Ayek berjalan di atas trotoar. Langkahnya lunglai, seolah tidak punya daya. Pikirannya kusut. Hatinya kacau. Yang ada di otaknya hanya kembali ke Slawi, membawa perasaan kecewa yang sempurna.
Selama perjalanan, ponsel Ayek berdering enam kali. Ia membiarkan saja, tidak peduli siapa pun yang memanggilnya.
Tanpa terasa Ayek sampai di stasiun Kalibata. Tanpa berpikir panjang, ia membeli tiket tujuan Jakarta Kota. Baginya tidak penting akan ke mana kereta membawanya, yang penting terus bergerak.
Karena tidak fokus, Ayek masuk jalur tujuan Bogor. Ia duduk di kursi. Sekarang ia baru merasakan pegal-pegal di kaki karena berjalan sejauh dua kilo dari rumah Sandi sampai ke stasiun Kalibata.
Tidak ingin terganggu, Ayek bermaksud mematikan ponsel, namun ketika melihat pemberitahuan panggilan tidak terjawab dari ibunya, ia mengurungkannya. Sepusing apa pun pikirannya, seberat apa pun beban hatinya, ia tidak bisa mengabaikan perempuan yang sudah melahirkannya.
Ayek menelepon balik ibunya.
"Assalamu alaikum!" ucap Ayek berusaha menormalkan nada suaranya.
"Wa alaikum salam!" jawab Zainab. "Kamu sehat?"
"Alhamdulillah sehat," ujar Ayek. "Ummi sehat?"
"Sehat, tapi khawatir sama kamu."
Ayek memaksakan tertawa, memberi kesan baik-baik saja kepada ibunya.
"Gimana, sudah ketemu Mei Hwa?"
Ayek terdiam. Ia tidak pernah berani berbohong kepada ibunya.
"Kenapa diam?"
Ayek mendesah panjang.
"Pasti belum ketemu, kan?"
Ayek masih diam, tidak tahu harus menjawab apa?
"Terus kamu sekarang di mana?" tanya Zainab cemas.
"Nggak tahu, Ummi!" jawab Ayek. Kepalanya semakin pusing.
"Kalau nggak tahu, mendingan pulang." Sebagai seorang ibu, Zainab bisa merasakan perasaan kecewa Ayek.
"Iya, Ummi!"
"Hati-hati ya, Nak!"
"Iya."
"Assalamu alaimum."
"Wa alaikum salam!"
Ponsel masih menempel di telinga Ayek, meskipun panggilan telah diakhiri ibunya beberapa detik lalu. Bahkan sampai ia mendapatkan panggilan kembali.
Ayek melirik ponsel. Nomor tidak dikenal memanggailnya. Ia menolaknya.
Commuterline baru saja berhenti di hadapan Ayek. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah masuk. Gerbong tidak begitu ramai. Ia memilih duduk dekat pintu.
Commuterline bergerak meninggalkan stasiun Kalibata. Ayek menyandarkan kepala yang terasa berat. Matanya menerawang sisi jendela di seberangnya dengan sorot kosong.
Tidak menghitung sudah melewati berapa stasiun, tiba-tiba Ayek sadar dirinya sedang melakukan kebodohan. Ia tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Ia harus bangkit dan pulang ke Slawi dengan kepala tegak.
Ayek melirik seorang lelaki remaja yang duduk di sebelahnya. "Dek, kereta ini menuju ke mana?"
Lelaki remaja menoleh heran. Pandangannya menyisir penampilan Ayek. "Bogor, Bang!"
Ayek kaget. "Bogor?"
"Iya, Bang!"
Ayek panik, sadar dirinya semakin jauh dari stasiun Pasar Senen. Meski pikiran dan hatinya sedang kacau, ia tidak mau menambah kekacauan baru. Ia akan segera turun di stasiun berikutnya, lalu kembali ke tujuan Jakarta Kota.
Commuterline berhenti di sebuah stasiun. Ayek segera turun. Setelah melihat papa nama, ia tahu sekarang terdampar di Pasar Minggu.
Merasa haus, Ayek membuka tas ransel, mengambil air mineral kemasan. Belum sempat meminumnya, telepon kembali berdering. Lagi-lagi dari nomor tidak dikenal.
Ada dorongan kuat dari dalam hati Ayek untuk menerima panggilan tersebut. Semakin mengabaikan, dorongan itu semakin kuat. Akhirnya, ia menerimanya.
"Hallo!" sapa Ayek.
Ayek hanya mendengar desah lembut. Dari suaranya ia yakin itu perempuan.
"Hallo!"
"Maafin aku, Yek!"
Deg! Suara Mei Hwa terdengar pelan di telinga Ayek.
"Kamu pasti marah. Aku mengerti itu."
Ayek mendesah tertahan. Perasaan kesalnya terhadap Mei Hwa sudah menurun drastis, menyisakan penyesalan.
"Kamu memaafkan aku atau enggak, tolong jangan tutup teleponnya, biarkan aku bicara."
Ayek diam, menunggu kelanjutan ucapan Mei Hwa.
"Aku kangen kamu..." Mei Hwa terisak. "Aku selalu percaya sama kamu. Tadi itu aku nggak mempermasalahkan siapa Wulan. Awalnya aku memang kaget, tapi percayalah, aku nggak berpikir macam-macam."
Aku menarik napas lega. Mendadak ia menyalahkan diri sendiri yang telah mengucapkan kata-kata melankolis pada Mei Hwa tadi.
"Andai saja kamu tahu bagaimana kerasnya aku berusaha memaafkan diri sendiri karena pergi tanpa mengabarimu, karena mematikan ponsel, karena telah membuatmu khawatir." Tangis Mei Hwa pecah.
Suara tangis Mei Hwa terdengar jelas. Perasaannya menjadi campur aduk.
"Aku ingin ketemu kamu sekarang!" ucap Mei Hwa sambil terisak.
"Iya, Mei. Aku juga."
"Kamu di mana?"
"Stasiun Pasar Minggu."
"Serius?"
"Iya."
"Kamu mau menungguku di pintu keluar sebelah barat?"
Ayek menoleh ke kanan dan kiri. "Aku nggak tahu arah di sini."
"Coba cari pintu keluar yang dekat sama lampu merah."
Ayek berdiri, mencari tahu posisi lampu merah. "Iya aku tunggu."
"Nggak lama kok, sekitar sepuluh menitan." Mei Hwa meyakinkan Ayek. "Aku pakai nomor ini. Kalau kelamaan telepon aja!"
Ayek merasa lega. Perasaannya berangsur membaik. "Iya, Mei, aku tunggu."
"I love you, Yek!"
Pipi Ayek bersemu merah. "Love you too."
Hati Ayek berbunga-bunga. Begitu cepat perasaannya berubah-ubah. Dalam hidup baru sekarang ia selabil ini.
Ayek menutup kembali resleting tas. Ia segera bertanya kepada petugas di mana pintu keluar dekat lampu merah. Selepasnya ia berdiri di dekat pintu keluar sebelah barat, menunggu Mei Hwa.
Sebelas menit menunggu, Mei Hwa tidak kunjung datang. Ia mengambil ponsel dari saku baju, bermaksud menelepon kekasihnya.
Panggilan berdering, tetapi Mei Hwa belum menerimanya. Ketika perasaannya mulai gelisah, Toyota Yaris hitam berhenti tepat di depannya. Kaca jendela belakang kiri terbuka. Wajah Mei Hwa menyembul.
"Mei Hwa?" Ayek gembira bukan main, mengetahui Mei Hwa yang berada di jok belakang mobil di depannya. Ia segera mendekat.
"Masuk, Yek!" suruh Mei Hwa sambil menggeser badan ke kanan, memberi tempat untuk Ayek.
Ayek masuk ke mobil, lantas menutup kembali pintunya.
"Pelukannya nanti saja!" seloroh Indah dari balik kemudi. "Penumpang diharap menghormati para jomblo!"
Ayek dan Mei Hwa tertawa bersamaan. Perasaan canggung di antara keduanya mencair.
"Kenalin, Yek, sopir kita bernama Indah Permata, ketua Jones se-Jabodetabek." Mei Hwa melirik spion dalam. "Kenalin juga, In, yang duduk di sebelahku adalah Ayek, yang kamu ragukan kegantengannya!"
Wajah Indah merah padam. Untuk menyembunyikan rasa malu, ia segera tancap gas.
Ayek tersenyum bahagia. Ia tidak menyangka pertemuannya dengan Mei Hwa akan sedramatis ini. Sayang, ketika bertemu tadi tidak ada adegan mengharukan karena berada di dalam mobil dan ada pihak ketiga. Namun baginya itu tidak penting karena tujuannya tercapai.
"Kita ke kantor Pak Norman." Mei Hwa melirik Ayek.
Ayek mengangguk. "Kemarin aku ke sana sama Sandi."
"Iya, aku tahu. Norman sudah cerita," ujar Mei Hwa.
"Kamu sudah bikin janji sama Pak Norman?"
Mei Hwa tersenyum sambil menggeleng. "Nggak usah. Beliau sendiri yang meminta aku datang."
"Ehhemmhh!" Indah berdeham. "Aku supir lho, bukan obat nyamuk!"
Mei Hwa terkekeh, melirik spion dalam.
Ayek menatap Mei. Ia sangat merindukan gadis itu.
"Itu tas kenapa jadi pihak ketiga, sih?" komentar Indah sambil melirik tas yang teronggok antara Ayek dan Mei Hwa melalui spion dalam.
Ayek dan Mei Hwa tertawa bersamaan.
Indah ikut berbahagia melihat rona bahagia di wajah Mei Hwa. Namun, mendadak ia merasa iri karena belum memiliki kekasih.
Mobil membelah jalan raya Pasar Minggu. Hanya butuh waktu kurang dari seperempat jam untuk sampai ke kantor Norman karena dekat.
Ayek mengira akan diajak ke ruangan Norman, ternyata Mei Hwa membawa mereka ke ruangan pribadi produser terkenal itu.
Ruangan pribadi yang dimaksud adalah sebuah taman terbuka yang sangat asri. Selain bunga-bunga, ada sebuah kolam berbentuk lingkaran yang di tengahnya terdapat air mancur.
Melihat kedatangan Mei Hwa, Norman berdiri. "Wah, aku memintamu datang karena ingin memberi kejutan, malah kamu yang membawa kejutan!"
Mei Hwa mengangkat sepasang alisnya. "Kejutan?"
Norman menyalami ketiga tamunya, mulai dari bersalaman dengan Mei Hwa dan Indah, kemudian menjabat erat Ayek. "Anak muda ini kejutannya! Kalian semua duduklah."
Mei Hwa, Indah, dan Ayek duduk berhadapan dengan Norman. Sebelum mereka datang, posisi kursinya sudah diatur demikian.
"Aku belum paham soal kejutan," ujar Mei Hwa.
Norman terkekeh. Ia menatap Mei Hwa. "Kamu berangkat ke Jakarta hari apa?"
"Rabu," jawab Mei Hwa semakin bingung dengan maksud pertanyaan Norman.
"Pantesan!" ujar Norman. Ia mengusap layar tablet, membuka aplikasi i********:. "Hari Kamis Om mendapat tag dari sebuah akun."
Hati Ayek terlonjak. Hari Kamis ia tag akun i********: Norman atas postingan sebuah lagu ciptaannya yang ia rekam secara dadakan, namun belum direspon. Barusan pemilik akun tersebut memberitahu ada yang tag akunnya pada hari yang sama. Ia berharap yang dimaksud adalah dirinya.
"Waktu bertemu Ayek, Om merasa nggak asing dengan wajahnya. Tadi malam Om ingat sebuah postingan video yang tag akun i********: Om. Ternyata..." Norman melirik Ayek. Ia memutar video dari tabletnya kemudian menunjukkan ke ketiga tamunya.
Hati Ayek bergejolak, senang bukan main. Akhirnya Norman merespon lagunya. Di sebelahnya, Mei Hwa terperangah, menonton video yang di dalamnya terdapat kekasihnya sedang menyanyikan lagu dengan diiringi gitar. Video berdurasi satu menit itu sangat menyayat hatinya.
"Biar kutebak, lagu itu kamu rekam tanpa sepengatahuan Mei Hwa, kan?" tanya Norman kepada Ayek.
"Iya, Pak!" jawab Ayek sambil tersipu.
"Siapa yang menciptakan lagu itu?" tanya Norman.
"Saya, Pak!" Ayek menjawab mantap. Harapannya besar lagu tersebut akan diapresiasi Norman.
Norman meletakkan tablet ke atas meja. Selepasnya ia bertepuk tangan. "Itu lagu yang sangat menyentuh hati."
Perasaan Ayek melambung tinggi, lagunya dipuji seorang produser ternama.
Norman memandang Mei Hwa yang masih tercekat, tidak menyangka lagu Ayek mendapat pujian, padahal lagu-lagu dari projek yang ia ajukan ditolak.
"Kamu terkejut kan?" tanya Norman kepada Mei Hwa.
"Banget!" jawab Mei Hwa.
Ayek melirik Mei Hwa, ingin bilang lagu itu ia ciptakan untuk kekasihnya, namun ia urungkan karena malu ada orang lain.
"Om yakin lagu itu bakal booming!" Norman berkata penuh optismis.
Perasaan Ayek melambung tinggi. "Terima kasih, Pak, eh, Om!"
Indah yang sejak tadi diam, menimpali Ayek. "Labil banget, Om apa Pak?"
Semua tertawa mendengar ucapan Indah, kecuali Ayek yang hanya senyum-senyum.
"Kamu punya stok lagu yang belum pernah dipublikasikan?" tanya Norman.
Ayek mengangguk semangat. "Ada beberapa yang rencananya mau saya ajuin ke band, tapi keburu bubar."
Mei Hwa kaget mengetahui band bubar. Ia ingin bertanya lebih banyak tapi sekarang bukan saat yang tepat.
"Sebenarnya, tiga lagu ciptaanmu pada projek bareng Mei Hwa itu easy listening, cuman aransmennya terlalu idealis. Coba nanti lagu yang lain kirimkan ke Om."
"Serius, Om?"
"Soal musik, Om nggak pernah nggak serius!" Norman meyakinkan. "Om berencana mengorbitkan kamu!"
Ayek kaget bukan main. Begitu kagetnya sampai sulit mempercayai apa yang barusan diucapkan Norman. "Maksudnya?"
Mei Hwa tidak kalah kaget. "Serius, Om?"
Norman tersenyum lebar. "Om serius pengen menjadikanmu penyanyi yang bawain lagu sendiri, dan orang itu ada di depan Om sekarang!"
Reflek Mei Hwa memeluk Ayek yang tercekat karena tidak menyangka akan mendapatkan kesempatan emas ini.