"Yek, bisa ke basecamp sekarang?" tanya Kosim lewat telepon.
"Gue mandi dulu," ujar Ayek.
"Mandi di sini aja. Mendesak!"
"Yaelah, sebentaran doang!"
"Sandi balik. Kita rapat sekarang!"
"Hah? serius?"
"Iya, maka itu buruan!"
Panggilan berakhir. Ayek memandang layar ponsel dengan sorot kosong. Ia khawatir rapat itu akan jadi pertengkaran. Tapi buru-buru ia menepis prasangka buruknya.
Ayek segera menemui ibunya di dapur. "Ummi, Ayek mau ke basecamp sekarang."
"Iya," jawab Zainab tanpa melihat Ayek. Ia sedang sibuk membuat adonan.
Ayek mencium punggung telapak tangan ibunya. "Ada kemungkinan pulangnya malam, atau bisa jadi besok. Ada rapat."
"Iya, hati-hati."
"Iya, Ummi." Ayek melangkah pergi.
Sepeninggal Ayek, Zainab menghentikan kegiatannya. Ia sedang malas membuat kue. Pikirannya terus melayang ke perihal lamaran.
Sebagai seorang ibu, Zainab ingin melihat anaknya bahagia. Usia Ayek sudah dua puluh lima tahun, usia yang pas untuk berumah tangga. Namun untuk menikahkan anaknya dengan Mei Hwa tidak semudah membuat kue. Banyak yang harus ia pertimbangkan.
Biaya adalah kendala paling besar yang harus Zainab atasi. Sebagai pihak laki-laki, ia tidak mungkin hanya bermodal niat baik. Lamaran ada tradisinya yang membutuhkan uang tidak sedikit. Sementara keadaan keluarganya sedang susah.
Hal lain yang tidak Zainab kemukakan pada Ayek adalah perihal kultur. Mei Hwa keturunan Tionghoa, sementara ia keturunan Arab. Meskipun, seagama, tapi keduanya punya budaya yang berbeda. Ia takut itu menjadi hambatan pada rumah tangga anaknya kelak.
Namun selain faktor itu, ada satu hal yang cukup merisaukan Zainab. Keluarga Babah Liem kaya, sedangkan kekuarganya dalam keadaan susah. Kesenjangan ini menurutnya bisa berpotensi memicu konflik.
"Assalamu alaikum!"
Sayup-sayup Zainab mendengar suara orang mengucapkan salam. Ia bangkit dari tempat duduk.
Zainab melangkah ke ruang tamu. Di ambang pintu tampak Mamah Kiew sedang berdiri dengan wajah tegang.
"Wa alaikum salam," jawab Zainab begitu berada di depan tamunya. "Silakan masuk, Cik!"
Mamah Kiew duduk di ruang tamu. Ia sudah tidak sabar untuk langsung bicara, namun ia harus menunggu tuan rumah duduk.
Zainab duduk. Ia mengulas senyum ramah pada Mamah Kiew.
Mamah Kiew balas tersenyum meski sulit menyembunyikan raut wajah panik.
"Ada apa, Cik?" tanya Zainab. Ia merasakan ada sesuatu yang gawat dari mimik tamunya.
"Maaf ya, Kak Zainab. Apa Ayek ada di rumah?" tanya Mamah Kiew gelisah.
"Barusan keluar, Cik."
Mamah Kiew bingung menata kalimat yang akan ditanyakan. Ia takut Zainab tersinggung.
"Ada perlu sama Ayek?"
Mamak Kiew mengangguk ragu. "Gimana ya ngomongnya?"
Perasaan Zainab menjadi tidak enak. "Kalau penting, biar aku telepon dia. Paling belum jauh dari sini."
"Jadi begini...." Mamah Kiew berusaha tenang. "Mei Hwa nggak ada di rumah sejak pagi, di studio juga. Dihubungi susah, nomornya nggak aktif."
Zainab terkejut. Ia mulai mencium sesuatu yang kurang baik. Mei Hwa tidak bisa dihubungi tapi orang tuanya mencari ke rumah ini, baginya itu pertanda akan ada masalah serius.
"Aku khawatir Mei pergi dari rumah," Mamah Kiew menangis. "Koper sama tasnya nggak ada di kamar."
"Ya Allah!" sebut Zainab cemas.
"Kak Zainab tahu nggak kalau anak kita pacaran?"
Deg! Jantung Zainab seperti sedang dihantam benda tumpul. Ia memang tahu, Ayek menyukai Mei Hwa, tapi menghilangnya Zainab dikaitkan dengan anaknya, membuatnya berpikir yang tidak-tidak.
"Babah tidak merestui hubungan itu," ungkap Mamah Kiew. "Babah mau ngirim Mei keluar negeri."
Zainab mencoba tenang. Mendengar bahwa Babah Liem tidak setuju, membuat hatinya sedih. Namun, itu belum seberapa ketimbang persoalan gawat di depan mata.
"Maaf ya, Kak. Babah gelap mata. Aku sendiri nggak begitu tahu persis kenapa dia tidak menyukai Ayek. Tapi yang jelas kepergian Mei dikaitkan dengan Ayek."
"Astaghfirullah?" Mamah Kiew mengelus d**a.
"Sekali lagi maaf. Kak Zainab harus tahu masalah ini. Kalau aku percaya Ayek anak yang baik. Tapi tahu sendirilah Babah kalau lagi gelap mata." Mamah Kiew menunjukkan sikap tidak enak hati.
Zainab menarik napas dalam-dalam, menguatkan hati. "Apa Babah mengira kalau Ayek yang...." Ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Aku percaya Ayek tidak seperti yang Babah pikirkan. Maka itu aku ke sini memastikan Ayek ada di rumah. Biar nanti aku bisa meyakinkan Babah."
Zainab mengangguk-angguk pedih. Ia memahami maksud Mamah Kiew. "Ayek selalu di rumah. Tadi pagi ke rumah temannya, siang ke pasar, dan belum lama dia pamit katanya ada rapat Band."
Mamah Kiew kembali menangis. "Aku takut Mei pergi jauh." Tangisnya semakin menjadi.
Zainab merasa iba. Namun ia sendiri sekarang dalam posisi sulit. "Aku akan menyuruh Ayek pulang biar masalah ini jelas."
Mamah Kiew menyeka air mata. "Sekali lagi maaf ya, Kak."
Zainab mengangguk. "Iya, semoga Mei nggak pergi jauh dan cepet pulang."
Mamah Kiew mengangguk. Air matanya kembali berlinang.
***
Wajah-wajah cuek menyambut kedatangan Ayek. Sandi bersedekap, memandang Kosim sinis. Yang dipandang membuang muka ke langit-langit sambil mengupil.
"Assalamu alaikum!" Ayek menyalami kedua temannya dengan canggung. Ia menduduki satu kursi tersisa.
"Wa alaikum salam," jawab Kosim pelan.
Sandi menjawab salam malas-malasan. Suaranya lirih, nyaris tak terdengar.
Biasanya, pertemuan personel band didahului rutinitas lempar-lemparan. Kosim dan Ayek saling lempar upil, sedangkan Sandi melempar kue ke arah kedua temannya, lengkap dengan toplesnya.
Kali ini situasi sedang mencekam. Kosim menikmati sendiri upilnya. Ayek bahkan tak berselera memanen upil. Sedangkan Sandi yang seharusnya senang tidak ada pesta upil malah sedang menanggung banyak pikiran.
"Oke, sudah lengkap!" Sandi menatap Ayek. "Entah kenapa elo selalu datang paling akhir. Dan sebelum lo datang, gue sama Sandi nyaris baku hantam."
Ayek tidak kaget. Kosim sudah pernah cerita padanya tentang Sandi yang dianggapnya lebih mementingkan diri sendiri ketimbang band.
"Tadi gue lebih banyak diem karena percuma klarifikasi tanpa kehadiran lo." Telunjuk Sandi menunjuk d**a Ayek.
"Sekarang siapa yang mau bicara duluan?" Sandi memandang Ayek dan Kosim bergantian.
Ayek mengangkat tangan. "Gue udah banyak ngomong waktu terakhir kali kita kumpul di sini. Jadi gue paling terakhir saja."
Sandi melirik Kosim. "Atau elo?"
Kosim mendengus. "Bukannya elo yang paling bersemangat buat membela diri? Jadi silakan lo yang ngomong duluan."
"Okey, gue yang pertama ngomong." Sandi melirik Ayek. "Maaf, Yek. Gue terpaksa ungkit lagi kesalahan fatal lo kemaren."
Ayek mengedikkan bahu. "Silakan!"
"Tapi sebelumnya kalian harus tahu, gue telah menolak banyak tawaran cuman karena gue yakin ASK Band akan maju. Bukan cuman soal musik saja, tapi masa depan gue." Sandi menunduk dalam-dalam. "Sejak pindah ke Jakarta, bokap mau menjual rumah ini buat modal usaha di dana, tapi gue mati-matian ngebujuk beliau dan alhamdulillah rumah ini masih bisa kita pakai buat band."
Sandi menatap Kosim. "Sejak awal gue paling ribut buat menambah personel. Gue pengen kita bukan cuman band projek, tapi juga bisa sering tampil di panggung. Nggak ada band terkenal yang nggak jatuh bangun di panggung."
Sekarang giliran Sandi menatap Ayek. "Gue selalu kalah suara karena lo sama Kosim selalu punya pendapat sama. Tapi gue hargai dan terima pendapat kalian. Gue nggak pernah nyalahin kalian, meski band semakin jarang manggung, bahkan bulan ini enggak sama sekali."
Ayek diam.
Kosim tak acuh.
"Kemaren ada tawaran kontrak dan melayang begitu saja hanya karena satu personel nggak bisa dihubungi dan gue yang pertama kali memaafkan." Sandi menatap Kosim kesal. "Tali lo dengan egoisnya ninggalin forum. Seharusnya kita membahas solusi, karena menyalahkan nggak ada gunanya sama sekali."
Sandi menunduk dengan raut kesal. "Gue ke Jakarta bukan buat ngejam seperti yang pernah gue sampein ke Kosim. Gue ke sana buat nerusin kuliah!"
Kosim terhenyak. Antara percaya dan tidak, ia menatap Sandi dengan perasaan campur aduk. "Tapi lo sering ditelepon sama band Jakarta!"
Ayek menengahi. "Sandi belum selesai ngomong, Sim!"
Kosim mengibas tangan ke udara.
Sandi menepuk bahu Kosim. "Gue tahu lo sering nguping pembicaraan itu. Dan seperti yang lo denger sendiri, gue selalu menolak. Sekarang giliran lo ngomong. Gue udah selesai."
"Kenapa lo blokir kontak Ayek? Dua hari belakangan juga sulit dihubungi?" tanya Kosim.
"Gue blokir Ayek cuman sehari doang. Itu karena pas gue lagi ribut sama bokap dia nelpon mulu, bukan karena kesalahan dia sama band." Sandi menjelaskan dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya.
"Gue sudah." Kosim melirik Ayek. "Sekarang giliran lo!"
Ayek menunduk. Ia percaya ini semua salah paham. "Gue cuman mau nanya, nasib band gimana?"
Sandi menunduk dalam-dalam. "Gue mundur karena sudah bikin kesepakatan sama bokap: gue mau ngelanjutin kuliah dengan bokap asal rumah ini nggak dijual. Dan kalian boleh terus jadiin rumah ini jika mau nerusin ASK Band."
"Ya sudah, gue juga mundur!" Kosim berdiri.
"Kosim!" hardik Ayek. "Kita belum selesai rapat."
"Gue udah bukan personel ASK Band sejak beberapa detik lalu. Jadi buat apa gue ikut rapat?" Kosim beranjak, meninggalkan basecamp.
Ayek bermaksud mencegah kepergian Kosim, tapi Sandi mencegah.
Ayek terunduk lesu. Apa yang ia takutkan terjadi. Sandi mundur. Kosim seperti biasa bersikap kekanak-kanakan, dan dia tidak bisa berbuat banyak untuk memperbaiki keadaan.
Sandi menepuk bahu Ayek. "Maafin gue, Yek!"
Ayek mengangguk pasrah. Seolah ia sudah tidak punya tenaga. Dengan malas ia merogoh saku baju, mengambil ponsel untuk menghubungi Mei Hwa. Sejak pagi ia belum berhasil menghubunginya. Ia rindu suaranya, terutama pada saat-saat seperti ini.
Mata Ayek terbelalak mendapati pemberitahuan ada sembilan kali panggilan tidak terjawab dari ibunya. Ia memang menyeting ponselnya dalam mode silent sejak sampai basecamp.
Ayek segera menelepon ibunya. Tidak sampai satu menit panggilannya dijawab.
"Assalamu alaikum!" ucap Ayek pelan.
"Wa alaikum salam," jawab Zainab lantang. "Yek, kamu pulang sekarang."
Ayek kaget campur penasaran. "Ada apa, Ummi?"
"Mei Hwa pergi dari rumah, sejak pagi sampai sekarang belum pulang. Dihubungi juga susah!"
Ayek terkulai. Pantatnya menghempas kursi. Hatinya kacau. Pikirannya gelap.