Membuka Mata Hati

1615 Kata
Selepas sholat maghrib berjamaah, Babah Liem tidak langsung pulang. Ia duduk di serambi mushola, menunggu Ustaz Luthfi menyelesaikan dzikirnya. Ada sesuatu yang ingin ia bahas dengan petugas imam mushola tersebut. Bising dengungan nyamuk yang mengitari kepala, tidak menyurutkan Babah Liem untuk memantapkan niatnya. Bahkan kaki dan tangannya sudah terasa gatal-gatal akibat gigitan serangga tersebut. Satu per satu para jamaah sholat maghrib pulang, menyisakan beberapa orang saja. Itu kesempatan baik bagi Babah Liem untuk membahas sesuatu dengan Ustaz Luthfi tanpa didengar banyak telinga. Setelah menunggu hampir seperempat jam, akhirnya Ustaz Luthfi menyelesaikan dzikirnya. Imam mushola berusia empat puluh tahun tersebut beranjak dari duduk. Babah Liem segera berdiri, mencegatnya. "Assalamu alaikum, Ustaz!" sapa Babah Liem. Ustaz Luthfi tersenyum, menghentikan langkahnya. "Wa alaikum salam warohamatullah." "Ustaz punya waktu luang enggak?" tanya Babah Liem. "Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan." "Insya Allah ada, Bah," jawab Ustaz Luthfi. "Kita bisa membahas apa saja sampai masuk waktu isya." Babah Liem tersenyum, merasa tidak enak hati. "Maaf kalau mengganggu waktu Ustaz." "Enggak kok, Bah." Ustaz Luthfi menunjuk tempat dekat kentongan. "Kita duduk di sana saja." Babah Liem dan Ustaz Luthfi duduk berhadapan di serambi mushola. "Jadi apa yang bisa saya bantu?" tanya Ustaz Luthfi. Ia melebarkan sarung sampai menutupi semua kakinya agar terhindar dari gigitan nyamuk. "Maaf nih, Taz, saya mau tanya soal Ayek putranya Zainab," ujar Babah Liem tanpa basa-basi. "Silakan, Bah!" "Ustaz kan kenal dengan baik keluarga Zainab. Mungkin sedikit banyak paham tentang Ayek." Babah Liem berhenti sejenak, mencari kata yang tepat untuk bertanya lebih lanjut. "Menurut Ustaz, Ayek itu orangnya bagaimana?" Ustaz Luthfi tersenyum, paham dengan maksud pertanyaan Babah Liem. Ia sempat mendengar kabar tentang Ayek yang dikaitkan dengan kepergian Mei Hwa. Isu itu santer di masyarakat. "Seperti yang saya kenal, Ayek anak yang baik, berbakti sama ibunya, juga memiliki akhlak yang bagus." Ustaz Luthfi berkata hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Babah Liem. Babah Liem mengangguk paham. Ia percaya lelaki di hadapannya orang jujur dan obyektif dalam menilai seseorang. "Manusia tempatnya salah. Begitupun Ayek, tetapi secara umum saya berani mengatakan ia anak baik," tambah Ustaz Luthfi. "Iya, Ustaz. Saya percaya itu." Babah Liem menarik napas panjang. "Hanya saja, entah kenapa saya belum bisa lepas dari stigma negatif tentangnya." Ustaz Luthfi menatap lembut Babah Liem. Ia menghargai keterusterangan tetangganya tersebut. "Maaf, Taz, mungkin saya sudah termakan isu warga, tanpa mencari tahu kebenarannya lebih dahulu," aku Babah Liem. Ustaz Luthfi tersenyum bijak. "Maaf, Bah, kalau isu yang dimaksud adalah peristiwa tidak terimanya Pak Udin itu sudah diselesaikan secara baik-baik. Kedua belah pihak sudah saling memaafkan. Pak Udin mengaku khilaf karena menegur Ayek dan teman-temannya secara berlebihan. Ayek dan teman-temannya juga mengaku khilaf bercanda dengan nada suara tinggi. Namun namanya warga, ada saja yang membicarakannya dengan menambahi bumbu-bumbu yang kurang pas, sehingga isu itu bergerak liar. Babah Liem menunduk. Sebenarnya awalnya ia tidak mau percaya begitu saja dengan isu warga tersebut. Namun, logikanya tertutup ketika melihat Ayek mengantar Mei Hwa. Ia malu jika nanti berkembang isu, anak gadisnya berhubungan dengan anak yang sedang menjadi bahan gunjingan. "Saya tidak membela siapa pun," tegas Ustaz Luthfi, mendudukkan persoalan. "Hanya berusaha mengatakan hal yang saya percayai kebenarannya." "Iya, Ustaz, saya percaya," ujar Babah Liem. "Karena itulah saya bertanya pada ustaz." "Maaf, kalau saya keliru," ucap Ustaz Luthfi. Babah Liem mendesah. "Saya khilaf telah mencurigai Ayek terlibat atas kepergian Mei Hwa. Saya memang belum sampai menuduh, tetapi tetap merasa enggak enak hati pada keluarga Zainab." "Babah orang baik," puji Ustaz Luthfi. "Siapa saja bisa khilaf, termasuk saya dan Babah." Babah Liem mengangguk. "Terakhir, saya mau tanya, Ustaz!" "Silakan, Bah!" "Apa yang harus saya lakukan agar bisa membuka mata terhadap Ayek? Saya percaya ia anak baik, tapi setiap kali teringat hubungannya dengan Mei Hwa, setiap kali itu pula, saya teringat gunjingan orang tentangnya, celakanya saya yang tadinya yakin bahwa itu hanya isu, menjadi ragu." Ustaz Luthfi mengangguk-angguk. Senyumnya selalu terkembang sejak tadi. "Selalulah berhusnudhon. Tidak ada ruginya berprasangka baik. Paling tidak itu akan membuat hati Babah tenang. Dengan hati yang tenang, insya Allah pikiran terang." "Seperti itu ya, Ustaz?" Ustaz Luthfi mengangguk. "Insya Allah." *** Melihat Babah Liem cenderung diam, membuat Mei Hwa menjadi merasa bersalah. Selepas makan malam, ia mengutarakan kepada ayahnya bahwa dirinya ingin bicara empat mata. Babah Liem mengajak Mei Hwa ke ruang tamu. Mamah Kiew menemani kedua anaknya yang lain agar tidak mengganggu. Selama beberapa menit ayah dan anak saling diam, menunggu, dan larut dalam pikirannya masing-masing. Tidak tahan, Mei Hwa memulai pembicaraan. "Mei minta maaf sudah menyusahkan Babah dan keluarga," ucap Mei pelan. Babah Liem tersenyum tipis, menatap anaknya sekilas, kemudian menambatkan pandangan ke meja. Mei Hwa bingung dengan sikap diam ayahnya. "Mei ke Jakarta menemui Norman, produser musik yang pernah Mei ceritakan sama Babah. Harusnya Mei pamitan, tapi hari itu pikiran Mei lagi kusut." Babah Liem menatap anaknya dengan ekspresi datar, tidak tersenyum, tidak juga menunjukkan mimik marah. Bibirnya masih tertutup rapat. Serta merta Mei Hwa teringat waktu SD dulu. Waktu itu secara tidak sengaia ia memecahkan guci karena berlarian ke sana kemari, padahal sebelumnya sudah diingatkan. Takut dimarahi ayahnya karena tahu guci itu mahal, ia mengurung diri di kamar, namun reaksi Babah di luar dugaan. Ayahnya itu diam, tidak mengajak bicara siapa pun selama tiga hari. Padahal biasanya Babah Liem mudah marah, bahkan untuk hal kecil sekalipun. Hal itu justru membuat ketakutan Mei Hwa lebih besar ketimbang biasanya. Kini, Mei Hwa merasakan sikap yang sama. Ayahnya lebih banyak diam. Baginya itu lebih menakutkan ketimbang dimarahi. Kini di usianya yang sudah dewasa, ia paham bahwa diam adalah puncak tertinggi kemarahan ayahnya. Efeknya ke mana-mana. Semua akan kena imbasnya, ketika Babah Liem sudah tidak tahan menahan amarahnya. Mei Hwa tidak mau itu terjadi lagi. Sekarang ia siap dimarahi sekeras apa pun, asal ayahnya tidak mendiamkannya. Ketakutan Mei Hwa berbanding terbalik dengan perasaan Babah Liem yang justru takut anaknya akan pergi lagi dari rumah. Maka itu ia memilih diam, meskipun ingin sekali ia meluapkan emosi karena dibuat panik selama tiga hari. Babah Liem ingin menjawab bahwa dirinya memaafkan, tetapi ia menunggu Mei Hwa mengakui semua kesalahan tanpa harus ditanya. Itu akan mengurangi amarah dalam hatinya, sehingga bisa bicara dengan nada biasa. "Kenapa Babah diam?" Mata Mei Hwa berkaca-kaca. "Marahilah Mei, asal jangan diam." Babah Liem menarik napas panjang. Ia tidak tega melihat mata Mei Hwa sembab. "Mei takut, Bah!" Air mata Mei Hwa mengalir, membasahi pipi. "Mei takut Babah tidak mau bicara lagi." Babah Liem membuang muka karena tidak sanggup melihat air mata anaknya. Tapi Mei Hwa mengira ayahnya belum bisa memaafkannya. Mei Hwa beranjak dari tempat duduk. Ia segera bersimpuh di kaki ayahnya. Buru-buru tangan Babah Liem menyangga dagu anaknya sebelum menyentuh kakinya. Ia memeluk anak sulungnya erat-erat. Mei Hwa menumpahkan air mata ke pangkuan ayahnya. Badannya berguncang, menahan sengguk. Sepasang mata Babah Liem sembab, sekuat tenaga menahan agar air matanya tidak menetes. Ruang tamu hening, hanya terdengar bunyi jarum jam yang teratur dan isak tangis Mei Hwa. "Jangan pernah pergi lagi," ucap Babah Liem pelan, nyaris tidak terdengar. "Babah takut kehilanganmu." Spontan Mei Hwa memeluk erat ayahnya. Isakannya semakin kencang. Ia menangis tersedu-sedu, layaknya anak kecil. Babah Liem mengangkat dagu Mei Hwa. Dengan lembut disekanya air mata anak gadisnya. Air matanya mengalir. Sepasang ayah dan anak itu kembali berpelukan. Mei melepas pelukan. Diraihnya telapak tangan ayahnya, kemudian mengecupnya bolak-balik. "Babah mau memaafkan Mei?" Babah Liem hanya bisa mengangguk karena tenggorokannya tercekat. Mei bangkit. Ia duduk di sebelah Babah Liem. Perasaannya menjadi lega, meski jawaban ayahnya hanya sebatas anggukan. "Babah mau kopi?" Mei Hwa menawarkan diri. "Babah nggak kepengen kopi." Babah Liem menolak halus. "Tumben?" Mei Hwa tersenyum heran. "Sejak kamu pergi, Babah tidak selera sama apa pun!" aku Babah Liem lirih. "Tapi Mei kan sudah pulang, Bah." Babah Liem tersenyum. Itu membuat perasaan Mei Hwa semakin merasa lebih baik. Ponsel berdering. Serta merta Mei Hwa menyalahkan diri sendiri yang lupa meletakkan ponsel di kamar. Malam ini ia hanya ingin menikmati membaiknya hubungannya dengan ayahnya, tanpa terganggu apa pun. "Angkat saja, siapa tahu penting!" suruh Babah Liem. Meski ragu, Mei mengambil ponsel dari saku bajunya. Seketika ia salah tingkah ketika mendapati kontak Ayek di layar. Babah Liem melirik layar ponsel Mei Hwa. Dari posisinya yang dekat, ia bisa membaca nama kontak pemanggil. Mei bimbang akan menerima atau tidak. Jika menerima ia takut akan merusak suasana baik ini. Tapi jika menolak, ia merasa tidak enak hati kepada Ayek. "Kenapa tidak diangkat?" Babah Liem sengaja menguji sikap Mei Hwa, ingin tahu seberapa bijak anaknya menyikapi situasi ini. Mei Hwa menggeleng ragu. "Mei hanya ingin bicara sama Babah. Biarlah nanti Mei panggil balik." "Kamu takut sama Babah?" Pertanyaan Babah Liem membuat Mei Hwa kelabakan. Dalam hatinya memang ada perasaan takut, tapi hanya sedikit, karena yang ada di pikirannya hanya menjaga perasaan ayahanya. Nada dering berhenti. Panggilan tidak terjawab. Mei Hwa menarik napas panjang, antara lega dan tidak enak hati. "Kamu masih ketemuan sama Ayek?" Lagi-lagi pertanyaan Babah Liem menempatkan Mei Hwa pada posisi serba salah. "Nggak usah dijawab kalau nggak ingin menjawabnya." Babah Liem tersenyum masam. Bagaimanapun juga, ia masih belum bisa membuka hati sepenuhnya kepada Ayek. "Mei akan jawab!" tegas Mei. Ia tersenyum kepada ayahnya. "Mei nggak mau lagi menyembunyikan sesuatu sama Babah." Babah Liem tercenung. "Apa itu artinya kamu mulai berusaha mengindahkan permohonan Babah?" Mei Hwa menunduk. Pembahasan perihal hubungannya dengan Ayek selalu berakhir dengan ketidaknyamanan kedua belah pihak. Ia ingin menghindar, tapi ayahnya terlanjur bertanya. "Babah siap memandang Ayek dari sudut pandangmu, tapi kamu juga harus sebaliknya." Mei mengangguk paham. Ia bahagia karena Babah mulai membuka hati, tetapi ia juga khawatir itu akan menempatkannya pada posisi yang tidak kalah sulit dari sebelumnya. "Bagaimana?" Babah Liem memastikan. "Kita beri waktu masing-masing untuk berusaha." Mei Hwa mengangguk ragu. "Iya, Bah." Babah Liem tersenyum senang. "Mei ke kamar dulu ya, Bah?" pamit Mei Hwa. "Iya." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN