Sebuah mobil Avanza putih berhenti tepat di depan rumah Ayek. Posisinya mepet belakang rumah Babah Liem. Itu adalah taksi online yang dipesan Mei Hwa. Sang pengemudi menarik tuas hand rem. Ia memencet layar aplikasi, menghubungi pemesan jasanya.
Ponsel Mei Hwa bergetar. Di layar tertera nomor belum tersimpan, tapi ia yakin itu dari pengemudi taksi online. Ia segera menjawabnya. "Hallo!"
"Saya sudah sampai titik penjemputan."
Mei Hwa mengatur percakapan dalam mode loudspeaker. Ia mengecek aplikasi taksi online memastikan posisi mobil. "Mohon tunggu sebentar ya, Pak?"
"Siap, Bu!"
Percakapan berakhir. Mei Hwa bergerak cepat, mencangklongkan tas ke punggung, menyeret koper, kemudian membuka pintu pelan-pelan. Kepalanya menyembul, mengawasi keadaan. Aman!
Mei Hwa mengangkat koper kecilnya agar tidak menimbulkan suara. Pintu kamar pun ia tutup perlahan. Setengah berjingkat, ia melangkah menuju pintu belakang.
Langit masih gelap ketika Mei Hwa keluar rumah melalui pintu belakang. Beberapa orang bersarung baru saja melaksanakan sholat subuh berjamaah. Ia segera mendekati taksi online.
Jendela pintu depan kiri terbuka. Pengemudi taksi online menyembulkan kepala. "Ibu Mei Hwa?" tanyanya memastikan.
"Iya, Pak." Mei Hwa membuka pintu tengah. Dengan cekatan ia mengangkat koper, meletakannya ke atas jok sebelah kanan. Ia tak perlu meletakkan koper kecil itu ke bagasi karena akan membuang waktu.
Mei Hwa masuk mobil. Ditatapnya pintu belakang rumahnya. Perasaan sedih menjalari hatinya. Ia tidak ingin meninggalkan rumah itu jika tidak terpaksa. Cara ini harus ia tempuh, bukan karena ia ingin minggat tapi sebagai bentuk protes terhadap kedua orang tuanya.
Pergi dari rumah selalu menjadi cara efektif bagi Mei Hwa untuk melemaskan kekakuan sikap ayahnya. Ayahnya keras kepala dan cenderung temperamental. Keputusan ayahnya adalah hukum yang wajib dipatuhi, tak bisa ditawar. Ibunya memang pandai meredam emosi ayahnya, tapi pada akhirnya tak kuasa mengubah keputusan ayahnya.
Terakhir kali Mei Hwa pergi dari rumah delapan tahun lalu, ketika keinginan dirinya untuk melanjutkan SMA di Jakarta ditentang habis-habisan. Padahal ia ingin bersekolah di sana agar tidak setiap hari mendapatkan kekangan dari ayahnya, juga karena ia ingin meniti karier di musik yang akan mudah diwujudkan jika berada di pusat industri musik.
Meskipun harus menyetujui beberapa persyaratan, tapi akhirnya Babah Liem mengizinkan Mei Hwa bersekolah di Jakarta. Di kota itu Mei Hwa memperdalam ilmu musik dan sedikit banyak tahu industri musik. Kelas dua SMA ia sudah memiliki channel Youtube dan cukup populer. Sambil menyelesaikan pendidikan formal, ia bisa menabung, hasil dari kreativitasnya bermusik.
"Kita jalan sekarang, Bu?" tanya pengemudi taksi online.
Mei Hwa terkesiap. "Iya, Pak."
Mobil bergerak pelan. Mei Hwa menatap rumah Ayek. Ia merasa bersalah pada lelaki itu karena tidak memberi tahu rencananya pergi dari rumah. Itu sengaja ia lakukan agar tidak dicari. Jika Ayek mencarinya, maka menurutnya situasi akan rumit. Biarlah nanti ia akan mengabari lelaki itu jika sudah sampai tujuan.
Rencananya, Mei Hwa akan ke Jakarta. Ia punya banyak teman sekolah di sana. Salah satunya sudah siap menampungnya. Ia bisa saja tinggal di rumah pamannya, tapi akan mudah ditemukan. Ia belum tahu akan berapa lama meninggalkan rumah, tapi yang pasti ia akan kembali. Ada seorang lelaki di kota ini yang telah menawan hatinya.
Tiket kereta api telah ia booking order via aplikasi untuk keberangkatan pukul 07:15 wib. Boarding pass akan ia lakukan di stasiun. Waktunya masih banyak sampai jam keberangkatan. Namun sengaja ia berangkat selepas subuh agar keluarganya tidak ada yang mengetahui.
Mobil menyusuri jalan kampung. Mata Mei Hwa terus terpusat ke rumah Ayek sampai tidak terlihat lagi karena jalan menikung.
Mobil baru berjalan kurang dari dua ratus meter, tapi Mei Hwa sudah merindukan Ayek. Ia merasa bersalah. Air matanya mengalir pelan.
***
"Nomor telepon Kosim sudah nggak aktif," beritahu Kosim. Ia meletakkan dua kopi ke atas meja.
"Kapan terakhir lo hubungi dia?" Ayek mengambil gelas kopi. Aromanya menggairahkan, tapi mendengar ucapan Kosim membuat seleranya anjlok.
"Masih panas, Njir!" hardik Kosim, terkekeh. "Kemaren malam gue coba hubungi dia tapi nggak bisa."
Ayek meletakkan kembali cangkir kopi ke atas meja. "Terus nasib band bagaimana?"
Kosim mengedikkan sepasang bahu. "Gue pesimis. Mendingan kita nggak usah berharap lagi sama band."
Ayek menggebah napas kasar. "Pendapatan band bulan kemarin banyak lho! Terus kita mau ikhlasin begitu saja?"
Kosim mengusap-usap wajah menggunakan telapak tangan. Perasaan kesalnya kepada Sandi muncul lagi dalam hati.
"Uang band semua ada sama Sandi. Kalau nggak dibagi, bulan depan gue nggak bisa bayar cicilan bank!" ujar Ayek. Terbayang betapa repotnya jika nanti ia harus berhadapan dengan Debt Collector.
"Gue masih ada duit simpenan. Lo boleh pake nanti!" kata Kosim berusaha menenangkan Ayek. "Nanti aja kalau udah jatuh tempo. Kalau sekarang pasti habis buat kencan sama Mei Hwa!"
Ayek terkekeh. "Gue nggak penah keluar duit selama jalan sama Mei Hwa."
"a***y, cowok cuman modal dengkul doang!" Kosim tertawa meledek.
Ayek tidak terima. "Enak aja. Gue modal cinta juga. Hahaha."
"Kalau begitu lo bayar cicilan bank pake cinta juga dong!"
Ayek ngakak. Perasaan gelisahnya mulai teralihkan berada dekat teman sebandnya itu.
Kosim menyeruput kopi pelan-pelan. Selepasnya ia bertanya kepada Ayek. "Projek kolaborasi kalian udah sampai mana?"
"Udah selesai rekaman tiga lagu. Single hits juga udah dibikin video klipnya."
Kosim mengangguk-angguk kagum. "Cepet juga prosesnya. Nggak kayak kita yang harus adu argumen dulu dalam setiap tahapan. Milih lagu debat. Aransemen debat. Bikin klip debat. Kita ini band apa anggota DPR sih?"
Ayek terpingkal-pingkal mendengar gerutuan Kosim. "Tapi seru kan?"
"Iya juga sih." Wajah Kosim mendadak mendung. "Dan kita akan merindukan itu semua."
Ayek terdiam. Hatinya pedih jika mengingat nasib band yang berada di ujung tanduk. Sandi sudah sulit dihubungi. Sementara ia dan Kosim tidak bisa berbuat banyak untuk memperbaiki keadaan.
"Lo ada projek sama Mei Hwa. Gue juga mau solo karier."
Ayek mengerjap kaget. "Serius?"
Kosim mengangguk. "Kemarin gue ketemuan sama manajer kafe yang pernah nawarin kontrak sama band kita."
"Terus?"
Kosim memandang Ayek, merasa serba salah. "Maaf, gue nggak bisa menganggur lama. Nasib band belum jelas. Lo ada kegiatan. Lah gue nggak mungkin kan setiap hari makan-tidur."
Ayek mengangguk paham. "Nggak apa-apa, Sim. Gue ngerti. Kalau ada job lo ambil aja, asal nggak terikat kontrak. Bagaiamanapun juga status ASK Band masih hidup."
"Gue udah pikirin itu," sahut Kosim. "Gue cuman nge-jam aja, ngisi vokal, kadang keyboard. Semacam bintang tamu gitulah."
"Keren!" puji Ayek. "Doakan projek gue sama Mei Hwa sukses."
"Gue sih nggak meragukan kualitas Mei Hwa," ujar Sandi. "Dia udah pengalaman di musik. Yang gue khawatirin adalah elo!"
"Khawatir kenapa?"
"Khawatir elo jatuh cinta dan bertepuk sebelah tangan." Kosim tersenyum meledek. Ia menyeruput kopi.
Ayek tersenyum simpul. "Gue udah jadian."
Srott! Air kopi tersembur dari mulut Kosim, sebagian mengenai muka Ayek.
Ayek gelagapan kesal. "Anjir! Kopi dari mulut lo baunya kayak comberan!"
Kosim ngakak. "Sorry, gue kaget tadi!"
***
Ayek menata isi tas kresek berisi belanjaan bahan-bahan kue. Sore ini dia tidak ada kegiatan, jadi bisa membantu ibunya.
Biasanya Ayek belanja sore-sorean, menjelang toko-toko di pasar bersiap tutup. Siang ini ia datang lebih awal karena tidak ketemu Mei Hwa di studio.
Mei Hwa sulit dihubungi. Ayek tidak tahu di mana gadis itu berada. Ini cukup aneh, mengingat biasanya gadis itu selalu meneleponnya lebih dulu.
Nomor telepon Mei Hwa tidak aktif. Pesan-pesannya juga masih ceklis. Perasaan Ayek menjadi gelisah. Ia khawatir terjadi sesuatu terhadap gadis itu. Apalagi semua karyawan studio Mei Hwa tidak ada yang tahu keberadaan bosnya.
"Berapa semuanya, Bu?" tanya Ayek pada pemilik toko.
"Tujuh puluh empat ribu, Mas!"
Ayek menyerahkan dua lembar lima puluh ribuan kepada pemilik toko. Selepas menerima kembalian uang, Ayek beranjak pulang. Tas kresek dalam jinjingannya cukup berat. Tiga kilo tepung terigu, dua kilo gula pasir, beberapa saset margarin, dan bahan-bahan lain terbungkus jadi satu dalam tas kresek besar.
Sampai di area parkir, Ayek berhenti ketika pandangannya menangkap seorang berambut gondrong sedang berdiri dengan posisi membelakanginya sedang berbincang dengan seorang tukang parkir pasar.
Bagian kaos yang dipakai lelaki gondrong itu bertuliskan kata-kata lucu. Bukan kata-katanya yang membuat Ayek tertarik, tapi kaos itu mengingatkannya pada seseorang di suatu tempat.
Lelaki gondrong dan studio! Ayek ingat sekarang. Orang itu adalah mata-mata yang beberapa hari belakangan mengawasi dirinya dan Mei Hwa.
"Mas!" Untuk memastikan dugaannya benar, Ayek memanggil lelaki gondrong itu.
Dua lelaki di depan Ayek menoleh hampir bersamaan. Tukang parkir menatapnya Ayek bingung. Sementara wajah lelaki gondrong tampak pucat. Buru-buru ia membuang muka, berniat menghindar.
Melihat gelagat lelaki gondrong akan menghindar, Ayek meletakkan tas kresek ke tanah. "Kita pernah ketemu kan?"
"Enggak!" Lelaki gondrong tergopoh pergi. Sampai di tengah parkiran ia berlari menuju jalan raya.
Ayek ingin mengejarnya andai tidak sedang membawa belanjaan. Ia heran, belanja di pasar saja diawasi.
"Mas kenal Marno?" tanya tukang parkir kepada Ayek.
"Marno?" Ayek menduga itu nama lelaki gondrong itu. "Enggak. Emang siapa dia?"
"Kok dia kayak ketakutan gitu?" tanya tukang parkir heran. "Jangan-jangan kalian pernah berantem."
"Nggak, kok!" sangkal Ayek. Tapi ia tidak mungkin menceritakan kaitannya dengan Marno.
"Dia penjaga parkir juga?" tanya Ayek penasaran.
Tukang parkir menggeleng. "Dia kuli pasar. Biasanya dia mangkal di depan toko beras."
"Oh?" Ayek mengangguk-angguk. Tapi ia masih penasaran kenapa kuli pasar memata-matainya. "Setiap hari dia mangkal di pasar?"
"Biasanya begitu, cuman beberapa hari belakangan katanya ia kerja di toko sembako."
"Toko sembako pasar?"
"Bukan!" jawab tukang parkir. "Nggak tahu di mana, yang jelas bukan di pasar."
"Kok sekarang dia nggak kerja?"
Tukang parkir memandang Ayek penuh selidik. "Beneran mas nggak kenal sama dia?"
"Nggak. Maka itu saya tanya sama bapak!" jawab Ayek. "Tapi aku sering melihat dia."
"Di mana?"
"Di studio." Terbersit sebuah ide di benak Ayek untuk mencari tahu siapa yang membayar Marno. "Apa boss dia seorang keturunan Tionghoa?"
"Iya. Dia pernah bilang begitu." Tukang parkir berpikir sejenak. "Babah siapa gitu dia menyebutnya. Tapi katanya sih mulai kemarin dia sudah enggak kerja di sana lagi."
"Kenapa memangnya, Pak?"
Tukang parkir menggeleng. "Nggak tahu."
"Ya sudah, Pak. Makasih." Ayek mengangguk, pamitan. "Kalau ketemu Marno tolong sampaikan salam buat dia, dari Burung Hantu."
Ayek mengangkat tas kresek. Ia berlalu dari hadapan tukang parkir yang memandanginya penuh tanda tanya.
"Burung hantu?" tanya tukang parkir lirih, merasa aneh mendengar istilah itu.