Single hits berjudul Dawai-dawai Cinta sudah siap dipublikasikan. Video klipnya akan diunggah ke Youtube. Promosi melalui media sosial pun tinggal dibagikan.
"Kita akan pakai chanel baru atau pakai yang sudah ada?" tanya Ayek kepada Mei Hwa yang berada di sebelahnya. Mereka sedang berdiri di dekat kaca jendela lantai dua studio.
Mei Hwa berpikir sambil mengedarkan pandangan ke bawah. Ia menghitung untung-rugi antara memakai channel baru dan yang sudah ada.
"Kalau pakai channel baru, kita mulai dari nol, bikin akun baru, mendaftar Google Adsense, prosesnya cukup lama." Ayek berargumen.
Mei Hwa sependapat. "Iya, repot memang. Tapi kalau pakai yang sudah ada, projek kita akan menggunakan channel siapa?"
"Kamu!" tunjuk Ayek.
Mei Hwa mengernyit. "Kenapa bukan punyamu saja?"
Ayek beralasan. "Aku belum punya channel pribadi. Nggak mungkin kan pakai punya ASK Band?"
"Iya juga sih." Mei Hwa mengatupkan bibir. Jari telunjuk lentiknya mengetuk-etuk hidung, mempertimbangkan jika channel Youtube-nya dipakai buat posting lagu-lagu projeknya bersama Ayek.
Ayek senyum-senyum sendiri, melihat tingkah Mei Hwa yang menurutnya lucu dan menggemaskan.
"Ya sudah pakai channel-ku saja!" ucap Mei Hwa.
Ayek merapatkan badannya ke Mei Hwa. "Nah, itu lebih baik!"
Mei Hwa melirik Ayek manja. Dadanya selalu saja berdebar setiap berada dekat lelaki itu.
"Aku kok nggak melihat si mata-mata ya?" ujar Ayek. "Tadi waktu berangkat dari rumah juga nggak ada yang mengikuti."
"Jadi kamu kangen dia nih?" Mei Hwa tertawa meledek.
"Jangan cemburu!" hardik Ayek, bercanda. "Dia bukan tipeku."
Mei Hwa terkekeh. "Kirain!"
Ayek kembali mengedarkan pandangan ke bawah. Matanya menyisir ke seluruh sudut parkiran. Tidak ada siapa-siapa di sana.
"Aku punya kenalan seorang produser rekaman," beritahu Mei Hwa. "Namanya Norman. Beliau adalah guru privat pianoku dulu waktu aku tinggal di Jakarta."
Ayek teringat cerita Mei Hwa yang katanya pernah kursus piano di Jakarta. "Waktu kamu SMA di sana ya?"
"Iya," jawab Mei Hwa. "Dua minggu lalu aku masih komunikasi dengan beliau. Kalau kamu sepakat, kita ajuin saja lagu-kita ke beliau. Kalau dianggap komersil, lagu kita akan berlabel perusahaan ternama."
Ayek semangat mendengarnya. "Kenapa enggak? Itu peluang bagus."
"Jadi kamu setuju?"
Ayek mengangguk. "Setuju! Semoga saja beliau suka."
"Orientasi Pak Norman pada selera pasar," beritahu Mei Hwa. "Tapi kita harus mencobanya."
"Kapan kita akan ajuin lagu ke beliau?"
"Lebih cepat lebih baik."
Ayek mengangguk paham. "Kita kirim via email atau langsung menemui beliau?"
Mei Hwa berpikir sejenak. "Nanti aku tanyakan sama beliau bagaimana prosedurnya."
"Aku percayakan padamu soal itu. Aturlah bagaimana baiknya."
Mei Hwa mengerjap. Ia menatap Ayek. Namun ketika lelaki itu balas menatap, ia malah menunduk. Ia masih merasa canggung, entah kenapa, ia tidak tahu.
Ayek meraih sepasang jemari Mei Hwa, menariknya sedikit agar mereka berhadapan.
Dada Mei Hwa berdebar-debar. Ia menunduk. Ciuman Ayek kemarin mendadak kembali terbayang dalam benaknya.
"Tatap mataku, Mei!" Ayek meremas jari-jemari tangan Mei Hwa. Ia ingin mengatakan sesuatu yang penting perihal hubungan mereka.
Mei Hwa menatap Ayek malu-malu. Mata mereka saling sirobok.
"Kita nggak mungkin sembunyi terus. Ada mata-mata yang selalu mengawasi," ucap Ayek.
"Terus?"
Ayek menatap lekat-lekat sepasang mata Mei Hwa. "Aku akan melamarmu, Mei!"
Mei Hwa mengerjap kaget. "Melamar?"
Ayek mengangguk mantap, meyakinkan Mei Hwa. "Aku akan meminta restu sama Ummi."
Mei Hwa menunduk. Sebenarnya ia bahagia mendengar Ayek akan melamar, tapi jika lelaki itu melakukannya, kemungkinan besar akan ditolak ayahnya.
"Kenapa, Mei?" Ayek cemas melihat ekspresi Mei Hwa yang tampak tidak antusias. "Kamu khawatir Babah menolak lamaranku?"
Mei Hwa diam.
"Justru dengan melamarmu, aku ingin menunjukkan pada Babah bahwa aku serius mencintainu." Ayek meyakinkan Mei Hwa. "Andai ditolak pun, kita masih bisa terusin hubungan backstreet ini sambil tetap berusaha meyakinkan Babah."
Mei Hwa mengangkat dagu, menatap Ayek, canggung. "Kamu yakin Babah bisa berubah pikiran?"
Ayek mengangguk mantap. "Hati bisa berubah. Kita hanya perlu berusaha."
Mei Hwa mengangguk ragu.
***
Sepasang cicak berkejaran di plafon. Cicak yang dikejar bersembunyi di dekat lampu. Cicak yang mengejar berhenti sejenak sebelum akhirnya meneruskan pengejaran.
Mei Hwa memperhatikan sepasang cicak itu dengan pandangan kosong. Benaknya dijejali pikiran-pikiran, mulai dari rencana untuk menunjukkan lagu-lagu ke Norman, sampai perihal lamaran yang akan Ayek lakukan.
Cinta ternyata tak sesederhana seperti yang sering ia baca di buku-buku. Tak seindah seperti yang sering ia saksikan di drama Korea. Tak seajaib seperti yang sering ia tonton di FTV. Cinta ternyata lebih rumit dari kata rumit itu sendiri.
Terdengar pintu kamar diketuk. Mei Hwa terkesiap. Ia segera mengusap sisa air mata di pipi, bekas tangisan beberapa menit lalu.
Pintu kembali diketuk. Mei Hwa beringsut dari atas kasur.
"Mei, Babah mau bicara!"
Mendengar suara Babah, hati Mei Hwa mendadak kacau. Dadanya berdebar-debar. Ingin sekali ia pura-pura tidur, tapi sekarang baru jam delapan malam.
Terpaksa Mei Hwa membuka pintu. Ayahnya tampak sedang tersenyum. Baginya itu sesuatu yang aneh. Namun, apa pun itu, ia berharap ini pertanda baik.
"Ada yang ingin Babah bicarakan," beritahu Babah Liem. Suaranya lebih lunak dari biasanya.
Mei Hwa mengangguk bimbang. Ia tak mungkin menolak, atau tak punya alasan tepat untuk sekadar menghindar.
"Babah tunggu di meja makan." Babah Liem berjalan ke meja makan.
Mei Hwa mengekor ayahnya dengan hati penuh tanda tanya. Sikap ayahnya memang lebih bersahabat tapi perasaannya tidak enak.
Babah Liem duduk. Pembawaannya tenang dan santai. Mei Hwa duduk bersebelahan dengan ayahnya.
"Tenang saja, adik-adikmu sedang berada di kamar bareng Mamah. Jadi nggak usah khawatir akan didengar mereka."
"Mamah tahu Babah akan membicarakan sesuatu sama Mei?" tanya Mei Hwa cemas. Jika boleh memilih, ia ingin didampingi ibunya.
"Iya. Babah sudah membicarakannya sama Mamah."
Mei Hwa sedikit merasa lega. Jika benar kedua orang tuanya telah membicarakannya, maka ada harapan ayahnya tidak akan sekeras biasanya.
"Kemarin Mei bilang bahwa keputusan Babah sama Mamah adalah yang terbaik bukan?"
Perasaan Mei Hwa semakin tidak enak. "Iya Bah, tapi Mei kemarin juga minta Babah untuk menilai Ayek secara obyektif."
Babah Liem mengangguk berat. "Okey. Posisi Babah saat ini menilai Ayek dari sudut pandangmu, karena benar katamu, Babah belum lengkap mengenal dia."
Mei Hwa bisa merasakan ayahnya agak kaku menyebut nama Ayek.
"Tapi, Mei...." Babah Liem menatap Mei Hwa lembut. "Babah mau minta sesuatu sama kamu."
"Meminta?" tanya Mei Hwa kaget. Tidak biasanya ayahnya melakukan itu. Ia bahkan sudah lupa kapan terakhir ayahnya meminta sesuatu kepadanya.
"Kalau perlu memohon." Babah Liem mengelus rambut Mei Hwa pelan.
Seharusnya Mei Hwa bahagia mendapati perubahan dari cara ayahnya berkomunikasi, tapi perubahan secara tiba-tiba ini menurutnya tidak wajar, terkesan dipaksakan.
"Ini bukan soal siapa, tapi soal kenapa." Babah Liem mulai berbelit.
"Maksud Babah?"
Babah Liem menghimpun kata-kata yang sudah disusun sebelumnya. "Babah nggak akan mendiktemu soal jodoh. Pilihlah sendiri calon suamimu. Hanya saja Babah punya satu permintaan."
Mei Hwa mengerjap bingung. Ia menunggu kelanjutan kata-kata ayahnya.
"Babah minta suamimu kelak adalah seorang yang bisa menjadi imam yang baik dan bisa meyakinkan Babah bahwa dia bisa meneruskan usaha keluarga kita."
Mei Hwa mendengus tertahan. Kalimat ayahnya muter-muter tapi intinya sama saja yaitu tidak menginginkan Ayek sebagai menantu. Tapi ini sedikit lebih baik daripada sikap keras ayahnya kemarin.
Mei Hwa mencoba tersenyum. "Insya Allah Ayek bisa menjadi imam yang baik, Bah. Setidaknya dari kerjasama projek lagu kami, dia menunjukkan kualitas seperti itu. Dan soal usaha, Mei akan coba bicarakan sama dia."
Babah Liem menarik napas berat. "Oke, soal imam yang baik Babah percaya sama kamu. Tapi apa mungkin dia bisa berdagang?"
"Dia berasal dari kekuarga pedagang, Bah. Kata Mamah, ayah dia dulu pedagang sukses." Mei Hwa mencoba meyakinkan ayahnya.
"Tapi Babah nggak pernah tahu dia berdagang, Mei!"
Mei Hwa menjadi berani untuk beradu argumen, meyakinkan ayahnya. "Dia keturunan pedagang. Jiwa dagang mengalir dalam darahnya. Kalau selama ini dia tidak berdagang itu mungkin karena keadaannya belum memungkinkan."
"Mei, dagang itu bukan soal menjual barang saja. Ada ilmunya. Ada proses yang harus dilewati. Ada usaha-usaha yang harus dijalani. Itu yang disebut sebagai pengalaman."
"Mei paham, Bah." Mei Hwa menguatkan diri. Tidak mudah meyakinkan ayahnya. "Tapi kita belum bisa menilai Ayek bisa atau tidak sebelum memberi kesempatan padanya."
"Kesempatan?" Babah Liem tersenyum sinis.
"Mei yakin Ayek sanggup jika diberi kesempatan." Mei Hwa berkata mantap.
"Tapi Babah enggak yakin."
Ucapan Babah Liem pelan tapi terdengar menyakitkan hati Mei Hwa. Ia tak mengerti jalan pikiran ayahnya yang terlalu dini menghakimi Ayek tanpa memberi kesempatan untuk membuktikan.
"Babah tahu kamu mencintainya. Tapi Babah mohon, carilah lelaki seperti yang Babah minta." Babah Liem meraih pergelangan tangan Mei Hwa. "Babah mohon...."
Mata Mei Hwa berkaca-kaca. Permohonan Babah sangat berat membebani hatinya. Ia belum cukup kuat untuk menanggungnya. Tak mungkin ia sanggup memenuhi permohonan itu. Ia mencintai Ayek dan tidak ingin berpisah dengan lelaki itu. Kaca bening di matanya pun mencair menjadi tetesan-tesan air mata.
Babah Liem merengkuh bahu Mei Hwa. Ia mencium rambut anak gadisnya itu. "Maafkan Babah, Mei. Ini berat, tapi kamu pasti bisa."
Tangis Mei Hwa semakin menjadi. Ia sesenggukan dalam rengkuhan ayahnya. Baginya permohonan ayahnya lebih menyakitkan dari ketika memarahinya beberapa hari lalu.
***
Dua belas menit lagi jam sepuluh malam. Gerimis turun setengah hati. Kadang tetesan-tetesannya tersapu angin kencang.
Ayek belum bisa tidur meski badannya lelah dan sedikit mengantuk. Ia lebih memilih melamun di teras. Pikirannya sedang kalut. Ada dua persoalan besar sedang membebaninya. Pertama perihal nasib band yang berada di ujung tanduk. Kedua tentang hubungannya dengan Mei Hwa yang terpaksa harus dijalani secara sembunyi-sembunyi.
Satu-satunya hal baik yang sedikit mengurangi kegelisahan adalah projek kolaborasinya dengan Mei Hwa sudah dalam tahap siap publikasi. Namun, itu belum cukup untuk menangkan hatinya malam ini.
"Anginnya kencang, masuk saja, Yek!" Zainab berdiri di ambang pintu.
"Iya, Ummi." Meski malas, tapi Ayek beranjak dari tempat duduk.
Setelah Ayek masuk, Zainab mengunci pintu. "Kamu kenapa?"
Ayek duduk di ruang tamu. Ia menatap ibunya sekilas, sebelum akhirnya membuang ke langit-langit.
Zainab peka. Ia tahu anaknya sedang gelisah. Maka ia duduk menemani Ayek. "Ceritalah, semoga setelahnya kamu bisa tenang."
Ingin sekali Ayek menjawab 'nggak apa-apa' agar ibunya segera kembali ke kamar. Namun ia memilih bungkam karena tidak mau menutupi sesuatu dari ibunya.
"Masalah band?" Zainab memancing Ayek bicara.
Ayek tersenyum. "Iya, Ummi. Band lagi kacau. Tapi ada yang lebih membuat Ayek nggak tenang."
"Apa itu?" Zainab mengacak rambut Ayek.
"Ummi kepo!" seloroh Ayek berusaha mengurangi sedikit kegelisahan.
"Setiap ibu punya jiwa kepo terhadap anaknya." Zainab terkekeh, geli atas ucapannya sendiri.
Perasaan Ayek sedikit lebih baik. Pikirannya mulai terang. Ia ingin menggunakan kesempatan ini untuk berterus terang kepada ibunya.
"Ummi pernah tanya apakah Ayek menyukai Mei Hwa atau enggak kan?"
Zainab terhenyak. Meski sudah menduga anaknya menyukai Mei Hwa, tapi ia tetap kaget. Namun, ia tak ingin menunjukkannya. Ia mengalihkannya dengan pura-pura tidak tahu. "Masa Ummi pernah tanya begitu?"
"Ummi kok jadi pelupa sih?" Ayek bersungut-sungut.
Zainab tertawa melihat mimik Ayek. "Jadi kamu ingin menjawabnya sekarang?"
Ayek cengar-cengir, sikapnya tidak jelas.
"Menyukai lawan jenis itu sangat wajar untuk anak seusiamu," ujar Zainab.
"Terus?"
Zainab mendelik. "Terus-terus kayak tukang parkir saja! Hahaha!"
Ayek tersenyum jahil. "Kayak pernah jadi tukang parkir aja!"
Zainab kembali serius. "Jadi, apa yang bikin kamu gelisah?"
Ayek menatap ibunya, ragu akan mengatakannya atau tidak. Setelah berpikir sejenak, ia memutuskan untuk mengungkapkannya. "Ayek pengen melamar Mei Hwa."
Zainab tercenung. Badannya mematung, menatap Ayek dengan sorot tak percaya.
"Ibu keberatan?" tanya Ayek cemas.
Zainab mendesah pelan. Ditatapnya Ayek penuh kasih. "Mei Hwa sepertinya gadis yang baik. Keluarga mereka juga seiman dengan kita. Tapi melamar butuh biaya."
"Ayek akan cari biayanya, Ummi!" Ayek mencoba meyakinkan ibunya.
Zainab tersenyum getir. "Ibu nggak mau kamu punya hutang. Hutang warisan Abi saja masih banyak."
Ayek paham maksud ibunya, tapi ia optimis bisa mengusahakannya. "Lamarlah Mei Hwa buat Ayek, Ummi nggak usah pikirkan biayanya."
"Terus dari mana kamu akan mendapatkannya?"
Ayek diam. Ia memang belum tahu akan mencari uang ke mana. Biaya lamaran pasti besar. Namun, cinta membuatnya yakin semua ada jalan keluarnya.
"Bagaimana dengan keluarga Mei Hwa?" tanya Zainab cemas. "Apa mereka merestui kalau kamu menyukai anak mereka?"
Ayek bungkam. Mendadak hatinya seperti sedang tertusuk pisau tajam.
"Ummi setuju saja kalau kamu memilih Mei Hwa, tapi saat ini kita belum siap biayanya. Kamu lelaki, malu kalau modal cinta saja."
Meski bisa memahami alasan ibunya, tapi tetap saja Ayek merasa kecewa.