Zainab meletakkan secarik kertas ke atas meja. Ayek yang tengah asyik menikmati kopi melirik kertas tersebut.
"Kalau kopimu sudah habis, tolong belikan sabun mandi, deterjen, pewangi baju, dan komplotannya," suruh Zainab.
Ayek meletakkan gelas kopi. Tanpa menyentuh kertas, ia membaca daftar belanjaan yang ditulis ibunya.
"Pasta gigi kok nggak ada, Ummi?" protes Ayek.
"Ummi sudah beli kemarin, tapi belum diletakkan di kamar mandi."
Ayek berdiri, meraih kertas, kemudian beranjak keluar rumah.
"Mau ke mana?" tegur Zainab.
"Ketemu calon mertua!" kelakar Ayek sambil senyum-senyum, meledek ibunya.
"Uangnya belum!" Zainab menyodorkan selembar uang seratus ribuan kepada Ayek.
"Itu lembar terakhir ya, Ummi?" tebak Ayek sedih. Bulan ini ia belum mendapatkan pembagian hasil dari Youtube karena sejak band bubar belum ada laporan keuangan.
"Masih ada!" jawab Ummi meyakinkan. "Kemaren Ummi kan dapat orderan katering."
Ayek tersenyum lega. Ia menerima uang dari ibunya. "Ayek keluar dulu, Ummi!"
"Iya!" jawab Zainab.
Ayek keluar rumah. Ia harus jalan memutar untuk sampai ke toko Babah Liem.
Sementara itu, di toko Mei tampak sedang membantu memajang barang-barang yang baru datang ke dalam rak-rak.
Tidak jauh dari Mei Hwa, Mamah Kiew dan Babah Liem sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Seorang pelanggan baru saja selesai membayar. Tidak ada kegiatan, Mamah Kiew melirik suaminya.
"Babah sudah mencabut laporan kehilangan di kantor polisi?" tanya Mamah Kiew, sedikit berbisik, tidak mau suaranya terdengar orang di sekitarnya, terutama Mei Hwa.
"Sudah, Mah," jawab Babah Liem sembari mengetik angka pada kalkulator. Ia sedang mengalkulasi total biaya bulan kemarin.
Mamah Kiew mencondongkan kepala ke suaminya. "Semalem membahas apa sama Mei Hwa?"
Babah Liem tersenyum. Ia melirik Mei Hwa yang tampak sedang nguping pembicaraan mereka.
"Nanti cerita sama Mamah ya?" pinta Mamah Kiew.
"Iya," jawab Babah Liem tanpa melirik istrinya. Ia tengah fokus memelototi angka-angka.
Dua orang pelanggan baru saja memasuki toko. Satu seorang ibu muda, satunya lagi Ayek.
Dada Ayek berdebar ketika melihat Mei Hwa berada di toko. Mendadak ia gugup karena tidak jauh dari kekasihnya itu ada Babah Liem dan Mamah Kiew. Ingin sekali ia mengurungkan berbelanja di toko tersebut, tapi karena terlanjur masuk, terpaksa ia melanjutkan langkahnya.
Jika mendekati Mei Hwa, Ayek takut dianggap mencari kesempatan, akhirnya ia memilih menemui Mamah Kiew.
"Belanja apa, Yek?" tanya Mamah Kiew sambil mengulas senyum ramah.
Mendengar kata 'Yek', spontan Mei Hwa dan Babah Liem menoleh.
Ayek menjadi semakin gugup. Ia maju selangkah sambil menyerahkan kertas kepada Mamah Kiew.
"Mei!" Mamah Kiew meneruskan kertas tersebut kepada Mei Hwa.
Mei Hwa mengangguk, menerima kertas. Ia melirik Ayek sekilas, sebelum akhirnya segera mengambil barang-barang seperti yang ada pada daftar.
Konsentrasi Babah Liem pecah. Perasaannya campur aduk, antara canggung dan hasrat ingin menyelidik, kenapa Ayek sendiri yang belanja ke tokonya, padahal biasanya ibunya.
"Tumben kamu yang belanja," ujar Mamah Kiew berbasa-basi. "Ummi sehat?"
"Alhamdulillah sehat, Mah!" jawab Ayek. "Tapi Ummi lagi repot, menyiapkan pesanan kue, makanya saya yang disuruh belanja."
Mei Hwa mengumpulkan barang-barang sambil menyiagakan telinga, penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan antara Ayek dengan ibunya.
Belanjaan Ayek tidak banyak, tetapi karena ada beberapa barang yang ukurannya besar sehingga Mei Hwa mengemasnya dalam dua kantong kresek.
"Ini, Mah!" Mei Hwa mendekatkan dua kantong kresek ke dekat meja kasir.
Mamah Kiew cekatan menghitung belanjaan Ayek. Ia hanya butuh waktu kurang dari satu menit. "Enam puluh dua lima ratus!"
Ayek menyerahkan selembar uang ratusan ribu kepada Mamah Kiew. Transaksi berlangsung cepat. Selepas menerima uang kembalian, ia mengambil kantong kresek.
"Terima kasih, Yek!" ucap Mamah Kiew.
Ayek tersenyum. "Sama-sama, Mah!" Ia keluar toko, menenteng satu kantong kresek.
Mei Hwa ingat kalau dirinya mengemas belanjaan Ayek dengan dua kantong kresek, tetap kekasihnya itu hanya menjnjing satu. Buru-buru, ia menegur ibunya.
"Mah, kreseknya ketinggalan satu!" beritahu Mei Hwa.
Babah Liem sigap. "Mei, buruan kejar Ayek sebelum jauh!"
Mamah Kiew dan Mei Hwa saling pandang, heran dengan sikap Babah yang tidak tampak memusuhi Ayek.
"Tunggu apa lagi!" hardik Babah Liem karena Mei Hwa belum beranjak.
"Iya, Bah!" ujar Mei Hwa. Ia mengambil kantong kresek. Setengah berlari ia mengejar Ayek.
Beruntung, Ayek berjalan santai, sehingga Mei Hwa tidak harus mengejar terlalu jauh.
"Yek!" panggil Mei Hwa dengan napas terengah-engah.
Ayek menoleh. "Ada apa, Mei?"
Mei Hwa mengacungkan kantong kresek ke arah Ayek. "Ketinggalan satu!"
Ayek memeriksa isi kantong yang dibawanya. Barulah ia tahu kalau barang belanjaannya dikemas dalam dua kantong kresek. Buru-buru ia mendekati Mei Hwa.
"Kirain cuman satu kresek!" ujar Ayek.
Mei Hwa menyerahkan kantong kresek kepada Ayek. "Mikirin apaan sih sampai nggak fokus?"
Ayek tergelak. "Aku grogi sama calon mertua!"
Mei Hwa tersipu. "Tahu nggak, Babah yang menyuruh aku ngejar kamu buat nyerahin kantong kresek itu?"
Ayek kaget. "Oh iya?"
Mei Hwa mengangguk senang. "Semoga ini pertanda baik!"
"Aamiin!"
"Aku balik ke toko ya?" pamit Mei Hwa.
"Iya, terima kasih, Mei!" ucap Ayek.
Mei mengangguk. Sebelum membalikkan badan, ia melempar senyum manis kepada Ayek.
Tiba-tiba ia ingat sesuatu. "Eh, Mei!" panggilnya.
Mei Hwa menoleh. "Ada apa, Yek?"
"Norman memintaku ke Jakarta besok, buat menandatangani kontrak!" beritahu Ayek.
Seketika Mei Hwa tersenyum gembira. "Wah selamat, Yek!" Ingin sekali ia memeluk kekasihnya itu, memberi selamat, tetapi ia sadar sedang berada di tempat umum.
"Besok pagi aku ke Jakarta. Norman sudah mengirim schedule lengkap proses rekaman."
"Wah, Norman gerak cepat!"
"Iya," jawab Ayek senang. "Alhamdulillah nantinya ada tiga laguku dalam album itu!"
"Alhamdulillah!" ucap Mei Hwa penuh syukur. Namun tiba-tiba ia merasa sedih. "Pasti kamu akan lama di sana!"
Ayek menghela napas.
"Berapa bulan?"
"Paling enggak sebulan aku harus fokus buat mempersiapkan take vokal."
Mei Hwa menunduk. "Kamu baru akan berangkat besok, tapi aku sudah rindu."
Ayek tercenung. Ia pun merasa sedih akan terpisah jarak dengan Mei Hwa. Namun, ia harus menguatkan kekasihnya itu.
Ayek maju selangkah lebih dekat ke Mei Hwa. "Doakan aku berhasil!"
Mei Hwa mengangguk. Matanya mulai sembab. "Doaku selalu menyertaimu."
"Terima kasih, Sayang!"
Air mata Mei Hwa jatuh. Buru-buru ia menyeka menggunakan jari. "Aku harus ke toko." ujarnya, lantas membalikkan badan, berlari meninggalkan Ayek.
Ayek menarik napas panjang. Ditatapnya punggung Mei Hwa yang bergerak menjauhinya.
***
Ayek mengepak barang-barang yang akan dibawa Jakarta. Paling tidak selama empat minggu ia harus fokus mempersiapkan rekaman, sehingga jumlah baju yang ia bawa tiga kali lipat dari ketika akan menyusul Mei Hwa, beberapa hari lalu.
Seolah hati Ayek terbelah menjadi dua bagian. Satu bagian dipenuhi perasaan bahagia dan semangat menggebu-gebu karena impiannya menembus industri musik nasional akan terwujud. Satu bagian lainnya ia merasa sedih harus meninggalkan dua perempuan yang disayanginya.
Mengingat ibunya hanya tinggal seorang diri menbuat Ayek berat meninggalkannya. Bisa saja ia mengajak serta ibunya, tetapi saat ini kondisinya belum memungkinkan.
Mei Hwa juga membuat hati Ayek berat untuk meninggalkannya. Namun ia akan berusaha untuk memendam kerinduannya. Ia harus berhasil menggapai impian. Kalau dulu motivasinya demi ibunya saja, sekarang demi kekasihnya juga.
"Sudah semua?" tanya Zainab, membuyarkan lamunan Ayek.
"Sudah, Ummi!" Ayek menyeka air mata di pelupuk mata yang belum jatuh.
"Ibu akan baik-baik saja. Kamu fokus saja dengan kewajibanmu di sana," nasehat Zainab.
"Iya, Ummi!" Ayek menatap ibunya sedih. "Ayek nggak tega meninggalkan Ummi sendiri."
Zainab mengelus rambut Ayek lembut. "Kamu harus semangat. Insya Allah Ummi baij-baik saja. Tinggalkan Ummi dengan hati lapang. Asal jangan pernah tinggalkan sholat."
Ayek memeluk ibunya erat-erat. Kurang dari dua puluh empat jam, ia harus ke Jakarta, meninggalkan perempuan yang sudah melahirkannya dua puluh lima tahun tersebut.
Ponsel berdering. Ayek melepaskan pelukan. Diliriknya ponsel, ternyata Sandi yang meneleponnya.
"Hallo!" sapa Ayek.
"Yek, lo sudah dapet kosan?" tanya Sandi.
"Belum," jawab Ayek. "Tapi kata Norman ada mes di bagian belakang kantornya. Sementara aku tinggal di sana dulu sampai dapat kosan."
"Tinggal di rumah gue saja!"
"Gila apa? Nggak enaklah kan ada kakak lo!"
"Kak Cindy itu ngekos tahu!" beritahu Sandi. "Ia kuliah di Bogor. Jarang pulang, paling tiga bulan sekali, itu saja kadang nggak nginep."
"Lama amat! Bukannya Bogor deket ya dari Kalibata?"
Sandi mendesah. "Mungkin ia pikir buat apa lama-lama, toh bokap sama nyokap nggak ada di rumah."
Ayek berpikir, meninbang tawaran Sandi. "Nanti gimana baiknya dah. Gue sih seneng kumpul sama lo lagi. Jadi ada temen konsultasi."
"Kapan kita pernah konsultasi?" Sandi terkekeh. "Yang ada kita selalu debat. Hehehehe!"
"Maksud gue temen debat!" Ayek tertawa.
"Kapan lo berangkat?"
"Besok, jam keberangkatannya sama dengan yang kemaren itu!"
"Perlu gue jemput nggak?"
"Nggak usah. Paling lo lagi ke kampus. Gue pake taksi online saja."
"Halah, bilang saja mau menemui Wulan dulu!"
"Njir! Gue timpul pakai upil tahu rasa lo!"
"Hahaha. Timpuk aja secara online kalau berani "
Zainab berlalu dari hadapan Ayek. Ia jjjik mendengar kata upil.
***
Kesepakatan untuk saling membuka hati benar-benar diindahkan Babah Liem. Mei Hwa menyambut baik itu.
Babah Liem terus berusaha untuk menilai Ayek secara obyektif. Selain mencari tahu dari beberapa orang yang bisa dipercaya, ia juga rajin mencari informasi tentang Ayek di internet.
Di pihak lain, Mei Hwa sadar kalau sikap keras ayahnya lebih dikarenakan ingin memastikan yang terbaik baginya.
Babah Liem keras tapi sangat menyangi keluarga. Pelarangan hubungan Mei Hwa dengan Ayek karena ia takut anaknya mendapat pengaruh negatif. Waktu itu ia bersikap berlebihan karena termakan isu warga mengenai Ayek. Sekarang, sedikit demi sedikit ia bisa menggunakan logika dengan baik.
Melihat perkembangan baik itu, membuat Mei Hwa gembira. Ia berharap ayahnya akan segera mengetahui jati diri Ayek yang sebenarnya. Dengan situasi ini, ia juga merasa perlu menyampaikan perihal usaha Ayek dalam mengajaknya pulang.
"Jadi begitu ceritanya, Bah," ucap Mei Hwa selepas menjelaskan kronologi keberangkatan sampai kepulangannya.
Babah tersenyum tipis. Ada rasa malu dalam hati, mengingat dirinya sempat mencurigai Ayek.
"Mei minta Ayek pulang sendiri-sendiri dari stasiun Tegal karena takut Babah salah paham," imbuh Mei Hwa.
Babah Liem mengatupkan bibir. Ia pernah bersikap berlebihan kepada Zainab karena panik. Ia menjadi merasa bersalah.
"Jangan pergi lagi ya, Mei?" pinta Babah Liem. "Babah keras, kamu juga keras. Pasti ada cara buat melunakkan kekerasan masing-masing. Apa pun itu, asal jangan pergi dari rumah."
Mei Hwa mengangguk. "Iya, Bah."