Lebih Sulit Ditahan Ketimbang Rindu

1901 Kata
Sampai di stasiun Tegal, Ayek langsung boarding pass. Antriannya cukup panjang. Bukan hanya menunggu yang bikin ia bosan, tapi om-om gendut di depannya bikin ia kesal. Sudah badannya besar, tas ransel dalam gendongan orang itu kerap kali mengganggu kenyamanannya. Si om beberapa kali melirik ke belakang sambil menatapnya curiga. Ayek mundur selangkah, menjaga jarak dari si om, tetapi usahanya itu tidak membuatnya berada dalam posisi lebih baik. Aroma parfum dari gadis di belakangnya membuat perutnya mual. Baunya perpaduan melati dan mawar yang diblender bersama terasi. Ponsel Ayek berdering. Sebuah panggilan dari Sandi. "Lo di mana?" tanya Sandi begitu Ayek menempelkan ponsel ke telinga. "Gue kejepit di antara truk tronton sama truk pengangkut sampah," jawab Ayek asal-asalan. "Kesian!" ledek Sandi terkekeh. "Jadi ke Jakarta?" "Jadi dong," jawab Ayek. "Gue lagi boarding pass." "Di stasiun?" "Di Israel!" "Hahaha! Kayaknya mood elo lagi ancur dah!" "Banget!" "Ya sudah nikmati saja. Nanti kalau sudah sampai Senen kabarin gue!" "Kayaknya nggak sampai senin deh. Menurut jadwal, ntar malem juga udah sampe Jakarta." "Bukan hari senen, Dodol Jepang, tapi stasiun Pasar Senen." "Emang ada dodol Jepang? Setahu gue dodol dari Garut dah!" "Auk, ah! Pokoknya lo harus langsung ngabarin gue begitu sampai Jakarta." "Oke, Bos! Mau jemput pakai taksi?" "Pake ambulans!" "Jangan marah, ntar makin jelek!" "Serah lo!" Ayek tertawa ngakak, puas sudah bikin Sandi kesal. Percakapan berakhir. Ponsel ia masukan ke saku celana jeans. "Maju, Mas!" tegur gadis di belakang Ayek. Ayek baru menyadari kalau dia sudah membuat ruang di depannya kosong. Ia melirik ke gadis di belakangnya sambil maju dua langkah. "Maaf, Mbak!" Gadis itu menggerutu tidak jelas. Sebelas menit mengantre boarding pass, akhirnya Ayek mengantongi tiket kereta. Matanya bergerak, mencari kereta yang dimaksud, tetapi belum datang, padahal tinggal sepuluh menit lagi dari jam keberangkatan. Sambil menunggu, Ayek cek ulang barang-barang penting dalam tas. Sekarang ia baru sadar kalau powerbank-nya ketinggalan, padahal daya batereinya tinggal dua puluh persen. Untuk kembali ke rumah hanya demi powerbank, sudah tidak ada waktu. Namun, jika membeli yang baru, takut uang bekalnya berkurang banyak. Yang bisa ia lakukan hanya berdoa, semoga batere ponselnya masih tersisa saat sampai di Jakarta nanti. Dari arah timur, kereta masuk ke jalur tiga. Para penumpang memasuki gerbong masing-masing, termasuk Ayek. Beruntung ia mendapatkan kursi dekat jendela, sehingga bisa melihat pemandangan luar. Selepas meletakkan tas di tempat barang, Ayek duduk manis di kursi. Kaki kanan menumpang kaki kiri sambil digoyang-goyang. Hawa sejuk AC membuatnya sedikit rileks. Ia berasa sesang duduk di dalam kulkas. "Permisi!" Ayek menoleh ke sumber suara yang baru saja duduk di sebelahnya. Matanya berbinar. Hatinya kebat-kebit. Hidungnya kembang kempis, mendapatkan senyum dari perempuan cantik. Buru-buru Ayek membetulkan letak posisi duduk. Ia ingin terlihat elegan berada di sebelah perempuan cantik. "Benar ini gerbong tujuh?" tanya perempuan cantik di sebelah Ayek. Suaranya merdu, perpaduan antara Raisa dan Soimah. "Benar, Mbak!" jawab Ayek. "Mbak nomor berapa?" "Tujuh belas." Ayek mendongak, membaca nomor kursi, kemudian tersenyum manis kepada perempuan itu. "Kursi mbak sudah benar." "Terima kasih, Mas... Ehmhh, Mas...." "Ayek!" Ayek mengulurkan tangan. Perempuan di sebelah Ayek tersenyum manis, menjabat tangan Ayek. "Aku Dina." Telapak tangan perempuan cantik bernama Dina terasa lembut dan dingin, membuat Ayek enggan melepaskan jabat tangannya. Ia menduga perempuan itu masih seumurannya. "Ehhemmh!" Jabatan tangan terlepas begitu Ayek melihat lelaki bertubuh tinggi tegap sedang menatapnya galak. Dari rambutnya yang cepak dan jaketnya yang loreng-loreng, ia yakin orang itu tentara. Dina menyungging senyum jengah kepada lelaki berbadan kekar tersebut. "Jadi ke toilet, Pak?" "Sudah!" jawab lelaki kekar. Matanya melirik ke arah Ayek. "Aku balik ke kursi!" "Iya, Pak!" Sebelum berlalu, lelaki kekar itu menatap Ayek, antara curiga dan mengintimidasi. "Bapaknya ya, Mbak?" tanya Ayek selepas lelaki kekar itu berjalan menjauh. Dina terenyum simpul. "Bukan, tadi itu suamiku!" "Oohh!" Hanya itu yang keluar dari mulut Ayek. Dalam hati ia merasa malu telah salah duga. Ayek memilih diam. Ia menjadi tidak berselera bercakap-cakap dengan perempuan bersuami. Lagi pula, ia merasa berdosa kepada Mei Hwa telah terkesan dengan perempuan lain. Mei Hwa! Mengingat nama itu membuat hati Ayek sedih. Perasaan rindunya semakin sulit ditahan. Rindu itu kini ternoda dengan perasaan kesal yang makin lama makin tebal. Ia tidak tahu kenapa bisa begitu. Benak Ayek mendadak dijejali kenangan bersama Mei Hwa. Hari-hari bersama gadis itu menyeruak, flashback dari awal mula bertemu sampai serunya membuat strategi agar bisa berduaan tanpa dimata-matai. Ia senyum-senyum sendiri mengjngat itu, tidak sadar kalau Dina menatapnya aneh. Setiap kali mengenang Mei Hwa, setiap kali pula hatinya terasa pedih. Ada sesuatu yang menyesakkan rongga dadanya. Jika tidak sedang berada di kereta, ingin rasanya ia menangis. Sungguh, ia tidak habis pikir, cinta bisa membuat dirinya selemah ini. Kereta terus bergerak ke barat, menjauhi kota Tegal menuju Jakarta. Kelebat pemandangan rumah-rumah penduduk, membuat Ayek mengantuk. Meskipun berbagai cara telah ia lakukan agar tetap terjaga, tapi pelupuk matanya terasa semakin berat. Setidaknya kini ia tahu, ada hal lain yang lebih sulit ditahan ketimbang rindu, salah satunya mengantuk. Ayek tertidur cukup lama. Lelah pikiran dan lelah hati beberapa hari belakangan telah menguras energinya. Anehnya, ia bisa merasakan enak tidur justru di dalam kereta, bukan di rumah. Kalau bukan karena adanya pemeriksaan tiket ia tidak akan terbangun. "Maaf, bapak, mohon tunjukkan tiket dan kartu identitas!" pinta kondektur kereta api. Ayek menyerahkan tiket dan dan KTP. Ia takjub kepada seragam petugas kereta api yang mengenakan jas biru, pet biru, dasi biru, celana biru, tapi sepatunya berwarna hitam. Penampilannya menarik dan sangat resmi, beda dengan kondektur bus kota yang cuma mengenakan kaos oblong dan celana biasa. Boro-boro pakai pet, rambutnya kadang malah tidak disisir. Kondektur mencocokkan identitas pemilik tiket dengan KTP. Selepasnya, ia mengembalikannya kepada Ayek. "Sudah sampai mana ya, Pak?" tanya Ayek. "Beberapa menit lalu, kereta sudah melewati stasiun Pegaden, Subang, Pak!" jawab kondektur. "Oh, oke, makasih, Pak!" Kondektur tersenyum ramah. "Terima kasih kembali. Semoga perjalanan bapak menyenangkan." Dalam hati, Ayek mengamini doa kondektur. Ia memasukkan kembali KTP dan tiket ke dalam dompet. Sekarang ia ingat baterei ponselnya mulai menipis, setelah cek, ternyata tinggal sebelas persen. Padahal Jakarta masih cukup jauh. Mendadak hatinya gelisah, bagaimana kalau saat dibutuhkan nanti ponselnya kehabisan daya? Tak mau memikirkan hal-hal buruk, ia kembali memejamkan mata. Ayek tertidur lagi. Ia terjaga ketika sebuah tangan terjulur melewati dadanya. Ia terkesiap. "Maaf, ngagetin ya?" ucap Dina. Ia baru saja mencabut charger dari stop kontak pada dinding kereta. "Nggak apa-apa," ujar Ayek. Kini ia baru sadar, kalau di setiap barisan kursi terdapat stop kontak. Mendadak ia punya ide. "Maaf, mbak, boleh pinjam charger-nya?" Dina baru saja akan menaruh charger ke dalam tas, namun diurungkan karena akan dipinjam Ayek. "Silakan!" Ayek menerima charger dengan hati senang bukan main. Ia segera mengisi daya ponselnya yang sebelumnya tersisa tujuh persen. "Tapi stasiun Cikampek nanti aku turun, Mas!" beritahu Dina. "Stasiun Cikampek masih jauh nggak?" tanya Ayek berharap masih punya banyak waktu untuk mengisi baterei ponselnya. "Stasiun berikutnya." Perasaan senang Ayek mendadak terjun bebas. Namun, dalam hati ia berharap ponselnya cukup daya ketika nanti dibutuhkan, setidaknya saat memberitahu posisinya kepada Sandi. Tidak lama lagi kereta akan masuk stasiun Cikampek. Padahal baterei ponsel Ayek baru terisi tiga belas persen. Ia menjadi gelisah ketika Dina memeriksa bawaannya, tanda bersiap untuk turun. Kereta melambat saat memasuki Stasiun Cikampek. Harus tahu diri, terpaksa Ayek mengembalikan chargernya. "Terima kasih, Mbak!" ucap Ayek. "Sama-sama, Mas!" balas Dina. Ia berdiri. Tak lama kemudian suaminya datang. Saat kereta berhenti sempurna mereka keluar gerbong. Ayek memandang ponsel dengan sorot kosong. Batere tinggal tiga belas persen, Jakarta masih cukup jauh. Ia khawatir ketika sampai stasiun Pasar Senen, ia tidak bisa menghubungi Sandi. Mengantisipasi jika ponselnya mati saat dibutuhkan nanti, Ayek memutuskan untuk memberi tahu keadaannya kepada Sandi sekarang. Ia mengirim pesan w******p. San, batre gue 13%, posisi stasiun bekasi. Kalo HP gue mati, lo jemput aja di Senen. Waktunya lo kira2 sendiri. Pesan belum terkirim. Mulanya Ayek mengira karena faktor sinyal, namun setelah diperhatikan ternyata data internet belum diaktifkan. Ia menepuk jidat, sambil mengutuk dirinya sendiri yang gagal fokus. Ayek mengaktifkan data internet. Baterenya langsung berkurang satu persen. Pesan terkirim. Sialnya, Sandi sedang tidak online. Memelototi layar ponsel beberapa menit saja sudah membuat daya ponsel berkurang tiga persen. Dalam keadaan bergerak dan sinyal naik turun, membuat batereinya cepet terkuras. Ayek pasrah. Ponsel ia masukan ke saku baju. Pikirannya kembali tertuju pada Mei Hwa. Sebentar lagi ia akan sampai Jakarta. Dalam hati ia berdoa semoga segera menemukan kekasihnya di kota itu. Kereta terus bergerak. Langit sudah gelap. Ayek memandang ke luar. Bangunan-bangunan tampak samar, hanya lampu-lampu saja yang tertangkap jelas dalam pandangannya. Memasuki Jakarta, Ayek melihat beberapa gedung menjulang tinggi. Aroma Jakarta mulai tercium hidungnya. Hatinya berdebar, membayangkan akan segera bertemu Mei Hwa. Kereta api melambat. Beberapa penumpang tampak bersiap untuk turun. Rata-rata mereka membawa tas besar dan kelihatan repot. Mulanya Ayek mengira sebentar lagi sampai stasiun Pasar Senen, namun setelah ia perhatikan ternyata baru sampai stasiun Jatinegara. Di stasiun Jatinegara, kereta api berhenti beberapa saat untuk menurunkan penumpang. Ketika melanjutkan perjalanan, Ayek mendengar kumandang azan isya. Ia melirik arloji, pukul 19:18 wib. Ayek mengambil ponsel. Perasaannya menjadi gelisah ketika baterei tersisa enam persen. Pesan kepada Sandi sudah terkirim tapi belum terbaca. Ponsel ia masukan kembali ke saku baju. Ia mengambil tas dari tempat barang lantas meletakannya ke kursi di sebelahnya, agar mudah ketika turun nanti. Tidak lama, sampailah kereta api di stasiun Pasar Senen. Ayek menggendong tas ransel kemudian keluar gerbong. Ada perasaan aneh ketika kakinya menginjak lantai peron, sebuah rasa yang sulit ia gambarkan. Ayek memutuskan untuk duduk dulu di kursi. Ia membuka percakapannya dengan Sandi. Pesannya masih belum terbaca, padahal baterei tinggal tiga persen. Untuk menenangkan diri dan melepas penat perjalanan, Ayek meminum air mineral yang ia beli di stasiun Tegal. Pikiran Ayek sedikit tenang. Ia bisa berpikir jernih. Menurut logikanya, Sandi kemungkinan besar menunggunya di luar peron. Anak itu sudah tahu jam tiba kereta api yang ia tumpangi. Ayek bergegas menuju pintu keluar. Pandangan ia siagakan, mencari sosok Sandi. Namun di antara kerumunan orang, ia belum juga menemukan anak itu. Hati Ayek mulai gelisah, tapi berusaha setenang mungkin. Sesuai pengalamannya, panik hanya akan memperburuk keadaan. Namun, kini ia tidak tahu harus mencari Sandi ke mana. Dengan sisa baterei tiga persen, Ayek menelepon Sandi. Baru terhubung nada berdering, ponsel langsung mati. Sementara itu, berjarak kurang dari satu kilometer, Sandi menepi ketika ponselnya bergetar. Ia memeriksa log panggilan, rupanya Ayek yang meneleponnya. Ia memanggil balik, namun nomor yang dituju tidak aktif. Jika ban belakang Honda Vario-nya tidak bocor, Sandi akan sampai stasiun setengah jam yang lalu. Nahasnya, ia harus mendorong sepeda motornya hampir satu kilometer sampai menemukan tempat tambal ban. Beruntung di tempat tambal ban ia tidak harus antre lama. Ketika Ayek mengirim pesan w******p, ia dalam perjalanan. Hanya panggilan telepon saja ia atur dalam mode getar. Sehingga dalam kebisingan lalu lintas, ia tidak mendengar bunyi notifikasi. Sandi baru saja sampai parkiran stasiun. Karena buru-buru, sepeda motornya ia parkir dengan posisi tidak rapi. Ia tdak peduli. Yang harus ia lakukan adalah berlari sesegera mungkin menuju pintu keluar penumpang. Di dekat pintu keluar, Ayek bimbang akan terus mencari Sandi di antara kerumunan atau ke toilet. Sejak tadi ia menahan ingin buang air kecil demi mencari keberadaan sahabatnya itu. Namun karena sudah tidak tahan, akhirnya ia memutuskan untuk ke WC umum. Dengan tergopoh Ayek menuju WC umum. Sambil setengah berlari ia baru sadar, ternyata ada hal lain yang sulit ditahan selain rindu dan kantuk, yaitu kebelet pipis. Apa mau dikata, Ayek harus mengantre untuk dapat menggunakan jasa pembuangan hajat. Ada empat orang sebelum dirinya yang menunggu giliran. Sementara WC umum hanya memiliki tiga kamar. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN