Empat Mata

1394 Kata
Ayek berangkat ke Jakarta diantar Kosim dan ibunya sampai stasiun Tegal. Di depan pintu gerbong, Ayek memeluk ibunya erat-erat. "Doakan Ayek, Ummi." "Ummi selalu mendoakanmu," ujar Zainab. Ia melepaskan pelukan. Kedua tangannya mengusap sepasang pipi Ayek. "Jangan tinggalkan sholat dalam keadaan apa pun!" "Insya Allah, Ummi!" Mata Ayek berkaca-kaca. "Ayek berangkat dulu." "Iya, hati-hati. Pokoknya ingat pesan Ummi: Jangan tinggalkan sholat!" Ayek mengangguk. Disekanya air mata yang mulai mengalir. Ayek beralih memandang Sandi. Ia memeluk sahabatnya. "Tolong kalau ada waktu tengok Ummi ya?" "Siap, Bos!" ucap Kosim berusaha menghangatkan suasana. Kosim melepas pelukan. "Salam buat Sandi." "Kalau nggak lupa!" ledek Ayek. Dengan berat hati Ayek menapakkan kaki pada lantai gerbong. Ia melambai kepada ibunya dan Kosim. Keberangkatannya ke Jakarta kali ini seperti kebalikan dengan ketika mencari Mei Hwa. Sebelumnya ia berangkat dengan penuh semangat meskipun belum tahu pasti akan berhasil. Sementara sekarang, meskipun menjemput peluang bagus tetapi terasa berat. Sehari setelah sampai di Jakarta, Ayek masih merasakan berat terpisah jauh dengan ibunya dan Mei Hwa. Hari kedua ketika menandatangani kontrak dengan Norman, ia bisa tersenyum melihat jumlah nominal yang akan didapat. Namun besoknya selama seminggu ia harus bekerja keras agar fokus untuk mendalami lagu-lagu yang akan direkamnya. Beruntung Sandi tidak pernah lelah menyemangatinya dan mengalihkan pikirannya agar tidak selalu teringat kampung. Minggu kedua, kesibukan Ayek meningkat signifikan. Ia harus bangun sebelum subuh agar bisa menyiapkan segala sesuatu sebelum sampai studio. Di studio pikiran dan tenaganya terkuras agar bisa segera menguasai lagu-lagu dengan seharusnya. Baru pada minggu ketiga Ayek benar-benar terbiasa jauh dari ibu dan kekasihnya. Ia mulai merekam lagu-lagunya. Hanya butuh waktu lima minggu, ia sudah menyelesaikan take vokal. Pada masa ini, kesibukannya mulai berkurang. Norman sering mengajaknya ke setiap acara musik, membuatnya mulai dikenal. Komunikasi Ayek dan Mei Hwa terbilang lancar, meski lebih sering saling mengirim chat ketimbang telepon. Mei Hwa sengaja memberi jarak waktu agar kekasihnya tidak terganggu. Betapapun ia ingin setiap saat mendengar suara Ayek tapi ia sekuat tenaga menahannya. Sementara dengan ibunya, Ayek tidak pernah absen melakukan video call lewat ponsel Kosim. Hatinya merasa tenang setelahnya. Senyum dan suara ibunya selalu menumbuhkan semangat baru. Satu-satunya kabar dari Slawi yang belum Ayek ketahui adalah perihal sikap Babah Liem atas hubungannya dengan Mei Hwa. Ketika Ayek sedang disibukkan dengan syuting video klip, Babah Liem mengajak bicara empat mata dengan Mei Hwa. "Kita sudah sepakat untuk saling membuka hati dan akan saling memahami," ucap Babah Liem. "Selama sebulan terakhir, Babah berusaha mengenal Ayek secara obyektif. Karena kami tidak berinteraksi satu sama lain, maka Babah mencari informasi tentangnya dari berbagai sumber. Memang itu tidak menjadi gambaran lengkap tentangnya, tapi setidaknya Babah sedikit banyak bisa mengambil kesimpulan dari itu semua." Mei Hwa mengangguk. Hatinya berdebar. Meskipun yakin Babahnya sudah membuka hati dan tidak sekeras dulu lagi, tetapi ia takut keputusan ayahnya tidak sesuai ekspektasi. "Terus-terang, pada awalnya Babah tidak berpikir logis, mempercayai begitu saja stigma negatif pada Ayek. Sehingga waktu itu dulu Babah takut kamu akan mendapat pengaruh tidak baik darinya. Maka itu Babah melarang kalian punya hubungan khusus. Babah mengakui kesalahan tersebut." Mei Hwa menyimak dengan baik ucapan Babah Liem. Ia akan diam selama ayahnya belum selesai bicara. "Selain itu, ada dua kesalahan lain yang Babah lakukan. Pertama, Babah menyuruh seseorang untuk memata-matai kalian. Itu Babah lakukan karena takut sesuatu terjadi padamu. Pada akhirnya itu tidak menghasilkan apa-apa, justru semakin membuat Babah jauh dari logika." Mei Hwa tersenyum. Ia ingin menyela, bertanya apakah orang suruhan Babah bernama Marno atau bukan, tetapi ia sadar belum gilirannya untuk bicara. Babah Liem menyesap kopi, kemudian mengambil napas panjang untuk berbicara lebih jauh. "Kesalahan kedua adalah mencurigai Ayek terlibat atas kepergianmu, sampai Babah sempat bereaksi berlebihan ketika menemui Zainab. Soal itu Babah sudah meminta maaf karena khilaf." Mei Hwa menggigit bibir. Apa yang dikatakan Babah barusan baru didengarnya. Ayek tidak pernah menceritakannya. Namun, ia menduga, bisa saja kekasihnya itu juga belum tahu bahwa ayahnya pernah bersikap berlebihan kepada Zainab. "Babah keras, tetapi selalu mengedepankan logika," lanjut Babah. "Maka itu Babah menemui Ustaz Luthfi bertanya beberapa hal tentang Ayek. Beliau bahkan memberi nasehat agar Babah berprasangka baik. Selain itu Babah juga bertanya hal yang sama kepada beberapa orang yang Babah anggap obyektif. Kesimpulannya, semua mengatakan bahwa Ayek anak baik dan selalu berbakti kepada ibunya." Spontan Mei Hwa tersenyum. Hatinya lega bukan main. "Ada satu lagi yang ingin Babah katakan, tetapi kamu jangan ketawa!" Babah tersenyum geli. Mei Hwa mengangkat sepasang alisnya. Ia penasaran dengan apa yang akan disampaikan ayahnya. Selucu apakah, sehingga ia diwanti-wanti agar tidak tertawa? "Babah mencari informasi soal Ayek dan band-nya dari internet!" aku Babah sambil menahan tawa. Serasa perut Mei Hwa ada yang menggelitiki. Sekuat tenaga ia menahan agar tidak tertawa. Baginya itu lucu karena Ayahnya sebelumnya tidak suka internet, membeli ponsel mahal saja hanya demi gengsi. Itu pun hanya berisi w******p dan foto barang-barang toko. "Syukurlah kalau kamu nggak ketawa!" ujar Babah Liem. Melihat ekspresi lucu Babahnya membuat Mei Hwa tertawa. "Ketawanya telat!" Babah Liem menggerutu. Tawa Mei Hwa semakin kencang. Namun, buru-buru ia menghentikannya. "Sekarang giliranmu," ujar Babah Liem. Mei Hwa menarik napas panjang. Ia tidak tahu harus memulai dari mana. "Sebelumnya Mei mau tanya, apa suruhan Babah itu bernama Marno?" Babah Liem mengernyit. "Kenapa kamu bisa tahu?" Mei Hwa tersenyum geli. "Mei kan cerdas seperti Babah!" Babah Liem tertawa malu. "Pantesan kerjaan Marno nggak pernah beres!" Mei Hwa mendadak sedih namun bibirnya menyungging senyum, mengingat saat-saat serunya mengerjai Marno bersama Ayek. "Katakan saja, nggak usah takut!" ujar Babah. Mei Hwa mengangguk. "Sekali lagi Mei minta maaf sudah membuat Babah panik waktu itu. Alasan Mei pergi tanpa pamit adalah karena permohonan Babah untuk melupakan Ayek." Mei menelan ludah. "Setahu Mei Hwa hanya Babah satu-satunya ayah yang memohon kepada anaknya. Itu membuat Mei berpikir, pasti Mei sudah keterlaluan. Pasti sikap Babah sudah enggak bisa diubah. Pasti Mei akan kecewa karena harus melupakan Ayek." Babah Liem menatap Mei Hwa lekat-lekat. Dalam hati ia membenarkan ucapan anaknya. "Babah benar, Mei hanya menuruti perasaan tanpa mau mendengar ucapan Babah. Ini pertama kali Mei menyukai laki-laki. Jadi mungkin karena itulah cenderung mau menang sendiri, sulit menerima nasehat." Babah Liem terharu mendengar pengakuan Mei Hwa. "Di mata Mei Hwa, Ayek sangat baik. Mei percaya ia tipe lelaki setia dan bertanggung jawab. Mei merasa beruntung mengenalnya. Tapi, Mei sadar, enggak bisa menikahinya tanpa restu Babah." Selama hampir dua menit Mei Hwa diam. Ia sibuk menata letupan-letupan perasaan dalam hati. Ini hari yang menentukan bagi masa depannya dengan Ayek. Harapannya sangat besar ayahnya akan merestui, tetapi tidak mudah mendapatkan itu, bahkan perubahan sikap Babah tidak bisa dijadikan indikasi harapannya akan terwujud. Babah Liem menahan diri untuk menyela. Ia sadar, Mei Hwa tertekan. "Mei sadar, banyak lelaki sebaik Ayek. Jika tidak bisa bersamanya, masih ada yang lain. Tetapi Mei hanya punya satu ayah sebaik Babah. Jika kehilangannya, Mei tidak akan pernah mendapatkan gantinya." Mei Hwa menangis tersedu-sedu. Cukup lama ia menenangkan diri. Babah Liem menepuk bahu anak gadisnya. Ia merasa beruntung memiliki anak sebaik Mei Hwa. "Mei mencintainya, Bah. Sangat mencintainya. Tapi Mei lebih takut kehilangan Babah ketimbang kehilangannya." Mei Hwa terisak. Mulutnya bisa lancar mengucapkan itu, tetapi dua sisi hatinya saling berperang. Mata Babah Liem berkaca-kaca. Ia merasakan hal yang sama dengan Mei Hwa. Dulu ia terpaksa harus melupakan gadis pujaannya demi gadis pilihan ibunya, yang sekarang menjadi istrinya. Mei Hwa menarik napas dalam-dalam. Dihembuskannya secara perlahan, mengurangi segala sesak yang memenuhi rongga dadanya. "Cuma itu yang ingin Mei katakan. Sekarang silakan Babah menentukan sikap." Babah Liem terdiam. Ia telah mantap dengan sikapnya. Sekarang ia tinggal menyampaikan pada anaknya. "Kamu siap menerima apa pun keputusan Babah?" tanya Babah Liem dengan nada berat. Mei Hwa mengangguk. "Babah belum mendengar jawabanmu!" Mei Hwa menatap ayahnya ragu. "Iya, Bah." "Jika Babah merestui, sudah pasti kamu menerima. Jika sebaliknya, apa juga begitu?" Mei Hwa menunduk. Hatinya bimbang. Ia seperti dihadapkan pada dua pilihan, meskipun kenyataannya, ia tetap harus patuh pada keputusan ayahnya. Berdasarkan semua ucapan Babah Liem, Mei optimis ayahnya akan merestui. Tidak ada hal jelek yang dialamatkan pada Ayek, tetapi selama belum ada keputusan semua belum bisa dipastikan. "Babah hanya akan memutuskan setelah kamu menjawab siap menerimanya," tegas Babah Liem. Meskipun berat, Mei Hwa terpaksa mengangguk. Siap atau tidak, ia harus bisa menerima keputusan ayahnya. "Seperti Babah katakan tadi, Ayek anak yang baik. Babah percaya itu. Tapi...." Babah Liem menarik napas dalam-dalam. Hati Mei Hwa bersebar-debar. Berkali-berkali ia menelan ludah, gelisah mendengar kata 'tetapi'. "Babah nggak mau kamu pacaran dengan Ayek!" Mei Hwa tersentak 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN