Kecewa

1007 Kata
Norman memencet tombol stop pada remot DVD player. Lagu pun berhenti. Ia memandang Mei Hwa yang duduk di depan meja kerjanya. "Gimana, Om?" tanya Mei Hwa berharap-harap cemas. Sejak lagunya diputar, tatapannya fokus pada mimik Norman, mencoba menerka isi hati berdasarkan ekspresi wajahnya. Tapi, produser itu sulit ditebak, pandai menyembunyikan gejolak perasaan dengan senyuman. Norman mengatupkan bibir, mencari kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Mei Hwa. "Ini pertama kali aku duet," ujar Mei Hwa. "Aku sama partnerku bekerja keras buat mencari nada dasar yang ideal biar kami bisa selaras." "Nggak ada masalah di vokal," sahut Norman. "Porsi duet vokal kalian pas. Nggak ada yang lebih menonjol. Kalian bisa menutup kekurangan satu sama lain." Hati Mei Hwa berdebar. Norman kalau awalnya memuji biasanya ending-nya mengkritik, tapi kalau awalnya mengkritik, endingnya belum tentu memuji. "Selama delapan tahun ini aku menunggu progres kamu. Dengan waktu selama itu, aku berharap cara kamu bermusik lebih matang, kalau perlu lebih dari ekspektasiku." Norman menatap Mei Hwa serius. Kedua jari-jemarinya saling berkait. Mei Hwa menunggu kelanjutan ucapan Norman dengan hati berdebar-debar. "Kalau kamu sadari, dulu aku lebih keras pada anak yang kuanggap punya kualitas." Norman menegakkan badan, menatap Mei Hwa lekat-lekat. "Itulah kenapa aku lebih sering mencari kesalahan-kesalahanmu ketimbang memuji. Itu karena kuanggap kamu punya kemampuan lebih dari yang kamu perlihatkan." Perasaan Mei Hwa seperti sedang ditarik-ulur. Yang ia tunggu adalah sikap Norman, mau menerima lagu-lagunya atau tidak, tapi ucapan guru musiknya itu muter-muter. Ia maklum, produser musik itu kerap kali menjadi juri pada kontes musik di televisi. Sehingga ketika berafa di forum lain, masih terbawa gaya komentarnya. "Namun ternyata kamu sudah melampaui ekspektasiku!" Mei Hwa menarik napas lega mendengar pujian Norman. Namun ia belum mau menunjukkan perasaan senang. Norman belum selesai mereview lagu-lagu yang ia ajukan. "Sejujurnya, dari ketiga lagu yang kamu ajuin, tidak ada satu pun yang tidak aku sukai." Mei Hwa berusaha mencerna baik-baik ucapan Norman, namun karena kalimat itu diucapkan dengan tempo cepat, ia belum yakin dengan maksud lelaki itu. Norman tertawa melihat wajah bingung Mei Hwa. "Kamu paham nggak maksudku?" Mei Hwa tersenyum ragu. "Maksud Om Norman gimana?" Pelan-pelan, Norman meletakkan punggung ke sandaran kursi. "Cara bermusikmu sangat matang. Aku suka lagu-lagumu." "Alhamdulillah!" pekik Mei Hwa tertahan. Wajahnya semringah. Gurat-gurat ketegangan di dahi sirna. Seolah beban di pundaknya telah berkuramg separuh. Norman menunduk. "Tapi selera musikku beda dengan selera pasar saat ini." Baru saja hati Mei Hwa merasa senang, tiba-tiba harus kecewa dengan pengakuan Norman. Norman memandang Mei Hwa dengan sorot menyesal. "Musik kamu kental sekali dengan idealisme. Bagus. Aku apresiasi itu. Bagaimana dua kutub musik berlawanan bisa bertemu dalam nuansa yang manis itu menakjubkan. Tapi aku harus berpikir dua kali untuk melawan pasar." Mei Hwa mengangguk paham. Meski kecewa namun ia harus berbesar hati menerima kenyataan. Lagu-lagu hasil kolaborasinya dengan Ayek ditolak Norman. "Maaf, Mei." Norman berkata lirih. Mei Hwa tersenyum getir. "Iya, nggak apa-apa, Om." Norman berusaha membesarkan hati Mei Hwa. "Kalian luar biasa. Aku penasaran sama partner kamu. Sepertinya dia yang berhasil memberi nilai komersial pada komposisi musik kalian. Apa dia anak band?" Mei Hwa mengangguk. "Iya, Om. Dia seorang gitaris sebuah band, penulis lagu juga. Semua lagu itu karya dia. Aku hanya memberi warna lain pada komposisi lagunya." Norman mengangguk kagum. "Dia punya potensi besar di industri musik Indonesia." Perasaan kecewa Mei Hwa sedikit terobati. Pujian Norman kepada Ayek membuatnya bangga. "Sampaikan salamku padanya." Norman tersenyum bijak. "Sepertinya akan menarik kalau aku bisa diskusi soal musik rock dengannya." "Insya Allah, nanti aku sampaikan salam Om pada Ayek." Sepasang alis norman terangkat bersamaan. "Jadi nama partner kamu itu Ayek? Mei Hwa mengangguk sedih. Tiba-tiba terbersit rindu dalam hatinya pada Ayek. Rasa bersalahnya kepada kekasihnya itu kembali menyeruak. "Semangat dong!" Norman menatap mata Mei Hwa. Ia menyangka gadis itu bersedih karena lagunya ditolak. Mei Hwa tersenyum. "Iya, Om. Makasih atas apresiasinya. Aku selalu semangat kok." Norman mengacungkan kedua jempol. "Mantap!" "Kalau begitu aku pamit." Mei Hwa berdiri. Ia mengulurkan tangan kepada Norman. "Jangan kapok dengerin laguku lagi!" Norman berdiri, menjabat tangan Mei Hwa. "Aku tunggu. Jangan sungkan untuk ke sini lagi." Mei Hwa keluar ruangan kerja Norman dengan membawa beban berat dalam hati. Harapan lagu-lagu projeknya dengan Ayek bisa dipasarkan melalui label musik milik Norman sirna sudah. Padahal ia berharap lagu,-lagu itu sukses untuk menunjukkan kepada ayahnya bahwa musik juga dunia yang menjanjikan. *** Ayek memelototi layar ponsel. Pandangannya terfokus pada notifikasi pada aplikasi i********:. Sejak beberapa jam lalu, belum ada pemberitahuan terbaru. Jumlah viewer dan love pada postingan lagunya belum naik. Komentar pun hanya didominasi promo jualan, sekalinya ada yang memuji, bukan pada musiknya tapi pada gitarnya yang terbilang mahal. Memang Ayek tidak berharap banyak postingannya akan mendapatkan respon bagus. Hanya saja ia sedih karena itu menjadi indikasi dirinya belum siap bersolo karier. Lagu yang ia posting kemarin memang ia ciptakan spontan, dengan lirik yang spontan pula, direkam dengan menggunakan iringan gitar saja, tapi ia sering melihat lagu seperti itu banyak yang viral. Meskipun biasanya setelah itu, popularitas penyanyinya tenggelam lagi. Ayek sadar, akun medsosnya belum banyak pengikut. Selama ini ia lebih fokus dengan band. Sehingga pada saat band sudah tidak bisa diharapkan, ia harus membangun akun media sosial pribadi dari nol. Jika band bubar, praktis pendapatan Ayek terhenti. Padahal biaya yang ia tanggung cukup besar. Kalau perihal makan, usaha jualan kue ibunya masih mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tapi, angsuran bank lebih banyak ketimbang pengeluaran untuk makan. Itu sangat menggelisahkannya. Projek kolaborasi musik dengan Mei Hwa belum bisa diandalkan. Meskipun ia optimis, tapi projek belum bisa ia lanjutkan. Ia harus mencari usaha lain, atau paling tidak melamar pekerjaan. Melamar pekerjaan? Pertanyaan itu terasa menggelitik hati Ayek. Terjebak rutinitas membosankan, berangkat pagi, pulang petang, penghasilan pas-pasan, sungguh ia tak sanggup membayangkan. Jika harus melepaskan dunia musik, Ayek lebih tertarik berdagang atau mengembangkan usaha ibunya. Tapi ia masih harus mencari cara untuk mendapatkan modal. Nada notifikasi berbunyi, sebuah direct message masuk di akun Twitter. Ia baru sadar kalau dirinya masih menjadi admin akun ofisial ASK Band. Min, kok lama gak ada cuitan? Ayek tertegun, tidak tahu harus menjawab apa. Hatinya gelisah, jangankan berkicau, band masih eksis saja seperti mimpi baginya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN