Tangis Bahagia

1395 Kata
Sejak Mei Hwa pulang ke rumah, Babah Liem belum bicara kepada anak gadisnya. Hal itu disambut gembira oleh istrinya. "Mamah pikir Babah akan marah sama Mei Hwa," ujar Mamah Kiew. Babah Liem melirik istrinya yang berbaring di sebelahnya. "Soalnya Mamah sudah memarahinya tadi." Mamah Kiew mengelak. "Mamah nggak marah, cuman meluapkan perasaan saja." "Itu namanya marah!" Mamah Kiew tersenyum manja kepada suaminya. "Babah menjadi banyak diam sejak Mei pergi." Babah Liem diam. Dalam hati ia mengakui ucapan istrinya. Ia sendiri tidak tahu kenapa selama tiga hari terakhir malas bicara. Kali terakhir ia menunjukkan sikap emosional pada Zainab beberapa hari lalu. Sejak itu ia lebih banyak bergerak, mencari informasi keberadaan Mei Hwa. Segala upaya telah Babah Liem lakukan untuk mencari keberadaan Mei Hwa. Mulai dari melapor polisi, menghubungi semua kerabat dan teman-teman Mei Hwa, sampai bernazar akan membagi-bagikan lima puluh paket sembako kepada warga sekitar jika anak gadisnya pulang ke rumah. Anak gadisnya pergi dari rumah tanpa memberi pesan dan sulit hubungi, terasa horor bagi Babah Liem. Ia tidak tahu apa yang dilakukan anaknya di luaran sana. Khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, takut kehilangan, Semuanya membuatnya menjadi kehilangan selera makan dan bicara. "Babah ngantuk apa melamun?" Mamah Kiew memiringkan tubuh, menghadap suaminya. "Ngantuk!" Mamah Kiew terkekeh. Ia paham, suaminya menjawab secara asal-asalan. "Mamah tidurlah dulu." Babah Liem menarik selimut sebatas leher. "Babah kan tahu, Mamah belum akan tidur jika Babah masih terjaga." "Kalau begitu Babah tidur." Babah Liem memejamkan mata. Mamah Kiew tahu, suaminya pura-pura akan tidur. Seperempat abad menikahi Babah Liem telah membuatnya mengenal dengan baik tabiatnya. Ia yakin lelaki pekerja keras di sebelahnya itu sedang terbebani pikiran. Benar saja, ketika Mamah Kiew ikut pura-pura tidur, Babah Liem membuka mata. "Katanya mau tidur?" Mamah Kiew terkekeh mendapati suaminya masih terjaga. "Apa Babah jahat, Mah?" tanya Babah Liem. Mamah Liem paham, ketika suaminya melankolis itu berarti sedang memendam perasaan yang cukup dalam. Dan seperti biasanya ia cukup menatap lembut lelaki itu, memberi kekuatan dan siap mendengar. "Babah hanya khawatir dengan masa depan Mei Hwa, itu saja." Mamah Kiew mengusap rambut Babah Liem yang sudah banyak beruban. "Babah seorang ayah yang baik. Semua tahu itu." "Tapi Mei Hwa tidak bisa memenuhi permohonan Babah!" Tangan Mamah Kiew berpindah dari mengelus rambut menjadi mengelus d**a Babah Liem. "Antara Babah dan Mei Hwa hanya beda sudut dalam memandang seorang lelaki bernama Ayek." "Bagaimana agar bisa memandang dari sudut yang sama?" Mamah Kiew tersenyum bijak. "Baik Babah atau Mei Hwa harus memahami dan melihat sudut pandang masing-masing, kalau tidak akan begitu terus, semua merasa penilaian dari sudut pandangnya yang paling tepat." "Begitu?" Mamah Kiew mengangguk. "Babah siap memulainya?" "Memulai apa?" "Memulai memahami sudut pandang masing-masing. Maksud Mamah, cobalah melihat dan menilai Ayek dari sudut pandang Mei Hwa." Babah mendesah tertahan. Sebagai seorang ayah, ia merasa lebih punya banyak pengalaman dalam menilai orang lain. Namun kadang ia sadar, anak-anak zaman sekarang lebih banyak menggunakan parameter dalam menilai orang lain. "Kalau menurut Mamah, Ayek itu seperti apa?" Mamah Liem terdiam, berpikir, mencari kata yang tepat agar tidak terkesan membela Mei Hwa. "Jawab saja, Mah. Babah tidak akan marah!" Mamah Kiew menatap suaminya lembut. "Seperti yang pernah Mamah tahu, lelaki baik bisa dilihat dari cara ia memperlakukan ibunya. Ayek memiliki kriteria seperti itu. Tapi...." "Tapi apa?" Mamah Kiew mengulas senyum manis. "Sebelum itu, dua puluh lima tahun lalu ada lelaki yang sudah lebih dulu memiliki kriteria seperti itu. Demi membahagiakan ibunya, lelaki itu rela menikahi perempuan yang awalnya tidak ia cintai. Bahkan ia rela melepaskan semua kesempatan emas hanya demi meneruskan toko orang tuanya yang berada di ambang bangkrut. Lelaki itu bernama Liem Ho Kun!" Babah Liem tersipu. "Mamah bisa saja." "Itu fakta, Bah. Siapa yang berani menyangkal coba?" "Sudah-sudah!" Babah Liem merasa tersanjung, tapi ia menjadi merasa malu karenanya. "Sesimpel itu melihat apakah seorang lelaki itu baik atau tidak." Babah mengangguk. Bukan karena Mamah Kiew tadi sudah menyanjungnya yang membuatnya paham dan membenarkan argumen istrinya, tetapi kata-kata itu pernah ia dengar dari seorang ulama. "Perihal isu tetangga, itu masih harus dibuktikan sebelum kita mempercayainya. Ayek memang tidak punya pekerjaan tetap, tetapi profesinya sebagai musisi bisa dijadikan tolok ukur bahwa anak itu punya kegiatan positif. Mengenai karakternya, Mamah pikir Mei Hwa lebih mengenalnya ketimbang kita." Babah Liem terdiam. Meskipun sepakat dengan istrinya, tetapi ia masih sulit menerima Ayek sebagai kekasih Mei Hwa. Ia tidak mengerti kenapa bisa begitu, Setidaknya kini ia sadar, tidak bijak mempercayai begitu saja stigma negatif yang dialamatkan kepada Ayek. "Sebenarnya apa yang menghalangi Babah untuk merestui hubungan anak kita dengan Ayek?" tanya Mamah Kiew hati-hati. "Babah tidak tahu, Mah," jawab Babah Liem lirih. "Awalnya karena percaya isu tetangga. Mungkin itu yang menghalangi Babah untuk menilai Ayek secara obyektif." "Babah orang yang rasional, selalu mengedepankan logika. Mamah pikir jika Babah mau mengenal Ayek, itu lebih bijak." Babah Liem diam. Ada dua hal berlawanan dalam hatinya yang sama kuat. Satu bagian bisa menerima saran Mamah Kiew, bagian lain sebaliknya. "Mamah pasti akan mendukung apa pun nanti keputusan Babah, apakah akan merestui Mei Hwa atau tidak, tetapi tentu saja setelah mengenal Ayek dengan baik." Babah menatap istrinya lekat-lekat. "Jadi menurut Mamah, Babah harus bagaimana?" "Cobalah membuka hati untuk mengenal Ayek lebih dalam." "Artinya Babah sementara membiarkan Mei Hwa berhubungan dengan Ayek?" Mamah Kiew mengangguk. "Babah tidak keberatan kan?" Babah Liem mengangguk ragu. *** Sejak Ayek pulang ke rumah, Zainab belum sempat berkangen-kangenan dengan anak semata wayangnya. Ia hanya sempat menanyakan kabar, selepas itu harus mengurus semua pesanan katering. Ia pulang ke rumah sekitar jam sembilanan. Kepulangannya disambut gembira Ayek. Selain ingin melepas kangen, juga ingin mengabarkan dua berita bahagia. "Ada apa senyum-senyum sendiri?" tegur Zainab kepada Ayek. Ayek memeluk ibunya erat. Cukup lama Ibu dan anak itu saling melepas rindu. "Kosim ke sini mencarimu." Zainab melepas pelukannya. "Kosim?" "Iya," jawab Zainab. "Seharian Kosim di sini, sampai bantu-bantu Ummi bikin kue." "Bisa rusak kue-kuenya. Kosim kan suka memencet-mencet tuts piano." Ayek terkekeh. Zainab mencoba tersenyum. Sebenarnya ia sedih bila ingat cerita Kosim. "Kosim cerita apa saja, Ummi?" Zainab merasa aneh dengan sikap anaknya yang tidak tampak sedih meskipun band bubar. Padahal ia tahu persis, band adalah keluarga kedua buat Ayek. "Kosim enggak ngupil sembarangan kan?" Zainab tertawa, menepiskan perasaan heran. Baginya yang penting Ayek bahagia. "Ummi kenapa? Sepertinya ada yang dipikirkan?" Buru-buru Zainab menggeleng. Mendadak ia teringat sesuatu. Kesibukannya mengurus katering dan kegelisahannya mendengar kabar ASK band membuatnya baru kepikiran menanyakan kabar Mei Hwa. "Ummi nggak kepengen tahu kabar Mei Hwa?" tanya Ayek. "Barusan Ummi mau menanyakannya!" "Padahal Ayek pulang ke rumah sejak siang," gerutu Ayek. "Gimana, Mei Hwa sudah diketemukan?" tanya Zainab penasaran. "Diketemukan? Memangnya Mei Hwa hilang?" Zainab melotot, tapi selepasnya tertawa. "Sudah buruan jawab!" Ayek sengaja diam beberapa saat, memancing rasa penasaran ibunya, namun Zainab sudah kenyang asam garam. Dengan melihat ekspresi gembira anaknya, ia sudah bisa menebak jawabannya. Ayek tersenyum bahagia. "Alhamdulillah, dugaan Ayek benar. Ia ke Jakarta buat menemui Norman." Zainab mengusap wajah, bersyukur usaha anaknya menuai hasil. "Bagaimana ceritanya?" Ayek mengatupkan bibir. Ia sebenarnya ingin menceritakan kronologi pertemuannya dengan Mei Hwa yang dramatis, tetapi ada kabar gembira lain yang ingin ia sampaikan lebih dulu kepada ibunya. "Kisah heroik Pangeran Ayek menemukan Putri Mei Hwa baru bisa tayang besok." Ayek geli sendiri mengucapkan kalimat itu. "Halah!" Zainab tertawa sebal melihat Ayek seperti sengaja mengulur-ulur cerita. "Ada hal lain yang ingin Ayek sampaikan. Ini kabar baik, sangat baik, sulit dipercaya tapi nyata." Zainab mendengus karena Ayek berbelit-belit. "Tinggal bilang saja apa sih susahnya?" Ayek tertawa geli melihat wajah sebal ibunya. "Jadi begini, Ummi...." Zainab menatap Ayek malas tapi penasaran. Ayek menarik napas panjang, selepasnya mengeluarkannya secara perlahan. "Norman, produser musik yang terkenal itu, menawari Ayek kontrak rekaman satu album!" Zainab tercenung. Penuturan Ayek sangat mengagetkan, sulit dipercaya, sampai membuat tubuhnya seperti terkunci. Perasaan bahagia dalam hatinya hanya bisa ia ekpresikan dengan air mata. Akhirnya, jalan kesuksesan bermusik anaknya terbuka lebar. Ayek memeluk ibunya erat-erat. Perasaan bahagianya larut dalam dekapan tangan lembut ibunya. Sepasang ibu dan anak itu saling terisak, mengharukan. Zainab melepas pelukan. Jarinya menyeka air mata yang membasahi pipi Ayek. "Kamu enggak bercanda, kan?" Ayek menggeleng. "Sulit dipercaya ya, Ummi?" "Alhamdulillah, semua berkat kerja kerasmu!" "Dan doa Ummi!" Tangis Zainab pecah. Ia membiarkan air matanya mengalir deras, tidak akan menyembunyikannya seperti air mata sebelum-sebelumnya. Kebahagiaan dalam hatinya meluap, sampai susah membendungnya. "Ayek jarang melihat air mata Ummi!" ucap Ayek sesenggukan. "Ummi hanya mau menitiikkan air mata ketika bahagia saja." Tidak kuat menahan gejolak perasaan, Zainab kembali memeluk Ayek. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN