Ayek baru tahu kalau keluarga Sandi cukup kaya. Rumahnya di Kalibata terbilang mewah. Luas garasinya hampir sama dengan rumah yang ia kontrak di Slawi, menampung dua mobil dan tiga sepeda motor. Selain itu di lantai bawah terdapat tiga kamar dan di lantai atas dua kamar.
Halaman depannya memang tidak begitu luas, tapi dipenuhi berbagai macam tanaman bonsai dan beraneka jenis anggrek. Duduk di terasnya membuat Ayek merasa tidak sedang berada di Jakarta yang sumpek.
Dua cangkir kopi hitam tersaji di atas meja. Asapnya mengepul di udara pagi yang sejuk. Saat seperti ini, Ayek menjadi ingat saat-saat kumpul di basecamp.
"Andai saja Kosim ada di sini!" Mata Sandi menerawang pekat kopi.
Ayek tersenyum pedih, mengingat bubarnya band. Tapi ia tidak mau pikirannya terjebak pada kenangan masa-masa indah bersama Sandi dan Kosim dulu. Semua sudah terjadi, sedangkan hidup harus terus berjalan.
"Kosim tahu elo mau ke sini?" Selepas bertanya, Sandi menyesap kopi.
Ayek menggeleng malas. Tiba-tiba indahnya pagi terusik ingatannya pada sikap keras Kosim. Namun buru-buru ia berusaha untuk tidak menyalahkan anak itu, tidak pula menyalahkan Sandi yang memilih hengkang, dan tidak akan menyalahkan diri sendiri yang pernah melakukan satu kesalahan besar terhadap band.
"Diminum, Yek. Nggak enak kalau udah dingin!" tegur Sandi.
Ayek menyesap kopi perlahan. Sensasi rasanya membuat perasaannya sedikit lebih baik.
"Bokap di luar kota. Nyokap lagi ke rumah nenek. Selama dua hari ini rumah sepi, cuman gue sama Kak Cindy."
Ucapan Sandi tadi menjawab pertanyaan dalam hati Ayek sejak datang semalam, kenapa rumah sebesar ini sepi.
"Yang asli Slawi, bokap apa nyokap lo?" tanya Ayek.
"Bokap. Dia anak tunggal, sudah yatim ketika kelas satu SMP. Rumah yang kita jadiin basecamp itu warisan kakek sama nenek."
"Sejak kapan keluarga lo pindah ke Jakarta?"
"Sejak bokap menikahi nyokap."
"Langsung tinggal di rumah ini?"
"Enggaklah, rumah ini baru sekitar sembilan tahunan, pas gue masuk SMP," jawab Sandi. "Dulu kami tinggal di rumah nenek dari ibu."
"Terus kenapa lo malah SMA di Slawi. Bukannya di sana lo nggak punya saudara?"
"Pas SMA bokap dipindahtugaskan ke Kalimantan, dikasih rumah dinas di sana. Gue nggak mau ikut. Maka itu gue masuk pesantren di Slawi sambil sekolah SMA."
"Terus kenapa lo nggak mau nerusin kuliah? Padahal ortu elo kaya."
Sandi terkekeh. Ia menerawang plafon, mengingat-ingat sesuatu. "Seperti lo tahu, sejak SMA gue suka ngeband. Rock ngalir dalam darah gue. Dan gue nggak pernah setengah-setengah setiap melakukan sesuatu."
"Lebay!" hardik Ayek. "Kenapa nggak nge-band di Jakarta saja? Itu impian kebanyakan band."
"Di era digital, menurut gue kesempatan band-band daerah nggak kalah sama ibukota. Di Slawi ada studio rekaman. Publikasi lewat media sosial. Job manggung juga banyak."
"Halah, bilang saja elo nggak bisa LDR-an sama Susy!" tuduh Ayek.
Sandi cengar-cengir. Dalam hati membenarkan tuduhan Ayek. Tiba-tiba ia terkekeh, mengingat demi cinta dulu ia rela jauh dari orang tua. Sayang, cinta pertamanya kandas karena ditinggal nikah cuman karena dirinya belum punya pekerjaan jelas.
"Gimana kabar Susy?"
Sepasang alis Sandi terangkat bersamaan, memandang Ayek heran, kenapa anak itu bisa tahu Susy. Padahal, kisah cintanya sama gadis itu sudah berakhir sebelum Ayek bergabung ke band-nya.
"Gue tahu kisah cinta lo dari Kosim," beritahu Ayek demi melihat ekspresi keheranan Sandi.
"Ember Kosim! Hahaha!" Sandi ngakak. "Lo juga kepo!"
"Gue serius nanya!" Ayek mencondongkan kepala ke arah Sandi. "Soalnya Susy dulu adik kelas gue pas SMP!"
"HAH?" Sepasang mata Sandi terbelalak."Kenapa lo baru bilang?"
"Gue juga baru tahu tiga bulan lalu."
Sandi penasaran. Ia menegakkan badan. "Kenapa selama tiga bulan ini elo nggak bilang?"
"Harus ya?"
Sandi melongo, merasa terpojok.
"Lo kan sudah nggak ada hubungan sama Susy!"
Sandi tersenyum getir. "Serah lo deh!"
Ayek terkeleh, melihat wajah mendung Sandi.
Sandi mendadak diam. Meskipun sudah merelakan cinta pertamanya menjadi istri orang lain, tapi tetap ada nyeri di d**a setiap kali mengingat Susy.
Ayek membiarkan Sandi larut dalam pikirannya sendiri. Alih-alih mengalihkannya ke hal lain, ia malah asyik menikmati cemilan pagi. Sejak bangun tidur, ia belum sarapan.
Cindy berdiri di ambang pintu. "Sarapan dulu, yuk?"
"Gue puasa!" jawab Sandi asal.
"Gue nawarin Ayek!" sergah Cindy tidak mau kalah. "Ayo, sarapan, Yek!"
Ayek tersenyum bimbang. Tidak mungkin ia sarapan tanpa Sandi. Lagi pula, ia merasa risih jika berduaan saja dengan Cindy di meja makan.
"Serius, Yek. Sejak di Jakarta, Sandi nggak pernah sarapan!" Cindy berusaha meyakinkan Ayek.
Ayek menatap Sandi. Sorot matanya meminta konfirmasi anak itu.
Meski malas, Sandi akhirnya berdiri. "Gue temenin, bahaya kalau lo berduaan sama kakak gue."
Ayek mendelik, pura-pura tersinggung.
"Ayo!" desak Cindy. "Habis sarapan kalian cuci piring!"
"Nah, lho!" Sandi terkekeh. "Itu salah satu alasan kenapa gue nggak betah di rumah ini! Punya kakak satu berasa punya bos sebelas."
Cindy berkacak pinggang, melotot kepada Sandi.
Ayek tersenyum geli, melihat keakraban kakak-adik di dekatnya itu.
***
Sebelum berangkat menuju kantor Norman, Ayek kembali mengonfirmasi akan kedatangannya. Ia merasa lega sudah terjadwal bertemu produser itu jam sepuluh.
Jarak Kalibata, tempat tinggal Sandi, dengan Pasar Minggu, alamat kantor Norman tidak begitu jauh, hanya butuh waktu kurang dari seperempat jam saja, ditempuh menggunakan sepeda motor.
Tidak sulit menemukan alamat kantor Norman. Berkat Google Map, Sandi dan Ayek berhasil sampai tanpa harus banyak bertanya kepada orang.
Mendekati pintu kantor Norman, perasaan Ayek tidak keruan. Ia belum siap kecewa jika ternyata Mei Hwa tidak pernah ke kantor tersebut. Artinya ia harus menerina kenyataan bahwa usahanya untuk menemukan Mei Hwa belum berhasil.
Lima langkah sebelum pintu masuk, Sandi menepuk bahu Ayek. "Jangan pernah merasa usaha elo sia-sia kalau seandainya Mei Hwa nggak pernah ke sini!"
Ayek mengangguk. Kalimat Sandi sedikit mendongkrak semangatnya.
Memasuki pintu, seorang satpam menyambut Ayek dan Sandi ramah. "Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ada janji dengan Pak Norman," jawab Ayek dengan nada bergetar karena dadanya sejak beberapa menit lalu berdebar+debar.
"Silakan ke resepsionis!" Satpam menunjuk meja yang berjarak sekitar empat langkah dari pintu.
"Terima kasih, Pak!" ujar Ayek.
"Terima kasih, kembali!"
Sambil menenengkan hati, Ayek berjalan menuju resepsionis. Debaran dadanya semakin kencang ketika berada di depan seorang perempuan muda yang duduk di balik meja.
Sisca N.M, begitu nama yang Ayek eja dari kartu identitas yang mengalungi leher resepsionis.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" sapa Sisca ramah.
Ayek menelan ludah. Lidahnya mendadak kelu, membuat ucapannya seolah tersangkut di tenggorokan.
Melihat Ayek gugup, Sandi mengambil alih. "Teman saya ini sudah janji ketemu Pak Norman."
Sisca tersenyum. "Untuk jam berapa?"
Sandi menahan senyum geli karena dipanggil dengan sebutan 'bapak'. Tapi ia paham dengan protokol perkantoran.
"Jam sepuluh, Bu!" jawab Sandi, sengaja memberi penekanan dengan sebuatan 'bu'.
Sisca memeriksa buku di depannya. Setelah menemukan yang dicari, ia menatap Sandi. "Atas nama Bapak Ayek?"
Lagi-lagi Sandi yang menjawab. "Benar, atas nama Bapak Ayek."
"Baik, Bapak-bapak boleh menunggu di lobi." Sisca menunjuk ke arah lobi.
"Terima kasih, Bu," ucap Sandi.
"Terima kasih kembali, Bapak."
Sampai lobi, Sandi tertawa pelan, masih merasa geli dipanggil dengan sebutan 'bapak'. Sementara Ayek sibuk menyembunyikan raut tegang.
Dua puluh empat menit Ayek melewati waktu dengan diam. Ia hanya membuka mulut ketika Sandi mengajaknya bicara, itu pun hanya sepotong-sepotong. Debaran dadanya sulit dikendalikan ketika satpam mempersilakannya untuk memasuki ruangan Norman.
Sialnya, Sandi tidak diperkenankan masuk karena hanya Ayek yang tercatat. Ia pun tertahan di lobi.
Ayek disambut senyum Norman. Dengan canggung ia duduk setelah dipersilakan. Selama beberapa detik, ia diam, tidak tahu harus memulai dengan kalimat apa."
"Santai saja, Bung!" Norman memaklumi kegugupan Ayek. "Saya terbiasa berbincang dengan anak muda."
Ayek tersenyum dipaksakan.
"Apa yang bisa saya bantu?" Norman menegakkan badan.
"Maaf, Pak, saya cuman mau tanya apa bapak mengenal Mei Hwa?" tanya Ayek dengan nada bergetar.
Norman mengernyit. Dari semua klien yang ia temui, baru kali ada yang bertanya hal yang tidak berkaitan dengan perusahaannya. Tapi, ia bukan tipe orang saklek. Ia yakin, itu masih berkaitan dengan dirinya. Hanya ia menduga itu diakibatkan karena anak muda di depannya gugup.
"Jadi begini, Pak." Ayek buru-buru menjelaskan. "Mei Hwa bilang akan menunjukkan lagu-lagu projek kami kepada bapak."
Dugaan Norman benar. Kini, ia hanya perlu memastikan. "Mei Hwa dari Slawi?"
Ayek terlonjak gembira. "I-iya benar, Pak!" Ia membetulkan posisi duduk. Harapannya semakin besar. Dalam hati ia berdoa semoga Norman sudah bertemu Mei Hwa.
"Kemarin kami bertemu di sini, membahas lagu-lagu yang Mei bawa," beritahu Norman. "Terus apa ada yang ingin ditanyakan?"
Mata Ayek berbinar. Debaran dadanya semakin kencang. "Saya cuman ingin ketemu Mei Hwa."
Norman mengerjap heran. "Maksudnya gimana, bukannya kalian garap projek bareng?"
Ayek mengangguk. "Benar. Selesai projek, Mei Hwa bilang akan menemui bapak, tapi perginya nggak ngabarin. Nomor teleponnya juga nggak bisa dihubungi."
"Kalian nggak ada masalah, kan?" tanya Norman khawatir.
Ayek menggeleng. "Nggak ada. Kami baik-baik saja."
"Lagu yang ia bawa atas persetujuan anda bukan?"
"Iya."
Norman merasa lega, sebab bagaimanapun juga, Mei Hwa sudah ia anggap seperti anak.
"Maaf, kalau kedatangan saya membuang waktu penting anda."
"Oh, nggak masalah. Anda menemui saya berarti penting," ujar Norman.
Ayek menunduk sedih. "Saya nggak tahu harus ke mana lagi mencari Mei Hwa."
Norman membuka ponsel. Ia memeriksa pesan dan log panggilan Mei Hwa. "Ini nomor yang dipakai Mei Hwa." Ia menunjukkan layar kepada Ayek.
Ayek merasa senang bukan kepalang. Akhirnya harapannya menemukan Mei Hwa kembali besar. "Boleh saya catat nomornya, Pak?"
"Silakan!" Norman meminjamkan ponsel kepada Ayek.
Dengan perasaan berbunga-bunga, Ayek menyimpan nomor telepon dari ponsel Norman.
"Coba panggil!" saran Norman.
Ayek memanggil nomor yang baru disimpannya.
"Halo!" sapa suara perempuan dari seberang sana.
Ayek terdiam. Suara yang ia dengar berbeda dengan suara Mei Hwa.
"Halo, ini siapa?" Nada suara perempuan lebih tinggi dari sebelunnya.
"Aku Ayek," jawab Ayek ragu. "Bisa bicara sama Mei Hwa?"
"Mei Hwa sudah nggak di sini."
Ayek mengeluh tertahan. "Terus ke mana, Mbak?"
"Bilangnya sih mau ke rumah temennya, tapi dia nggak nyebut nama."
"Ada nomor lain yang bisa buat menghubungi Mei Hwa?"
"Mas apanya Mei Hwa?"
"Aku temennya dari Slawi, Mbak."
"Kok bisa tahu nomor ini?"
"Saya dikasih Pak Norman."
Beberapa detik tidak ada suara dari seberang sana.
"Halo!"
"Mmhh, nggak ada, Mas."
Tangan Ayek serasa tidak kuat menyangga ponsel ke telinganya. Harapannya kembali menipis.