Sudah beberapa hari, komunikasi antara aku dan Mas Rian terputus. Pertemuan terakhir, saat ia mengajakku menikah dan aku tidak bisa memberikan jawaban. Sejak itu juga, pikiranku mulai tak sejalan dengan keinginan.
Mas Rian juga tidak seintens biasanya menghubungiku. Mungkinkah ia marah atau sibuk? Atau sengaja menjaga jarak? Jika kukirim pesan, jawabannya singkat dan kaku. Apakah, dia menyukai wanita lain, karena itu dia berubah. Mungkin juga, bosan menunggu restu ibuku? Berbagai pertanyaan dan prasangka bersarang di benakku.
Aku merindukannya. Rindu gurauannya, sampai –sampai selera makan pun menurun. Tapi, aku menahan diri untuk tidak menghubunginya lebih dulu. Sebagai perempuan, rasanya malu untuk menghubunginya. Bukankah ia yang harus menyapaku duluan. Lagipula, tidak pernah ada masalah di antara kami.
Jika kemaren, aku tidak begitu memikirkannya, itu karena kesibukanku menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk. Sekarang, saat di kantor, konsentrasiku mulai buyar. Setiap saat melihat layar handphone, berharap ada panggilan atau pesan darinya.
“Rhea..lu kenapa sih? Dari tadi , gue perhatiin, muka lu kusut amat. Galau ya? Ya? Ya? Ya?” Cici mendekat, menaik turunkan alisnya di depan wajahku.
“Nggak ada apa-apa, Ci."
“Cie....yang lagi rindu. Lu, ada masalah apa? Udah jam istirahat nih, ke kantin yuk.”
“Nggak deh, lu aja yang kesana Gue nggak laper.” Rasanya malas serta langkah kaki terasa jauh untuk jalan ke kantin.
“Mulut lu, bilang nggak ada, wajah lu, bilang banyak masalah. Lu nggak bisa menutupinya dari gue. Ya udah, gue temanin lu aja, kebetulan, gue, juga masih kenyang.” Cici mengambil bangku dan duduk di sampingku.
“Mas Rian nggak menghubungi gue hampir seminggu.” Akhirnya keluar juga unek-unek di hati dengan wajah ditekuk.
“Kenapa, bisa begitu?” Cici menopang dagunya seakan memikirkan masalah yang paling berat.
“Itu dia masalahnya, gue nggak tau sebabnya apa. Terakhir ketemu dia ngajak gue nikah. Dan gue, belum bisa kasi keputusan. Sejak itu, dia nggak menghubungi gue lagi. Biasanya, nggak pernah absen mengabari setiap hari. Ini udah seminggu, putus kontak gitu aja.”
“Udah pernah lu tanyain belum?”
"Ada, sih. Gue kirim pesan dua kali, tapi nggak dibalas. Nggak mungkin donk, gue yang nelpon duluan.”
“Kalau dia nggak nelpon lu, kan lu harusnya nelpon balik. Jangan-jangan, dia lagi ada masalah. Makanya, nggak bisa menghubungi lu.”
“Kalau pun ada masalah, kan bisa kirim pesan atau apa gitu. Sementara, dia tetap kerja, berarti kan masih sehat. Kenapa nggak sempat menghubungi gue.”
“Ya juga sih, jangan-jangan....” Cici menempelkan telunjuknya pada kening mulusnya itu, seperti akan mengeluarkan sebuah ide yang brilian.
“Jangan-jangan apa?”
“Jangan-jangan, dia udah ada yang lain, yang bisa memenuhi kebutuhan dia sebagai pria dewasa. Atau yang mau di ajak nikah. Secara, kalau sama lu kan nggak dapet apa-apa. Udah di ajak nikah, lu nggak ngasih jawaban. Bagus deh, lu bisa dapet yang lebih sepadan. Orang dewasa belom tentu bisa buat lu bahagia, Rhey.” Cici mengeluarkan pendapatnya dengan gamblang.
“Ciciii....! Lu tega banget sih, ngomong kayak gitu.” Aku histeris, di samping telinga Cici.
“Nggak usah teriak manggil nama gue, gue belum budek. Kenapa? Lu marah?” Cici bertanya dengan tampang tak berdosa.
“Kesel gue!”
“Sama siapa?”
“Sama, elu.”
“Idih....rindunya ama Rian, keselnya ama gue. Baik amat lu jadi orang.”
“Makasih pujiannya.”
“Nggak usah gengsi kalau rindu. Nggak usah ego kalau sayang. Pertanyaannya....lu beneran sayang apa enggak? Atau, hanya merasa nyaman? Kalau hanya merasa nyaman, kasian dia kelamaan nungguin lu. Pria dewasa punya kebutuhan biologis, makanya dia ngajak nikah. Kalau lu sayang, pasti lu tau harus berbuat apa. Yang jelas, pastiin dulu mengapa dia sengaja bikin lu galau kayak gini.” Cici akhirnya mengeluarkan kata-kata bijaknya.
“Iya, juga sih. Tumben, lu bisa ngomong benar."
“Nggak ada salahnya, menelpon dan ngajak ketemu duluan, buat menyelesaikan urusan.”
“Iya deh, ntar gue pikirin dulu gimana cara ketemu dia, tanpa harus gue yang nelpon duluan. Thanks ya, Ci.” Sambil memeluk sahabatnya.
“Sami-sami shay.”
***
Setelah jam kantor usai, Rhea sengaja singgah ke supermarket yang terletak di samping tempat kerja Rian. Dari sudut mata, Ia melihat Rian sedang menyapa tamu perusahaan.
Hatinya merasa senang, walau hanya melihat Rian sekilas. Tanpa melepas helmnya, Rhea masuk dan mengambil beberapa makanan ringan.
Saat membayar makanan, ia melihat Rian berdiri menyamping di pojok pagar perusahaan yang berbatasan dengan supermarket. Perlahan, ia melangkah menuju motornya, berpura-pura tidak tahu jika Rian ada di dekatnya.
Rian mendekati Rhea yang akan mengeluarkan motornya dari parkiran. “Dek.”
Orang yang di sapa langsung menoleh ke arah suara. “Eh..Mas. Kok disini? Mas, nggak kerja?” Rhea terkejut sambil menaruh tangannya di depan d**a. Padahal hati merasa senang, rindunya sedikit terobati.
“Lagi kerja kok, kebetulan lihat kamu tadi, makanya, Mas, samperin.”
“Ooo...”
“Habis belanja ya, Dek?” Rian sengaja menunggu karena sudah melihatnya waktu memasuki bangunan di samping kantornya itu.
“Iya, Mas.”
“Kamu, beli apa?” Rian tersenyum dan memancarkan raut bahagia dari wajahnya.
“Beli coklat merk ini, Mas. Dekat kantor habis, makanya cari disini, ternyata ada.”
“Ooo, apa kabar, Dek?”
“Alhamdulillah baik, Mas. Mas, sendiri gimana?” Mereka berdiri berhadapan di depan parkiran.
“Alhamdulillah. Habis ini, mau kemana Dek?”
“Langsung pulang sih, Mas. Capek pulang kerja.”
“Jam kerja Mas juga udah usai. Makan dulu yuk, sebelum kamu pulang. Bentar aja kok.”
“Iya deh.”
“Kamu tunggu disini sebentar, Mas ganti baju dulu.”
“Oke, jangan lama ya, Mas.”
“Iya.” Rian segera berlalu mengganti pakaian dinasnya, dengan pakaian santai yang memang sudah tersimpan di kamar khusus karyawan.
Mereka beriringan, mengemudikan motor masing-masing menuju kafe. Mereka mengambil tempat duduk yang berhadapan, lalu mencatat pesanan yang langsung di bawa pramusaji.
Mereka saling memandang, setelah sekian detik, Rhea menjadi salah tingkah dengan memutar-mutar cincin di jarinya. Sementara Rian terlihat tenang, sambil mengeluarkan rokok dari saku jaket kulitnya.
Mereka tetap hening, tanpa ada yang bicara. Rhea sesekali memandang Rian, sesekali mengamati ikan yang menari-nari dalam akuarium kafe.
“Mas, ngajak aku kesini, cuma buat diam aja?” Rhea akhirnya memulai bicara karena tak tahan dipandangi terus.
“Sebenarnya, ada hal yang mau, Mas sampaikan. Tapi, kita makan dulu ya, baru cerita.”
“Sekarang aja, nggak apa-apa kok, Mas, daripada diam aja.”
“Nanti aja, kita makan dulu. Mas lapar, kamu pasti lapar juga pulang kerja kan?”
"Nggak lapar kok, aku masih kenyang." Bantahku, namun, suara seperti perut kelaparan itu, malah berbunyi dari perutku.
Hal itu tidak luput dari pendengaran Rian. Namun, Rian bersikap seolah-olah tak mendengarnya. Dia ingin tertawa keras, karena tingkah pacarnya yang terkadang lucu. Namun, tak ingin mempermalukan pacarnya. “Kalau kamu belum lapar, tidak masalah. Makan sebelum lapar, lebih bagus juga.” Ucap Rian.
Rian tak lepas memandang kekasihnya, sambil menikmati hembusan rokok. Sampai pramusaji mengantarkan pesanan, barulah Rian membuang rokok yang belum habis terbakar.
“Kita makan dulu, Dek.” Rhea menjawab dengan anggukan kepalanya.
Mereka pun makan bersama dalam diam. Jangan lupa, acara curi-curi pandang yang dilakukan Rhea, saat Rian menikmati makanannya.
“Kenapa lihatin Mas, lupa ya?” Tiba-tiba Rian memberi pertanyaan yang membuat pipi Rhea, terasa panas karena ketahuan.
“Siapa yang ngeliatin. Habisin dulu makanannya, Mas, ntar keselek.” Rhea membantah ucapannya, lalu melanjutkan makan. Rian tersenyum miring mendengar jawaban kekasihnya.
Setelah mereka menghabiskan makanan, Rian dengan wajah serius mulai menatap Rhea. Perasaan Rhea jadi gelisah, menduga-duga, apakah yang akan disampaikan Rian, sama seperti dugaan Cici sebelumnya, bahwa ia akan menikah dengan wanita lain. Kalau iya, hatinya tak kan sanggup mendengar saat ini. Ia baru saja bahagia bisa bertemu dengan Rian.
“Dek.”
“Ya, ada apa , Mas?”
“Sebenarnya, Mas ingin memastikan sesuatu. Tapi, janji jangan marah ya.” Wajahnya serius menatap Rhea.
“Memastikan apa, Mas?”
“Janji dulu jangan marah.”
“Emang mau ngomong apa sih, Mas? Kok, harus pakai janji segala?”
“Janji dulu. Mas serius, Dek. Dan, tolong jawab dengan jujur ya, dari hati kamu yang paling dalam.”
“Iya, janji.” Rhea makin penasaran.
Rian menarik nafas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Ia merasa tak enak hati jika suasana menjadi kurang nyaman. Ia benar-benar ingin memastikan sesuatu kepada kekasihnya.