Twenty

1595 Kata
Andrew Amel meninggalkanku untuk selamanya. Lita memang tidak pernah mau jauh-jauh dari orang-orang yang disayanginya. Amel sudah pasti yang paling disayangi olehnya. Dia sudah memberikan Amel kepadaku meski hanya sesaat. Semua orang mengkhawatirkanku. Memang, aku hancur saat Anna menyatakan kalau Amel telah tiada. Tapi aku tidak bisa begini terus. Seharusnya aku memang menahan Lita sampai detik terakhir. Tidak seharusnya Lita meninggalkan Jakarta. Memang seharusnya Lita tidak jauh-jauh dariku. Seperti saat Lita meninggal, semua orang pun mengatakan padaku kalau ini bukan salahku. Mereka mengatakan memang beginilah jalan yang harus dihadapi. Pada akhirnya setiap manusia akan meninggal juga bukan? Tapi bagiku, seandainya Lita tidak pernah ke New York, dia pasti masih di sini bersama denganku. "Bukan salah kamu Drew kalau Lita meninggal. Kamu juga nggak akan bisa menahan dia kalau memang dia mau pergi ke New York dulu," kata Papa selagi memelukku yang masih menangis di hadapan pusara Lita. "Kalau Andrew tahan Lita waktu itu Pa, Andrew..." "Bukan saatnya kamu buat menangisi dan menyesali yang sudah terjadi. Kalau pun waktu bisa diulang kembali, Lita juga pasti akan tetap memilih New York. Masuk ke Juilliard memang sudah jadi impiannya, Drew. Kamu sendiri yang bilang akan mendukungnya apapun yang terjadi?" "Tapi Pa..." "Bukan hal seperti ini yang kamu harapkan?" Aku hanya bisa mengepalkan tanganku kuat-kuat. Kenyataan bahwa Lita tidak akan pernah kembali lagi kepadaku membuatku hancur. "Tidak pernah ada yang mengharapkan hal seperti ini terjadi, Drew," ucap Papa. "Kamu tahu Lita bukan perempuan yang lemah. Dia lembut, tapi tidak lemah." "Andrew masih nggak terima Pa..." "Nggak akan yang bisa terima Drew," balas Papa. "Tapi kamu pasti bisa. Amel perlu sosok ayah yang bisa menguatkannya." Amel sekarang udah nggak ada Pa. Papa juga udah nggak ada. Aku harus bagaimana sekarang? ----- Drrrt... Drrt... Ponselku berdering saat aku masih tidur di sofa. Suara deringannya terus mengeras setelah beberapa kali hingga menggangguku. "Akhh! Siapa sih?!" Keluhku. Dhani Dharmawan Nama orang yang meneleponku pun terpampang di sana. Kenapa lagi manusia ini menghubungiku? "Halo?" Jawabku saat mengangkat teleponnya Dhani. "Drew! Buka pintu lo sekarang!" Sahutnya. "Gue di depan pintu lo nih. Cepetan! Udah darurat nihhhh!" Aku mengerutkan keningku. Tanpa melihat melalui interkom pintuku, aku pun membukanya tanpa basa-basi. Saat aku membukanya, aku mendapati dua orang yang sedang berdiri. Satunya adalah yang meneleponku, dan satunya lagi adalah perempuan yang pernah menjadi istrinya. Aku mematikan sambungan telepon dari ponselku. "Kalian berdua mau rujuk?" Tanyaku. Dhani dan Ella saling pandang satu sama lain. "Guenya sih mau. Dhaninya mana mau rujuk sama gue?" "Lo bayangin aja rasanya diselingkuhin gimana, La. Gue tahu gue sibuk, sibuk, dan sibuk. Tapi itu bukan alesan buat lo malah tidur sama Ed!" "Udah berapa kali astaga gue jelasin ke lo sih, Dhan?" Keluh Ella. "Gue nggak tidur sama Ed. Malam itu dia cuma—" "Kalian berdua mau berantem di apartemen gue?" Tanyaku akhirnya untuk menghentikan perdebatan alasan perceraian mereka. Meski sudah beberapa tahun, tapi kalau masalah perceraian mereka dibahas pasti ribut lagi. Kok bisa? Kalian sudah lihat sendiri. Ella berdalih dia tidak selingkuh, tapi Dhani tidak percaya sama sekali. "Ya enggaklah," balas Dhani, "Gue sama Ella ke sini mau nengokin lu, Drew." "Emangnya gue sakit?" "Badan lo mungkin baik-baik aja, tapi psikis lo pasti udah kacau," balas Ella. "Sejak kapan lo berubah jadi psikiater dari anestesi? Udah sadar kalo anestesi nggak menghasilkan banyak uang?" "Yee... Ini orang, kita lagi simpati, malah dia ngeledek," kata Ella. "Gue masakin ya? Ini tadi gue beli bahan buat bikin spaghetti." Tanpa aku izinkan, Ella sudah menyeloroh masuk ke dalam apartemenku. Begitupun dengan Dhani yang masuk ke dalam. Dalam hitungan menit, Ella dan Dhani sudah masuk ke dalam dapurku dan memasak. Iya, mereka berdua yang masak, bukan hanya Ella. Mereka dari dulu memang terkenal doyan makan. Saat mereka masih menikah, mereka sering mengajak aku, Ed, Yulius dan Lita buat makan ke rumahnya. Memakan apapun yang mereka masak. Makanya, mereka jarang makan di luar. "Gue mandi dulu," kataku, untuk membiarkan mereka berdua. Walaupun mereka bercerai, tapi di luar masalah kenapa mereka bercerai, mereka tetap terlihat seperti sahabat. Perlu bukti? Hobi memasak dan makan merekalah yang menyatukan mereka. Pekerjaan mereka pun saling berhubungan. Dhani Si Ahli Bedah sedangkan Ella Si Ahli Anestesi. Seringkali mereka pasti bertemu di dalam ruang operasi. ----- "Bon Appetito!!" seru Ella yang sudah siap menyantap spaghetti alfredo hasil karyanya. "Gue udah masakin capek-capek awas sampe lo lepehin ya, Drew!" "Bukannya ini makanan udah biasa banget ya buat lo?" Tanyaku. "Gue udah lama nggak masak alfredo ya. Biasanya masak carbonara," jelasnya. "Lebih biasa lagi cuma liat obat anestesi." Aku hargai usaha Ella untuk memasakkan makanan favoritku. Dia memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit setelah cerai dari Dhani. Begitu juga dengan Dhani yang lebih banyak menghabiskan waktunya buat bedah dan bedah. Saat aku memasukkan suapan pertama dari spaghetti alfredo yang dibuat oleh Ella dan Dhani, ada rasa hangat dalam hatiku yang selama beberapa hari terakhir telah membeku setelah Amel meninggal. Tanpa kusadari, spaghetti yang ada di dalam piringku telah habis ku makan. "Nih, masih ada di dalem mangkok. Lo tambah aja, Drew," kata Ella sambil tersenyum. Ku akui, aku memang tidak makan dua hari terakhir. Hanya minum. Minum apapun. Baik minuman yang wajar, maupun minuman yang dikenai bea cukai tinggi. Selesai menambah spaghettiku untuk yang ketiga kalinya, akhirnya aku merasa perutku sudah penuh dan tak mampu lagi untuk menambah. Sementara Dhani dan Ella masih menghabiskan porsi pertama mereka. "Gue denger dari Willy lo udah nggak masuk kampus sejak Amel meninggal. Ke kantor advokat lo juga nggak. Semuanya dilempar ke Willy katanya," kata Dhani tiba-tiba, yang sebenarnya ucapannya itu lebih mengarah pada pertanyaan. Aku cuma diam menjawabnya. "Drew, ayolah. Lo sekali kehilangan, kenapa selalu terpuruk banget sih?" Tentu saja karena aku tidak suka ditinggalkan. "Siapa juga yang suka ditinggal mati, La?" Balasku. "Lita meninggal karena gue. Sekarang Amel—" "Drew, semua orang tahu Lita meninggal bukan karena salah lo," kilah Dhani. "Nggak ada yang tahu juga kalau Lita akan pergi dengan cara seperti itu. Gimana pun juga itu adalah pilihannya Lita buat pergi ke New York. Kehidupannya di sana, adalah pilihannya." "Kita nggak bisa mengubah seseorang karena kita sayang dia. Dia bisa berubah hanya karena dia sayang kita," lanjut Ella. "Udah enam tahun, Drew." Enam tahun. Enam tahun waktu yang sudah berjalan agar aku bisa sedikit demi sedikit meninggalkan masa laluku dengan Lita. "Seandai-andainya Lita masih hidup, dan melahirkan Amel dengan sehat. Gue yakin Lita bakal nampar lo sekarang karena kebodohan yang lo lakuin sekarang," tambah Dhani, "Apa perlu gue aja yang tampar lo biar lo sadar?" Enam tahun waktu yang diberikan Tuhan bagiku untuk membesarkan Amel. Kini, Tuhan mengambilnya kembali. "Lo tahu nggak Drew, calon bini lo linglung terus di rumah sakit. Kalo diterusin mulu bisa-bisa dia salah operasi orang. Yang ada dia kena mal praktek, terus masuk penjara." Calon? Calon apaan? "Aduh, jangan bilang lo lupa kalo mau nikah sama Mercy bentar lagi?" Tanya Ella. "Gue—" baru saja aku mau mengajukan pembelaan, tapi aku segera melihat ponselku, dan membuka kalender. Rupanya sekarang tinggal sebulan lagi menuju tanggal pernikahanku dengan Mercy. "Tuh kan, lupa! Makanya jangan kelamaan di apartemen mulu Drew. Lo perlu distraction. Cobalah keluar Drew. Pasti lo bisa kok." "Mercy masih uring-uringan asal lo tahu," Dhani mencoba menjelaskan, "Bukan karena bingung sama nasibnya yang bakalan jadi nikah sama lo atau nggak—salah satunya emang itu. Tapi, dia juga bingung, siapa itu Lita? Kenapa lo punya Amel, tapi lo bilang belom pernah nikah? Cobalah banyakin ngobrol sama Mercy gitu." Aku tercenung mendengarnya. Gimana aku bisa jelasin siapa Lita dan apa hubungannya denganku? Astaga, ini sulit. "Dia perlu tahu, Drew." Iya aku tahu. Cepat atau lambat pasti Mercy harus tahu. Tapi ada cara yang lebih elegankah bagiku untuk mengatakan hal ini padanya? ----- Mercy Andrew Kristoff Maafin aku hilang selama dua minggu ini. I need time to start over everything. We are going to married okay? You don't have to worry about me. I'll see you at the hospital tonight. Dhani bilang kamu di rumah sakit sampe malem hari ini. Membaca chat  Andrew yang panjang itu setidaknya membuatku sedikit lega. Walaupun aku tidak yakin apa tujuannya ke rumah sakit malam ini. Karena kejadian aku salah sebut prosedur tempo hari, Dokter Dhani menghukumku—lagi. Aku sudah kebal dengan segala macam hukuman yang diberikan Dokter Dhani. Mungkin Dokter Dhani juga udah bosen ngasih aku hukuman mulu. Alhasil, dia sendiri yang nanya ke aku waktu mau dihukum. Aku pun memilih untuk jaga di UGD. Setidaknya di UGD ramai orang, dan akan membuatku lelah. Lumayan, biar aku bisa tidur tanpa obat tidur setidaknya. Tubuhku rasanya mau patah semua setelah berjaga di UGD hari ini. Namun kepalaku masih menolak untukku agar tidur. Rasanya sakit sekali kepalaku. "Dokter Mercy, sudah waktunya ganti shift," kata seorang perawat. "Dokter Siska sebentar lagi dateng, jadi Dokter boleh pulang." Aku mengangguk lemah, sambil tersenyum kecil sebagai ungkapan terima kasihku pada perawat yang menyampaikan itu padaku. Aku melangkah gontai ke ruangan istirahat residen. Kepalaku rasanya berputar-putar. Sesampainya aku di depan pintu ruang istirahat residen untuk berganti baju dan pulang, aku berdiam cukup lama sambil memegang gagang pintu untuk mengumpulkan kesadaranku. "Mercy." Suara yang ku dengar itu membuatku memiliki kekuatan untuk berbalik dan melihat siapa yang memanggilku. Aku mendapati sosok lelaki bertubuh tegap nan atletis yang sedang memakai kaos hitam polos. Wajahnya sedikit kuyu, namun tatapan matanya yang lembut masih bisa kurasakan. "Hai Andrew..." Aku tersenyum sekilas, dan melihat Andrew juga tersenyum sebelum akhirnya pandanganku menggelap dan aku jatuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN