Olah TKP

1005 Kata
Dua orang anggota polisi mendatangi TKP، menindaklanjuti laporan Babah Liem. Mereka melakukan olah tempat kejadian perkara dengan memeriksa kamar Mei Hwa dan pintu belakang rumah. "Kemungkinan anak saya keluar melalui pintu ini, Pak." Babah Liem menunjuk pintu rumahnya kepada petugas kepolisian. "Pagi-pagi, saya mendapati pintunya tidak terkunci, padahal sebelum tidur saya menguncinya." Petugas satu mencatat keterangan Babah Liem. Petugas dua sedang meneliti sebuah jejak di belakang rumah. "Bapak punya mobil?" tanya petugas dua. "Punya, Pak," jawab Babah Liem. "Apa bapak pernah markir mobil di belakang rumah?" Petugas dua meneliti jejak roda yang sudah kering. Dari bentuk dan ukurannya itu roda mobil. Ia yakin itu jejak mobil parkir karena posisinya mepet rumah, atau paling tidak mobil sedang berhenti sementara. "Enggak, Pak." "Jalan ini sering dilewati mobil?" "Tidak, Pak. Paling orang kampung sini saja yang lewat, itu pun jarang." "Kalau mobil parkir di belakang rumah, apa bapak pernah melihat?" Babah Liem menggeleng. "Saya belum pernah melihat ada mobil parkir di belakang rumah, Pak. Kalau berhenti sebentar karena ada kendaraan dari lawan arah itu biasa karena jalan sempit." Petugas dua menganalisa, kalau mobil sekadar berhenti sejenak, tidak akan terlalu mepet rumah Babah Liem. Ia yakin, mobil itu parkir, meskipun cuma sebentar. Petugas satu mencatat. Petugas dua memfoto bekas jejak ban mobil. Babah Liem terus mengikuti petugas kepolisian. Sementara dari balik gorden, Zainab memperhatikan kegiatan mereka dengan perasaan gelisah. Polisi mendatangi rumah Babah Liem, pasti urusannya cukup gawat, begitu pikir Zainab. Ia tidak mau Ayek dilibatkan dalam masalah itu. Anaknya tidak pernah bertingkah aneh-aneh. Ia tidak akan terima jika Babah Liem mengaitkan kepergian Mei Hwa dengan anaknya. Kegelisahan Zainab makin menjadi ketika ia melihat Babah Liem menunjuk rumahnya kepada kedua petugas kepolisian. Mereka bercakap-cakap sambil memandang rumahnya. Ingin sekali Zainab mencakar wajah Babah Liem yang tega menyeret anaknya ke dalam masalah internal keluarga mereka. Ia jengkel, seharusnya lelaki tua keras kepala itu interospeksi, bukan mengkambinghitamkan orang lain. Zainab terus mengintip kedua petugas kepolisian dari balik gorden. Jantungnya berdetak serasa mau berhenti ketika kedua polisi berjalan menuju rumahnya. Buru-buru Zainab menjauh dari kaca jendela. Ia tetap akan menghadapi kedua petugas tersebut, yang penting urusan segera selesai. Kedua petugas mengetuk pintu. Zainab mengatur napas, mencoba menenangkan diri. Setelah merasa siap, ia membuka pintu. "Selamat pagi, Bu!" sapa petugas satu ramah. "Selamat pagi," Zainab memandang kedua petugas secara bergantian. "Ada perlu apa, Pak?" Petugas satu tersenyum ramah. "Mohon maaf, boleh meminta waktu ibu sebentar? Ada yang perlu kami tanyakan." "Soal apa ya, Pak?" Zainab sengaja tidak mempersilakan kedua tamunya duduk. Melihat kegelisahan di wajah Zainab, petugas dua tanggap. "Maaf, Bu. Kami hanya ingin bertanya saja, tidak ada maksud lain." Zainab melunak. Meskipun belum sepenuhnya lega, tapi setidaknya ia hanya perlu menjawab pertanyaan saja, tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya, rumahnya akan digeledah kepolisian. "Silakan duduk, Bapak-Bapak." Kedua petugas duduk. Karena di teras hanya ada dua kursi, maka Zainab mengambil satu kursi lagi dari dalam. "Apa yang ingin bapak tanyakan?" tanya Zainab tidak sabar. Ia ingin segera menjawab semua pertanyaan dan urusan selesai. "Begini, Bu." Petugas satu menjelaskan. "Kami dari kepolisian mendapatkan laporan hilangnya putri Bapak Liem. Untuk mengungkap jejak, kami membutuhkan keterangan berbagai pihak, termasuk saudara Ayek." Nama anaknya disebut polisi membuat d**a Zainab panas. Ia yakin itu gara-gara Babah Liem. "Kenapa anak saya dibawa-bawa, Pak? Dia tidak tahu apa-apa soal perginya Mei Hwa." Petugas satu tersenyum bijak. "Iya, Bu. Kami paham. Justru karena itulah kami butuh keterangan ibu." Zainab menurunkan emosi, istighfar dalam hati. "Apa Ayek di rumah?" tanya petugas satu. "Dari semalam menginap di basecamp, Pak." Zainab menggerutu, kenapa setiap kali ada yang menanyakan, posisi Ayek selalu berada di luar rumah. Kemarin malam Babah Liem, sekarang petugas kepolisian. "Baik, kalau begitu saya ingin bertanya sama ibu." Petugas satu memandang Zainab. "Sejauh mana ibu tahu hubungan antara Ayek dan Mei Hwa?" "Ayek bilang sama saya mau melamar Zainab. Berarti dia serius," jawab Zainab. "Ibu tahu kalau Pak Liem tidak menyetujui hubungan mereka?" "Tahu," jawab Zainab. "Tapi, kepergian Mei Hwa tanpa sepengetahuan anak saya, Pak!" Petugas satu mengangguk paham. "Baik, Bu. Terima kasih atas kerjasamanya." Petugas dua menyela. "Kami masih membutuhkan keterangan dari saudara Ayek. Saya minta kerjasama ibu untuk meminta anak ibu memberi keterangan di kantor polisi. Ibu pasti ingin masalah ini cepat selesai bukan?" Zainab mengangguk. "Baik, Pak." *** Semalam Ayek menginap di basecamp. Itu kali terakhir menginjakkan kaki di sana. Meskipun belum resmi bubar, tapi band sudah sulit dipertahankan. Ayek mematikan lampu-lampu. Dengan langkah cuek, ia menjauh dari basecamp. Ia enggan menoleh untuk yang terakhir kali karena baginya itu akan menyesakkan. Taksi online yang Ayek pesan belum sampai, ia pun sengaja menunggu di ujung perempatan, jauh dari basecamp. Selepas ini Ayek akan membuka lembaran baru. Jika masih di dunia musik, ia tidak ingin lagi berada di band. Ia ingin lepas, bebas, tidak terikat tetapi penuh kreativitas. Kadang Ayek ingin keluar dari dunia musik. Selain jenuh, ia juga ingin berkecimpung di dunia usaha. Sayang, keinginan itu hanya menjadi keinginan semata, tidak ada langkah-langkah untuk merealisasiskannya. Sering Ayek berandai-andai, jika dirinya punya usaha, barangkali Babah Liem tidak akan sekeras itu menentang hubungan cintanya dengan Mei Hwa. Namun, ia tidak mau berspekulasi. Ia sadar, banyak faktor kenapa seseorang tidak menyukai orang lain. Ponsel berdering. Ayek melirik layar. Rupanya ibunya yang menelepon. Ayek menjawab panggilan. "Assalamu alaikum." "Wa alaikum salam," jawab Zainab. "Kamu di mana, Yek?" "Di basecamp, ini mau pulang, udah order taksi online." "Tadi ada dua polisi ke rumah, nanyain kamu." Ayek menahan napas kaget. Akhirnya apa yang ia khawatirkan terjadi. "Hadapi saja, Yek!" Suara Zainab naik satu oktaf. "Kamu nggak bersalah, jangan takut!" "Iya, Ummi!" "Kamu anak laki-laki, hadapi masalah ini secara laki-laki!" Kata-kata Zainab melecut semangat dan keberanian Ayek. "Iya, Ummi. Ayek akan hadapi." "Bagus!" puji Zainab. "Kamu sudah sarapan?" "Belum." "Sarapan di rumah saja. Setelah itu kita ke kantor polisi bersama," nasehat Zainab. "KITA?" "Iya, kenapa?" "Tapi Ummi bukan laki-laki," goda Ayek, sekadar cara mengalihlkan perasaan takut akan menghadapi polisi. "Ummi ibunya para laki-laki! PAHAM?" Ayek tertawa malas. "Iya, tapi anak Ummi cuman satu!" "Terserah Ummi!" Ayek menepuk jidat. Ibunya kalau sedang bersemangat, tak ada yang bisa menyurutkan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN