Lebih Merah dari Tomat

855 Kata
Ayek berpikir keras bagaimana meyakinkan Mei Hwa agar tetap mau berjuang mendapatkan restu Babah Liem. Semalam secara spontan ia bilang kepada Mei Hwa mau melamar gadis itu. Kenyataannya, ia belum menyiapkan apa pun. Bahkan sekarang ia belum bisa pulang ke Slawi karena jadwalnya masih padat. Norman pasti keberatan jika dalam waktu seminggu ini ia harus pulang kampung. Mulai hari ini sampai sepekan ke depan, ia harus membuat klip untuk lagu-lagunya. "Teh hangat, Yek!" Cindy datang membawa baki berisi dua teh hangat. Ia meletakkannya ke atas meja. "Makasih, Cin!" Ayek memaksakan tersenyum. "Lo nggak ada kegiatan hari ini?" Cindy duduk. Ayek melirik arloji pada pergelangan tangan. "Jam sembilan gue udah harus sampai lokasi shooting video klip." "Wah, bentar lagi launching album perdana!" Ayek tersenyum, lebih tulus dari sebelumnya. Ia membayangkan saat-saat nanti meluncurkan album solo perdana. Pada momen itu ia akan menjadi sorotan media. Saat itulah ia akan mengucapkan terima kasih kepada ibunya yang sangat memahami dunianya. Juga pada Mei Hwa yang selalu mendukungnya. "Selagi hangat, Yek. Kasihan teh itu kalau dianggurin!" tegur Cindy. Ayek tersenyum. Diambilnya segelas teh dari atas meja. Ia menyesapnya perlahan-lahan. Karena hangat, ia bisa langsung meminum setengahnya. "Haus, Yek?" Cindy tertawa. Ayek menggeleng. "Bukan karena haus, tapi karena tehnya enak!" Pipi Cindy bersemu merah. Hatinya berbunga-bunga mendengar pujian Ayek. "Kamu pernah lihat tomat nggak, Yek?" Ayek mengangguk bingung. "Sering." Cindy tersipu. "Merah mana tomat sama pipiku?" Ayek terkekeh. "Merahan pipimu, hehehe." "Itu gara-gara elo!" Ayek terpingkal-pingkal. Cindy sukses membuat hatinya merasa lebih baik dari ketika bangun tidur tadi. "Tapi gue suka. Jangan kapok bikin merah pipi gue ya?" Cindy tertawa geli. Seumur-umur baru kali ini ia bercanda begitu kepada lelaki. "Anggap itu sebagai ganti cuci piring!" "Gue nggak bakal nyuruh elo nyuci piring. Cuman baju sama mobil saja!" canda Cindy. Ayek garuk-garuk kepala. "Kenapa nggak nyuci karpet sekalian?" "Boleh, kalau mau!" "Enggaklah. Hahaha!" Cindy menatap Ayek lekat-lekat. Lelaki di sebelahnya itu menarik baginya. Wajahnya tampan, suka humor, jago main gitar, tipe cowok idamannya. Sayang, ia tidak berani berharap karena sudah dimiliki perempuan lain. Sebulan lalu, ketika pertama kali melihat Ayek, Cindy langsung merasa suka. Ia bukan tipe orang yang mudah tertarik pada lawan jenis, maka itu ia khawatir dengan perasaannya sendiri. "Gimana kabar Mei Hwa?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Cindy. Tapi ia tidak bisa meralatnya. Ayek tersenyum getir. "Semalam Mei Hwa menelepon." Cindy mengerjap hampa. Meskipun enggan mendengarnya, tetapi ia pura-pura antusias. "Syukurlah kalau komunikasi kalian lancar. Dalam sebuah hubungan ada dua hal penting yang harus ada, yaitu saling percaya dan komunikasi yang baik." "Iya, Cin." Ayek mengangguk sepakat. "Gue baca itu di sebuah artikel. Tapi gue belum bisa buktiin, karena belum pernah punya hubungan." Selepas berkata, Cindy mengatupkan bibir. Di usianya yang sudah berkepala dua, ia belum pernah pacaran. Ada beberapa cowok yang ia suka, tetapi semua sudah punya kekasih. Sekarang ia takut itu akan terulang lagi. "Memang Cindy belum punya pacar?" Cindy menggeleng. "Atau memang nggak mau pacaran? Maksud gue, langsung menikah begitu!" "Mau sih, tapi semua cowok yang gue taksir sudah ada yang memiliki. Hehehe." Ayek tersenyum penuh simpati. Cindy buru-buru mengalihkan pembicaraan. "Mei Hwa cantik. Gue udah nonton videonya." Ayek mengangguk pedih. "Tapi sayang bokap Mei Hwa nggak setuju!" Cindy bersimpati. "Yang sabar ya, Yek? Pasti ada jalan. Teruslah berjuang." "Terima kasih, Cin." Ayek menunduk. "Tadinya Mei Hwa mau berjuang bareng buat ngedapetin restu. Tapi, semalem ia bilang mau menuruti keputusan bokapnya." Ada perasaan turut bersedih pada hati Cindy. Meskipun ia mulai menyukai Ayek, tetapi tidak mau mengambil kesempatan itu. Lagi pula ia belum yakin dengan hatinya sendiri, apakah suka sebatas mengagumi atau lebih dari itu. "Menurut Cindy, gue harus gimana?" tanya Ayek. Cindy berpikir. Menurutnya masalah Ayek klasik tapi sampai sekarang masih menjadi momok menakutkan. Restu orang tua sangat penting. Meskipun ia belum pernah mengalami, tetapi bisa membayangkan pasti sangat berat masalahnya. "Sekarang posisi lo lebih berat," ujar Cindy. "Dulu kalian berjuang bersama. Dua kekuatan cinta menjadi satu memperjuangkan restu. Kalau lo mau memperjuangkan cinta kalian, yakinkan Mei Hwa dulu, baru meyakinkan bokapnya." Ayek mengusap dahi. Kepalanya menjadi pusing, mengingat keadaan sudah berubah. "Coba bicarakan baik-baik dengan Mei Hwa. Pastikan ia belum menyerah," saran Cindy. Ayek menggeleng ragu. "Mei Hwa sudah bersikap akan menuruti bokapnya." "Siapa tahu, Mei mengatakan itu secara emosional. Mungkin perasaannya sedang labil." Kata-kata Cindy sedikit menenangkan hati Ayek. Setidaknya masih ada kemungkinan-kemungkinan. Ia hanya perlu memastikan. "Elo nggak bisa berjuang sendirian. Mungkin lo sanggup melakukannya, tapi itu sangat melelahkan." Ayek mengangguk paham. Cindy menepuk bahu kanan Ayek. "Semangat, Yek! Jangan sampai masalah hubungan kalian mengganggu karier elo. Kesempatan elo menjadi bintang ada di depan mata." "Elo bener, Cin!" timpal Ayek ragu. Bagaimanapun juga, Mei Hwa sama pentingnya dengan karier. Namun ia sadar harus fokus satu-satu untuk menyelesaikannya. "Tapi yang lebih penting dari semua masalah adalah diri kita sendiri. Kita harus yakin dengan apa yang akan kita lakukan dan tahu harus melakukan apa?" Ayek mengangguk. "Astaga, Kita?" Cindy tertawa sendiri, merasa geli menyebut 'kita' pada kalimatnya. Ayek terkekeh. "Gue paham kok. Makasih ya, Cin. Pikiran gue terbuka sekarang. Itu berkat elo." "Astaga pipi gue pasti merah. Hahahaha!" Cindy menutup wajah menggunakan telapak tangan. "Pasti lebih merah dari tomat!" gurau Ayek. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN