"Ummi!" panggil Ayek pelan. Ibunya sedang duduk setengah mengantuk di kursi meja makan.
Zainab terkesiap. "Ada apa, Yek?"
Ayek duduk di sebelah ibunya. "Ayek mau ke Jakarta!"
Zainab mendengus pelan. "Mau apa ke sana?"
Ayek diam sejenak. Ia ragu untuk menjelaskan alasannya.
"Soal band?" tebak Zainab.
Ayek menggeleng. "Kemungkinan Mei Hwa ke sana."
"Kemungkinan?" Zainab mengelus rambut Ayek. "Memang kamu tahu Mei Hwa di Jakarta sebelah mana?"
Ayek menunduk pedih. Niatnya ke Jakarta lebih berdasarkan nekad. Tapi, ia merasa harus melakukan sesuatu.
"Lakukan apa yang menurutmu perlu," nasehat Zainab. "Tapi kamu harus mempertimbangkan dengan cermat resikonya."
"Ayek paham, Ummi." Zainab meraih jemari ibunya, kemudian meletakkannya pada dadanya. "Hati ini berkata Mei Hwa ada di sana."
Zainab terkekeh geli. "Jika kamu tidak menemukan Mei Hwa di sana, hatimu akan kecewa."
Ayek bungkam, membenarkan kata-kata ibunya, tapi dorongan kuat dalam hati terus mendesak keluar. Ia tidak bisa hanya berdiam diri. Sesuatu harus ia lakukan, mengambil resiko, atau akan menyesal karena tidak melakukan apa-apa.
"Kenapa kamu yakin kalau dia ada di Jakarta?" tanya Zainab.
"Mei Hwa pernah janji akan menunjukkan lagu kami ke Norman, seorang produser musik terkenal. Kali aja ia ke saja."
"Kalau tujuannya cuman mau nunjukin lagu, kenapa nggak pamit sama keluarganya?"
Ayek diam, mencerna kata-kata ibunya.
"Atau mungkin Mei Hwa memang ingin pergi tanpa pamit sekaligus menemui Norman?" tanya Zainab menebak-nebak.
"Ayek juga berpikir begitu!"
Zainab menatap Ayek lembut. "Kamu punya alamat Norman?"
"Alamat kantornya ada."
"Nomor telepon?"
"Ada!"
"Coba kamu telepon lebih dahulu. Pastikan Mei Hwa ada di sana, atau pernah ke sana."
"Ummi cerdas!" Ayek tersenyum gembira.
"Tapi sekarang sudah malam. Besok saja, jam kerja."
"Iya, Ummi." Ayek memeluk ibunya bahagia. "Selain ke tempat Norman, Ayek juga ingin ke rumah Sandi di Jakarta."
"Sudah kamu hubungi Sandi?"
"Belum, Ummi!"
"Hubungi sekarang!"
Ayek melepas pelukannya. "Sudah malam, Ummi."
Zainab mencibir. "Baru jam sembilan, coba saja."
Ayek melirik jam di dinding. "Jam itu mati, Ummi!"
Zainab berkacak pinggang. "Kalau hidup, jam itu sudah minta makan!"
Ayek terkekeh. Ia segera menelepon Sandi.
"Hallo!" sapa suara cewek dari seberang sana.
Ayek kaget mendapati suara cewek. Ia memeriksa kontak dan yang ia hubungi memang nomor Sandi.
"Kok diem, Mas?" tanya si cewek.
"Kamu siapa?" tanya Ayek bingung.
"Harusnya aku yang nanya kamu siapa?" hardik si cewek manja.
Ayek gelagapan. Ia masih bingung kenapa yang menjawab telepon cewek, bukan Sandi?
"Kenapa?" tanya Zainab, melihat kebingungan di wajah Ayek.
"Yang jawab cewek!" Ayek memberikan ponsel pada ibunya. "Coba deh, Ummi yang ngomong."
Awalnya Zainab menolak, tapi demi menuruti rasa penasaran, ia menerima ponsel Ayek.
"Halo!" ucap Zainab.
Hanya terdengar suara kemresek.
"Halo!" panggil Zainab lagi.
"Halo, Ummi apa kabar?" sahut Sandi.
"Alhamdulillah baik." Zainab mengembalikan ponsel pada Ayek. "Orang yang ngomong Sandi, bukan cewek."
Ayek menempelkan ponsel ke telinga. "Halo!"
"Elo mau nelepon gue aja minta tolong Ummi!" ledek Sandi.
"Gue santet pake upil tahu rasa lo!" Ayek terkekeh. "Siapa cewek tadi?"
"Cewek yang mana?"
"Tadi yang pertama nerima telepon."
Sandi terkekeh. "Oh, itu kakak gue. Elo pernah ketemu, masa lupa suaranya."
Ayek garuk-garuk kepala. "Lupa gue."
"Ada apa?" tanya Sandi.
"Gue mau ke Jakarta."
"Ngapain?"
"Melamar kakak elo!"
Sandi tertawa. "Gue ogah punya kakak ipar kayak elo!"
Ayek tersenyum kecut. "Gue mau nyari Mei Hwa. Bantuin gue ya?"
Sandi terdengar mendengus. "Jakarta itu luas, Yek. Elo harus tahu alamat Mei Hwa, kalau enggak sama saja nyari jarum dalam tumpukan jerami."
"Nggak mungkin Mei Hwa ada di dalam tumpukan jerami," canda Ayek. "Gue paham maksud lo. Gue mau nyari alamat Norman. Semoga saja dia ada di sana."
"Kalau dia nggak ada di sana?"
Ayek mendesah pelan. "Setidaknya gue melakukan sesuatu buat menemukan dia."
"Oke, setidaknya elo nggak bakal kelaparan di sini." Sandi meledek. "Kapan elo berangkat?"
"Besok, insya Allah."
"Pakai apa? Biar nanti gue jemput kalau sudah sampai Jakarta."
"Belum tahu mau pakai baju apa, hehehe." Ayek bercanda.
"Elo mau pakai transportasi apa?" Sandi bertanya dengan nada kesal. "Cinta bikin otak elo bebal!"
"Hahaha, kampret!" maki Ayek. "Gue pakai kereta."
"Nggak pakai baju?"
"Hahaha!" Ayek tertawa ngakak. "Hidup lo kurang cinta dan upil, makanya otak lo bebal."
"Terserah elo!"
***
"Selamat pagi!" sapa Ayek begitu panggilan teleponnya diterima. "Apa benar ini Norman Musik?"
"Iya benar, saya Nindy dari Norman Music. Saya sedang bicara dengan bapak siapa?" tanya penerima telepon yang mengaku bernama Nindy.
"Aku Ayek, Mbak."
"Baik, ada yang bisa saya bantu, Bapak Ayek?"
Dipanggil dengan sebutan 'Bapak' membuat telinga Ayek serasa digelitik. "Bisa disambungkan dengan Pak Norman?"
"Bapak Ayek sudah janji dengan beliau?"
"Belum, Mbak. Saya ada perlu."
"Mohon maaf, silakan bapak membuat janji terlebih dahulu."
Ayek mulai kesal. Untungnya suara Nindy merdu dan lembut, sehingga ia masih bisa bersabar. "Begini saja, Mbak Nindy. Boleh saya tanya sesuatu?"
"Silakan, Bapak."
"Apa ada orang bernama Mei Hwa janji ketemu dengan Pak Norman?"
"Mohon maaf, Bapak. Itu menyangkut kerahasiaan klien, kami tidak bisa membukanya."
Ayek merasa kecewa, tapi dia tidak kehilangan akal. "Boleh saya meminta nomor ponsel Pak Norman?"
"Mohon maaf, tidak bisa, Bapak."
"Kalau membuat janji bertemu dengan beliau bisa?"
"Silakan, Bapak mau janji bertemu untuk hari apa? Sekadar informasi, untuk hari ini jadwal beliau penuh."
"Buat besok bisa?"
"Sebentar, Bapak, kami cek dahulu. Silakan menunggu beberapa saat." Terdengar suara musik setelah suara si penerima telepon hilang.
Ayek menunggu. Ia berusaha menikmati musik yang terdengar di telepon, namun kegelisahannya masih saja sulit diredam.
"Terima kasih atas kesediaan bapak menunggu," ucap Nindy. "Bapak bisa bertemu Pak Norman mulai pukul sepuluh sampai sebelas siang."
"Iya, jam segitu nggak apa-apa," sahut Ayek cepat. Baginya yang penting bisa bertemu Norman.
"Baik, kami catat identitas bapak," ujar Nindy.
"Oke, Mbak." Ayek membuka dompet, mengambil KTP, mengantispasi kalau-kalau Nindy menanyakan NIK, ternyata tidak.
Ayek hanya diminta menyebutkan nama dan alamat sesuai yang tertera pada KTP. Selain itu ia juga harus menyebutkan tujuan bertemu. Selepasnya dia diberi kode untuk disampaikan kepada resepsionis nanti.
Meskipun belum tahu pasti tentang keberadaan Mei Hwa, namun Ayek sedikit lebih tenang. Ia akan berangkat ke Jakarta nanti siang menggunakan kereta, untuk keberangkatan pukul 14:30 wib. Ia sudah memesan tiket, tinggal boarding pass.
Yang perlu Ayek lakukan sekarang tinggal cek ulang semua barang yang akan dibawa. Ia tidak banyak membawa baju, hanya seperlunya saja.