Sandi mengedarkan pandangan ke segala titik di sekitar pintu keluar, mengamati satu per satu jubelan orang. Ia tidak peduli lagi dengan napasnya yang tersengal-sengal akibat berlari kencang tadi. Menemukan Ayek, hanya itu yang ada dalam otaknya.
Tidak sabar, Sandi menerobos kerumunan. Hatinya mulai diliputi kecemasan, takut Ayek tidak bisa ditemukan. Karena melawan arus, beberapa kali ia harus bertabrakan dengan orang yang badannya lebih besar.
Kecemasan Sandi semakin menjadi ketika intensitas orang-orang yang keluar dari stasiun mulai berkurang. Di antara beberapa orang yang berada di sekitarnya, ia belum juga menemukan sosok Ayek.
Dalam hati Sandi mengutuk dirinya sendiri. Meskipun keterlambatannya menjemput Ayek lebih karena faktor teknis, tapi ia tetap merasa bersalah. Dan ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai gagal menjemput temannya itu.
Sandi menelepon Ayek. Nomor yang dituju tidak aktif. Dalam hati ia mengumpat sahabatnya itu karena dalam situasi penting susah dihubungi.
Tak mau menyerah, Sandi berniat mencari Ayek di dalam stasiun. Di pintu masuk ia dicegat petugas jaga. Setelah berhasil meyakinkan tujuannya, ia segera masuk.
Sementata itu, dari sebuah pintu kamar WC umum, Ayek baru saja keluar. Ia merasa lega telah membuang hajat kecil. Langkahnya ringan menuju pintu keluar, berharap Sandi berada di sana.
Kini dua orang sedang gelisah untuk saling menemukan. Ayek berdiri di dekat pintu keluar, sedangkan Sandi terus menjelajahi setiap sudut peron.
Lebih dari sepuluh menit Sandi mencari Ayek, berjalan tanpa henti sambil menyiagakan pandangan. Kakinya baru terasa pegal ketika yakin orang yang ia cari tidak berada di dalam area stasiun. Ia pun terduduk lemas di kursi. Bayangan-bayangan buruk mulai menjejali benaknya.
Sandi baru saja akan membeli minuman ketika ponselnya berdering.
"San, motor gue mau diangkut petugas!" beritahu Cindy, kakaknya.
Karuan saja pikiran Sandi makin tidak keruan. "HAH? Kakak masuk jalur busway?"
"Enggak, tadi ada razia. STNK yang gue bawa keliru punya motor elo. Lo harus ke sini sekarang! Gue udah share lokasi."
Sandi mengeluh panjang. Ini hari paling mengesalkan baginya. Tadi dalam perjalan ban motornya bocor. Sampai stasiun Ayek belum ditemukan, mana susah dihubungi pula. Sekarang kakaknya dalam masalah, menyuruhnya menyelesaikannya.
"San, kok diem?"
"Gue di stasiun Senen, jemput Ayek!"
"Yaudah habis itu langsung ke sini!"
"Masalahnya gue belum ketemu dia!"
"Lo kan bisa chat atau telepon dia!"
"Nomor Ayek nggak aktif!"
"Mampus gue!" ratap Cindy. "Terus nasib gue gimana nih?"
Sandi menjambak rambutnya menggunakan tangan kiri. Kepalanya mendadak pusing.
"Motor gue bakal diangkut kalau elo nggak ke sini bawa STNK." Suara Cindy terdengar panik.
Sungguh ini pilihan sulit buat Sandi. Ayek belum ditemukan. Kakaknya butuh pertolongan. Ia tidak tahu harus memilih yang mana.
"Gini aja deh." Cindy memberi solusi. "Elo chat Ayek. Suruh ngabari posisinya kalau nanti online. Sementara lo ke sini dulu. Kalau nungguin dia tanpa kepastian, yang ada motor gue diangkut polisi, sementara lo belum tentu ketemu dia."
Solusi Cindy menurut Sandi sangat tepat. Ia sudah tidak bisa berpikir lagi. Kakaknya butuh bantuan segera. Lagi pula, ia berpikir Ayek sudah dewasa, tahu apa yang harus dilakukan.
"Oke, gue ke sana sekarang!"
Sandi membuka pesan Cindy, mempelajari lokasi yang dibagikan kakaknya itu. Selepasnya ia meninggalkan pesan kepada Ayek untuk segera mengabarkan posisi setelah online nanti.
Sebelum keluar dari stasiun, Sandi memeriksa STNK yang ia bawa. Dan ternyata memang benar tertukar dengan milik Cindy.
Tanpa membuang waktu, Sandi bergegas, keluar dari stasiun. Setengah berlari, ia menuju parkiran. Di pintu keluar ia tidak lagi memperhatikan sekitar.
Berjarak lima langkah dari pintu keluar, Ayek sedang duduk setengah berjongkok. Matanya memandang kosong ke jalan. Ia tidak menyadari kalau Sandi baru saja melewatinya.
Sandi terus berjalan cepat menuju parkiran dengan perasaan campur aduk. Satu sisi ia tidak tega kepada Ayek, sisi yang lain ia merasa tidak mungkin membiarkan kakaknya berada dalam masalah.
Di parkiran, Sandi menyalakan mesin motor. Selepas mengenakan helm ia memberikan uang jasa parkir kepada petugas, kemudian melesat ke jalan raya.
Kerap kali rencana tidak berjalan sesuai harapan. Setengah mengeluh Ayek menanggung gelisah tidak mendapati Sandi di sekitat stasiun. Ia percaya temannya itu tidak akan mengingkari janji untuk menjemputnya. Justru ia merasa bersalah karena ponselnya mati.
Dua belas menit menuju pukul 21:00 wib. Hampir Satu setengah jam Ayek menunggu Sandi, berharap bertemu sahabatnya itu. Hatinya gelisah, membayangkan seandainya nanti benar-benar harapannya tidak terwujud.
Ayek merasa harus melakukan sesuatu. Yang ada dalam benaknya sekarang adalah segera mengisi baterei ponsel. Di daerah asing seperti ini, ia tidak mungkin meminjam powerbank orang yang tidak dikenal. Tidak ada cara lain, ia harus membeli.
Dengan langkah gontai dan menanggung lapar, Ayek bangkit menuju konter ponsel terdekat.
Beruntung konter belum tutup. Ia mengamati beberapa model powerbank yang terpajang di etalase.
"Nyari apa, Bang?" tanya gadis remaja, pelayan konter.
Ayek menunjuk salah satu powerbank yang ia perkirakan paling murah. Baginya, spesifikasinya tidak penting lagi, yang penting bisa untuk mengisi baterei ponsel.
"Itu harganya dua ratus lima puluh ribu, Bang," jawab pelayan ramah.
"Yang paling murah berapa?" tanya Ayek.
"Ada yang seratusan." Pelayan mengambil dua powerbank kemudian meletakkannya di atas etalase.
Ayek memeriksa kedua powerbank. Ia tidak tahu harus memilih yang mana. Baginya sama saja, yang penting berfungsi dan uang sakunya tidak berkurang banyak.
Sambil menunggu pelanggannya memilih barang, pelayan konter senyum-senyum, mencuri pandang. Sejak pagi, baru kali ini ada pelanggan ganteng.
"Sudah bisa langsung digunakan, Mbak?" Ayek mengacungkan salah satu powerbank.
"Bisa, Bang," jawab pelayan tersenyum genit. "Silakan dicoba aja!"
Ayek menatap pelayan dengan hati bimbang. Powerbank ditangannya kurang meyakinkan. Barang murah seperti itu menurutnya tidak akan bertahan lama. Namun, ia tidak punya pilihan lain.
"Abang dari Jawa ya?" Pelayan mencoba berbasa-basi, berharap pelanggannya akan lama berada di konternya agar dapat terus memandangnya.
"Iya, Mbak. Ponselku mati, padahal harus menghubungi seseorang."
"Oh, habis batereinya?" tanya pelayan masih dengan gaya genitnya. Mendadak ia punya ide. "Abang boleh kok numpang ngecas di sini."
Mata Ayek berbinar. "Serius?"
Pelayan mengerjap, mencari perhatian. "Mana ponselnya? Sini aku cas. Gratis kok!"
Rasanya Ayek sedang mendapatkan emas berlian. Ia tidak menyangka, di kota besar seperti Jakarta masih ada orang yang berbuat baik kepada orang yang tidak dikenal.
Ayek memberikan ponsel kepada pelayan.
Pelayan konter menerima ponsel sambil jari-jarinya mengusap telapak tangan Ayek. "Boleh tahu nama Abang? Sekalian nomor WA juga nggak papa."
Ayek tersenyum geli. Ia paham gadis pelayan konter di depannya sedang memanfaatkan situasi. Tapi ia sudah terbiasa mengalami hal-hal seperti itu dari fans-nya. Lagipula menurutnya tidak ada ruginya menyebutkan nama dan nomor WA. Toh, ia sudah ditolong.
"Silakan duduk, Bang! Capek lho berdiri terus."
Ayek duduk di kursi. Tas ia letakkan di sebelahnya, memperhatikan pelayan konter yang sedang mencolokkan kabel charger ke ponselnya. Dalam keadaan pikiran sedikit tenang, rasa lapar mulai bisa ia rasakan. Tapi ia masih bisa menahannya. Sekarang ia hanya ingin sesegera mungkin menghubungi Sandi.
Pelayan meletakkan ponsel Ayek ke atas etalase. Kabel chargernya cukup panjang, memungkin ponsel digunakan sambil dicas.
Pelayan mengambil pulpen dan selembar kertas. "Abang belum menyebut nama sama nomor WA."
Ayek terkekeh, salut sama kegigihan gadis di depannya. Meskipun agak risih dengan sikap capernya, tapi ia menganggap itu masih dalam batas wajar.
"Aku sudah siap mencatat lho, Bang!" Pelayan mengerjap genit.
Ayek peka. "Tulis saja: Ayek! Nomor WA-ku nol delapan satu, lima tujuh empat ...."
Dengan cekatan pelayan konter mencatat nama dan nomor WA Ayek. "Terima kasih, Bang."
"Sama-sama, Mbak!"
"Jangan 'mbak' dong. Aku masih dua puluh satu tahun. Masih unyuk. Hehehe!" Pelayan konter terkekeh sendiri. "Namaku Wulan."
Bibir Ayek membulat.
Pelayan konter yang mengaku bernama Wulan itu semakin menyukai Ayek. "Abang Ayek ganteng tapi nggak jaim."
Ayek tertawa geli. "Mbak Wulan baik."
Dipuji cogan membuat angan Wulan melayang. Serasa kakinya tidak menapak lantai. Wajahnya bersemu merah. Hidungnya kembang kempis.
"Abang Ayek bisa saja. Aku ikhlas lho, enggak modus. Hehehe."
Ayek mengangguk-angguk. Ia mulai mengantuk. Dilirknya arloji pada pergelangan tangan, pukul 21:03 wib. Hatinya kembali gelisah.
"Udah bisa dinyalain belum?" tanya Ayek tidak sabar.
Wulan melirik ponsel Ayek. "Bisa, tapi baru ngisi sedikit."
Ayek menekan tombol daya. Setelah ponselnya menyala, ratusan notifikasi masuk, termasuk beberapa panggilan tidak terjawab dari Sandi.
Ayek menelepon Sandi. Karena sudah ditunggu sejak tadi, sahabatnya itu langsung menerimanya.
"Lo di mana, Maemunah?" Sandi langsung bertanya dengan nada tinggi. Sejak tadi ia khawatir.
"Gue di konter deket stasiun," jawab Ayek senang bisa mendengar suara Sandi.
"Fucek, gue nyariin elo di pintu keluar sampai masuk peron kayak orang mau gebukin maling. Kenapa nggak aktif, sih?"
Ayek cengar-cengir. Ia paham Sandi mengkhawatirkannya. "Gue juga tadi nungguin di pintu keluar."
"Ya sudah, elo di situ saja. Gue jemput! Ingat ya, JANGAN KE MANA-MANA!"
"Lama nggak? Mungkin konter sebentar lagi tutup."
"Paling enggak ponsel elo nggak mati!"
"Oke, gue tunggu!"
"Kalo pindah tempat ngabarin!"
"Iya, iya!"
Panggilan berakhir. Saat Ayek menelepon tadi, Wulan menggunakan kesempatan itu untuk memandangi wajahnya.
"Aku udah save nomor Abang!" beritahu Wulan. "Boleh kan kalau nanti aku PC?"
Ayek mengangguk asal, lebih fokus pada jemputan Sandi.
"Kalau VC boleh?"
Kembali Ayek mengangguk asal-asalan. Ia hanya ingin segera dijemput Sandi, mengisi perut, dan beristirahat dengan tenang. Tiba-tiba bayangan wajah Mei Hwa menyeruak dalam benaknya. Wajahnya tersenyum, tapi hatinya gelisah, takut tidak bisa menemukan kekasihnya itu.
Wulan menyangka Ayek tersenyum kepadanya. Ia membalas senyum tersebut dengan pipi merona merah.
Selama menunggu Sandi, Ayek lebih banyak diam. Hati dan pikirannya sudah teramat lelah. Setiap kali Wulan mengajaknya bicara, ia hanya merespon seperlunya.
Ditunggu selama dua puluh dua menit, akhirnya Sandi datang. Wajahnya senang campur geram.
Sandi melirik Wulan sekilas, kemudian memasang wajah kesal pada Ayek. "Gue nyariin elo kayak orang kesurupan, yang dicari malah pacaran!"
Wulan cengar-cengi, merasa ge-er dianggap pacaran dengan Ayek. Mendadak ia berkhayal, seandainya cogan di depannya menjadi pacarnya.
Ayek tersenyum bahagia, tidak menghiraukan ucapan pedas sahabatnya itu. Ia segera memeluk Sandi.
Wulan membayangkan dirinya yang sedang dipeluk Ayek.
"Jakarta nggak ramah buat elo, Maemunah!" ujar Sandi sambil melepas pelukan Ayek. "Untung gue ada di sini. Kalau enggak, elo bisa pulang tinggal nama."
Ayek terkekeh usil. "Kata siapa? Cewek sebelah gue ramah kok!"
Wulan merasa tersanjung. Pikirannya terbang ke langit gelap, menembus bintang-bintang. Pujian Ayek melambungkan angannya.
"Ayok, ke rumah gue!" ajak Sandi. Ia berjalan ke sepeda motor yang diparkir di depan konter.
"Sebentar!" Ayek melirik Wulan. "Mbak Wulan, terima kasih banyak. Maaf nggak jadi beli powerbank."
Wulan mengerjap genit. "Nggak papa, Bang Ayek. Jangan sungkan main ke sini. Kalau butuh pulsa, chat saja. Bayarnya diajak makan bakso juga nggak papa."
Ayek mencabut colokan charger. Ponselnya kini terisi lebih dari lima puluh persen. Ia menjulurkan tangan ke Wulan.
Wulan kaget, tapi buru-buru menjabat tangan Ayek lama. Ia enggan melepaskannya.
"Ehhemmhh!" Sandi memberi kode, membuat jabatan tangan antara Wulan dan Ayek terlepas spontan.
"Dadah, Bang Ayek!" Wulan melambai-lambai Ayek genit.
Ayek membalas lambaian tangan Wulan dengan perasaan canggung.
"Nanti aku chat ya?" ujar Wulan sedih akan berpisah dengan Ayek.
Ayek hanya mengangguk, sambil sedikit menyungging senyum untuk menghargai kebaikan Wulan.
Sandi cekikan melihat adegan yang menurutnya menggelikan.
Ayek menggendong tas ransel, lantas mendekati motor. Sandi memberinya helm.
"Mesra banget kalian!" ledek Sandi. "Sampai nama elo aja dia tahu."
"Siapa sih yang nggak kenal gue?" seloroh Ayek sambil ngakak.