"Seperti Babah katakan tadi, Ayek anak yang baik. Babah percaya itu. Tapi...." Kalimat Babah Liem semalam terngiang-ngiang terus di telinga Mei Hwa. Juga sorot mata tegas ayahnya itu telah membuat jantungnya serasa mau berhenti.
Bisa Mei Hwa ingat dan rasakan bagaimana menegangkannya ruang tamu semalam. Berkali-berkali ia harus menelan ludah, gelisah mendengar kata 'tetapi' pada kalimat ayahnya yang terbiar menggantung.
Mei Hwa tersentak. Serasa jantungnya tidak hanya berhenti, tapi juga terlepas ketika ayahnya menegaskan sikapnya. "Babah nggak mau kamu pacaran dengan Ayek!"
Saat itu juga Mei Hwa merasa seolah bumi berhenti berputar, bukan hanya jantungnya yang berhenti berdetak. Yang membuatnya merasa masih hidup adalah hatinya menjerit, kecewa, terluka, dan pikirannya gelap seketika.
Mei Hwa masih bisa merasakan matanya hangat dan lembab tadi malam. Hanya dengan satu kedipan, buliran air pada sepasang matanya siap tumpah, mengalir, membasahi pipinya.
Namun, hidup selalu diwarnai kejutan. Mei Hwa yang nyaris tenggelam dalam kesedihan, mendadak timbul kembali, ketika mendengar kelanjutan kalimat Babah Liem.
"Kamu menangis, Mei?"
Mei Hwa memejamkan mata. Buliran bening pada sepasang pelupuk matanya pecah, mengalir deras. Sikap Babah Liem ia anggap sudah final, tidak bisa ditawar lagi. Sayang, hatinya belum bisa menerima.
"Apa Babah salah, kalau menginginkan hubungan kalian lebih dari sekadar pacaran diam-diam?"
Di situlah kejutan bermula. Perlahan Mei Hwa membuka mata, menatap ayahnya dengan ekspresi bingung.
"Maksud Babah?"
Perlahan perasaan pedih dalam hati Mei Hwa berangsur sirna ketika Babah Liem tersenyum.
"Babah melarang kalian pacaran, tapi merestui kalian menuju tahap yang lebih serius."
Serta merta Mei Hwa tersenyum bahagia. Air matanya semakin deras mengalir. Ia baru sadar, kalau dirinya telah salah paham. Babah Liem memang melarang pacaran tetapi merestui hubungannya dengan Ayek ke tahap yang lebih serius.
Mei Hwa tersenyum-senyum sendiri, mengingat momen menegangkan semalam. Ia malu telah buru-buru menyimpulkan padahal ayahnya belum selesai bicara.
Dan semalam, selepas Babah Liem menyatakan sikap, Mei Hwa langsung menghubungi Ayek untuk mengabarkan berita bahagia tersebut. Ia ingin kekasihnya itu merasakan ketegangan yang sama, sehingga ia lebih dulu mengabarkan bahwa ayahnya melarang mereka pacaran.
Rencananya, setelah berhasil membuat Ayek tegang dan merasa sedih, Mei Hwa akan mengakhiri dengan berita bahagia bahwa hubungan mereka direstui Babah Liem.
Sayang, kerap kali rencana tidak selalu berjalan sebagaiamana mestinya. Belum sempat Mei Hwa mengabarkan berita bahagia, Ayek lebih dulu salah paham. Kekasihnya itu baru mendengar kabar tentang Babah Liem yang melarang mereka pacaran. Restu agar mereka meningkatkan hubungan yang lebih serius belum sempat ia sampaikan karena Ayek mengakhiri pembicaraan secara sepihak.
Sampai sang ini, Mei Hwa sudah lebih dari sepuluh kali menelepon Ayek untuk menjelaskan agar tidak salah paham. Namun panggilannya belum diterima. Ia takut kekasihnya itu kecewa berat sampai tidak mau menerima panggilan teleponnya.
Mei Hwa menduga-duga, jangan-jangan Ayek sedang larut dalam kesedihan. Jangan-jangan kekasihnya itu malas berbicara lagi karena semalam ia bilang lebih memilih Babah ketimbang Ayek. Jangan-jangan sebelum ia sempat menjelaskannya, lelaki itu terlanjur menganggapnya menyerah.
"Ayo, angkat teleponnya!" rintih Mei Hwa pelan. Panggilannya teleponnya berdering, tetapi tidak diterima.
Pikiran Mei Hwa menjadi kusut. Hatinya lelah. Ia pun melempar ponsel ke atas kasur, masih dalam keadaan memanggil nomor Ayek.
Tok tok
Mei Hwa terkesiap mendengar ketukan pintu.
Tok tok
"Siapa?" tanya Mei Hwa.
"Mamah!" sahut Mamah Kiew dari luar kamar. "Ada Ahong!"
Ahong? Hati Mei Hwa bersorak, mendengar nama sepupunya disebut. Buru-buru, ia beranjak ke pintu.
Mei Hwa pikir, Ahong sudah ada di depan kamarnya, tetapi ketika membuka pintu, hanya ada ibunya saja.
"Ih, Mamah bercanda deh!" Mei Hwa bersungut-sungut.
"Ada di ruang tamu!" beritahu Mamah Kiew sambil melenggang, meninggalkan Mei Hwa.
Keruan saja Mei Hwa langsung bergegas ke ruang tamu, sampai lupa menutup kembali pintu kamar.
Sampai ruang tamu Mei Hwa terpekik mendapati lelaki ganteng yang usianya hanya terpaut dua tahun darinya.
"Mei Hwa, bunga cantik yang suka ngambek!" seru Ahong, begitu melihat Mei Hwa.
Mei Hwa mencibir. Ia ikut nimbrung bersama ayahnya dan Ahong.
"Ini pembicaraan internal laki-laki," ledek Ahong. "Cewek baperan dilarang ikut."
Mei Hwa mengerucutkan bibir. Ia sudah mengenal karakter Ahong. Dulu pas kecil, sepupunya itu pernah tinggal di rumah ini. Mereka sangat dekat, meskipun kalau bersama pasti ujung-ujungnya berantem.
"Bodo amat!" ujar Mei Hwa kepada Ahong, sambil tertawa. "Gimana kabar kamu?"
"Ya seperti kamu lihat, kabarku masih ganteng, keren, dan berwibawa." Ahong membetulkan kerah baju, bergaya sok keren.
Alih-alih merespon ucapan Ahong, Mei Hwa memeriksa kolong meja.
Babah Liem merasa heran dengan kelakuan anaknya. "Nyari apa?"
"Kantong kresek!"
"Buat apa?"
"Mau muntah!"
Babah Liem tertawa, baru sadar anak gadisnya sedang meledek Ahong.
Ahong pura-pura cemberut. "Kenapa nggak karung aja sekalian?"
Semua yang ada di ruangan itu tertawa.
"Kamu mau datang kok mendadak banget, mana nggak ngabari pula!" gerutu Babah Liem kepada Ahong.
"Sengaja kasih kejutan buat Mei Hwa, Bah!" Ahong mengerling ke arah Mei Hwa.
Mei Hwa berlagak seolah mau muntah. "Kamu tuh masih saja suka kege-eran, ya? Siapa juga yang terkejut melihatmu."
"Kamulah!"
"Huek!"
"Sudah-sudah!" lerai Babah Liem. "Kalian ini masih saja kayak anak kecil!"
"Mei Hwa tuh yang anak kecil." Ahong menunjuk muka Mei Hwa.
"Kamu!" Mei Hwa balik menuduh.
"Kamu!"
"Kamu!"
Babah Liem menepuk jidat.