Pulang

1252 Kata
Kereta api bergerak kencang, melintas jembatan, menantang sinar matahari pagi. Di gerbong empat, Ayek duduk bersebelahan dengan Mei Hwa yang tertidur sejak melewati stasiun Cikampek. Ia tidak ingin mengganggu kekasihnya itu. Siang sampai sore mereka membahas projek rekaman solonya di studio Norman. Malamnya mereka begadang sampai subuh, merayakan keberhasilan Ayek mendapatkan kesempatan bersolo karier di industri musik tanah air. Euforia menepikan lelah dan kantuk di antara mereka, sampai tahu-tahu azan subuh berkumandang. Selepas sarapan Ayek dan Mei Hwa berpamitan kepada Sandi dan Cindy untuk pulang ke Slawi. Sebelum masuk stasiun, Ayek berencana mampir ke konter ponsel Wulan, sayangnya belum buka. Ia ingin menjelaskan perihal kesalahpahaman kekasihnya kemarin. Di stasiun Pegaden, Mei Hwa terbangun dalam keadaan kepala menyandar bahu Ayek. Menyadari itu ia merasa malu. "Nyenyak bener, mimpi apa?" komentar Ayek. Mei Hwa tersipu. Ia merapikan rambut. "Kenapa tanya begitu?" "Tanya aja, nggak ada maksud apa-apa." "Kupikir kamu sudah tahu jawabannya," Mei Hwa menyeka pelupuk mata menggunakan tisu. "Bagaimana bisa?" "Harus bisa!" Ayek tidak paham maksud Mei Hwa. Mei Hwa kembali menyandarkan kepala ke bahu Ayek. "Seharusnya kamu tahu, mimpiku cuman satu, yaitu selalu bersamamu!" Ayek terkekeh, sampai bahunya terguncang. Sikapnya itu membuat Mei Hwa sebal. "Kenapa ketawa?" "Aku tertawa bahagia." Ayek mengelus rambut Mei Hwa lembut. Ia tidak peduli meskipun ada seorang penumpang memperhatikan ke arahnya. "Tadi ke konter ponsel mau ngapain?" tanya Mei Hwa. Ia menikmati sentuhan-sentuhan lembut jari-jari tangan Ayek pada rambutnya. "Ketemu Wulan." Deg! Serta merta perasaan cemburu bersemayam di hati Mei Hwa. Namun, ia percaya kepada kesetiaan Ayek. Menurut logikanya, kekasihnya tidak akan menyebut perempuan lain jika ada affair. "Wulan itu yang nolongin aku pas ponselku mati. Tadinya aku mau beli powerbank, tapi nggak jadi. Ia malah nawarin aku ngecas ponsel di konternya," cerita Ayek. Mei Hwa mengangkat kepala, memandang Ayek. Dengan sekuat tenaga ia menyembunyikan perasaan cemburu. "Ngecas berarti cukup lama dong!" Ayek mengangguk. "Sambil nunggu Sandi, sekitar seperempat jam." Mei Hwa mengernyit. "Waktu selama itu buat ngobrol bisa ke mana-mana itu." Ayek sadar Mei Hwa cemburu. "Wulan nggak minta imbalan apa-apa, cuman minta aku menyebut nama sama nomor telepon." Mei Hwa menunduk. Perasaan cemburu dalam hati semakin sulit ditahan. Ayek peka dengan perubahan sikap Mei Hwa. Buru-buru, ia merengkuh bahu gadis itu. "Maaf, kalau aku gagal menahan perasaan cemburu." Mei Hwa membuang muka ke samping. "Wajar kalau kamu cemburu. Tapi aku cerita begini karena nggak ingin menyembunyikan sesuatu darimu. Aku ingin semuanya jelas dan nggak ada lagi kesalahpahaman." Mei Hwa menoleh. "Aku percaya sama kamu." "Terima kasih, Mei." Mei Hwa mengangguk. Ia kembali membenamkan kepala pada bahu Ayek. Kereta terus bergerak ke arah timur. Memasuki stasiun Brebes, giliran Ayek yang tertidur. Karena capek dan tidak tidur semalaman, ia baru bangun ketika sampai di stasiun Tegal. Itu pun karena Mei Hwa yang membangunkan. "Kamu mimpi apa?" tanya Mei Hwa. "Wulan!" jawab Ayek, sengaja meledek kekasihnya. Reflek Mei Hwa mencubit lengan Ayek pelan. "Nakal kamu, ya?" Ayek terkekeh. "Ayo turun!" Ayek dan Mei Hwa turun dari gerbong. Mereka tidak langsung keluar stasiun, tapi duduk-duduk di kursi peron, merencanakan strategi kepulangan. "Kita naik taksi online terpisah saja," saran Mei Hwa. "Aku nggak mau ada keributan." Ayek tidak sependapat. "Justru dengan mengantarmu sampai rumah, aku ingin membuktikan kalau aku tidak terlibat atas kepergianmu, justru malah berupaya mencarimu." "Iya kalau Babah berpikiran begitu, kalau enggak?" Mei Hwa cemas. Ayek tersenyum, meyakinkan Mei Hwa. "Keberangkatan kita ke Jakarta nggak secara bersamaan. Itu alibi kuat buat mementahkan kecurigaan Babah." Mei Hwa masih belum yakin. "Bisa saja Babah menganggap itu bagian rencana kita." Ayek mendesah pelan. "Kamu kok berprasangka buruk sama Babah?" Mei Hwa melengos. "Aku mengenal Babah selama dua puluh dua tahun. Ia keras kepala, Yek. Pendiriannya susah diubah!" Ayek diam. Baginya tidak masalah apakah akan pulang bersama Mei Hwa atau tidak, selagi tidak menimbulkan masalah baru. Hanya saja, ia merasa ini peluang bagus, jika ia mengantar kekasihnya sampai rumah. Ia bisa membuktikan bahwa dirinya tidak terlibat atas menghilangnya Mei Hwa. Mei Hwa meraih pergelangan tangan Ayek. "Kita pulang dengan taksi berbeda, ya?" Ayek mengangguk terpaksa. Salah satu harus mengalah, begitu pikirnya. Mei Hwa tersenyum lega. "Aku order taksi online sekarang." Ayek diam, membiarkan Mei Hwa melakukan apa yang diinginkan. "Dapet, mobilnya sudah ada di parkiran depan!" seru Mei Hwa. Ayek berdiri malas. "Aku pulang pakai ojek online saja." "Kenapa?" "Biar sampainya nggak bersamaan!" "Begitu?" Ayek mengangguk. *** Avanza putih berhenti di depan toko. Mamah Kiew meliriknya. Sudah dua hari ini, setiap kali mendapati mobil berhenti di depan tokonya, ia selalu menunggu penumpangnya keluar, berharap-harap cemas itu anak gadisnya. Ia percaya, Mei Hwa pasti akan kembali. Untuk ke sekian kali, Mamah Kiew merasa kecewa. Perempuan yang keluar dari dalam mobil bukan Mei Hwa. Sambil menarik napas panjang, ia berusaha membesarkan hati. "Sudahlah, Mah! Kau bisa gila kalau terus-terusan berharap pada setiap mobil yang berhenti di depan toko kita!" ujar Babah Liem. "Mamah sudah gila sejak Mei pergi, Bah!" Nada Mamah Kiew meninggi. "Kayak nggak tahu karakter Mei Hwa saja. Dia pasti pulang. Bisanya seperti itu, kan?" Mamah Kiew menoleh kesal. "Tapi itu dulu, waktu Mei masih kecil. Sekarang ia sudah besar, punya banyak uang, punya banyak teman, nggak ada jaminan ia akan pulang kalau kita nggak mencari!" Babah Liem mendekati istrinya. "Kita sudah mencari dengan segala upaya dan cara. Doakan saja ia baik-baik saja." Mamah Kiew berdiri, sambil menatap kesal suaminya ia meninggalkan meja kasir. Babah Liem melenguh panjang. Sejak kepergian Mei Hwa, istrinya mendadak mudah marah. Saat seperti itu, ia berusaha untuk tidak terpancing emosi. Babah Liem baru saja akan duduk di meja kasir, menggantikan istrinya, ketika sesosok perempuan berambut panjang berdiri tepat di depannya. "Mei?" Babah Liem mengucek mata, seolah tidak percaya dengan penglihatan sendiri. Mei Hwa mengangguk takut. Ia mematung, tidak berani melangkah lebih dalam. Babah Liem tergopoh mendekati anak gadisnya dan memeluknya erat. Mei Hwa masih mematung. Perasaan takutnya mencair melihat sikap ayahnya. "Masuk, Mei!" Babah Liem membimbing Mei Hwa ke dalam rumah, tidak menghiraukan tatapan aneh para pelanggan tokonya. "Mah, Mei Hwa pulang!" "Bah, mau bayar!" teriak seorang pelanggan toko yang sebal karena ia sedang buru-buru. "Sebentar!" Pelanggan cemberut. Ia meletakkan barang ke meja kasir. "Nggak jadi beli, Bah!" Kemudian keluar toko sambil bicara sendiri. Di ruang tengah, kepulangan Mei Hwa disambut pelukan erat Mamah Kiew. Keduanya hanyut dalam isak tangis. Babah gembira Mei Hwa pulang. Semua perasan kesal pada anak itu luruh seketika, berganti perasaan bahagia. Berbeda dengan Babah Kiew, Mamah Kiew justru memarahi Mei Hwa. Ia melepas pelukan, menatap tajam anak gadisnya. "Kamu ke mana saja sih? Mamah seperti orang gila, setiap hari memandang mobil dan angkutan yang lewat depan toko." Selepasnya ia memeluk Mei Hwa lebih erat dari sebelumnya. "Maafkan Mei, Mah!" Mei sesenggukan. Ia menyesal telah membuat keluarganya panik mencarinya. Mamah Kiew melepas pelukan. Ia meraba sepasang pipi Mei Hwa. "Kamu baik-baik saja, kan?" Mei Hwa mengangguk. "Sudah makan belum?" Mei Hwa menggeleng. "Tapi pagi sudah sarapan." "Istirahatlah dulu," suruh Mamah Kiew. Mei Hwa mengangguk. Ia menuju kamar. Di belakang rumah mereka Ayek baru saja sampai depan teras rumahnya yang tampak lengang. Dari stasiun ia menggunakan jasa ojek online, sambil membuntuti taksi online yang ditumpangi Mei Hwa. Ia ingin memastikan kekasihnya sampai di rumah dengan selamat. Ayek melepas sepatu, kemudian menjinjingnya. Diketuknya pintu rumah yang tertutup. "Siapa?" tanya Zainab lantang dari ruang tengah. "Debt Collector!" Mendengar suara Ayek, Zainab tergopoh ke ruang depan. Ia membuka pintu. Seketika wajahnya tersenyum bahagia. Ayek melepas tas ransel dari punggungnya, membiarkannya teronggok di lantai. Dengan haru, ia memeluk ibunya erat-erat. "Alhamdulillah kamu pulang, Nak!" Ayek mengangguk, tidak sanggup berkata-kata. Tiga hari meninggalkan ibunya membuatnya merasa bersalah. "Masuk, Nak!" 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN