Di Teras Bersama Cindy

941 Kata
Ayek memandang pintu gerbang rumah Sandi dengan sorot mata nanar. Hatinya bimbang, apakah akan menemui sahabatnya itu atau tidak. Dari rumah kost ia menyempatkan mampir ke rumah Sandi. Ayek punya waktu tiga jam sebelum jadwal pembuatan video klip. Waktu sependek itu kini sangat berharga baginya, mengingat kesibukannya sebulan terakhir. Harapannya di rumah itu pikirannya akan kembali segar. Selain penat dengan pekerjaan, otaknya sedang kusut setelah mendapat kabar dari Mei Hwa semalam. Namun setelah berada di depan rumah Sandi, Ayek menjadi bimbang. Sahabat yang akan ia temuo tidak berada di rumah, sedang keluar untuk mendaftar ke salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Depok. Memang, masih ada Cindy, tetapi ia merasa risih berduaan saja dengan cewek di rumah sepi. Lamunan Ayek buyar ketika mendengar bunyi dari bergesernya pintu gerbang. Tidak lama ia mendapati Cindy sedang melempar senyum ke arahnya. "Gue pikir siapa, berdiri kejer di depan gerbang. Ternyata elo, Yek? Hehehe." Cindy melebarkan pintu gerbang. "Kak Cindy tahu gue di sini?" tanya Ayek polos. Cindy terkekeh. "Dari CCTV kan kelihatan. Cuman tadi gue ragu itu elo apa bukan." Ayek garuk-garuk kepala. Ia merasa seperti orang bodoh saja. Sudah pasti rumah semewah ini diawasi CCTV. "Lo mau berdiri saja di situ?" Ayek menjadi serba salah. Jika masuk, ia merasa risih, tetapi jika tidak, ia merasa tidak enak hati. Lagi pula, ia sudah sampai sini. Cindy bisa menangkap kegelisahan Ayek. "Tenang saja, di rumah ada Mbak Atun. Dia setannya." Ayek mengerjap bingung. "Setan?" Cindy tertawa. "Iya. Kalau cowok sama cewek yang bukan muhrim berduaan, kan pihak ketiganya setan. Hahaha." Ayek tertawa. "Kalau Bi Atun jadi setan, terus setan jadi apa?" "Jadi bingunglah. Hahaha!" Ayek tertawa. Ajaib, baru sampai pintu gerbang saja, perasaannya langsung membaik, apa lagi kalau masuk rumah, begitu pikirnya. "Jadi, mau berdiri saja di situ?" Cindy mengerjap sambil tersenyum. Meski masih bimbang, Ayek akhirnya masuk. Cindy menutup kembali pintu gerbang. Selepasnya mereka menuju teras. "Sudah ngopi belum?" Cindy duduk di kursi. "Sudah di kosan, tadi." Dengan canggung, Ayek duduk bersebelahan dengan Cindy. Hanya ada dua kursi di teras. Ia tidak punya pilihan lain. "Sarapan juga sudah?" "Sudah." "Yah!" seru Cindy memasang wajah kecewa. "Kenapa, Kak?" "Gue nggak punya alasan buat nyuruh elo nyuci piring dong!" Ayek tertawa. Dalam hati ia mengumpat, adik dan kakak sama gilanya. Cindy baru sadar, Ayek tampak ganteng ketika tertawa. "Jadi, Sandi mendaftar kuliah ya, Kak?" Ayek berbasa-basi. Jelas ia sudah tahu jawabannya. "Ngakunya sih begitu!" Ayek memancing Cindy agar melanjutkan kalimatnya. "Padahal?" "Padahal memang mendaftar." Cindy tertawa sendiri. "Lagi pula, elo sudah tahu nanya!" Ayek garuk kepala, mati kutu. "Sandi baru sadar pentingnya kuliah sekarang," ujar Cindy. "Setelah tahu anak kampus cantik-cantik!" Ayek tergelak. Tadinya ia menyangka Cindy akan menjelaskan alasan serius kenapa Sandi baru sadar pentingnya kuliah, ternyata cuma bercanda saja. "Sandi akan berhenti kuliah kalau tahu penggemarnya lebih cantik dari yang ia kira!" Ayek mencoba menimpai candaan Cindy. Cindy menanggapinya dengan serius. "Jadi bener ya, kalau anak band, meskipun nggak cakep, tapi digemari banyak cewek cantik?" "Ya, namanya penggemar, ada yang cantik ada yang enggak." Ayek berujar, kembali serius. Cindy penasaran. "Boleh kepo nggak?" Bagi Ayek, pertanyaan Cindy terdengar aneh. "Kepo apa?" "Penggemar cewek elo banyak yang cantik?" tanya Cindy malu-malu. "Itu perkepoan pertama!" "Ada yang cantik, ada yang enggak. Tapi kuanggap semua penggemar cewek gue cantik." Cindy tersenyum simpul. "Gue penggemar elo. Berarti gue cantik dong!" Ayek merasa terjebak dengan pernyataanya sendiri. Dalam pandangannya, Cindy memang cantik. Wajahnya putih bersih, tinggi, hidung mancung, pokoknya di atas rata-rata. Tapi, ia merasa aneh untuk menjawab cantik pada kakaknya Sandi. "Kok lama jawabnya?" "Iya," ujar Ayek asal. "Iya apa? Iya cantik?" Ayek mengangguk. Cindy tertawa terbahak-bahak, melihat ekspresi salah tingkah Ayek. Dalam pandangannya lelaki itu tampan ketika salah tingkah. "Elo pemalu juga ternyata." Ayek tersenyum kecut dikatakan pemalu. "Kak Cindy bisa saja." "Jangan panggil 'kak' dong. Cindy saja. Gue kan bukan kakak elo!" Ayek merasa tidak enak. "Kak Cindy kan lebih tua usianya. Kurang ajar kalau gue panggil nama saja." "Enak saja tua!" Cindy tidak terima. "Gue masih dua puluh lima tahun tahu!" Ayek mengernyit. "Masa?" Cindy mengangguk. "Sama seperti umur lo. Kita beda bulan saja, gue Februari, elo Mei." "Kok Kak Cindy bisa tahu bulan kelahiran gue?" "Gue tahu semua tanggal lahir personel ASK Band." Ayek mengangguk kagum. Ia merasa tersanjung. "Begitu ya, Kak?" Cindy cemberut. " Tuh kan, mangggilnya 'kak' lagi! Ayek terkekeh. "Iya, Cindy!" Cindy merasa senang dipanggil nama saja. Itu akan membuatnya merasa lebih dekat. Juga karena ia tidak ingin Ayek merasa canggung dengannya. Obrolan terjeda dering panggilan telepon. Cindy berdiri. "Sebentar ya, Yek?" Ia menjauh dari Ayek. Tanpa obrolan membuat pikiran Ayek kembali suntuk. Ia teringat obrolannya dengan Mei Hwa semalam. Sungguh ia tidak menyangka kalau Mei Hwa akan menyerah begitu saja. Padahal kekasihnya itu sampai minggat dari rumah karena protes kepada Babah Liem. Sekarang, tiba-tiba menurut begitu saja. Satu sisi, Ayek menghargai keputusan Mei Hwa yang menuruti kemauan Babah Liem, tetapi sisi lain ia gelisah karena itu akan membuat hubungan mereka renggang, bahkan terancam putus. Ayek tidak pernah sanggup membayangkan jika hubungannya dengan Mei Hwa harus berakhir. Ia belum siap jika itu terjadi. Terlalu sibuk dengan bayangan ketakutan berpisah dengan Mei Hwa, membuat Ayek tidak menyadari kalau Cindy sudah berada di sebelahnya. Cindy menggunakan kesempatan diamnya Ayek untuk mencuri pandang. Dalam pandangannya, Ayek tampak ganteng ketika sedang murung. Serta merta ia terkekeh sendiri. Sejak tadi menilai lelaki di sebelahnya ganteng. "Aku bikinin minum ya?" tanya Cindy menawarkan. Tanpa sadar, Ayek mengangguk. Cindy senang bisa menahan Ayek lebih lama. Ia segera menuju dapur untuk membuatkan minum. Di dapur, sambil mengaduk teh manis, Cindy senyum-senyum sendiri. Ada sesuatu yang berdesir dalam darahnya, ia tidak tahu apa. Namun, diam-diam merasa takut jika dirinya mulai menyukai sahabat adiknya itu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN