Marno sudah tidak bekerja lagi untuk Babah Liem. Ia dipecat gara-gara pekerjaannya tidak pernah becus. Laporannya selalu tidak akurat. Intinya dia gagal total.
Meskipun begitu Marno masih harus menanggung akibat dari pekerjaannya. Kemarin Ayek yang notabene sebagai target memberinya ultimatum: memberi tahu nama orang yang membayarnya atau dilaporkan ke polisi atas perbuatan tidak menyenangkan.
"Siapa Ayek sampai harus dimata-matai?" tanya Marno pada diri sendiri. Pertanyaan itu selalu terngiang-ngiang di telinganya. Yang membuatnya semakin penasaran adalah anak itu selalu berhasil lolos.
Masih tersimpan jelas dalam benak Marno, bagaimana Ayek bisa lolos dari pengamatannya, padahal jelas-jelas ia melihat sendiri anak itu masuk studio. Ia sudah memeriksa semua ruangan dan toliet, tapi tidak berhasil menemukannya.
Ada tiga kegagalan paling sulit Marno lupakan. Meskipun kesal, tapi ia mengakui kehebatan Ayek, yang bukan hanya berhasil lolos, tapi juga sukses memperdayainya.
Kegagalan pertama adalah ketika ia mengikuti Ayek menuju sebuah rumah. Di sana ia mengawasi dari luar. Berjam-jam ia bersabar, menunggu anak itu keluar. Namun, alih-alih berhasil mengikuti anak itu, ia justru dicurigai akan berbuat jahat oleh anak-anak remaja di sana. Ia sampai harus berurusan dengan ketua RT. Bukan hanya itu saja, sepeda motornya juga rusak.
Kegagalan kedua adalah yang paling memalukan buat Marno. Sampai sekarang ia tidak habis pikir bagaimana bisa Ayek dan Mei Hwa tidak ada di dalam mobil yang menuju ke hotel. Ia dengan yakin melihat kedua sepasang kekasih itu masuk mobil, tapi ketika sampai di hotel, jejak mereka tidak ada, bahkan belakangan ia tahu kalau Ayek dan Mei Hwa berada di studio.
Kegagalan ketiga tidak begitu memalukan, tapi mengesalkan. Bagaimana tidak, ia mengikuti ke mana pun mobil yang ia duga dikemudikan Ayek, namun ternyata bukan. Jelas-jelas ia sedang dipermainkan.
Satu-satunya keberhasil Marno hanya ketika berhasil mengabadikan momen Ayek dan Mei Hwa berpelukan di bawah air terjun Guci.
Perihal ultimatum Ayek, Marno juga tidak akan menganggap remeh. Anak itu terbukti selangkah lebih maju cara berpikirnya ketimbang dirinya.
"Justru karena cerdas itulah aku yakin dia hanya menggertak!" ujar tukang parkir berpendapat setelah mendengar cerita tentang Ayek. "Buat apa dia menuntutmu, nggak ada untungnya buat dia."
"Kalau aku dipenjara, memang nggak ada untungnya buat dia, tapi dengan menuntutku ke polisi, otomatis aku akan ditekan buat menyebut nama orang yang membayarku!" sanggah Marno.
"Kalau begitu beritahu saja siapa nama orang yang membayarmu. Cari aman sajalah!" saran tukang parkir.
"Tapi aku sudah disumpah nggak boleh menyebut nama orang yang membayarku." Marno gelisah. Sungguh ia tidak menyangka, resiko menjadi intelijen ternyata lebih rumit dari yang dibayangkannya.
"Kalau begitu, coba selediki, ancaman anak itu beneran atau cuman gertakan."
Pikiran Marno langsung cerah mendengar saran si tukang parkir, temannya.
Maka di sinilah Marno. Ia sedang melajukan Honda Beat putih, membuntuti taksi online yang ditumpangi Ayek. Ia harus mencari tahu siapa sebenarnya anak itu, agar ia bisa mengambil kesimpulan apakah ancaman anak itu benar atau cuma gertakan.
Kali ini Marno lebih hati-hati. Ia menyamarkan penampilan. Rambut gondrong ia tekuk dan tertutup helm. Bajunya ala anak kuliahan, bukan tampilan anak jalanan seperti sebelumnya.
Penyamaran itu berhasil. Ayek tidak tahu sedang dibuntuti Marno. Matanya memandang kosong ke plafon mobil. Pikirannya kacau, hatinya tidak keruan. Baru kali ini ia akan memberikan keterangan kepada polisi. Itu cukup membuatnya gelisah.
Beruntung, Ayek berhasil membujuk ibunya untuk tidak ikut ke kantor polisi. Jika tidak, pasti bebannya bertambah. Ia juga tidak mau menyusahkan ibunya.
"Berhenti di luar saja, Pak!" ujar Ayek kepada pengemudi taksi online.
"Baik, Mas." Pengemudi taksi online memberhentikan mobilnya tidak jauh dari pintu gerbang kantor polisi.
Setelah membayar jasa taksi online, Ayek berjalan menuju pintu gerbang kantor polisi dengan langkah gontai. Dari seberang jalan, Marno memperhatikannya sambil berpikir keras.
"Jangan-jangan dia beneran mau lapor polisi. Gawat!" Marno segera mengambil ponsel dari saku celana. Dicarinya kontak Ayek, dengan panik ia meneleponnya.
Ponsel berdering. Ayek merogoh saku baju. Sebuah panggilan telepon dari nomor tidak dikenal membuat hatinya bersorak. Ia berharap itu dari Mei Hwa.
"Halo!" sapa Ayek, berharap-harap cemas.
"Mmhh, aku Marno."
Ayek ingat pernah memberi nomor telepon pada Marno. Ia tersenyum senang, meski belum tentu akan memberi tahu siapa orang yang membayarnya, tetapi dengan menelepon sudah mengindikasikan Marno mengindahkan ultimatumnya.
"Aku akan kasih tahu orangnya, tapi enggak sekarang." Marno sengaja mengulur waktu, paling tidak menahan Ayek untuk tidak ke kantor polisi.
"Terserah sampeyan mau ngasih tahu atau enggak. Terserah aku juga dong, mau menuntut sampeyan atau enggak. Simpel kan?" Ayek berkata sambil setengah berteriak sambil terus melangkah, memasuki area kantor polisi.
Panggilan telepon masih terhubung, tapi Ayek sengaja menyimpan ponselnya di saku. Ia menemui petugas jaga, bertanya beberapa hal, kemudian menuju sebuah ruangan penyidikan.
Tenggorokan Marno tercekat. Lidahnya kelu. Lututnya lemas. Tangannya memegang ponsel dengan gemetar. Ayek sudah berada di dalam kantor polisi. Ia harus segera menahannya, sayang ucapannya tidak mendapat respon.
Marno panik. Ia membiarkan sepeda motornya terparkir di bawah pohon kersen. Ia menyeberang jalan, masuk ke kantor polisi. Sayang, ia kehilangan jejak Ayek.
Ayek sudah berada di sebuah ruangan. Ia disambut ramah oleh salah satu petugas yang kemarin melakukan olah TKP.
"Selamat siang, Pak!" sapa Ayek.
"Selamat siang," jawab petugas. "Silakan duduk!"
"Saya Ayek. Ke sini mau memberikan keterangan yang mungkin diperlukan." Ayek sedikit grogi.
"Silakan!" Petugas bersiap mencatat.
Ayek menceritakan semua yang berhubungan dengan Mei Hwa, mulai dari projek kolaborasi musik, dimata-matai orang, sampai peristiwa dirinya tertangkap basah oleh Babah Liem, sedang berduaan dengan Mei Hwa.
Ayek meyakinkan petugas dirinya tidak mengetahui perihal kepergian Mei Hwa. Setelah menjelaskan semua, ia diperbolehkan pulang.
Ada perasaan lega dalam hati Ayek setelah memberikan keterangan di kantor polisi. Setidaknya ia tahu bahwa Babah Liem tidak melaporkannya ke polisi, hanya memberikan informasi yang terkait dengan Mei Hwa, termasuk menjelaskan hubungannya dengan dirinya.
"Mas!" panggil Marno begitu melihat kedatangan Ayek. Sejak tadi ia menunggu di dekat pos jaga.
Ayek melirik sekilas, lantas melenggang tak acuh kepada Marno. Dalam hati ia teryawa geli melihat wajah pucat lelaki itu.
Marno mengejar Ayek. "Aku antar pulang, Mas!"
Ayek pura-pura tak mendengar.
"Baik, aku sebut orangnya sekarang." Marno menyerah. "Tapi jangan seret aku ke polisi."
Ayek menatap Marno. "Pengakuanmu sudah terlambat!"
Marno menghalangi jalan Ayek. Wajahnya memelas. "Tolong, Mas. Jangan libatkan saya. Kalau sudah lapor, mohon cabut. Kasihan ibu saya kalau saya dipenjara."
"Jangan berbohong atas nama ibu!"
Marno menangis, seperti anak kecil. "Beneran, Mas. Saya tulang punggung keluarga."
Ayek tidak tega. "Oke, aku akan cabut laporan besok. Kalau sekarang nanti dikira mempermainkan petugas."
Wajah Marno semringah. Ia merasa lega. "Terima kasih, Mas."
Ayek menatap Marno tajam. "Aku melakukannya karena ibumu. Jadi sampeyan juga harus meminta maaf sama ibuku dan jelaskan semua soal tugas intelijen sampeyan sama beliau."
Marno mengangguk pasrah. "Iya, Mas."