Istimeihwa

1535 Kata
"Kamu pacaran sama Mei Hwa?" Ayek bingung harus menjawab apa. Faktanya dia menjalin asmara dengan Mei Hwa, tapi ia tidak berniat untuk sekadar pacaran. Ia mengungkapkan perasaan kepada gadis itu untuk memastikan cintanya bersambut. Dan langkah selanjutnya adalah mengikat hubungan itu. "Ummi tidak mau kamu pacaran," tegas Zainab. "Kalau hatimu sudah condong ke salah satu wanita, maka untuk menghindari maksiat, sebaiknya menikah." Ayek mengangguk. "Apa Ummi merestui?" Zainab merasa terjebak oleh kalimatnya sendiri. Pertanyaan Ayek membuatnya gamang. "Ayek sudah bilang sama Ummi mau melamar Zainab." Ayek memandang ibunya penuh harap. "Ayek mohon lamarlah Mei Hwa, Ummi." Zainab sedih mendengar permintaan Ayek, sementara keadaannya tidak memungkinkan baginya untuk memenuhi permintaan itu. Apalagi tadi sore Mamah Kiew menjelaskan perihal Babah Liem yang tidak merestui hubungan itu. "Ayek akan menanggung biayanya, Ummi!" Ayek membujuk ibunya. Zainab menunduk sedih. "Babah Liem tidak setuju Mei Hwa berhubungan denganmu, Yek." Ayek melengos. Kenyataan itu memang pahit baginya, tapi ia tidak akan menyerah. "Keadaannya juga sedang runyam. Mei Hwa pergi dan belum diketahui keberadaannya." Zainab mencoba memberi pengertian. "Babah Liem bisa menuduhmu menyembunyikan anak gadisnya." "Tuduhan itu nggak berdasar. Ayek sendiri nggak tahu di mana Mei Hwa berada." "Kapan terakhir kali kamu ketemu dia?" tanya Zainab. "Kemarin waktu Mei Hwa ke sini." "Dan Babah memergoki kalian berpelukan?" Zainab menatap tajam Ayek. Ia memang tidak melihat sendiri, tapi Mamah Kiew cerita padanya. "Bukan memeluk," sangkal Ayek. "Mei Hwa menangis di bahu Ayek." "Apa pun itu, Babah Liem menganggapnya berpelukan!" Nada Zainab naik satu oktaf. "Ummi percaya sama kamu. Tapi saat ini, dengan situasi seperti ini, kita harus hati-hati. Babah Liem punya sudut pandang berbeda." "Iya, Ummi." "Sudah Ummi peringatkan kamu untuk hati-hati." Zainab menurunkan intonasi suara. "Tapi semua sudah terjadi. Sekarang yang harus kita lakukan adalah sebisa mungkin kooperatif apabila keluarga Mei Hwa bertanya macam-macam." Ayek mengangguk paham. "Mereka sedang panik, maka itu kita harus bijak menyikapi jika mereka emosional. Jangan terbawa situasi." "Iya, Ummi." Zainab iba melihat Ayek. Anak semata wayang yang selalu menurut dan rela mengorbankan kesenangan demi dirinya itu harus menghadapi persoalan sepelik ini. Ingin sekali ia melihat anaknya bisa meraih mimpinya. Zainab bahkan tidak tahu apa impian Ayek. Ia takut anak itu takut bermimpi karena sejak kecil selalu dihadapkan pada kenyataan-kenyataan pahit. Kini ketika mulai mengenal cinta, dunia seolah tak berpihak padanya. "Ummi menangis?" tanya Ayek cemas. Zainab menyeka air mata yang belum sempat jatuh. Ia menggeleng. Ayek mendekati ibunya. Kedua lengannya melingkar di perut perempuan yang sudah melahirkannya itu. "Andai Babah Liem menyetujui. Andai kita sekaya mereka. Apakah Ummi akan merestui cinta kami?" Tangis Zainab pecah. Tentu saja ia merestui. Namun, ia pedih mendengar pertanyaan melankolis itu. "Ummi jangan menangis." Ayek mempererat rengkuhan lengannya. Alih-alih berhenti, tangis Zainab semakin menjadi. Kalimat 'Ummi jangan menangis' sering Ayek ucapkan dulu waktu kecil. Saat di mana hidup lebih sulit dari sekarang, tidak punya uang, ditagih hutang banyak orang, dan ia hanya bisa menangis karena lelah menanggung beban selama bertahun-tahun sendirian. Kemudian bebannya sedikit berkurang karena dipeluk lengan mungil, anak semata wayangnya. Itu yang membuat Zainab selalu bersyukur. Tuhan mengujinya dengan banyak beban hidup, tetapi dikirimkan kepadanya malaikat kecil sebagai penopang kekuatannya. Ayek, lelaki itu sekarang sudah dewasa. Sayang pada saat anak itu membutuhkan dukungan, keadaan memaksanya untuk tidak bisa berbuat banyak. "Mei Hwa anak yang baik. Setidaknya dari cara berbicara sama Ummi dia memiliki akhlak yang bagus." Zainab mengelus rambut Ayek. "Nggak ada alasan bagi Ummi untuk nggak merestui kalian." "Terima kasih, Ummi." Ayek mencium pipi ibunya, bahagia. "Mei Hwa nggak akan pernah sehebat Ummi, tapi dia tetap istimeihwa." Zainab tersenyum. "Istimeihwa?" Ayek mengangguk. "Ya, istimeihwa." Zainab menegakkan dagu Ayek, menatapnya lekat-lekat. "Kamu carilah tahu keberadaam Mei Hwa. Semakin cepat, semakin baik. Takutnya Babah Liem ke sini, menyangka kamu menyembunyikan anaknya." "Tapi apa iya sih, Babah Liem akan berpikiran seperti itu?" Zainab melenguh panjang. "Mamah Kiew bilang Babah Liem curiga kepergian Mei Hwa ada kaitannya denganmu." *** Mendung menyelimuti kota Slawi. Hawa udara cenderung panas, meski malam hari. Ayek berjalan-jalan, menyusuri trotoar. Hatinya sedang gelisah memikirkan nasib band yang diambang bubar dan menghilangnya Mei Hwa tanpa kabar. Meskipun dirinya terancam menganggur, tapi persoalan band masih bisa Ayek sikapi dengan tenang. Setidaknya, ia masih bisa berkarir di dunia musik, meskipun harus merintis kembali dari nol. Yang sangat mendesak adalah ia harus bisa berkomunikasi dengan Mei Hw segera. Menghilangnya Mei Hwa jelas membuatnya sedih. Perasaan cemas akan nasib gadis itu, kecurigaan Babah Liem atas keterlibatannya, dan kerinduan yang dalam bikin hatinya tidak keruan. Ayek terus berjalan sambil melamun. Pikirannya bekerja keras mencari cara bagaimana menemukan keberadaan Mei Hwa. Sayang ia tidak tahu harus melakukan apa. Tidak terasa dirinya sampai di bundaran kota Slawi. Kerlap-kerlip lampu hias sedikit mengurangi kegelisahan Ayek. Ia berhenti sejenak, memilh tempat untuknya beristirahat. Sebelah barat bundaran ada masjid agung. Sebelah timur monumen. Kedua tempat itu dipenuhi banyak orang. Ponsel Ayek berdering. Sandi memanggilnya. "Hallo, San!" sapa Ayek. "Berisik banget," keluh Sandi. "Lo di jalan?" "Nggak. Gue di trotoar." "Serah elo!" Sandi ngakak. "Lo ngapain di trotoar?" "Gue lagi stres, San." Ayek menyandar di tiang listrik. "Gue dicurigai ngembunyiin cewek." "HAH?" Sandi tertawa mengejek. "Cewek bego mana yang mau elo sembunyiin?" Ayek mendengus kesal. "Gue serius, Markonah!" "Oke, oke. Sorry. Gue pikir lo bercanda." Suara Sandi mendadak serius. "Emang ceritanya gimana?" "Cewek itu pergi dari rumah." Ayek sengaja tidak menyebut nama karena pasti Sandi akan bertanya macam-macam. "Bokapnya curiga gue terlibat." "Kok gitu?" "Bokapnya ngga setuju gue jadian sama dia." "Lo udah jadian?" Sandi terkejut. "Iya," jawab Ayek. " Gue harus gimana, San? Nomor telepon cewek gue ngga aktif. Gue juga ngga ada yang kenal sama temen-temennya." "Waduh repot kalau begitu." "Maka itu." Ayek merasa percuma curhat sama Sandi. Anak itu bukan pendengar yang baik. "Betewe ada apa lo nelpon gue?" Sandi terdiam sejenak. "Gue pamit, mau berangkat ke Jakarta malam ini. Maafin gue ngga bisa mempertahankan band. Kosim susah dihubungi, tolong sampein permintaan maaf gue buat dia." "Jakarta?" Mendadak Ayek ingat Norman. Ia curiga jangan-jangan Mei Hwa ke sana. "Gue kan tadi sore udah bilang mau nerusin kuliah di sana," ujar Sandi. Telinga Ayek sedang tidak fokus mendengar ucapan sandi. Pikirannya sedang menduga-duga kemungkinan Mei Hwa menemui Norman. "Tapi kenapa dia nggak bilang?" ujarnya lirih. "Bilang apa?" Sandi tidak paham, mengira ucapan Ayek tadi ditujukan padanya. "Oh, nggak apa-apa." Ayek terkekeh geli. "San, lo tahu Norman nggak?" "Norman?" Sandi berpikir. "Itu loh yang katanya produser musik." "Kayaknya pernah denger nama itu. Kenapa memangnya?" "Kirain tahu," keluh Ayek. "Gue mau nanya alamatnya." "Kenapa lo gak browsing aja ke google?" Ayek tersenyum cerah. "Iya juga ya?" *** Perasaan Zainab tidak enak dikunjungi Babah Liem. Kalau bisa, ia ingin menghindar, tapi tetangganya itu sudah ada di hadapannya. "Ada keperluan apa ya Babah kemari?" tanya Zainab berusaha tenang. Babah Liem tersenyum dipaksakan. Segalak-galaknya dia tetap saja segan kepada Zainab. Di masa lalu, ketika dirinya belum sekaya sekarang, suami Zainab pernah meminjaminya uang. Babah Liem mendehem, menahan grogi sekaligus mencoba menguasai emosi. "Maaf, mungkin Kak Zainab sudah denger kalau Mei Hwa belum pulang ke rumah." Zainab mengangguk. "Iya, Mamah Kiew sudah bilang tadi sore. Saya turut prihatin, Bah." "Iya, makasih, Kak." Babah Liem gelisah. Ia bingung harus mulai dari mana untuk mengeluarkan semua unek-uneknya. Zainab yang sudah mendengar bocoran bahwa Babah Liem mencurigai Ayek, menggunakan kesempatan ini untuk mengklarifikasi. "Beberapa hari belakangan anak saya dekat dengan Mei Hwa. Tadi saya tanya sama dia, kapan terakhir kali mereka bertemu. Dia menjawab kemarin. Setelah itu tidak tahu kabar Mei Hwa." Babah Liem mengangguk meskipun belum puas mendengar jawaban Zainab. "Apa bisa saya bertemu Ayek?" "Dia sedang keluar, Bah," jawab Zainab. "Apa perlu saya suruh pulang?" Babah Liem menggeleng ragu. "Tidak perlu, Kak. Tolong sampaikan saja sama dia kalau tahu kabar Mei Hwa segera kabari saya." Zainab tersenyum. "Insya Allah nanti saya sampaikan." Babah Liem belum puas. Ia masih curiga Ayek terlibat atas menghilangnya Mei Hwa. "Maaf, kalau boleh tahu, sejak terakhir ketemu Mei Hwa Ayek di rumah saja kan?" Zainab tidak suka dengan ucapan Babah Liem yang terkesan tidak mempercayainya. "Pagi tadi dia pamit mau ke rumah temennya. Siang membantu saya belanja ke pasar. Dan sekarang dia sedang cari udara luar." "Sehari ini sudah tiga kali keluar rumah?" Babah Liem mendapat celah untuk mengorek keterangan Zainab. "Dia memang punya banyak kegiatan, Bah!" Zainab memberi penegasan pada ucapannya. "Ini maaf, Kak Zainab." Babah Liem melirik segan kepada Zainab. "Sebagai orang tua kita tidak bisa tahu persis apa yang dilakukan anak kita di luar rumah." "Saya setuju dengan Babah, tapi anak tergantung bagaimana didikan orang tuanya." Zainab tersenyum menyindir. "Ayek selalu jujur kepada saya. Kadang dia cerita soal kegiatannya. Dia nggak akan berani main belakang dengan ibunya." Babah mengusap dahi yang mulai berkeringat. Ia merasa tertohok ucapan Zainab. "Saya sependapat, tetapi selalu ada kemungkinan, Kak." Kekesalan Zainab semakin bertambah. "Kemungkinan sekarang Ayek sedang mencari tahu keberadaan Mei Hwa untuk mengantisipasi segala hal buruk yang bisa menyulitkannya." Babah Liem merasa tersindir. Ia mulai sulit menahan emosi. "Mencari tahu atau menemui Mei Hwa, itu juga termasuk kemungkinan." Zainab sudah merasa cukup bersikap kooperatif. "Silakan Babah mengkaji segala kemungkinan. Bagi saya, kepastian lebih penting, termasuk memastikan anak tidak melawan orang tua!" Babah Liem melengos. Ia tidak terima disindir-sindir. Namun, ia tidak mau berdebat di rumah orang. Ia pun memilih pulang. "Baik, Kak. Kalau begitu saya pamit." Zainab mengangguk tanpa sudi menjawab dengan kata-kata. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN