Tertangkap Basah

1864 Kata
Perasaan Mei Hwa berbanding terbalik dengan cuaca pagi ini yang cerah. Pikirannya gelap. Ia sulit berpikir. Otaknya dipenuhi bayangan-bayangan ketakutan jika seandainya nanti ia tidak bisa lagi berhubungan dengan Ayek. Sejak Babah memohon padanya untuk melupakan Ayek, Mei Hwa menghabiskan malam dengan menguras air mata. Selepas salat subuh, ia tertidur di atas sajadah dan terbangun dengan kondisi fisik lemah dan pikiran kacau. Kondisi Mei Hwa sedikit lebih baik setelah mandi. Di meja makan, ketika semua keluarganya sarapan bersama, ia hanya meminum segelas s**u dan sebiji pisang ambon. Selalu ada jalan, begitu suara dari dalam hatinya yang terdalam, mengiang-ngiang di telinganya, membuatnya sedikit memelihara harapan. Harapan yang belum sepenuhnya mati dalam hati, menguatkan hati Mei Hwa. Ia akan menemui Ayek di rumahnya. Logikanya sedang timpang, tak peduli resiko besar yang bisa saja menambah parah keadaan. Sengaja Mei Hwa tidak memberi tahu Ayek perihal kedatangannya karena ia yakin lelaki itu akan melarangnya. Maka ketika ia telah sampai di teras, kekasihnya itu menyambutnya dengan wajah seolah sedang melihat hantu. "Mei?" Ayek menatap Mei Hwa tidak percaya. Ia celingak-celinguk, memastikan keadaan sekitar lengang. "Masuklah!" Mei Hwa mengulas senyum hambar. "Assalamu alaikum!" "Wa alaikum salam!" Ayek mengusap kursi yang sedikit berdebu. "Duduk, Mei." Dengan gestur, Mei Hwa memberi isyarat menginginkan kursi yang diduduki Ayek. Letaknya di pojok teras dan jika dilihat dari luar terhalang pot-pot besar. Ayek pindah tempat duduk. Ia bisa menangkap ada sesuatu yang tidak beres dari wajah Mei Hwa yang lusuh. Serta merta rasa cemas menjalari hatinya. "Sudah sarapan?" tanya Ayek khawatir. Ia duduk di sebelah Mei Hwa. Mei Hwa mengangguk malas. Berusaha memancing senyum Mei Hwa, Ayek melontarkan candaan. "Kalau belum, ada beras yang bisa kamu sulap menjadi nasi." Mei Hwa tersenyum sekadar menghargai usaha Ayek untuk menghiburnya. "Atau mau kebab?" Ayek menatap Mei Hwa jahil. "Bahan-bahannya udah siap di dapur." Mei Hwa ingin tertawa, sayangnya itu perkara sulit untuk saat ini. Senyum pun ia ulas dengan susah payah. Ayek tidak menyerah. Tak peduli candaanya garing, yang penting berusaha mengusir mendung di wajah Mei Hwa. "Oh aku tahu, kamu nggak mau apa pun kecuali aku, benar kan?" Alih-alih tersenyum Mei Hwa menangis. Kedua telapak tangannya menutup wajah. Badannya berguncang. Ayek panik, tidak tahu harus melakukan apa. Yang bisa ia lakukan hanya mematung, memandang Mei Hwa dengan perasaan serba salah. Dari balik gorden, Zainab melihat Mei Hwa dengan perasaan bertanya-tanya. Ia tidak sengaja mengintip. Tadinya ia akan keluar rumah untuk belanja bahan-bahan kue, namun diurungkan melihat gadis tetangganya menangis di teras rumahnya. Zainab kembali ke dalam. Ia tidak akan ikut campur. Namun ketika sampai di dapur, tiba-tiba terbersit perasaan tidak enak. Ia khawatir akan terjadi kesalahpahaman jika keluarga Babah Liem tahu. Namun Zainab dalam posisi serba salah. Ia tidak bisa ikut campur, tapi tidak akan membiarkan hal buruk terjadi di rumahnya. Meskipun gelisah, akhirnya ia memutuskan untuk membiarkan saja. Toh, mereka sudah dewasa, begitu pikirnya. Di teras, Mei Hwa baru saja menenangkan perasaan. Menangis di depan lelaki yang dicintai sedikit mengurangi pedih dalam hatinya. Ia menyeka air mata menggunakan sapu tangan yang ia bawa dari rumah. Ayek yang masih tidak tahu harus bersikap apa, malah mengucapkan kata-kata ngawur. "Tuan rumah macam apa aku ini. Bahkan tamu membawa tisu sendiri dari rumah." Mei Hwa tersenyum, antara malu dan sedikit lega. "Aku ambilin minum ya?" tawar Ayek. Mei Hwa menggeleng. Ia berusaha mempertahankan senyum di sudut bibir. "Nggak usah, Yek." Suaranya sedikit serak. "Atau jangan-jangan kamu sudah membawa minuman dari rumah?" Mei Hwa terkekeh. Bukan kata-kata Ayek yang membuatnya tertawa, tapi tingkah lelaki itu yang menurutnya lucu. "Habis Kamis hari selasa," ujar Ayek berpantun ria untuk mempertahankankan senyum Mei Hwa. "Habis menangis kok tertawa?" Mei Hwa tertawa, lebih lepas dari sebelumnya. "Kamu jahat!" Ayek menunjuk hidungnya sendiri. "Aku jahat?" Mei Hwa mengangguk. "Orang lagi nangis malah dibecandain!" "Itu caraku meredakan tangismu," dalih Ayek. "Pret!" Mei Hwa mencibir. "Kamu kentut lewat mulut?" Mei Hwa ngakak, antara senang dan kesal. Ia melemparkan sapu tangan ke muka Ayek. Dasar Ayek. Ia memeriksa sapu tangan Mei Hwa. "Buset, upilmu gede banget!" Mei Hwa ngakak, menutupi mulutnya menggunakan telapak tangan. Ia makin sayang kepada Ayek. Lelaki itu selalu berhasil membawa perasaannya lebih baik. Dan tiba-tiba ia sedih kembali, takut akan kehilangan lelaki sebaik itu. Ia pun menangis lagi. Kali ini Ayek tanggap. Ia merengkuh bahu Mei Hwa, membenamkan kepala gadis itu ke bahunya. "Babah minta aku melupakanmu, Yek. Dia memohon padaku." Tangis Mei Hwa pecah lagi. Matahari semakin meninggi. Kota Slawi dalam keadaan cerah, kecuali di teras rumah Ayek. Mei Hwa terus menangis, menumpahkan air mata ke bahu kekasihnya. Sementara, dengan lembut Ayek mengelus rambut gadis dalam rengkuhannya, tak menyadari bahaya sedang mengancam. Babah Liem yang tadi melihat Mei Hwa keluar melalui pintu belakang menjadi curiga. Ia yakin anaknya akan ke rumah Ayek. Dugaannya benar, ketika melalui sebuah kaca ia melihat anak gadisnya masuk ke rumah tetangganya itu. Dari posisinya, Babah Liem tidak bisa dengan jelas melihat di sebelah mana Mei Hwa berada. Namun, hatinya panas. Ia tidak terima anak gadisnya berkunjung ke rumah lelaki. Babah Liem bisa saja mencegah Mei Hwa, namun ia tak mau ada kegaduhan yang berpotensi memancing perhatian tetangga di sekitar rumahnya. Terpaksa ia menahan emosi sambil menunggu waktu yang tepat untuk meminta anaknya segera pulang. Setelah menahan sabar selama sepuluh menit, akhirnya pertahanan emosi Babah Liem jebol. Ia membuka pintu belakang dengan kasar, lantas menuju rumah Ayek dengan menanggung marah. Babah Liem terkejut mendapati anak gadisnya sedang menangis dalam rengkuhan lelaki. Matanya melotot merah. Jari-jari tangannya terkepal. Jika tidak mengingat sedang berada di luar rumah, ia ingin sekali menyeret Mei Hwa pulang. Melihat Babah berdiri di ambang teras rumah, Ayek terkejut bukan main. Lututnya terasa lemas. Wajahnya pucat. Perasaan takut menguasai dirinya. Tertangkap basah sedang merengkuh tubuh Mei Hwa adalah sesuatu yang memalukan baginya. Sekuat tenaga Babah Liem mengontrol emosi. "Mei!" panggilnya serak, penuh tekanan. Mei Hwa terkesiap. Wajahnya merah padam. Perasaan takut dan malu lebur menjadi satu. Ia segera membenahi rambutnya yang sedikit acak-acakan. Dengan perasaan kalut, ia berdiri. "Pulang!" perintah Babah Liem. Satu kata itu mewakili sumpah serapah dalam hatinya yang berhasil ia kendalikan. Mei Hwa melirik Ayek, memberi isyarat pamit. "Pulanglah, Mei," saran Ayek dengan nada bergetar. Mei Hwa melangkah malas. Bayangan masalah besar terbayang dalam benaknya. *** Tahu akan dimarahi, Mei mengunci diri di kamar. Ia langsung menjatuhkan badan ke kasur. Tangisnya kembali pecah. Mendadak dunia terasa kejam baginya. Babah Liem murka karena tidak bisa melampiaskan marah kepada Mei Hwa. Ia masuk kamar, membanting jam beker klasik kado dari Mei Hwa. Belum cukup, ia membanting bantal dan guling. Mamah Kiew mencoba meredakan amarah suaminya. "Tenang, Bah!" "Lihat kelakuan Mei di rumah belakang bikin malu!" Babah Liem meninju kasur sekuat tenaga. Mamah Kiew mengelus punggung Babah Liem. Yang bisa ia lakukan sementara ini adalah meredam emosi suaminya. "Mei pelukan sama anak nggak jelas itu di teras. Kalau ada tetangga yang melihat malu, Mah!" Babah Liem melempar bantal ke arah meja rias. Semua peralatan kosmetik yang ada di atasnya berserakan. Mamah Kiew menarik napas panjang. Hatinya pedih mendengar ucapan suaminya. Ia sama kecewanya dengan Babah Liem, tapi bagaimanapun juga Mei Hwa adalah anaknya. Meski menjadi anak penurut dan tak bertingkah aneh-aneh, tapi Putri sulungnya itu memiliki jiwa pemberontak. Dulu waktu kecil Mei Hwa beberapa kali minggat ke rumah neneknya setiap dimarahi ayahnya. Itu membuatnya khawatir. "Sabar, Bah." Mamah Kiew terus mengelus punggung suaminya. "Biarkan dulu Mei di kamarnya. Nanti pada saat yang tepat baru kita ajak bicara." Babah Liem meraih guling di belakangnya. Belum sempat melemparnya, Mamah Kiew buru-buru memeluknya. Untuk melampiaskan sesak di d**a, ia meremas guling kuat-kuat. Mamah Kiew berhasil meredam emosi suaminya. Babah Liem berhasil ia yakinkan agar menunggu waktu yang tepat untuk berbicara dengan Mei Hwa. Setelah memastikan situasi tenang, ia ke toko, membiarkan suaminya berpikir di dalam kamar. Babah Liem tidak ke toko. Di kamar berjam-jam, ia memikirkan cara untuk menjauhkan Mei Hwa dari Ayek. Cara keras telah ia terapkan, namun gagal. Cara persuasif sudah ia lakukan semalam, dan hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Babah Liem sadar, selama Mei Hwa masih berada di rumah, anaknya itu masih bisa berhubungan dengan Ayek. Maka ia mempertimbangkan untuk membawa jauh anak gadisnya dari Kota Slawi. Babah Liem berpikir, Mei Hwa akan aman jika berada di luar kota karena menurut analisanya, Ayek tidak akan meninggalkan ibunya hanya demi wanita. Zainab seorang janda tua dan miskin sehingga anak itu tidak akan tega. Jika ke luar kota, Babah Liem sudah punya dua pilihan untuk membawa Mei Hwa jauh dari rumah. Di Jakarta ada adiknya yang punya toko. Ia bisa menitipkan Mei Hwa di sana. Di Semarang, adik bungsunya aktif bisnis MLM. Namun itu cukup beresiko, selain karena jaraknya relatif dekat, juga kesibukan adiknya di luar rumah sangat tinggi, itu bisa menjadi celah bagi Mei Hwa untuk kabur. Solusi yang tepat menurut Babah Liem adalah mengirim Mei Hwa ke tempat yang diidamkan anak gadisnya itu. Ia akan menyampaikannya dengan halus agar rencananya berhasil. Selepas isya, Babah Liem membicarakan idenya kepada Mamah Kiew sekaligus meminta istrinya untuk menyampaikannya pada Mei Hwa. Ia hanya akan bicara jika dirasa perlu. Awalnya Mamah Kiew tidak setuju. Ia meminta Babah Liem untuk mencari solusi lain. Namun setelah mendengar argumen suaminya, ia akhirnya setuju dan menyanggupi untuk membicarakannya dengan Mei Hwa. Mei Hwa diundang ke kamar orang tuanya. Meski takut akan dimarahi tapi ia tak bisa menolak. Terpaksa ia menurut. Di kamar orang tuanya, Mei Hwa duduk dekat ibunya. Ia sudah siap mental jika nanti dimarahi ayahnya. Namun, semua ketakutannya sirna ketika Babah Liem hanya diam, tidak menunjukkan tanda kemarahan. Mamah Kiew mengelus rambut Mei Hwa. "Mei, Mamah tahu kamu punya alasan kuat untuk memilih Ayek. Mamah pernah muda sepertimu." Mei Hwa bungkam. Ia menunggu kelanjutan kalimat ibunya. "Usiamu masih muda. Masih banyak hal yang bisa kamu lakukan sebelum serius membangun rumah tangga. Mamah ingat dulu kamu punya keinginan kuliah S2 di Jerman." Mei Hwa menunduk sedih. Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ibunya. Ia sadar, dirinya akan dijauhkan dari Ayek. "Kalau kamu mau, enggak harus menunggu beasiswa. Babah sama Mamah akan membiayainya." Mamah Kiew tersenyum lembut. Mei Hwa melirik sekilas ayahnya yang hanya diam di sudut kamar. Selepasnya ia tersenyum dipaksakan kepada ibunya. "Bagaimana dengan studio Mei?" Mamah Kiew meraih pergelangan tangan Mei Hwa. "Kamu kan punya orang kepercayaan. Lagi pula biasanya kamu tinggal pun usaha studiomu bisa terus berjalan bukan?" "Kalau cuma beberapa hari Mei masih bisa mengontrol, tapi jika tahunan itu nggak mungkin, Mah!" "Mamah yang akan handel!" Mamah Kiew meyakinkan Mei Hwa. "Biar nanti Mamah akan koordinasikan dengan orang kepercayaanmu." Mei Hwa mendengus, tidak sependapat. Bukan soal siapa yang mengurus studio yang merisaukannya, tapi sekarang ia sudah tidak tertarik lagi kuliah S2 di Jerman. "Bagaimana?" tanya Mamah Kiew. Mei Hwa menggeleng. "Mei nggak bisa, Mah." Mamah Kiew mengerjap. "Bukankah itu cita-citamu?" Mei Hwa menunduk pedih. Ia memang ingin kuliah di Jerman tapi tidak sekarang. Hatinya berat jauh dari Ayek. Juga karena tawaran kedua orangtuanya lebih karena ingin menjauhkannya dengan lelaki yang dicintainya. "Biayanya sangat besar, Mah. Biar nanti Mei mencari beasiswa saja," ujar Mei Hwa. Ia tidak mungkin memberi alasan karena Ayek. "Soal biaya nggak usah kamu risaukan." Mei Hwa melengos. Ia tak tahu harus berdalih apa. "Ya sudah, kamu pertimbangkan dulu. Nanti kalau sudah siap, boleh disampaikan sama Mamah." Mei Hwa menelan ludah. Jari-jarinya meremas kasur kuat-kuat. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN