Klausul Kontrak

1429 Kata
Mei Hwa sengaja tidak mengabarkan berita perihal Ayek akan mendapatkan kontrak rekaman kepada ayahnya. Ia baru akan memberitahukannya nanti jika hubungan dengan ayahnya membaik. Ketika sarapan pagi, Babah Liem nyaris tidak bicara, hanya sesekali menjawab pertanyaan sekadarnya. Bahkan sampai selesai makan, ia jarang menatap Mei Hwa. Mei Hwa tidak berani menyimpulkan sikap ayahnya, tetapi ia bersyukur karena kepergiannya ke Jakarta tanpa pamit tidak dipermasalahkan, jika belum pun, paling tidak ia punya cukup waktu buat mencari alasan yang tepat jika Babah mengungkitnya. Satu hal yang belum diketahui Mei Hwa, Babah Liem sedang berdamai dengan sikap kerasnya selama ini. Ia akan menuruti saran Mamah Kiew untuk membuka hati, menilai Ayek dari berbagai sudut pandang. Ketika Mei Hwa pergi untuk meninjau studio, Babah Liem menggunakan kesempatan itu untuk mencari tahu profil Ayek di media sosial. Ia mengetikkan kata kunci 'Ayek' pada kotak pencarian Google, tetapi tidak mendapatkan seperti yang diinginkan. Kemudian ia mengetikkan kata kunci 'ahmad' namun sama saja. Hasil pencariannya sangat banyak dan umum. "Bah!" Tablet Babah Liem nyaris terlempar karena kaget mendengar panggilan istrinya yang tiba-tiba sudah berada di dekatnya. Beruntung ia masih sempat menangkapnya. "Mamah ngagetin saja!" Babah Liem menggerutu. Mamah Kiew duduk di sebelah suaminya. "Asyik banget, mainan apa?" Babah Liem menunjukkan layar tablet kepada Mamah Kiew. Spontan istrinya itu terpingkal-pingkal. "Kirain Babah kepoin i********: artis-artis!" Mamah Kiew tertawa geli. "Kepoin itu apa?" Mamah Kiew berpikir keras. Ia sering mendengar kata itu, paham maksudnya, tapi susah menjelaskannya kepada suaminya. Babah Liem menggerutu. "Nggak tahu, tapi sok tahu!" Kembali, Mamah Kiew terpingkal-pingkal melihat wajah lucu suaminya. "Katanya Ayek terkenal, tapi Gugel saja nggak tahu anak itu!" Babah Liem mengusap-usap layar tablet, memeriksa satu per satu hasil pencarian. "Sini, biar Mamah yang nyari!" Mamah Kiew mengambil tablet dari genggaman suaminya. Babah Liem pasrah saja. Ia tidak begitu paham soal internet. Tablet seharga dua jutaannya itu hanya diisi aplikasi w******p. "Begini nih caranya, Bah!" Mamah Kiew mendekatkan tablet ke suaminya sambil mengetik kata kunci 'Ayek Ask Band'. Dengan sekali tap enter, semua yang berhubungan dengan Ayek dan band-nya muncul. Pelan-pelan Mamah Kiew menggulirkan layar ke bawah. Babah Liem takjub melihat berita-berita yang berhubungan dengan Ayek. Jempolnya gatal ingin membuka salah satu link. "Babah harus pakai kaca mata baca, buat kepoin satu per satu." Mamah Kiew mengembalikan tablet kepada Babah Liem. Babah Liem menerima dengan malas "Bacain saja!" Mamah Kiew menggeleng. "Toko siapa yang mau urus?" Ia meninggalkan suaminya menuju toko. Sepeninggal Mamah Kiew, Babah Liem membuka link paling atas. Seketika layar menampilkan halaman Wikipedia mengenai ASK Band. Sambil memicingkan mata, ia membacanya sampai selesai. Semakin penasaran, Babah Liem masuk kamar agar bisa lebih tenang mencari tahu tentang Ayek dan band-nya. Begitu seriusnya sampai ia enggan ke toko. *** Ayek mengumpulkan semua file lagu-lagu ciptaannya. Setelah menghitung, jumlahnya ada sembilan belas, lima sudah pernah dipublikasikan bersama band, tiga menjadi projek kolaborasi dengan Mei Hwa, sisanya ia salin ke folder khusus. "Sebelas lagu!" ucapnya senang. Padahal Norman hanya meminta sepuluh lagu saja untuk dipilih mana saja yang menurutnya cocok dilempar ke pasar musik. "Semoga paling enggak tiga lagu yang kepilih, aamiin!" doa Ayek penuh berharap. Berapa pun lagu ciptaan Ayek, Norman sudah menyiapkan opsi lagu-lagu ciptaan musisi terkenal untuk masuk album Ayek nanti. "Pasti lebih enak kalau menyanyikan lagu ciptaan sendiri." ucap Ayek sambil membayangkan dirinya berada di atas panggung, bernyanyi sambil memainkan gitar. Angan Ayek semakin melambung tinggi, berkhayal dirinya mendapat sambutan meriah dari penonton. Suasana seperti itu memang pernah ia rasakan, tapi hanya panggung-panggung kecil. Jika nanti dirinya terkenal, pasti sensasinya lebih hebat dari yang pernah ia rasakan bersama ASK Band. Ibaratnya sedang melayang sangat tinggi, deringan ponsel membuyarkan angan Ayek. Ia pun seolah terjun bebas, menghempas tanah. Ayek melirik layar. Mei Hwa meneleponnya. "Selamat pagi, Cintaku!" sapa Ayek gembira. "Anda terhubung dengan layanan kotak suara, silakan tinggalkan pesan setelah nada berikut ini, tuutt!" goda Mei Hwa, seolah-olah Ayek tersambung ke sambungan kotak suara. "Aku pesan rindu satu porsi!" "Mana bisa rindu dipesan?" "Orang jatuh cinta mah bebas!" Mei Hwa terkekeh. "Kamu jatuh sama siapa?" "Dih, kepo, hehe!" "Sama Wulan?" "Sudah, deh, jangan merusak perasaan rinduku sama kamu!" ujar Ayek, buru-buru mengalihkan topik. Meski Mei Hwa percaya dirinya tidak memiliki perasaan apa-apa sama Wulan, tetapi ia tahu, membahas perempuan lain kepada kekasihnya sangat tidak etis. "Cie, salah tingkah!" Mei Hwa malah meledek. "Terserah kamu dah!" Mei Hwa tertawa, puas berhasil membuat Ayek kesal. Namun, ia akan mengobatinya secara kontan. "Aku juga rindu kamu!" "Memangnya aku siapa?" "Kamu bidadari yang suka minggat dari rumah!" ledek Ayek. Kembali Mei Hwa tertawa. "Gimana, sudah kirim lagu-lagu ke Norman belum?" "Barusan aku kumpulin dalam satu folder, siap kirim!" "Bagus, jangan buat Norman menunggu lama. Ia nggak suka itu!" "Sepertinya Norman harus belajar tentang seni menunggu sama aku!" Ayek berkelakar. "Seni menunggu apa? Baru sehari aku tinggal saja sudah nggak tahan!" hardik Mei Hwa. "Karena menunggumu nilai artistiknya tinggi. Aku belum begitu nenguasai level itu!" "Hahaha, ngeles!" Ayek melirik laptop. Ia memindahkan ponsel ke tangan kiri. Tangan kanan ia gunakan untuk mengarahkan pointer. Sambil menelepon, ia akan mengirim lagu-lagu kepada Norman via email. "Kamu di rumah?" tanya Mei Hwa. "Iya, di depan laptop. Aku mau kirim email ke Norman!" Ayek menjepit ponsel dengan bahu kiri dan telinga. Jari-jari kedua tangannya lincah mengetikkan alamat email Norman yang sudah ia hafal. "Berapa lagu?" "Sebelas lagu!" Ayek menekan tombol enter. Terkirim sudah emailnya. "Tiga lagu kolaborasi kita enggak kamu ikutkan?" Tangan kanan Ayek mengambil ponsel dari bahunya. "Itu biar menjadi lagu kenangan kita. Toh, ketiga lagu itu sudah jadi." "Bener juga sih!" ujar Mei Hwa sepakat. "Terus rencananya ketiga lagu itu mau diapain?" Ayek berpikir sejenak. "Kita jadikan souvenir buat resepsi pernikahan kita!" "Uwuu!" Mei Hwa tergelak manja. Hatinya melambung tinggi, membayangkan dirinya akan bersanding dengan Ayek. Namun, mendadak hatinya pedih jika mengingat sikap keras ayahnya yang melarang hubungan mereka. Sebuah notifikasi inbox email baru saja masuk ke laptop Ayek. Ia membukanya. Hatinya gembira mendapatkan balasan email dari Norman yang mengonfirmasi bahwa lagu-lagunya sudah diunduh sang produser. "Norman sudah mengunduh lagu-laguku!" beritahu Ayek. "Syukurlah, aku senang mendengarnya." Mei Hwa menarik napas lega. "Semoga semua masuk list album perdana kamu." "Aamiin!" ucap Ayek. "Paling enggak separuhnya saja sudah bagus!" "Forward juga lagu-lagu itu ke aku," pinta Mei Hwa. "Oke, tunggu sebentar." Ayek meneruskan lagu-lagu yang tadi terkirim ke Norman kepada Mei Hwa. "Sudah, bisa kamu cek sekarang." "Laptopku di ruangan atas. Aku lagi di lantai bawah," beritahu Mei Hwa. "Nanti biar aku cek di ponsel saja!" "Oke, Sayang!" Di ponsel terdengar Mei Hwa sedang diajak bicara sama seseorang, membuat percakapan di antara mereka terganggu. Ia menggerutu kesal kepada orang itu. "Nanti kita lanjut lagi, ya? Aku ada keperluan mendadak!" "Iya," jawab Ayek malas. "I love you!" Ayek tersenyum. Rasa kesalnya sedikit terobati mendengar ucapan cinta dari Mei Hwa. Tidak lama selepas menerima telepon dari Mei Hwa, Norman mengirimkan pesan w******p berisi dokumen perihal penawaran klausul kontrak. Dengan perasaan berdebar, ia membacanya pelan-pelan. Meskipun tata bahasanya baku, tetapi ia paham dengan maksudnya. Yang membuatnya kaget adalah nominal-nominal rupiah yang tertera di sana jumlahnya fantastis. Belum lagi keuntungan-keuntungan lain yang akan ia dapatkan. Dari segi materi saja, Ayek merasa senang bukan main, apalagi jika nanti ia mendapatkan popularitas. Debaran d**a Ayek sulit dikendalikan. Uang dan popularitas memang bukan motivasi utamanya dalam bermusik, tetapi mendapatkan itu dari passion baginya adalah sesuatu yang menakjubkan. Namun, itu semua masih di depan mata. Ia tidak ingin terlena dengan hasil sebelum memulai prosesnya. Yang harus ia lakukan saat ini adalah berusaha dengan baik untuk mengikuti tahapan-tahapan menuju ke arah sana. Ayek membaca ulang penawaran klausul kontrak tersebut, baru saja selesai, Norman meneleponnya. "Pagi, Ayek," sapa Norman. "Barusan Om kirim dokumen penawaran kalusul kontrak. Coba pahami, kalau ada sesuatu yang kurang berkenan ajukan saja." "Sudah k****a, Om," ujar Ayek. "Aku deg-degan membacanya." Norman terkekeh. "Om merasakan hal yang sama ketika berada di posisi kamu. Bedanya saat itu Om hanya sebagai komposer saja, sedangkan kamu selain penyanyi juga pencipta lagu." "Iya, Om!" "Kalau nggak ke luar kota, nanti malam Om kabari berapa lagu kamu yang terpilih." "Siap, Om!" jawab Ayek riang. "Soal penawaran klausul kontrak, sekali lagi Om minta kamu pahami dengan teliti. Kalau ada usulan atau keberatan sampaikan saja. Perjanjian ini harus menguntungkan kedua belah pihak." "Iya, Om!" "Oke, ingatkan Om kalau nanti malam belum ngasih keputusan soal lagu-lagu itu!" "Siap, Om!" Norman terkekeh geli mendengar jawaban Ayek yang hanya singkat, 'Iya, Om!' dan 'Siap, Om!'. Tetapi ia memahami euforia itu karena pernah merasakannya. "Oke, gitu saja dulu ya?" "Iya, Om, terima kasih!" Selepas menerima panggilan telepon dari Norman, Ayek senyum-senyum sendiri. Perasaannya bahagia. Pikirannya terang. Dan kini ia baru sadar perutnya belum diisi makanan sejak bangun tidur. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN