Begitu masuk kamar, Ayek langsung menjatuhkan badan ke springbed. Kaos kaki masih melekat. Ponsel masih berada di saku celana. Ia malas melakukan apa pun, kecuali rebahan.
Menjelang peluncuran album perdana, kesibukan Ayek meningkat tajam. Sehari paling banyak ia hanya punya waktu istirahat empat jam. Berangkat selepas sholat subuh, pulang tengah malam. Untuk urusan album semua sudah beres, tetapi kegiatannya bersama Norman lebih banyak dari yang ia kira.
Norman tidak hanya menyiapkan album perdana Ayek secara teknis dan promosi saja, tetapi juga menyiapkan mental dan mengenalkan industri musik pada calon bintangnya.
Tadi Ayek menghadiri sebuah acara penghargaan untuk pegiat musik,. Acara itu disiarkan langsung beberapa stasiun televisi nasional. Norman menjadi bintang tamu. Ayek mendampinginya. Mereka duduk di barisan depan.
Beberapa kali kamera menyorot ke arah Ayek. Awalnya ia salah tingkah, berdebar-debar, senang, dan berharap ada yang melihatnya di layar televisi. Sebisa mungkin ia tidak melirik ke kamera, meskipun ingin, biar tidak kelihatan ndeso.
Ayek baru tahu bahwa pada sebuah acara live, ketika sedang iklan, acara tetap berlangsung meskipun sifatnya lebih santai dan tidak terkait acara inti, seperti penampilan penyanyi, standup comedy, sampai banyolan segar pembawa acara dadakan.
Itu pengalaman paling mengesankan bagi Ayek. Ia bertemu dengan banyak artis papan atas, bersalaman, berfoto bareng, yang biasanya hanya bisa ia lihat di layar televisi.
Mengingat itu semua membuat Ayek merasa bahagia. Demi menghargai kepercayaan Norman, selama acara berlangsung ia mengatur ponsel dalam mode silent. Ponsel ia gunakan hanya untuk memfoto dan merekam momen-momen tertentu. Beberapa di antaranya ia unggah di media sosial.
Malam ini ia ingin tidur pulas, kalau bisa tidak diganggu mimpi, karena impiannya satu per satu telah menjadi nyata, hanya tinggal satu yang belum, yaitu bersanding dengan Mei Hwa di pelaminan.
Mei Hwa! Ayek terkesiap. Rasa ngantuk dan lelahnya mendadak teralihkan bayangan kekasihnya. Sudah tiga hari ia tidak berkomunikasi dengan gadis itu.
Ayek merogoh ponsel di saku celana. Ia memeriksa notifikasi. Ada ratusan pesan dan tiga panggilan tidak terjawab. Mei Hwa mencoba meneleponnya empat jam lalu ketika ia berada di stasiun televisi.
Ayek membuka aplikasi w******p. Jempolnya menggulir layar, mencari chat dari Mei Hwa. Satu pesan dari gadis itu tertimbun: Sibuk nggak? Aku mau nelepon.
Last Seen Mei Hwa enam menit yang lalu. Ayek yakin, gadis itu belum tidur. Ia membalasnya : Aku baru buka ponsel.
Tidak butuh waktu lama, chat langsung terbaca. Hati Ayek gembira membaca: Mei Hwa mengetik...
Namun ketikan berhenti. Mei Hwa malah menelepon. Ayek segera menerimanya.
"Hai, Mei!" sapa Ayek.
"Hai!" jawab Mei Hwa serak. "Aku habis nangis, terus tertidur."
Ayek bangkit dari rebahan. Hatinya menjadi cemas. "Nangis kenapa?"
Mei Hwa diam. Ayek hanya mendengar deru napas pendek-pendek.
"Ada apa, Mei?" Rasa cemas Ayek semakin besar.
"Aku sayang kamu, Yek!"
"Aku juga, Mei!
"Aku kangen kamu."
Ayek merasakan ada sesuatu yang tidak wajar dari ucapan Mei Hwa. Kalau kata cinta dan rindu itu hal biasa yang sering ia dengar, tetapi nada melankolis kekasihnya itu membuatnya bertanya-tanya.
"Aku ingin kamu sukses. Yakinlah aku akan merasa bahagia ketika itu terwujud. Pokoknya aku mendoakan yang terbaik untukmu, ada atau tidak ada aku di sampingmu." Suara Mei Hwa terdengar parau.
"Mei, kamu kenapa?"
Mei Hwa terkekeh. "Aku mendoakanmu."
"Iya, terima kasih, tapi kenapa kamu bilang 'ada atau tidak ada'?"
"Kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi besok, bahkan satu jam ke depan sekalipun."
Ayek menjadi tidak sabar. "Jawab aku, ada apa, Mei?"
Ayek hanya mendengar dengus Mei Hwa. Hatinya menjadi tidak keruan. Ia yakin ada sesuatu yang sedang disembunyiian Mei Hwa.
"Tadi Babah mengajakku bicara empat mata," beritahu Mei Hwa. "Kabar baiknya, beliau percaya kamu lelaki baik dan bertanggung jawab. Beliau mengaku salah telah percaya isu negatif tentangmu."
"Alhamdulillah," ucap Ayek lega. "Semoga hanya berita baik saja yang ingin kamu sampaikan."
Mei Hwa terkekeh. "Ya sudah berita buruknya nggak usah aku katakan!"
Ayek penasaran. "Berita buruk?"
Mei Hwa menarik napas dalam-dalam, kemudian menghempaskannya, menimbulkan suara seperti gemuruh pada ponsel Ayek.
"Apa berita buruk itu ada kaitannya sama pembicaraan empat mata kamu sama Babah?"
"Iya," jawab Mei Hwa lirih.
Pikiran Ayek langsung tertuju pada perihal Babah Liem yang tidak merestui hubungannya dengan Mei Hwa.
"Aku mau tanya, tapi kamu harus jawab jujur dan jangan marah," pinta Mei Hwa.
"Oke."
"Jika kita nggak berjodoh, kamu mau bisa nggak melupakan aku?"
Deg! Ayek kaget bukan main. "Kamu ngomong apa sih?"
"Aku tanya, Yek!"
"Tapi kenapa harus menanyakan itu?"
"Kalau nggak mau jawab, nggak papa. Yang pasti kalau kamu menanyakan balik, aku akan jawab nggak tahu."
Kantuk Ayek sirna. Rasa lelah yang tadi menguasainya kini tidak terasa. Semua tertutup perasaan kalut.
"Tadi, sebelum menentukan sikap, Babah tanya, bagaimana jika ia nggak menyetujui hubungan kita."
"Terus kamu jawab apa?"
"Aku bilang sama Babah, banyak lelaki yang sebaik kamu. Jika tidak bisa bersamamu masih ada yang lain. Aku juga bilang, hanya satu ayah sebaik Babah, jika kehilangannya, nggak ada lagi gantinya."
Ayek terdiam. Pengakuan Mei Hwa sangat mengejutkannya, namun ia menghargainya.
"Babah sudah berusaha memperbaiki kesalahannya. Ia gigih mencari informasi tentangmu kepada orang-orang yang dianggap bisa menilaimu secara obyektif. Alhamdulillah Babah nggak lagi memandangmu sebelah mata. Tapi, memiliki menantu tidak sekadar calonnya baik saja."
"Terus apa sikap Babah?" Ayek berharap-harap cemas."
Mei Hwa kembali diam.
"Please, Mei, jangan muter-muter, langsung saja katakan, apa sikap Babah?"
Mei Hwa mendengus. "Asal kamu tahu, Yek. Aku bersabar mendengar Babah bicara dari awal sampai akhir. Aku nggak pernah menyelanya."
Ayek tersinggung, meskipun dalam hati ia merasa tidak sabar.
"Aku duduk di hadapan Babah dengan perasaan dag-dig-dug. Kamu nggak tahu itu kan?" Nada Mei Hwa mulai meninggi.
"Iya, Mei, maaf!"
"Aku juga nggak sabar, tapi aku tahan! Aku ingin hidup bersamamu, tapi aku juga harus menghargai keputusan Babah. Jadi, kuharap kamu mau menghargai keputusannya."
"Baik, aku akan menghargainya." Ayek berkata tegas, meskipun dalam hati ragu.
"Setelah mendengar keputusan Babah, hatiku serasa sedang ditusuk-tusuk benda tajam kemudian tersiram air garam. Pedih. Perih. Yang bisa kulakukan cuman menangis."
Lemas tubuh Ayek. Ponsel di tangan kanannya terasa berat. Ia mulai menduga hal-hal buruk.
"Aku menerima keputusan Babah. Kuharap kamu memahaminya."
Jika diibaratkan kaca, hati Ayek retak, hanya tinggal satu sentuhan saja untuk membuatnya berkeping-keping.
"Babah melarang kita pacaran!"
Tanpa sadar Ponsel Ayek terjatuh. Pikirannya kusut. Hatinya hancur berkeping-keping. Namun, dengan tenaga tersisa, ia memungut ponsel dan kembali menempelkannya ke telinga.
"Maafkan aku, Yek!"
Ayek menelan ludah. Rasanya pahit. Bukan larangan Babah yang membuat hatinya sakit, tetapi cara Mei Hwa menyampaikan yang membuatnya kecewa. Ia menangkap kesan, gadis itu seolah pasrah saja, tidak mempertimbangkan perjuangan mereka melalui masa-masa sulit.
"Kamu menyerah?" tanya Ayek.
"Aku sudah berusaha!" dalih Mei Hwa. "Sekarang aku ingin tahu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"
Ayek menggenggam kuat-kuat ponselnya. "Besok aku pulang untuk melamarmu!" Selepas mengatakan itu, ia mengakhiri percakapan.