"Kamu masih di Medan?" Mei Hwa memberikan teh kemasan botol kepada Ahong. Ahong menerima teh dari Mei Hwa sambil pandangannya beredar ke segenap sudut ruangan studio. Ia takjub dengan usaha milik saudara sepupunya yang cukup ramai pelanggan. Pertanyaannya belum dijawab, Mei Hwa cemberut. "Aku nanya!" Ahong membuka penutup botol. Ia melirik Mei Hwa. "Kamu sudah tahu jawabannya!" Selepasnya, ia meminum isinya. "Tahu dari mana? Kamu saja jarang mengirim kabar." Mei Hwa mulai kesal. "Tinggal jawab aja apa susahnya, sih?" Ahong melangkah, mendekati jendela lantai dua. Ia menoleh ke luar, mengamati pemandangan. "Kamu masih ngeselin ya?" Mei Hwa mendekat ke Ahong. Ahong mengedikkan bahu. "Ya begitulah. Aku nggak pernah berubah. Apa lagi demi saudara sepupu yang suka ngambekan. Nggak

