, tapi elo harus tahu!" Lemas tubuh Ayek. Ia percaya sama ucapan Kosim, tapi sulit baginya mempercayai kalau Sandi sejahat itu. "Nanti kita lanjut lagi, Yek. Gue lagi di jalan." "Oke. Makasih, Sim. Kapan elo ada waktu luang buat kita ketemuan?" "Gue nganggur. Waktu gue dua puluh empat jam buat elo." Ayek tersenyum getir. "Dah dulu ya?" "Oke." Ayek mengakhiri panggilan dengan hati campur aduk. Beberapa hari belakangan ia menanggung perasaan bersalah sama Sandi dan Kosim, tetapi ternyata dirinya justru sedang dijadikan kambing hitam. Ia percaya dengan semua yang diucapkan Kosim. Di balik sifat angkuhnya, anak itu selalu berkata jujur dan setia kawan. "Kamu baik-baik saja, Sayang?" tanya Mei Hwa, melihat mendung di wajah Ayek. "Tidak begitu baik." Ayek berusaha tersenyum. Mei Hwa mendekati Ayek. Ia duduk bersebelahan dengan lelaki itu. "Aku teringat sebuah lagu ASK Band." "Lagu yang mana?" Malu-malu, Mei Hwa bernyanyi, "Ketika kepalamu teramat berat simpan beban, dadaku cukup ruang menanggung sebagian." Ayek bertepuk tangan. Ia tersanjung lagu ciptaannya dinyanyikan Mei Hwa meski hanya sepotong saja. "Kepalaku sedang menanggung beban." Sepasang pipi Mei Hwa memerah. "Dadaku cukup ruang menanggung sebagian." Ayek berbinar. "Benar?" Mei Hwa mengerjap malu. Tanpa ragu Ayek meletakkan pipi kanannya pada d**a Mei Hwa. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN