Lapor Polisi

1207 Kata
Kedatangan Babah Liem di kantor kepolisian disambut senyum ramah petugas. Ia bermaksud melaporkan hilangnya Mei Hwa dengan membawa serta fotokopi kartu keluarga dan akte kelahiran anaknya. "Selamat pagi, Pak!" sapa petugas. "Ada yang bisa kami bantu?" "Selamat pagi, Pak!" jawab Babah Liem. "Saya mau melaporkan kehilangan anggota keluarga." "Anggota keluarga yang hilang statusnya apa, Pak?" tanya petugas. "Bapak membawa fotokopi kartu keluarga?" "Bawa, Pak." Babah Liem menyerahkan selembar foto kopi kartu keluarga dan akte kelahiran Mei Hwa. "Namanya Mei Hwa. Status anak." Petugas memeriksa fotokopi KK, mencari nama yang disebut pelapor, kemudian mencocokkan dengan akte. "Sejak kapan bapak merasa kehilangan?" "Sejak kemarin pagi anak saya tidak ada di rumah, padahal malamnya masih ada di kamar." "Baik, saya catat." Petugas mengisi data-data berkas laporan. "Bapak bernama Liem Ho Kun?" "Iya, Pak." Petugas kembali mencatat. "Sejauh ini bapak sudah berusaha mencari keberadaan anak bapak?" "Sejauh ini, saya sudah menghubungi teman-teman anak saya yang saya tahu," jawab Babah Liem. "Saya juga sudah menghubungi beberapa kerabat yang sekiranya akan dikunjungi anak saya, tapi hasilnya nihil." Petugas menunjukkan simpati. Senyumnya berusaha menenangkan Babah Liem. "Apa anak bapak menunjukkan sikap aneh atau semacamnya sebelumnya?" Babah Liem menunduk sedih. Sebenarnya ia tidak ingin membuka masalah keluarga, tetapi demi memudahkan proses pencarian ia terpaksa menceritakan dari awal tentang hubungan Mei Hwa dengan Ayek dan perihal dirinya yang tidak menyetujui hubungan tersebut. "Ayek itu nama lengkapnya siapa?" tanya petugas. "Saya tidak tahu, Pak. Dia baru menjadi tetangga sekitar dua bulanan." "Ayek itu tetangga bapak?" Babah Liem mengangguk. "Rumahnya persis di belakang rumah saya." "Bapak punya masalah dengan Ayek?" Babah Liem menggeleng. "Enggak, Pak. Tapi saya curiga dengan anak itu" Petugas mengerjap. "Curiga bagaimana, Pak?" "Saya takut dia menyembunyikan anak saya." Petugas tersenyum. "Jadi begini, Pak. Meskipun bapak mencurigai keterlibatan orang lain atas hilangnya anak bapak, kami tetap menggunakan asas praduga tak bersalah. Jadi, biar kami proses laporan bapak, kemudian akan melakukan langkah-langkah sesuai standar operasional prosedur." Babah Liem mengangguk paham. "Baik, pak." Petugas menyodorkan berkas. Jarinya menunjuk ke salah satu titik pada berkas tersebut. "Silakan bapak tanda tangani laporan di sini." Babah Liem menandatangani laporan. "Silakan bapak menunggu di rumah. Kami akan menindaklanjuti laporan bapak." "Iya, Pak, terima kasih." Babah Liem mengulurkan tangan. "Saya pamit dulu." Petugas menjabat tangan Babah Liem. "Sama-sama, Pak." *** Ayek ke pasar, bukan untuk berbelanja, tetapi untuk bertemu Marno. Ia ingin tahu siapa yang membayar orang itu untuk memata-matainya. Sepuluh menit ia memperhatikan gerak-gerik Marno dari sebuah warung makan di dalam pasar. Posisi warung cukup dekat dengan gudang beras, tempat Marno bekerja saat ini. Entah sudah berapa kali Marno bolak-balik mengambil beras dari truk kemudian meletakkannya ke dalam gudang. Namun yang pasti Ayek sabar menunggu waktu yang tepat untuk menemui kuli pasar itu. Sambil menikmati segelas es teh dan gorengan, Ayek terus memperhatikan Marno. Meskipun matanya tak lepas dari kegiatan bongkar barang tersebut, tapi pikiran dan hatinya terus berkutat pada menghilangnya Mei Hwa. Sehari semalam tanpa Mei Hwa terasa hampa bagi Ayek. Mulanya ia merasa rindu, lantas kehilangan, kini semua rasa itu bercampur kesal. Ia tak tahu mana yang lebih dominan, yang ia tahu hidupnya mendadak hambar. Ayek rindu saat Mei Hwa mengernyitkan dahi. Itu ekspresi paling ia sukai dari gadis itu selain tersenyum. Tiba-tiba ia takut tidak bisa melihatnya lagi. Itu membuatnya kesal. Kesal pada diri sendiri kenapa tidak bisa menemukan keberadaan Mei Hwa, juga kesal pada gadis itu yang menghilang begitu saja. Pada saat-saat hatinya pada puncak gelisah seperti ini, ia merasa tidak dianggap. Namun Ayek tidak ingin berprasangka buruk. Ia terus memelihara prasangka baik, bahwa Mei Hwa baik-baik saja di suatu tempat yang aman dan karena sesuatu hal belum bisa menghubunginya. Usaha yang Ayek lakukan sudah maksimal. Ia tak mengenal teman-teman Mei Hwa. Itu menyulitkannya untuk mendapatkan kemungkinan-kemungkinan. Kemungkinan yang bisa Ayek pikirkan adalah Mei Hwa pergi ke Jakarta menemui Norman. Ibaratnya sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Sambil melakukan aksi protes, gadis itu sekalian mengajukan lagu projek kolaborasi mereka. Begitu analisa Ayek. Alamat kantor perusahaan Norman sudah Ayek catat, lengkap dengan nomor teleponnya. Ia mendapatkannya dari Google. Hanya saja, ia harus berpikir dua kali jika ingin pergi ke sana. Belum tentu Mei Hwa ke Jakarta. Pembongkaran barang baru saja selesai. Terlihat Marno berjalan menuju warung. Buru-buru Ayek membalik badan, pura-pura menikmati es teh. "Es teh satu, Mbok!" teriak Marno kepada pemilik warung. Ia melepas ikat kepala dan menggunakannya untuk berkipas-kipas. Keringatnya bercucuran. Marno belum menyadari keberadaan Ayek. Ia terlalu lelah, lebih sibuk mengatur napas. Ayek tidak ingin mencari keributan, tapi ia telah siap menghadapi segala kemungkinan, termasuk bela diri. Ia pernah menjadi anak jalanan sehingga paham benar situasinya. Segelas es teh baru saja mendarat di atas meja depan Marno. Lelaki itu langsung menenggaknya, menyisakan separuh airnya. Tampak sekali ia sangat kehausan. Selepas Marno mencomot gorengan dari atas piring, Ayek mendekatinya. "Masih ingat aku?" tanya Ayek. Marno gelagapan. Wajahnya pucat. Ia kaget bukan main. Gorengan di tangan urung ia masukan mulut. "Kamu siapa?" Marno berlagak tidak kenal. "Burung Hantu!" Ayek terkekeh sinis. "Aku ke sini baik-baik, Mas. Aku cuman pengen tau siapa yang menyuruh sampeyan." "Aku nggak paham maksud kamu!" Marno menggigit gorengan kuat-kuat, mengunyahnya dengan ekspresi marah. Ia pikir itu akan mengintimidasi Ayek. Ayek berusaha tenang dan bersikap persuasif. "Aku tahu kamu disuruh seseorang." Marno memasang wajah galak. Ini wilayah kerjanya, banyak yang mengenalnya, membuatnya berani menggertak. "Aku nggak punya waktu buat meladeni orang nggak jelas sepertimu. Sebaiknya kamu jangan ganggu aku." Ayek tersenyum sinis. Gertak sambal macam itu sudah tidak mempan buatnya. "Bukannya kamu yang sudah mengganggu hidupku? Tapi aku paham, kamu melakukan itu demi uang. Kita nggak punya masalah pribadi, jadi aku punya penawaran bagus." Marno semakin sok galak. Ia pantang bernegosiasi dengan Ayek. "Diam lebih baik buatmu?" Ayek terkekeh. Nadanya mengejek. "Aku sudah tahu siapa majikanmu. Aku tanya cuman mau denger pengakuanmu saja. Dan, perlu kamu ketahui. Intelijen gadungan nggak bisa menembus intelijen beneran. Makanya, sampeyan nggak pernah berhasil satu kali pun. Hehehe." Panas hati Marno. Ingin sekali ia menjotos Ayek, namun ia harus berpikir dua kali untuk melakukannya. Menurut logikanya, orang yang berani di kandang lawan, biasanya bukan orang sembarangan. Ayek menatap Marno penuh intimidasi. "Sikapku tergantung sampeyan. Kalau kooperatif, aku akan lunak. Kalau tidak, aku bisa melakukan apa saja, termasuk membawa ke ranah hukum dengan tuntutan melakukan perbuatan tidak menyenangkan!" Marno menelan ludah. Ia termakan gertakan Ayek. Soal hukum, ia sedikit tahu. Dan ia menyadari perbuatannya bisa dikenai pasal. Tapi, ia pantang menampakkan ketakutan. "Tahu apa kamu soal hukum?" Ayek tertawa ngakak, memancing perhatian pengunjung warung. "Sampeyan beneran tanya? Oke, aku jawab nanti di kantor polisi!" Marno mematung. Ia ragu akan mempercayai ucapan Ayek atau tidak. Yang pasti ia tidak mau berurusan dengan hukum. Merasa di atas angin, Ayek mengepal tangan di atas meja untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak main-main. "Soal tuntutan gampang buatku, tinggal laporan, terus menunggu temenku di Polres bekerja. Tapi, aku nggak mau orang seperti sampeyan masuk sel. Targetku cuman majikan sampeyan." Marno goyah. Ia mulai mempercayai ancaman Ayek. "Begini saja." Ayek mengambil tisu dari dalam boks yang berada di atas meja untuk mencatat nomor teleponnya. "Ini nomor telepon yang bisa dihubungi kapan pun siap ngasih tahu siapa majikan sampeyan. Tapi hanya berlaku dua kali dua puluh empat jam." Marno diam. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menyembunyikan perasaan takut. Ayek menatap Marno puas. Wajah lelaki itu tampak pucat. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN