Mahya

909 Kata
Ayek pikir dirinya yang paling pertama datang selain kru rumah produksi, karena ia sampai lokasi dua puluh menit lebih awal dari jadwal. Ternyata, Mahya, model klipnya, sudah berada di sana. Meskipun Mahya seorang artis terkenal tetapi ia supel. Paras cantiknya selalu dihiasi senyum. Sembari menyiapkan segala sesuatu, ia tidak sungkan berbincang dengan para kru. Ayek yang notabene belum dikenal, sempat kaget ketika kedatangannya disambut senyum manis Mahya. "Kamu pasti Ayek!" tebak Mahya. Serta merta Ayek balas tersenyum. Ia mengulur tangan. "Iya, aku Ayek." Mahya menjabat tangan Ayek. "Aku Mahya, model klip kamu." Tanpa Mahya mengenalkan diri, Ayek sudah tahu. Artis cantik itu sering menghiasi layar kaca di beberapa stasiun televisi, dari mulai iklan sampai sinetron striping. "Senang sekali bisa bertemu Kak Mahya," ujar Ayek berterus terang. "Selama ini aku cuman bisa lihat di tivi sama di youtube." Mahya tersenyum. Ia menunjuk pada kursi di dekat panggung. "Kita duduk di sana, yuk?" "Oke." Ayek dan Mahya beriringan menuju kursi. Mereka duduk bersebelahan menghadap panggung. Lokasi pertama pembuatan video klip Ayek adalah sebuah aula yang disulap menjadi tempat konser musik. Konsepnya, ia akan menyanyi sambil memainkan gitar. Mahya akan menjadi salah satu penonton yang berada di barisan depan. "Aku nggak sabar memberikan bunga mawar padamu, hehehe." Mahya menggerai rambut panjangnya ke kiri. Ayek mengerjap. Dalam script memang nanti ia akan mendapatkan sebuket bunga mawar dari salah satu penonton yang diperankan Mahya. Dalam bunga itu ada nama dan nomor telepon. Dari sanalah komunikasi antara bintang panggung dengan penggemar dimulai. Selanjutnya mereka menjalin sebuah hubungan. Namun, diceritakan, Ayek sudah memiliki kekasih. Itu akan menjadi konflik dalam cerita video klip tersebut. "Aku deg-degan." Ayek menepuk dadanya pelan. "Baru kali ini akan di-shoot kamera sebuah rumah produksi ternama. Takutnya nanti demam panggung." "Bukannya kamu sudah terbiasa beraksi di depan kamera ya?" Mahya menawari Ayek sekaleng soft drink. Ayek menerima soft drink dari Mahya. "Cuman kamera biasa, penggarapannya juga masih amatir." "Aku pernah lihat video klip band kamu. Bagus kok. Nggak kalah sama rumah produksi." Ayek tersanjung. "Nggak nyangka lagu band kami ditonton artis terkenal." Mahya terkekeh. Tangannya reflek menutupi gigi yang kecil-kecil rapi. "Yang nawarin aku menjadi model klip itu Om Norman langsung, bukan pihak rumah produksi. Sebelumnya beliau nggak pernah nangani langsung soal begituan. Jadi, kupikir pasti lagunya istimewa. Dan bener, baru denger intronya saja, aku langsung baper. Aku jadi kepo, siapa sih penyanyinya? Terus aku menemukan channel ASK Band. Keren dah kalian." Ayek tersipu. Pujian dan sanjungan memang sering ia dapatkan dari penggemar, tetapi dipuji artis sekaliber Mahya membuatnya bangga. "Terima kasih." "Maaf kalau kurang sopan." Mahya menyisir penampilan Ayek dari kepala sampai kaki. "Kamu good looking, suara bagus, main gitar oke. Aku yakin kamu bakal jadi idola baru anak muda Indonesia." Serasa celana Ayek sesak seketika, mendengar kalimat Mahya. Dalam hati ia mengamini ucapan artis terkenal itu. "Sekarang saja, aku sudah berpikir akan meminta tanda tangan darimu dan foto bareng." Mahya mengatakan itu sambil tersenyum manis. Angan Ayek melambung tinggi. Belum menjadi selebritis saja sudah mendapatkan respek dari artis terkenal. Namun, ia tidak akan berbangga hati. Meskipun, ucapan Mahya kedengarannya tulus, ia akan tetap rendah hati. "Kak Mahya berlebihan." Ayek membuka tutup kaleng soft drink. "Enggak," Mahya menatap Ayek. "Mungkin penilaianku subyektif, tapi aku punya keyakinan kuat kamu akan jadi bintang. Kalau itu menjadi kenyataan, aku pasti akan bangga menjadi model klip pertamamu." "Aamiin ya Allah," ucap Ayek senang. Ia kagum kepada Mahya, meskipun menjadi artis terkenal tapi tetap supel dan low profile. "Modal utama menjadi artis adalah disiplin." Mahya meneguk sedikit minumannya. Selepasnya ia melanjutkan ucapannya. "Jadwal jam sembilan, tetapi kamu sudah datang jauh sebelumnya." "Kak Mahya datang lebih dulu," ujar Ayek. Mahya meletakkan kaleng soft drink pada kursi di sebelahnya. "Aku selalu berusaha datang sejam lebih awal dari jadwal. Kalau shooting sinetron, aku biasanya membaca lagi scriptnya. Jadi ketika mulai, aku sudah siap." Kekaguman Ayek pada Mahya semakin bertambah. Selain cantik dan memiliki multi talenta, gadis itu juga sangat profesional. "Kamu asalnya mana, Yek?" tanya Mahya. "Slawi." "Daerah mana itu?" "Slawi itu ibukota kabupaten Tegal." Mahya mengangguk-angguk. "Oh, Tegal. Iya, iya. Aku pernah melewati Slawi. Sudah agak lama, jadi agak lupa. Ke Guci kalau nggak salah." "Itu tempat yang bagus," timpal Ayek promosi. Tapi mendadak ia teringat Mei Hwa. Di sanalah untuk pertama kalinya ia mengungkapkan perasaan cinta. Di sana pula ia pernah memeluk kekasihnya di bawah air terjun. "Iya, bagus banget," ujar Mahya. "Rumah kamu deket nggak dari Guci?" "Sekitar satu jam kalau pakai mobil." Mahya mengerjap. "Lumayan deket, tapi lumayan jauh juga. Hehehe." Ayek tersenyum dipaksakan. Hatinya mendadak tidak nyaman membahas Guci. Tapi, ia tidak enak hati kalau mengalihkannya ke topik lain. "Boleh aku save nomor kamu?" tanya Mahya. Ayek terkejut mendengar pertanyaan Mahya. Seorang artis terkenal meminta nomor telepon darinya, itu sulit ia percaya. "Wah aku sangat tersanjung," ujar Ayek senang. "Berapa nomor telepon Kak Mahya, biar nanti aku missed called." "Wait, jangan panggil 'kak'. Mahya saja. Usia kita sama." Mahya terkekeh. "Aku udah baca profil kamu, makanya tahu." Ayek tersipu. "Oke, Mahya." Mahya mengerjap. "Sini aku ketikin, biar cepet. Nomorku ada tiga." Ayek meminjamkan ponsel kepada Mahya. Mahya berbinar, melihat bagian belakang ponsel Ayek yang terdapat stiker huruf 'M' dengan ukuran besar. "Huruf 'M' ini pasti mengandung makna." Pipi Ayek memerah. Lagi-lagi topiknya mengarah ke Mei Hwa. "Yang pasti bukan Mahya kan?" Mahya terkekeh. "Kita kan baru kenal." Ayek merespon dengan tersenyum saja. Mood-nya mulai turun. Mahya menyimpan nomornya ke dalam ponsel Ayek. Setelah itu missed called ke ponselnya. "Kita siap-siap, Yuk?" ajak Mahya. Ayek mengangguk. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN