Mei Hwa menimang-nimang ponselnya. Sejak tadi ia bimbang akan mengaktifkannya atau tidak. Jika menuruti perasaan, ia ingin menelepon Ayek. Betapa ia rindu suara kekasihnya itu. Namun, jika ia melakukannya, sudah pasti keluarganya akan menghubunginya juga.
Perasaan bersalah kepada Ayek terus menguasai hati Mei Hwa sejak meninggalkan rumah. Bahkan ketika kereta sampai di Stasiun Pasar Senen, ia sempat ingin kembali lagi ke Slawi. Jika tidak ingat tujuannya ke Jakarta, barangkali sekarang ia sudah berada di rumah.
Selain ingin protes kepada kedua orang tuanya, Mei Hwa juga bermaksud menemui Norman untuk menunjukkan hasil lagu-lagu hasil kolaborasinya dengan Ayek. Ia berharap, produser kenamaan tersebut tertarik dan mau memasarkannya.
Tujuh belas menit sudah ia menunggu di lobi. Semalam ia menelepon menggunakan ponsel temannya, janji bertemu Norman hari ini jam sepuluh siang. Sekarang sudah pukul 10:07 wib, namun Noman belum menemuinya.
Kata sekretarisnya, Norman sedang ada meeting. Untuk itu Mei Hwa bersabar menunggu. Toh baru lewat beberapa menit, gumamnya menghibur diri.
Pintu ruang kerja Norman terbuka. Hati Mei Hwa bersorak, berharap Norman yang keluar. Namun ia harus menanggung kecewa karena yang keluar dari pintu adalah lima lelaki muda seumuran dengannya. Dari penampilan mereka, ia menebak mereka adalah anak band.
Mei Hwa kembali menimang ponselnya. Hatinya kian gamang. Nyaris saja ibu jarinya menekan tombol power jika tidak ingat dirinya sedang memperjuangkan dua impian saat ini; kesuksesan bersama Ayek di musik dan orang tuanya merestui hubungan mereka.
"Sudah berapa lama menunggu?" Lelaki berusia empat puluh lima tahun berdiri di hadapan Mei Hwa.
Mei Hwa mendongak. "Om Norman!" pekiknya senang. Ia nyaris memeluk Norman.
"Apa kabar, Mei?" Norman mengulurkan tangan.
"Baik, Om!" Mei Hwa menjabat tangan Norman. "Om baik juga kan?"
"Baik juga." Norman duduk di sofa, bersebelahan dengan Mei Hwa. "Kamu makin cantik saja."
Mei Hwa tersipu. "Aku sudah bukan daun muda lagi, Om. Hehehe."
Norman tertawa ngakak. "Tadi kulihat wajahmu ditekuk begitu, sampai kedatanganku pun kamu nggak tahu."
Mei Hwa tersenyum meledek. "Habis Om telat sih!"
Norman mengerjap. Ia melirik jam di dinding. "Cuman berapa menit udah segitu betenya."
Mei Hwa mencibir. "Dulu kalau Mei telat dua menit aja, Om langsung marah!"
Norman tertawa. Spontan ia teringat kembali dulu waktu masih mengajar kelas piano. Ia sangat tegas menerapkan disiplin.
"Coba dulu selepas SMA kamu kulaih di Jakarta, pasti Om tawarin kamu jadi pengajar."
Mei Hwa mengernyit. "Bosan sama Jakarta. Ini aja kalau nggak kangen sama Om males bela-belain naik kereta berjam-jam. Udah gitu naik taksi online, kejebak macet, sampai di tujuan ternyata rumah temenku udah pindah."
Norman tertawa ngakak. "Memangnya kamu nggak nelepon dulu?"
Mei Hwa menggeleng sambil memasang wajah cemberut. "Ceritanya mau kasih kejutan. Eh, ternyata dia udah pindah sejak lama, nggak bilang-bilang pula. Padahal nih ya, Om, kita biasa komen-komenan di Instagram."
"Terus, ketemu sama rumah barunya?"
Mei Hwa mengangguk. "Lebih tepatnya apartemen!"
"Syukurlah!" Norman geleng-geleng kepala. "Kamu masih ceriwis saja, Mei."
Mei Hwa mengerjap. Ia juga merasa heran dengan dirinya sendiri yang mendadak ceriwis begitu sampai Jakarta.
Dulu selama di Jakarta, Mei Hwa terkenal sebagai pribadi yang ceria, ceriwis, dan enerjik. Ia merasa bebas, tidak terbebani aturan ketat ayahnya.
Mei Hwa hanya tampak ceria di hadapan teman-teman SMA dan teman kursus saja. Waktu kuliah ia kembali menjadi pendiam. Kampusnya hanya berjarak sepuluh kilometer. Tidak ada alasan baginya untuk kos.
"Malah melamun!" tegur Norman.
Mei Hwa tersenyum malu. "Aku punya lagu, Om." Ia merogoh tas, mengambil sebuah flashdisk.
Norman mengerjap. "Oke, kita putar di ruanganku."
***
Ada satu hal yang tidak terpikir oleh Ayek tetapi kini ia sesali, yaitu meminta tolong Sandi untuk mengecek keberadaan Mei Hwa di tempat Norman. Anak itu sudah terlanjur berangkat ke Jakarta sejak pagi.
Bisa saja Ayek menyampaikannya lewat telepon, tapi malas. Pasti Sandi akan bertanya macam-macam, ia malas menceritakannya dari awal. Lagi pula ia tidak mau membebani temannya itu.
Mundurnya Sandi dan Kosim, otomatis membuat band bubar. Ayek tidak berminat untuk meneruskannya. Padahal Sandi merelakan basecamp dan studio jika ada yang mau meneruskan ASK Band.
Seharian ini Ayek berada di basecamp. Menyapu, mengepel, dan membersihkan setiap sudut ruangan. Ia berharap selepasnya akan lelah, kemudian bisa tertidur lelap. Namun kenangan demi kenangan yang berdesak di benaknya memaksanya tetap terjaga.
Kehilangan orang-orang yang dicintai dalam waktu bersamaan ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, kesiram cat pula. Pedih, sesak, dan sakit, itu yang Ayek rasakan saat ini.
Baru Ayek sadari, memainkan gitar sambil melamun telah membuatnya tanpa senja menciptakan senandung. Lagu tanpa lirik itu adalah ungkapan dari hatinya yang terdalam.
Tiba-tiba Ayek terbersit untuk menuliskan liriknya. Ia memang terbiasa mengabadikan momen-momen tertentu dalam sebuah lagu. Begitupun perasaan sedih ditinggal kekasih dan sahabat-sahabat terbaiknya yang ia alami saat ini.
Hanya butuh waktu kurang dari satu jam saja bagi Ayek untuk menyelesaikan lagu itu. Tak lupa ia merekamnya menggunakan kamera standar yang biasa dipakai ASK Band. Setelahnya, lagu dengan iringan gitar itu pun diunggah ke i********: dengan tag akun Norman.
Berjarak ratusan kilometer dari basecamp، Norman baru saja selesai mendengarkan lagu-lagu yang dari Mei Hwa.
Menurut Norman, lagu-lagu itu bagus dan berkelas. Ia menyukai sentuhan piano Mei Hwa yang dipadukan dengan irama rock. Cukup idealis, hanya saja ia masih harus berpikir panjang untuk memasarkannya. Lagu-lagu itu kurang komersil.
Penat terlalu lama mendengarkan musik, Norman membuka aplikasi i********:. Alih-alih pikirannya menjadi segar, Norman menjadi pusing melihat komentar-komentar dari para haters dan orang-orang yang promosi dagangan di postingannya.
Beruntung masih ada pemberitahuan menarik. Ada tiga postingan lagu yang tag akun Norman. Lagu pertama dari band SMA yang manggung di pensi. Penampilan mereka bagus, sayangnya membawakan lagu orang.
Lagu kedua hanya diiringi gitar akustik, sederhana tapi si penyanyi membawakannya dengan penuh penjiwaan. Norman ingin menikmatinya, tapi ia mulai mengantuk.
Baru saja mata Norman terpejam, tapi sebuah panggilan telepon mengagetkannya.
"Hallo," sapa Norman malas.
"Hallo, Om," jawab Mei Hwa.
"Nomor kamu ganti lagi?"
"Ini nomor temen, Om," ujar Mei Hwa. "Kemaren malem juga pake nomor ini."
"Begitu ya? Om belum simpan nomornya."
"Gimana lagunya Om?" tanya Mei Hwa berharap-harap cemas. Ia punya harapan besar lagu-lagu kolaborasinya dengan Ayek bisa diterima Norman untuk dipasarkan dalam label milik produser terkenal tersebut.
Norman terkekeh. "Barusan Om dengerin, jadi belum bisa ambil keputusan sekarang."
"Oke, nggak apa-apa, Om," ujar Mei Hwa. "Aku tunggu kabarnya ya?"
"Oke!"