Tiga hari mematikan ponsel dan sementara menutup komunikasi dengan Ayek, membuat Mei Hwa merasa tersiksa. Hari ini ia sudah tidak tahan untuk menghubungi kekasihnya itu, meminta maaf, dan mengabarkan posisinya. Namun, jika ia menghidupkan ponsel, keluarganya bisa menghubunginya. Pasti Babah akan menyuruhnya pulang.
"Kamu kan bisa pakai nomor lain buat menghubungi Ayek!" saran Indah, teman semasa SMA.
"Aku belum siap." Mei Hwa mengusap-usap layar ponselnya. Sering ia ingin menekan tombol daya, namun setiap kali ibu jarinya akan melakukannya, hati kecilnya melarang.
"Apa alasanmu menutup komunikasi dengan Ayek?" tanya Indah.
Alih-alih menjawab Mei Hwa menggigit bibirnya.
"Ayek pasti khawatir," ujar Indah.
Mei Hwa melirik Indah. "Aku terpaksa sementara ini nggak ngasih tahu Ayek sebab aku yakin ia akan menyusul!"
"Ya wajar dong!"
Mei Hwa menggeleng lemah. "Kalau ia nyusul ke Jakarta, nanti keluargaku akan mengira kami minggat bareng. Posisi Ayek bisa semakin rumit "
Indah mendesah tertahan. Ia paham benar karakter teman sekelasnya dulu, kalau punya pendirian tidak bisa digoyahkan. Pada saat seperti ini, Mei Hwa sedang susah menerima saran atau masukan dari siapa pun. Yang bisa ia lakukan hanya memastikan sahabatnya itu tidak terlalu sedih.
"Ayek ganteng nggak?" tanya Indah berusaha memancing senyum.
Mei Hwa tersipu. "Ayek bukan cuman ganteng, tapi tipe cowok menyenangkan."
"Masa?"
Mei Hwa mengangguk malu.
"Aku nggak percaya!"
Mei Hwa tertawa. "Terserah!"
"Coba mana buktinya?"
"Search aja di Google!"
"Males ah, iya kalau ganteng, kalau enggak, mubazir kuota internetku," canda Indah. Sebenarnya ia sudah melihat foto Ayek hasil pencariannya di Google, beberapa menit selepas Mei Hwa menceritakannya tadi.
"Nggak mau ya sudah. Kalau tahu, takutnya kamu malah naksir dia lagi."
"Idih!" Indah mencibir.
Mei Hwa tertawa sumbang. Perasaannya belum tenang sebelum mendengar suara Ayek. Tiba-tiba ia ingin menghubungi seseorang.
"Pinjemin ponselnya, In!" pinta Mei Hwa.
"Cie, akhirnya nyerah juga!" Indah menyerahkan ponselnya sambil meledek Mei Hwa.
Mei Hwa mencibir. Ia mengetik dua belas digit angka, lantas menekan icon panggil.
"Halo, Mei, kamu di mana?" tanya Nilna.
"Aku di rumah Indah, temen SMA dulu."
"Belum balik?"
"Belum."
"Tadi siang, ada orang yang nyariin kamu. Namanya Yek siapa gitu, aku lupa."
Mendengar kata 'Yek' membuat hati Mei Hwa terlonjak. Jantungnya berdegub kencang. "Ayek?"
"Ah, iya itu, Ayek!"
"Kok bisa tahu nomor teleponmu?" tanya Mei Hwa heran.
"Bilangnya sih dikasih tahu Pak Norman!"
Mei Hwa tercekat. Otaknya langsung bekerja keras, mencari kemungkinan-kemungkinan kenapa sampai Ayek bisa berkomunikasi dengan Norman.
"Kok dia kenal Pak Norman?" tanya Nilna.
"Itu yang aku heran," ujar Mei Hwa. "Padahal aku nggak cerita apa-apa cuman ngasih tahu kalau projek lagu kami mau ditawarin ke Pak Norman."
"Mungkin nggak ya kalau cowok kamu itu menemui Pak Norman?"
Mei Hwa terdiam, baru terpikir kemungkinan tersebut.
"Coba deh kamu telepon Pak Norman buat memastikan."
Mei Hwa sepemikiran dengan Nilna.
"Ya sudah itu info dariku. Saranku sih mendingan kamu telepon Ayek saja. Kasihan cowok itu. Kalau balik ke Slawi, jangan lupa, pamitan sama Pak Norman. Babay!"
Panggilan berakhir. Mei Hwa menelan ludah. Ia mengembalikan ponsel kepada Indah.
"Siapa, Mei?"
"Nilna, temen kursus dulu," jawab Mei Hwa lirih. "Kemaren aku nginap di sana?"
***
"Serius lo mau balik?" Sandi bersedekap di ambang pintu kamar. Ia iba melihat sahabatnya yang tampak keras menyembunyikan perasaan kecewa.
Ayek diam. Dengan mengemas barang-barang ke dalam tas, itu sudah menjadi jawaban tegas untuk menjawab pertanyaan Sandi.
"Gue belum ngajak lo keliling ibukota." Sandi mendekat, berdiri di sebelah Ayek.
Tidak ada satu huruf pun yang ingin Ayek ucapkan. Kenyataan bahwa Mei Hwa belum ia temukan telah membuatnya malas melakukan dan menikmati apa pun. Lagi pula kedatangannya ke Jakarta bukan untuk bertamasya.
"Elo belum denger lagu baru ciptaan gue!" Sandi mencoba membujuk Ayek agar tidak pulang hari ini.
Ayek tetap bungkam.
"Elo belum ngerasain nasi goreng buatan Kak Cindy."
Ayek menarik resleting tas. Ia masih malas bicara.
"Elo belum nyuci piring!"
Kalimat Sandi terskhir, berhasil membuat Ayek tersenyum. Ia melirik Sandi. "Gue nggak tega ninggalin Ummi lama-lama."
Sandi mendesah. Ia menyerah dalam membujuk Ayek. "Kalau alasan itu, gue nggak bisa nahan lo lebih lama."
Ayek menempatkan p****t di kasur. "Gue beli tiket langsung di stasiun saja!"
"Resiko, Yek!" ujar Sandi. "Apa susahnya sih beli secara online?"
Ayek menatap Sandi. "Buat kegiatan biar gue nggak inget Mei Hwa terus."
"Owalah, Yek!" Sandi tertawa. "Lo beli tiket secara online saja, antisipasi membludaknya penumpang. Sekarang kan akhir pekan! Lo masih bisa kok ngantri di stasiun, tapi begitu sampai depan loket lo bilang saja sama petugas 'maaf cuman nyari kegiatan saja', hahaha!"
Ayek memaksakan diri untuk tertawa. Ia bangkit. "Terima kasih untuk semuanya."
Sandi menatap Ayek sedih. "Okelah, lakukan apa yang menurut lo terbaik. Gue cuman bisa nganter lo sampai stasiun. Besok senen gue sudah harus fokus buat nembus UI."
"Semoga lo keterima di UI." Ayek beranjak keluar kamar.
Sandi mengekor Ayek sampai ke teras. Di sana Cindy sedang duduk sendirian.
Ayek berdiri di samping Cindy. "Kak Cindy, terima kasih buat semuanya. Jangan kapok nerima tamu macam gue."
Cindy menoleh. "Elo belum nyuci piring!"
Ayek tertawa.
"Becanda, Yek. Gue nggak sejahat seperti yang diceritain Sandi, adik paling kurang ajar sedunia."
Sandi menyanggah. "Dih, ge-er! Kapan gue pernah cerita soal kakak?"
Ayek tertawa. Sebenarnya ia betah di sini, apalagi bila mengingat serunya candaan antara Sandi dengan Cindy. Kakak-adik itu sangat dekat.
Ponsel Ayek berdering. Ia melirik layar. Begitu melihat nomor tidak dikenal, hatinya berharap itu dari Mei Hwa.
"Halo!" sapa Ayek. "Ini siapa?"
"Ih, Bang Ayek gitu deh! Pasti nggak save nomor aku, ya kan?"
"Siapa ya?" Ayek merasa tidak asing dengan suara itu, tapi masih belum bisa memastikan siapa.
"Aku Wulan!"
Ayek terkekeh. Sekarang ia ingat gadis penjaga konter ponsel dekat stasiun itu.
"Ada apa, Wulan?"
"Bang Ayek jahat. Chat aku nggak dibaca."
Ayek garuk-garuk kepala. Selama di rumah Sandi, ia hanya membaca chat dari kontak saja. "Iya, maaf, nanti aku baca."
"Beneran, lho!"
"Iya," jawab Ayek.
"Asyik! Nanti lanjut ya? Ada pelanggan."
Panggilan berakhir. Ayek meletakkan ponsel ke atar meja. Ia harus memakai jaket. AC kereta api cukup dingin.
"Pasti dari gebetan baru, penjaga konter deket stasiun!" ledek Sandi.
Ayek mencibir. Ia mengambil ponsel dari atas meja. Belum sempat ia masukkannya ke saku baju, panggilan telepon kembali masuk.
Ayek melirik layar. Panggilan dari nomor tidak dikenal, ia menduga itu dari Wulan. Ia malas mengobrol dengan siapa pun, sehingga membiarkan ponsel terus berdering.
"Terima saja dulu!" saran Sandi.
"Males, paling dari penjaga konter genit itu!" ujar Ayek.
"Lo kan bisa bilang mau otewe, kalau enggak dia bakal nelepon lo terus."
Ayek membenarkan kata-kata Sandi. Akhirnya, ia menerima panggilan tersebut.
"Iya, Wulan!" ucap Ayek.
"Wulan?"
Deg! Seolah Ayek merasa bumi berhenti berputar. Suara dari speaker ponselnya bukan milik Wulan, tapi dari....
"Siapa Wulan?"
Jantung Ayek berdetak kencang. Hatinya bersorak gembira. "Mei Hwa?"
Hanya terdengar dengus napas, tidak ada suara dari seberang sana.
"Ini beneran Mei Hwa?"
"Yang jelas bukan Wulan! Baru tiga hari saja kamu sudah lupa suaraku."
"Ya Allah, Mei. Aku setengah hidup nyari kamu. Kamu di mana sekarang?" Perasaan Ayek campur aduk; bahagia bisa menemukan kekasihnya, kangen karena baru mendengar suaranya selama tiga hari terakhir, dan gelisah karena takut Mei Hwa salah paham soal Wulan.
"Aku nggak tahu!"
"Nggak tahu gimana maksudnya?
"Nggak tahu apa aku masih ada di hatimu apa enggak. Atau jangan-jangan sudah tergantikan Wulan!"
"Astaghfirullah! Nanti aku jelasin soal Wulan. Yang penting sekarang kita harus ketemu."
Mei Hwa diam.
"Mei, please!'
Mei Hwa masih diam.
"Itu nggak seperti yang kamu bayangkan!"
Alih-alih mendapat respon, Ayek mendengar isakan Mei Hwa. Ia mendengus kesal pada diri sendiri yang sudah menyebut nama Wulan.
"Jangan diam, Mei. Wulan bukan siapa-siapa. Aku bisa jelasin. Kalau nggak percaya kamu bisa tanya sama Sandi."
Isak tangis semakin jelas terdengar. Ayek bingung harus berkata apa lagi untuk meyakinkan Mei Hwa.
Sandi dan Cindy memandang Ayek bingung. Mereka sama-sama penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Tapi karena tidak mau mengganggu, mereka memilih diam.
Ayek duduk di kursi. Ponsel masih menempel di telinga. Perasaan rindunya pada Mei Hwa berubah kesal.
"Tahu nggak, Mei? Sejak kamu pergi aku seperti orang gila. Aku khawatir sama kamu. Tapi kamu susah dihubungi. Kamu menghilang! Kamu nggak peduli sama perasaanku!"
Masih terdengar isak tangis dari speaker ponsel Ayek. Mei Hwa belum mau bicara.
"Babah menuduhku terlibat atas menghilangnya kamu. Aku sampai dimintai keterangan polisi. Itu belum membuat hatiku pedih, Mei. Aku percaya itu cobaan yang harus aku lalui. Yang membuatku kecewa adalah kamu bukannya senang mendengar suaraku, malah mempermasalahkan Wulan yang jelas-jelas belum kamu ketahui persoalannya."
Tangis Mei Hwa pecah. Ayek mendengus. Emosinya menjadi labil.
"Maaf, kalau ucapanku menyakiti perasaanmu. Mungkin aku nggak pantas kesal hanya karena kamu menghilang. Mungkin aku nggak berhak memelihara kekhawatiran ini. Maaf, sekali lagi maaf, Mei."
Selepas mengatakan itu, Ayek mengakhiri panggilan. Hatinya sedang tidak keruan. Semua perasaan tidak nyaman yang ia tahan selama tiga hari terakhir akhirnya meledak, membuatnya tidak bisa mengontrol ucapan.
Sandi tidak menyangka Ayek akan semelankolis itu. Ingin rasanya ia membesarkan hati sahabatnya itu, tapi tidak tahu harus melakukan apa.
Ponsel Ayek kembali berdering. Ia melirik layar. Begitu tahu itu nomor yang tadi, ia menolaknya.
"Mei Hwa?" tanya Sandi penasaran.
Ayek bungkam.
Sandi tidak habis pikir atas apa yang terjadi dengan Ayek. "Kenapa ditolak? Lo jauh-jauh ke Jakarta buat nyari dia. Sekarang begitu dia menelepon malah...."
Cindy menarik lengan Sandi, memberi isyarat agar tidak ikut campur.
Ayek memasukkan ponsel ke saku baju. Dalam keadaan emosi tingkat tinggi, ia berdiri. "Gue pamit, San, Cindy!"
Sandi dan Cindy saling pandang. Ayek menggendong tas, lantas berjalan menuju pintu gerbang.
Sandi bermaksud mengejar, tapi tertahan karena Cindy mencengkeram lengannya.
"Biarin, San!" ujar Cindy.
Sandi melepaskan cengkeraman Cindy. "Ayek sahabat gue, Kak. Gue nggak mau ia kenapa-kenapa!"
"Ayek akan baik-baik saja. Percaya deh sama gue!" Cindy menatap Sandi lekat-lekat berusaha meyakinkan adiknya.
Sandi mendengus kesal, memandang kepergian Ayek.