Lima bulan kemudian.
Mercy
"Ta, jangan lupa kopi gue!" Seru Heru.
Aku menoleh pada Heru yang hobinya nyuruh-nyuruh residen tahun pertama kalau lagi mau keluar.
"Santai dong Mey. Perbabuan di dunia residen bedah udah jadi hal lumrah kali... Lo emangnya nggak nyadar betapa kita dulu di babuin sama Viktor dan kawan-kawan?!"
Viktor, senior kami. Untungnya dia sekarang di bedah urologi.
Tahun pertama kami dulu memang seperti neraka. Tiap kami baru sampai di rumah sakit, kami diminta untuk beli kopi dulu buat mereka sebelum apel ke ruangannya konsulen. Laporan mereka kami yang kerjakan. Kalo kami ketahuan tidur di ruang istirahat residen pasti langsung digusur, soalnya itu tempat mereka.
Yang dilakukan Heru ke Tata tadi bukan apa-apa memang.
Dulu, kalau kami nggak mau nurut, alhasil, jangan harap boleh ikut ke kamar operasi. Jangankan pegang scalpel atau metzen. Kita mau pake baju bedah aja mana boleh?
"Misi, ini kopinya, Dok," kata Tata yang balik ke ruangan.
Aku mengembuskan napas berat.
"Ngomong boleh ngomong nih, lo jadi married sama Andrew?"
Haduh.
Ini orang ngapain pake acara bahas aku jadi nikah apa nggak pula.
"Loh? Dokter Mercy mau nikah?" Tanya Tata polos.
"Rencananya dan seharusnya, Ta," balas Heru. "Apa daya, dua minggu lalu ada musibah ya. Makanya jadi kehambat deh. Padahal udah siap semua ya Mey?"
Aku heran, kenapa aku bisa kenal sama cowok modelan Heru ini sih?!
"Ta, ambil rekam medis pasien di ruang perawat. Lima menit lagi kita ke ruangan Dokter Dhani," kataku pada Tata supaya Tata nggak lebih kepo lagi.
Tanpa banyak basa-basi, Tata pun menurut dan keluar dari ruang istirahat residen. Meninggalkanku dengan manusia somplak kurang ajar ini.
"Her, hidup gua dalam lima bulan terakhir udah kayak roller coaster. Dan gue rasa udah cukup buat gue," keluhku, "Gue nggak perlu ke psikiater aja udah Puji Tuhan haleluya!"
"Tapi lo minum obat tidur?"
Aku terdiam.
Selama aku hidup, tidak pernah ada sejarahnya bagi Marceline Irena Effendi-Han susah tidur sampai-sampai harus minum obat tidur.
"Lo, adalah orang yang paling cepet tidur Mey. Liat bantal dikit langsung merem, liat kursi dikit langsung tenggelem, liat sofa dikit udah goleran. Dalam lima bulan terakhir, lo udah melalui terlalu banyak beban hidup."
Beban hidup katanya.
Hebatnya aku nggak tumbang.
Perlu aku ceritakan apa yang terjadi?
Aku nggak mau sebenernya. Lima bulan terakhir udah jadi sejarah terkelam bagiku. Sungguh. Aku nggak kuat lagi.
-----
Seperti yang kalian tahulah. Aku sudah ikut bimbingan pranikah seperti yang Oma minta di gereja. Makanya tiap hari Jumat, aku ke gereja mulai jam tujuh sampai jam sembilan malam bareng Andrew.
Itu kulakukan sebanyak sekali seminggu selama delapan kali.
Setelah bimbingan pranikah itu selesai, aku dan Andrew pun mulai mempersiapkan baju pengantin, venue, sampai katering yang akan kita gunakan. Aku menemukan baju pengantin yang akan kupakai di kali keempat aku ke bridal.
Venue sudah dipesankan Oma. Tentu saja aku sudah menduga Oma akan memakai Philantrophy Hotel. Dasar nggak mau rugi. Mentang-mentang udah lama jadi member di hotel itu.
Setelah selesai dengan venue, aku pun harus mencoba dua belas katering yang akan dipilih. Aku memang suka makan, tapi masalahnya aku yang harus mondar-mandir sana-sini. Dari satu katering ke katering lainnya sampai menemukan rasa katering yang paling enak.
Aku pun sesekali mengeluh.
Tentu saja, bukan Mercy namanya kalau nggak ngeluh.
Tapi aku masih bisa tidur.
Pernah sampai saat aku sangat jengkel, Andrew aku tanyai. "Kamu waktu nikah dulu juga kayak gini?"
Aku nggak menampik kalau aku dapet duda satu ekor. Cuma, saat aku menanyakan hal itu ke Andrew, dia malah tertawa dan mengacak-acak rambutku.
"Nikmatin aja, Mer. Aku belom pernah nikah juga."
Belom pernah nikah?
Terus kenapa ada ekornya?
Tapi lupakan cerita keluhanku. Fokuslah pada ekornya.
Kalau aku boleh bilang, pada dasarnya aku memang tidak menyukai anak kecil. Apalagi, anak kecil seperti Amel. Bukanlah tipikal anak yang kusukai.
Aku baru tahu tiga minggu yang lalu saat Amel kritis kalau dia terkena DS sejak umur setahun. Andrew yang kala itu sedang seminar di Makassar, langsung pulang ke Jakarta begitu mendengar kalau Amel kritis.
Selama ini Amel dirawat di rumah sakit yang sama dengan tempat kerjaku. Aku beberapa kali ditugaskan di bangsal anak. Tapi aku tidak pernah bertemu dengan Amel. Setelah ku ingat-ingat ternyata aku belum pernah bertemu dengan Amel lagi. Begitu aku tahu kalau Amel memiliki DS, aku merasa kacau.
Katakanlah aku tidak suka anak-anak. Tapi bukan berarti aku bodo amat dengan calon anakku. Aku tidak sebodo amat itu.
Ah, kalian tadi sudah tahukan kalau aku kena musibah dua minggu lalu yang membuat rencanaku untuk menikah dengan Andrew nyaris gagal?
Sebenarnya bukan musibah, tapi takdir Tuhan.
Amel meninggal setelah koma dua hari di ICU.
Penyebabnya? Komplikasi DS.
Tak menunggu lama, keluarganya Andrew segera mengurus pemakaman Amel setelahnya. Pemakamannya dihadiri oleh kerabat Andrew, dan hanya teman-teman dekatnya saja. Sepanjang pemakaman, aku tidak terlalu dekat dengan Andrew. Namun, aku mendengar ucapan banyak pelayat.
"Amel cepet banget ya perginya."
"Lita pasti seneng, anaknya sekarang udah sama dia."
"Andrew kuat nggak ya lewatinnya? Amel kan satu-satunya yang bikin Andrew selalu ingat sama Lita."
"Itu calonnya Si Andrew ya?"
"Iya tuh. Tampangnya sih lebih oke dari Lita. Tapi, Andrew bukan tipikal laki-laki yang suka cewek karena fisik."
"Bener. Berapa banyak cewek coba yang deketin dia dulu? Tapi dia maunya sama Lita doang. Ingetkan kacaunya dia waktu Lita milih Juilliard ketimbang Andrew?"
"Pas putus, Andrew langsung ke New York. Sampe di sana malah dia potek begitu tahu keadaannya Lita."
Aku nggak masalah mereka mau mengenang Amel dengan cara bagaimana. Tapi pertanyaanku yang mendasar, who the hell is Lita?!
Siapa sih sebenernya 'Lita' yang mereka sebut-sebut itu.
"Kalo lo penasaran, tinggal tanya aja sama Andrew kali, Mey," kata Heru, saat aku mulai uring-uringan dengan cewek bernama 'Lita.' "Yang meninggal anaknya Andrew, Mey. Lo kan masih bisa tanya Andrewnya. Sekalian tanya gimana cara bikinnya dulu."
Aku menempeleng Heru saat mendengar ucapannya yang asal itu.
"Pas lo sekolah mulut lo ditinggalin di rumah ya? Ngomong suka bener nggak diayak dulu."
"Kalo nggak mau tanya sama Andrew, tanya aja sama konsulen kita tercinta. Bukannya mereka udah lama jadi sohib?"
Saran Heru pun aku lakukan.
Tapi, Dokter Dhani sepertinya sudah disetel biar nggak ngomong apa-apa sama aku. "Tanya langsung sama yang bersangkutan, Mey. Sebagai teman, gue saranin jangan tanya dari orang lain. Biar orangnya langsung yang jelasin."
Sejak detik itulah Marceline Irena Effendi-Han minum obat tidur.
Karena nggak bisa tenang dengan perempuan yang dimaksud itu. Aku nggak ngerti siapa Lita, apa hubungannya sama Andrew, dan kenapa semua orang ngomongin Lita?!
-----
"Prosedur laparoskopi, digunakan untuk efisiensi. Perlu ketelitian tingkat tinggi agar berhasil. Berbeda dengan bedah langsung," jelas Dokter Dhani yang sedang mengajarkan residen tahun pertama di dalam ruangannya. "Kalian beruntung, karena kita akan melakukan hister–"
Aku masih tidak mengerti dengan posisiku saat ini. Nasibku sendiri juga nggak jelas juntrungannya.
"Mercy?"
Aku masih memandang kosong kepada tembok yang ada di ujung ruangan. Entah apa yang kurasakan saat ini.
"Marceline?"
Sepertinya ada yang memanggilku.
"Marceline Irena!"
Kali ini aku bergeming melihat ke arah sumber suara. Ternyata Dokter Dhani yang dari tadi memanggilku.
"Coba jelaskan lagi yang saya bilang tadi."
Jelasin apaan?! Astaga, aku ngelamun lagi dari tadi.
Aku coba melirik Heru, mencari bantuan agar bisa menjawab perintah Dokter Dhani. Tapi Heru hanya geleng-geleng kepala seolah tak tahu. Dasar Heru!
"Kok diem?" Kata Dokter Dhani. "Cepetan jelasin!"
Mampuslah aku.
"Ja.. jadi... Prosedur histeroskopi—"
"Histeroskopi?" Ulang Dokter Dhani.
Aku melihat Heru yang masih menggelengkan kepala sambil menggerakkan telunjuknya, membuat garis horizontal di depan lehernya. Ini pertanda malapetaka untukku.
"Orang kalo mau nikah emang suka eror sih. Tapi bukan berarti kamu juga korslet gini dong!" Seru Dokter Dhani.
Residen tahun pertama di depanku terkekeh semua.
"Heru, prosedur apa yang kita lakukan?" Tanya Dokter Dhani.
"Histerektomi, Dok."
"Kan beda dikit Dok," keluhku.
"Salah sedikit ya tetap salah, Mercy! Kamu mau melakukan malpraktek karena salah melakukan prosedur ke pasienmu?!"
Aku menelan ludahku sendiri.
Kalau begini terus, yang ada aku malah menggali kuburanku sendiri. Kenapa sih hidupku jadi ngaco begini sejak mutusin buat nikah sama Andrew?!
-----
Happy Sunday all!
Thank you so much buat supportnya kalian di part-part sebelumnya.
Sejujurnya, baca komentar dari kalian membuat aku semangat lagi buat muter otak. Heheheee
Aku akuin, memang skripsi ini membuat imajinasi dan cara menulisku jadi aneh rasanya. Soalnya bahasa skripsi kan baku, sementara bikin cerita, aku bener-bener harus merasa "masuk" ke dalem ceritanya biar hasilnya nggak flop gitu.
Karena aku masih dalam keadaan lowong dan punya cukup banyak waktu dan yang paling penting, imajinasi lagi tinggi, jadi aku update lagi sebagai permintaan maafku yang sudah luamaaaa banget nggak nongol di cerita ini dan lainya :')
Intinya, terima kasih banyak buat dukungan kalian! Love you all!
xoxo,
A.P.